Khutbah Jumat : Menjemput Garis Finish dengan Iman

Khutbah Jumat : Menjemput Garis Finish dengan Iman

Khutbah Jumat Singkat Padat – Waktu Kita Untuk Apa?
Khutbah Jumat: Wasiat Takwa dan Hakikat Kematian
Teks Khutbah Idul Adha: Idul Adha adalah Momentum Kita Menjaga Persaudaraan

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Menjemput Garis Finish dengan Iman” yang disampaikan Ustadz Khalid Basalamah, Hafidzahullahu Ta’ala

KHUTBAH PERTAMA : Merenungi Hakikat Umur dan Fase Penciptaan Manusia

Saudaraku seiman rahimani wa rahimakumullah.

Pada kesempatan ini, serial iman yang bulan lalu sempat membahas masalah masa muda akan dilanjutkan kembali. Allah Subhanahu wa Ta’ala memastikan adanya prosesi penciptaan manusia. Hal ini adalah salah satu keajaiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perlihatkan di depan mata seluruh manusia. Tidak ada satupun manusia kecuali melalui proses yang sama, yaitu dari rahim seorang wanita setelah pertemuan sperma dan sel telur, kemudian lahir menjadi bayi.

Melalui proses yang sama, semua berada dalam standar yang serupa: tidak mengerti apa-apa, belum bisa berbicara, kemudian masih harus selalu dibantu, dan yang ada hanya tangisan. Proses kemudian berpindah ke masa anak-anak yang juga masih harus selalu dipandu oleh orang tua dalam segala macam hal. Mulai dari cara berjalan, cara berdiri, cara berbicara, cara makan, sampai segala urusan dihaturkan.

Selanjutnya manusia mulai beranjak dewasa dan memiliki angan-angan yang sama, seperti bagaimana cara mendapatkan pendapatan dan meraih prestasi yang polanya hampir serupa. Setelah itu, fase kehidupan memasuki masa pernikahan, lalu tibalah proses terakhir dalam fase masa tua. Pada masa tua ini, kondisi tubuh akan semakin melemah dan semua kejayaan di masa muda akan hilang. Pemaparan panjang lebar mengenai masa muda telah disampaikan pada pertemuan lalu, dan kali ini bahasan difokuskan pada masalah masa tua.

Peringatan kembali dari pertemuan atau khutbah sebelumnya mengenai bagaimana para ulama salaf menitikberatkan jika ada orang di masa tuanya terlihat terhina. Tentu tidak ada maksud tertuju kepada siapa pun di antara jemaah apabila ada yang hadir dalam kondisi matanya buta, rabun, atau hidupnya susah sekali. Namun, para ulama salaf ketika melihat kondisi demikian menyatakan bahwa orang tersebut telah menyia-nyiakan masa mudanya dan jauh dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebaliknya, banyak contoh yang sudah diberikan sebelumnya mengenai orang-orang yang hidup sampai 100 tahun, bahkan 160 tahun dari kalangan para ulama. Suara mereka masih lantang, penglihatan masih terang, dan hidupnya bahagia di akhir umur. Ketika ditanya mengenai rahasia di balik hal tersebut, mereka menjawab bahwa mereka tidak pernah menyia-nyiakan masa muda dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hari ini, insyaallah akan dibahas tentang masa tua. Masa tua merupakan salah satu rangkaian yang mendekati garis akhir dari kehidupan seseorang. Jika seseorang masih diberikan umur sampai masa tua, hal itu berarti dia telah diberikan banyak sekali kebaikan dan kesempatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Umur seseorang adalah waktu yang sudah berlalu. Keberadaan umur saat ini, misalnya berumur 51 tahun, maka itulah umur yang sebenarnya. Berapapun umur kaum muslimin yang mendengarkan khotbah ini, baik 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun, bahkan mungkin ada yang sudah mencapai 60 atau 70 tahun, maka itulah hakikat umur yang sebenarnya.

Ke depannya tidak pernah ada yang tahu berapa banyak lagi sisa umur yang dimiliki. Sungguh sangat keliru jika ada orang yang berpikir bahwa umurnya masih panjang. Seandainya manusia masih diberikan umur yang panjang, misalnya saat ini berumur 51 tahun dan masih ada 51 tahun lagi ke depan, lalu dipastikan baru meninggal dunia setelah 51 tahun mendatang pada usia 102 tahun, maka mungkin manusia masih mudah untuk menyelesaikan banyak kekurangan ataupun kewajiban dalam ibadah yang belum dikerjakan.

Permasalahannya, kematian adalah sesuatu yang tidak jelas kapan datangnya. Kematian sangat misterius dan jika saatnya tiba, tidak akan pernah terlambat sesaat atau dicepatkan ataupun dimundurkan sesaat. Hal ini harus diperhatikan baik-baik. Prosesi manusia dari kecil, dewasa, kemudian tua memang disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur’an.

Di antaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam surah Ar-Rum ayat 54:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

Allahlah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Rum[30]: 54)

Keadaan lemah tersebut bisa bermakna sperma pada saat bertemu dengan sel telur yang kondisinya sangat lemah. Sperma yang terlepas di rahim seorang wanita masih sangat lemah karena bisa saja membuahi atau tidak. Jika tidak membuahi, maka akan dibuang oleh tubuh wanita karena dianggap sebagai bagian yang kotor. Kondisinya sangat lemah karena jika bertemu dengan sel telur di dinding rahim pun masih ada kemungkinan untuk gugur. Bahkan pada saat kecil setelah lahir, bayi juga berada dalam kondisi yang lemah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa Dialah yang menciptakan manusia dari prosesi lemah itu. Kemudian setelah masa lemah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan masa penuh dengan kekuatan dan kejayaan, yaitu masa muda yang telah dibahas pada khotbah sebelumnya. Setelah masa jaya itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan manusia lemah kembali dan memasuki masa tua. Dia menciptakan apa pun yang diinginkan, dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Mampu mengerjakan apa yang diinginkan.

Begitu juga dalam surah Al-Mu’min ayat 67, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan manusia tentang prosesi ini:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى مِنْ قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dialah yang menciptakan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kalian sebagai seorang anak, kemudian kalian dibiarkan hidup supaya mencapai dewasa, lalu kalian menjadi tua, dan di antara kalian ada yang diwafatkan sebelum itu. Kami perbuat demikian supaya kalian sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kalian memahami.” (QS. Al-Mu’min[40]: 67)

Manusia pertama, yaitu Nabi Adam Alaihis Salam selaku ayah seluruh umat manusia, diciptakan dari tanah. Setelah itu, proses pengembangbiakan manusia terjadi melalui setetes sperma yang berubah menjadi gumpalan darah. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan manusia dalam kondisi kecil atau bayi, lalu membiarkannya tumbuh menjadi dewasa hingga akhirnya menjadi tua. Ada di antara manusia yang diwafatkan sebelum masa tua, dan ada juga yang dilanjutkan usianya sampai ajalnya tiba di masa tua agar manusia berakal. Makna berakal adalah manusia merenungi tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ada di depan mata. Sisi lainnya adalah agar manusia tidak luput dan berakhir menyesal seperti orang-orang terdahulu yang melewati umurnya sampai meninggal dunia, sementara mereka belum menjalankan kewajiban ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian pula dalam surah Al-Hajj ayat 5, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا

“Hai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kalian dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi, kemudian kalian sampai kepada masa dewasa, dan di antara kalian ada yang diwafatkan dan ada pula di antara kalian yang dikembalikan sampai umur yang sangat tua, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.” (QS. Al-Hajj[22]: 5)

Sesungguhnya bagi manusia yang ragu tentang hari kebangkitan pada hari kiamat nanti, ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan manusia dari tanah melalui Nabi Adam Alaihis Salam. Lalu pengembangbiakan keturunannya berasal dari setetes sperma yang berubah menjadi darah dan kemudian menjadi daging yang sempurna maupun belum sempurna. Hal itu bertujuan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang prosesi penciptaan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengatur kandungan di dalam rahim sesuai dengan yang dikehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan. Selanjutnya, manusia dikeluarkan menjadi anak kecil dan dibiarkan tumbuh hingga dewasa. Ada di antara manusia yang diwafatkan di masa-masa pertumbuhan tersebut, dan ada pula yang dikembalikan umurnya sampai sangat tua atau pikun agar tidak mengetahui apa pun lagi. Orang-orang yang sudah pikun pada usia 90, 100 tahun, atau lebih daripada itu biasanya sudah tidak mengetahui namanya sendiri, tidak tahu nama anaknya, bahkan sudah tidak tahu lagi apa yang ada di sekitarnya. Fenomena ini juga termasuk tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ayat yang keempat adalah surah Yasin ayat 68. Ayatnya pendek tetapi maknanya sangat dalam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

“Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadiannya. Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (QS. Yasin[36]: 68)

Siapa pun yang dipanjangkan umurnya sampai pada masa tua, maka Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan mengembalikan ciptanya seperti awal waktu masih kecil, dalam arti semuanya akan melemah. Jadi, sehebat apa pun manusia menjaga kesehatannya, pada prosesi masa tua tetap akan terjadi pengurangan penglihatan, rambut mulai beruban, kulit mulai keriput, dan tulang mulai melemah. Semua itu memang prosesi yang sudah Allah ‘Azza wa Jalla ciptakan, walaupun ada orang yang mengalami proses tersebut lebih lambat daripada yang lain.

Para ulama tafsir membahasakan makna-makna ayat yang telah dibacakan sebelumnya. Di antaranya disebutkan dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah yang dikeluarkan oleh Markaz Tazhim al-Qur’an di sana mengenai tafsir surah Yasin ayat 68. Maknanya adalah barang siapa yang dipanjangkan umurnya hingga menua, maka akan dikembalikan keadaannya seperti di masa kecil. Badannya mulai melemah, demikian pula dengan akalnya. Manusia semestinya berpikir bahwa Zat yang mampu melakukan semua itu pasti mampu juga untuk membangkitkan mereka kelak.

Demikian pula disebutkan dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir yang ditulis oleh Muhammad Sulaiman Al-Asykar. Tafsirnya menjelaskan bahwa barang siapa yang dipanjangkan umurnya, niscaya akan diubah fisiknya dan dibalik keadaannya dari penuh kekuatan dan kebugaran menjadi lemah, serta diganti masa mudanya menjadi masa tua. Umumnya tafsir para ulama hampir semua bermakna di sekitar hal tersebut.

Hanya saja, ada satu hal menarik dari perkataan Imam Qurtubi rahimahullah yang berhubungan dengan potongan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Kemudian kamu sekalian akan kembali di masa tua.” Menurut Imam Qurtubi rahimahullah, masa tua mulai dihitung sejak memasuki umur 40 tahun. Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-Ahqaf ayat 15. Di dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan semua orang yang sudah mencapai usia 40 tahun agar jangan sampai luput membaca doa ini. Usia 40 tahun menandakan bahwa umumnya manusia sudah sampai pada tingkat akal yang sempurna, sudah berumah tangga, dan memiliki keturunan. Pada umumnya, apa yang dijanjikan atau ditargetkan oleh manusia di muka bumi ini sudah diraih, termasuk prestasi yang diharapkan sesuai dengan usaha yang telah dilakukan. Oleh karena itu, para nabi pun diangkat menjadi nabi pada umur 40 tahun karena usia tersebut dianggap sudah sempurna. Puncak prestasi akan mulai dari usia 40 tahun ke atas, namun hal itu menandakan bahwa manusia sudah memasuki masa tua.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dalam surah Al-Ahqaf ayat 15:

حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf[46]: 15)

Umur umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah umur umat yang paling pendek dibandingkan dengan umur umat-umat yang lain. Nabi Nuh Alaihis Salam disebutkan dalam Al-Qur’an mendakwahi kaumnya selama 950 tahun. Kaum yang didakwahi oleh Nabi Nuh Alaihis Salam bisa mencapai satu atau dua generasi saja, yang artinya ada umatnya yang berumur hingga 1.000 tahun. Di masa itu, jika ada orang yang meninggal dunia di atas usia 60 atau 70 tahun, mereka masih dianggap sangat anak-anak.

Disebutkan dalam sebuah atsar, ada seorang ibu yang menangisi anaknya di masa Nabi Nuh Alaihis Salam karena anak tersebut meninggal dunia pada usia 60 tahun. Ibunya menangisi keadaan tersebut seraya mengatakan bahwa anaknya kasihan karena meninggal dalam usia yang masih sangat muda, sebab pada saat itu umur manusia bisa mencapai 1.000 tahun. Maka Nabi Nuh Alaihis Salam berkata agar ibu tersebut tidak menangisi anaknya, karena nanti akan datang kaum atau umat di akhir zaman yang umur tertua mereka sudah seperti umur anak yang ditangisi itu. Ibu tersebut kemudian mengatakan bahwa demi Allah, seandainya dia hidup di masa itu dan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya memberikan umur 60 tahun, maka waktu tersebut hanya akan digunakan untuk sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits bahwa umur umat beliau hanya antara 60 sampai 70 tahun maksimal, dan sedikit yang melampauinya. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Artinya, memang ada orang yang umurnya lebih daripada itu, tetapi jumlahnya tidak banyak. Begitu pula Allah Subhanahu wa Ta’ala memastikan bahwa sesudah masa itu pasti akan ada kematian yang tidak akan mengalami keterlambatan. Jika seseorang masih muda atau beranjak dewasa, ajal bisa saja datang, tetapi masih ada prosesi kemungkinan yang dapat dilalui yaitu masa tua. Namun, jika seseorang sudah masuk di masa tua, tidak ada lagi proses perkembangan setelahnya. Setelah tua, fasenya adalah mati. Jika disusun definisinya, fase manusia terdiri dari bayi, anak-anak, remaja, tua, lalu mati. Seseorang yang masih anak-anak atau remaja masih memiliki kemungkinan prosesi untuk melewati masa tua, walaupun ajal bisa saja datang lebih cepat. Namun, jika seseorang sudah sampai pada masa tua dan masih lalai, maka setelah itu tidak ada lagi pilihan fase kehidupan. Pilihan yang ada hanyalah kematian, yang artinya dia akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini harus dijadikan sebagai bahan pertimbangan yang matang bagi orang yang sudah tiba di usia 40 tahun ke atas, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-A’raf ayat 34:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf[7]: 34)

Setiap umat atau satu generasi memiliki masa waktu ketika semua aktivitas mereka akan habis. Jika ajal itu sudah datang, maka tidak akan dapat dikesampingkan atau dimajukan sesaat pun. Begitu juga Allah Subhanahu wa Ta’ala ingatkan di dalam surah An-Nisa ayat 78:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa[4]: 78)

Di mana pun manusia berada, kematian pasti akan menyambut walaupun berada di dalam bangunan yang tinggi lagi kokoh. Oleh karena itu, sudah semestinya setiap muslim memastikan setiap masa hidupnya detik demi detik, bukan hanya hitungan jam saja. Mulai sekarang, terutama bagi yang sudah memasuki masa tua, waktu harus dianggap sebagai sesuatu yang sangat mahal dan setiap orang harus sangat pelit dalam menggunakan waktunya agar tidak terbuang sia-sia.

Setiap detiknya manusia harus sangat berharga dan berhemat dengan waktu. Jam berapa dan berapa lama harus tidur, berapa lama harus makan, serta berapa lama harus beraktivitas, semuanya harus dihitung dengan baik. Tidak boleh ada sesuatu yang dibuang sia-sia karena waktu sangat berharga, akan berlalu, dan akan habis semuanya.

Ketika ditanyakan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai siapakah orang mukmin yang paling cerdas:

أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa orang mukmin yang paling cerdas adalah orang mukmin yang paling banyak mengingat kematian dan memiliki persiapan yang paling baik untuk menghadapi apa yang terjadi setelah kematian. Mereka itulah orang-orang yang cerdas. (HR. Ibnu Majah)

Salah satu makna hadits ini adalah orang yang sudah mencapai umur 40 tahun ke atas harus lebih hati-hati lagi untuk memiliki persiapan pada sisa umur yang berkisar 10 atau 20 tahun ke depan, atau bahkan mungkin lebih sedikit dari itu. Sisa usia hingga mencapai 60 sampai 70 tahun tersebut semestinya diisi dengan amal saleh yang dapat menutupi kekurangan di masa lalu.

Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan umur pada hari ini, maka hari ini adalah hari emas. Jika di masa lalu sudah berbuat amal saleh, maka mulai hari ini tentu saja perlu ada usaha untuk menambah kuantitas dan kualitas ibadah yang lalu. Kuantitas adalah jumlah ibadah yang memang bisa ditambah secara bilangan. Contohnya, jika selama ini salat duha hanya dikerjakan dua rakaat, maka saat ini adalah waktunya untuk ditambah menjadi empat rakaat. Jika selama ini sudah empat rakaat, maka dapat ditambah menjadi delapan rakaat. Jumlah tersebut selalu ditambah secara kuantitas selama terbuka pintu untuk menambahnya. Untuk ibadah wajib memang tidak ada penambahan, seperti salat dzuhur atau ashar yang selamanya tetap empat rakaat. Namun, untuk ibadah sunah, kuantitasnya masih bisa ditingkatkan. Sementara itu, secara kualitas, seluruh ibadah harus ditingkatkan, baik yang wajib maupun yang sunah.

Begitu juga jika di masa lalu ada ibadah yang masih kurang disempurnakan, mungkin karena kurang khusyuk dalam salat atau banyak ibadah sunah yang terbengkalai seperti zikir pagi petang, zikir setelah salat, doa antara azan dan iqamah, menjenguk orang sakit, dan sebagainya, maka hari ini adalah kesempatan untuk memperbaiki dan mengerjakannya. Jika di masa lalu ada ibadah yang belum pernah dikerjakan, hari ini adalah kesempatan untuk mengamalkannya. Dan jika di masa lalu masih ada dosa-dosa yang dilakukan, maka hari ini adalah kesempatan untuk bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hasan Al-Bashri rahimahullah mengingatkan di dalam kitab Hilyatul Auliya jilid 2 halaman 148:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Maka setiap kali satu hari berlalu, hilanglah sebagian dari dirimu.”

Fudhail bin Iyadh rahimahullah pernah bertanya kepada seseorang mengenai umurnya. Orang itu menjawab bahwa umurnya 60 tahun. Fudhail rahimahullah kemudian berkata bahwa sesungguhnya orang tersebut sudah berjalan menuju Tuhannya selama 60 tahun dan sebentar lagi akan sampai. Orang itu lalu berucap, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” Fudhail rahimahullah menjelaskan bahwa makna kalimat tersebut berarti orang itu yakin akan bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua orang yang bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan menerima hisab amalnya, baik ataupun buruk. Orang tersebut menjadi ketakutan dan menanyakan solusi terbaiknya.

Fudhail rahimahullah memberikan nasihat yang luar biasa agar orang tersebut memperbaiki sisa umurnya yang masih ada, berapapun waktu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan, baik itu sehari, dua hari, atau seminggu. Sisa waktu itu harus segera diperbaiki dengan beramal saleh dan bertobat dari dosa-dosa. Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima amal saleh yang dikerjakan sekarang dan mengampuni dosa di masa lalu. Namun, jika seseorang tetap berada dalam kelalaian dan kesalahan pada masa umur seperti ini, maka dipastikan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghukumnya karena dosa yang akan datang sekaligus dosa yang dilakukan di masa lalu.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata bahwa hari yang paling berharga bagi seorang mukmin di dunia adalah ketika dia memiliki keyakinan tidak akan bisa sampai pada esok hari. Ini merupakan keyakinan para ulama salaf. Jika mereka sudah berada di suatu hari, mereka akan menanamkan dalam diri bahwa esok hari mereka tidak mungkin hidup lagi. Oleh karena itu, pada hari tersebut mereka akan memaksimalkan ibadahnya.

Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sering kali sebelum mengimami salat bersabda kepada jemaahnya:

صَلُّوا صَلَاةَ مُوَدَّعٍ

“Salatlah kalian seperti salatnya orang yang hendak berpisah.” (HR. Ibnu Majah)

Nasihat ini diberikan karena tidak ada jaminan manusia masih bisa hidup sesudah salat tersebut. Ibnu Qayyim rahimahullah juga berkata:

إِضَاعَةُ الْوَقْتِ أَشَدُّ مِنَ الْمَوْتِ

“Menyia-nyiakan waktu itu lebih berat daripada kematian.” (Dinukil dari Kitab Al-Fawaid)

Menyia-nyiakan waktu dengan membuangnya pada hal yang tidak bermanfaat itu lebih berbahaya daripada kematian itu sendiri. Hal itu karena menyia-nyiakan waktu dapat memutuskan hubungan yang baik dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melupakan negeri akhirat, sementara kematian hanya memutuskan manusia dari dunia dan seluruh penghuninya. Jika orang membuang-buang waktu, berarti dia memutus hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dipastikan akan menyesali hal tersebut pada hari kiamat.

Ma’ruf Al-Karkhi rahimahullah juga pernah berkata:

إِنَّ مِنْ عَلَامَةِ مَقْتِ اللَّهِ لِلْعَبْدِ أَنْ تَشْغَلَهُ بِمَا لَا يَنْفَعُهُ

“Sesungguhnya di antara tanda kemurkaan Allah kepada seorang hamba adalah Allah membuatnya sibuk dalam hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Dinukil dari Kitab Jami’ul Ulum wal Hikam)

Tanda kebencian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada seorang hamba justru terjadi ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat hamba tersebut tidak sibuk untuk beribadah kepada-Nya. Jika seseorang merasa setiap harinya malas untuk sholat ke masjid, malas untuk berpuasa, malas berdzikir, malas membaca Al-Qur’an, dan malas menghadiri majelis taklim, hal itu menandakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang berpaling darinya. Karena jika Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai hamba-Nya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggerakkan hati hamba tersebut agar mau lebih dekat kepada-Nya.

Langkah yang harus dilakukan dalam kondisi demikian adalah dengan memperbanyak istigfar serta memohon maaf kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mungkin menjauh dari hamba-Nya, kecuali jika hamba tersebut memang pada dasarnya menjauhkan diri atau sering membuka pintu-pintu maksiat.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits yang sangat masyhur:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا عَسَلَهُ، قِيلَ: وَمَا عَسَلُهُ؟ قَالَ: يَفْتَحُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ عَمَلًا صَالِحًا قَبْلَ مَوْتِهِ، ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang hamba, maka Allah akan memanfaatkannya (membuatnya manis).” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah Allah memanfaatkannya?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah akan memberinya petunjuk untuk beramal saleh sebelum meninggal, lalu Allah mewafatkan dia di atas amal tersebut.” (HR. Ahmad)

Ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu bertanya mengenai manusia mana yang paling pantas dinilai baik dan sempurna untuk dijadikan sebagai contoh. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. Tirmidzi)

Manusia yang paling baik adalah orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala panjangkan umurnya dan selalu sibuk dengan amal-amal kebaikan. Contoh nyata terlihat ketika ada orang tua yang tetap sibuk mengumandangkan azan dan pergi ke masjid, karena sejak masa muda sudah menjalankan hal tersebut. Orang yang sejak masa muda sudah sering menjalankan puasa Senin dan Kamis merupakan contoh orang yang paling baik. Kondisi tersebut menandakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memang memilihnya untuk kebaikan, dan di dalam hatinya tidak membuka pintu-pintu maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Orang yang sama bertanya kembali mengenai siapa manusia yang paling buruk dan pantas dinilai buruk sehingga tidak layak dijadikan contoh. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

“Orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya.” (HR. Tirmidzi)

Kesimpulannya adalah manusia harus menjadi pribadi yang mengisi umur dengan kebaikan, dan jangan sampai makin tua makin menjadi dalam keburukan. Fenomena hari ini sering memperlihatkan di berbagai media bagaimana orang yang sudah beruban, tua, dan keriput, tetapi masih berada di diskotik bersama para biduan, serta masih mau membuka pintu perzinaan, manipulasi data, atau dosa-dosa lainnya. Padahal, setelah fase masa tua, fase berikutnya adalah kematian dan tidak ada lagi masa sesudahnya. Seseorang yang berada di masa muda masih memiliki kemungkinan prosesi untuk melewati masa tua, meskipun kematian bisa saja datang di masa muda.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan sebagai penutupan khotbah mengenai beratnya hukuman bagi orang tua yang terus membuka pintu dosa. Sebagaimana dalam hadits yang sahih dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, Nabi Bellau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

“Ada tiga golongan yang Allah tidak akan berbicara dengan mereka pada hari kiamat, tidak mensucikan mereka, tidak melihat kepada mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: orang tua yang berzina, penguasa yang pendusta, dan orang miskin yang sombong.” (HR. Muslim)

Golongan pertama yang disebutkan adalah orang tua yang masih berzina. Jika orang muda berzina, meskipun itu tetap dosa besar, ada pemicu berupa syahwat yang lebih besar atau mungkin dia belum memiliki pasangan. Namun, orang tua umumnya sudah melewati masa-masa tersebut, sehingga tidak ada alasan bagi orang tua untuk berzina melainkan karena mengikuti godaan setan yang menjerumuskannya. Golongan kedua adalah penguasa yang pendusta. Seorang penguasa semestinya berlaku jujur karena sudah memiliki kekuasaan. Perbuatan dusta yang dilakukan oleh orang yang sudah memiliki kekuasaan membuat hukumannya menjadi lebih berat. Golongan ketiga adalah orang miskin yang sombong. Jika orang kaya sombong, terdapat pemicu berupa harta yang dimilikinya. Namun, jika orang miskin berlaku sombong, tindakan tersebut tidak memiliki pemicu. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghukum ketiga golongan tersebut dengan lebih berat.

Demikian perkataan yang disampaikan, dan permohonan istigfar diajukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seraya mengajak jemaah untuk turut beristigfar. Istigfarlah kepada-Nya karena Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

KHUTBAH KEDUA : Meraih Keberkahan dan Waktu Mustajab di Hari Jumat

Alhamdulillah wasalatu wassalamu ala rasulillah. Segala puji dan puja kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta selawat dan taslim kepada Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hari Jumat merupakan hari yang paling mulia di muka bumi dan hari yang paling baik sejak terbitnya matahari. Hari Jumat adalah hari ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi Adam Alaihis Salam, memasukkannya ke dalam surga, dan mengeluarkannya dari surga. Hari kiamat pun akan terjadi pada hari Jumat. Setiap tiba subuh hari Jumat, semua hewan menengadahkan wajahnya ke langit untuk menunggu apakah trompet sangkakala akan ditiupkan atau tidak. Jika matahari terbit seperti biasa, maka mereka akan melanjutkan aktivitasnya.

Hari Jumat adalah waktu yang paling baik bagi seseorang untuk membaca selawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pada hari ini terdapat waktu mustajab ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima doa hamba-Nya. Mengenai waktu mustajab ini, para ulama memiliki dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan waktunya dimulai sejak khatib duduk di khotbah kedua sampai diserukannya iqamah salat. Oleh karena itu, semua khatib berdoa pada momen tersebut. Pendapat kedua mengatakan bahwa waktu mustajab berada setelah asar sampai terbenamnya matahari. Manusia dapat mengambil manfaat dari kedua pendapat tersebut dengan harapan Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima doa-doa yang dipanjatkan.

Pujian dipanjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana layak-Nya dipuji sebagai Pencipta, dengan penuh keyakinan bahwa Dia sedang melihat, mendengar, dan mengetahui isi hati hamba-Nya. Pujian dipanjatkan sebagaimana pujian para malaikat, para rasul, para utusan, dan para wali, sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amal saleh dan mengampuni dosa-dosa. Salam hormat juga disampaikan kepada utusan-Nya, Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu berkumpul di rumah-Mu ini karena ingin menjalankan kewajiban yang Engkau bebankan. Maka terimalah ibadah ini dengan pahala yang sempurna, serta terimalah seluruh amal saleh yang pernah dikerjakan, baik yang wajib maupun yang sunah, baik yang dikerjakan dengan ikhlas maupun yang kurang ikhlas, serta amal yang sedang dan akan dikerjakan nanti. Berikanlah balasan yang sempurna dari sisi-Mu, ya Allah. Ampunilah semua dosa kami, dosa kedua orang tua kami, seluruh kerabat kami, bahkan muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.

Ya Allah, sebagaimana Engkau lahirkan kami di negeri Indonesia ini, maka jagalah persatuan, kesatuan, dan kemerdekaannya. Berilah petunjuk kepada pemimpin kami agar dapat menjalankan tugas amanah dengan baik, dan jadikanlah kami masyarakat yang selalu bergotong-royong bersama pemerintah demi menjaga kemerdekaan, persatuan, dan kesatuan. Sebarkanlah Islam di negara kami dan jadikanlah kaum muslimin berkuasa. Bagi siapa saja yang menginginkan keburukan bagi kaum muslimin, bagi Islam, dan bagi negara kami, maka kembalikanlah tipu daya mereka kepada diri mereka sendiri.

Ya Allah, saudara-saudara kami di beberapa wilayah yang sedang tertindas, seperti di Palestina, di Sudan, dan di berbagai wilayah lainnya yang Engkau lebih ketahui, berada dalam kondisi tidak memiliki kekuatan dan daya kecuali dari sisi-Mu, ya Allah. Kami memohon agar Engkau mengikhlaskan niat mereka, menerima para syuhada mereka, memuliakan Islam di tangan mereka dan tangan kami semua, serta ikut sertakan kami bersama mereka dalam pahala yang baik, melalui doa, harta, maupun jiwa kami. Sebagaimana Engkau satukan kami dalam majelis Jumat ini, maka satukanlah kami kelak di surga firdaus-Mu tanpa hisab.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah[2]: 201)

Ya Allah, berikanlah kami semua yang terbaik di dunia dan yang terbaik di akhirat. Selamatkanlah kami dari api neraka dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang patuh. Ya ‘Azizu ya Ghaffar, wahai Yang Maha Mulia dan Maha Pengampun, ya Rabbal ‘alamin, Tuhan alam semesta. Wasallallahu ala nabiyyina wa habibina muhammadin wa alihi wa sahbihi wa sallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu menyuruh manusia untuk berbuat kebaikan, keadilan, dan berbuat baik kepada sanak kerabat. Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang perbuatan mungkar, perbuatan keji, dan perbuatan pembangkangan sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl[16]: 90)

Jadikanlah peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut sebagai prinsip hidup. Ingatlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Dia akan ingat kepada kalian. Mensyukuri nikmat yang diberikan akan membuat-Nya menambah nikmat tersebut. Mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah amal yang paling besar, dan dirikanlah shalat.

Sumber Video Khutbah Jumat “Menjemput Garis Finish dengan Iman”

Sumber : Khalid Basalamah Official

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: