Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Menyayangi Diri dengan Kepatuhan kepada Syariat” yang disampaikan Ustadz Maududi Abdullah, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA: Hakikat Cinta Diri dan Prioritas Mencintai Rasulullah
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102).
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (QS. An-Nisa'[4]: 1).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” (QS. Al-Ahzab[33]: 70-71).
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
“Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seburuk-buruk urusan adalah perkara yang diadakan-adakan, setiap perkara yang diadakan-adakan adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. Muslim)
Muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Marilah bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang telah mengasihi, menyayangi, serta mencurahkan rahmat dan nikmat yang sangat banyak dalam kehidupan ini. Rahmat dan nikmat yang tiada tara serta tiada terhingga senantiasa dicurahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah penguasa langit dan bumi, karunia tersebut diberikan setiap hari. Hanya orang-orang yang telah tertutup mata hatinya yang tidak mampu melihat betapa banyaknya curahan rahmat dan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengalir setiap hari.
Tidak pernah berlalu satu detik pun dalam kehidupan di permukaan bumi ini yang terlepas dari rahmat dan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap detik yang dilalui selalu dipenuhi oleh aneka ragam karunia-Nya. Oleh karena itu, bersyukur merupakan kewajiban utama seorang manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang selalu mencurahkan kebaikan-Nya dalam keadaan apa pun.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi tercinta, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagai nabi pembawa rahmat dan petunjuk. Beliau telah memberikan kasih sayang yang luar biasa serta pengorbanan tiada tara bagi umat manusia, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjayakan risalah dan menegakkan agama-Nya di muka bumi. Meskipun hidup terpisah jauh dari masa kehidupan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, risalah tersebut masih tetap dapat diterima dan dipelajari saat ini berkat perjuangan beliau yang luar biasa. Oleh karena itu, terdapat kewajiban untuk senantiasa mencintai, mengikuti, dan meneladani Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah memperjuangkan agama ini hingga sampai kepada umatnya, meskipun telah terpisah jarak waktu selama 1400 tahun.
Muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap insan yang normal dan berakal di permukaan bumi ini pasti memiliki rasa sayang terhadap dirinya sendiri. Tidak ada seorang pun manusia yang tidak menyayangi dirinya sendiri. Bahkan ketika seseorang merenungkan tentang siapa sosok yang paling dicintai di dunia ini, jawaban yang muncul adalah diri sendiri melebihi orang lain, termasuk melebihi cinta kepada orang tua, istri, maupun anak.
Terkait hal ini, suatu hari Umar bin Khattab Radhiallahu ‘Anhu pernah menyatakan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits yang sahih:
لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي
“Wahai Rasulullah, engkau benar-benar orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu, kecuali dari diriku sendiri” (HR. Bukhari)
Pernyataan jujur tersebut keluar dari lisan seorang manusia yang sangat jujur, salah seorang wali Allah ‘Azza wa Jalla yang hidup bersama Nabi tercinta, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Melalui riwayat ini, tampak sebuah kenyataan bahwa manusia cenderung mencintai dirinya sendiri melebihi cinta kepada siapapun. Ketika seseorang merenungkan isi hatinya mengenai keberadaan orang lain yang lebih dicintai daripada dirinya sendiri, kenyataan menunjukkan bahwa hal tersebut tidak ada.
Akan tetapi, kecenderungan seperti ini tidak diperbolehkan di dalam syariat yang mulia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meluruskan hal tersebut dengan bersabda kepada Umar bin Khattab Radhiallahu ‘Anhu:
لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ
“Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri” (HR. Bukhari)
Sidang Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berdasarkan petunjuk tersebut, terdapat sebuah kaidah penting dalam agama Allah ‘Azza wa Jalla bahwa mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam harus mendahului dan melebihi cinta kepada diri sendiri. Secara fitrah, setiap manusia baik laki-laki maupun wanita, masyarakat desa maupun kota, pada zaman kapan pun pasti mencintai dirinya sendiri. Atas dasar fitrah inilah manusia selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi dirinya, serta mengupayakan segala sesuatu yang mendatangkan maslahat, keuntungan, dan kebaikan.
Namun, dalam kesempatan yang berbahagia ini, penting untuk saling mengingatkan di antara kaum muslimin. Meskipun benar bahwa manusia menyayangi dirinya sendiri dan tidak ada orang lain yang lebih dicintai daripada ego pribadinya, ada satu poin mendasar yang harus dipahami. Untuk mengetahui mana yang terbaik untuk dikerjakan dan mana yang buruk untuk dihindari, ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya jauh lebih mengetahui urusan hamba-Nya daripada hamba itu sendiri mengetahui tentang dirinya.
Akidah ini harus tertanam kokoh di dalam jiwa. Rasa sayang seorang hamba kepada dirinya sendiri tidak sebanding dengan besarnya kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba tersebut. Karena kasih sayang-Nya yang teramat luas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan secara terperinci hal-hal terbaik yang harus dilakukan, dikerjakan, diyakini, dan dijalani, serta menjelaskan perkara-perkara buruk yang wajib ditinggalkan dan dihindari.
Jika seorang manusia melangkah hanya berlandaskan cinta kepada diri sendiri secara fitrah tanpa bimbingan syariat, setan akan sangat mudah masuk dan memengaruhi hatinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan dalam sebuah hadits:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah.” (HR. Bukhari)
Bisikan dan was-was setan tersebut dapat merasuki rasa cinta manusia kepada dirinya sendiri sehingga berubah menjadi pemuasan hawa nafsu. Oleh karena itu, sidang Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukti nyata dari cinta kepada diri sendiri yang sebenarnya adalah wujud kepatuhan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya mencintai orang-orang beriman melebihi cinta makhluk apa pun kepada sesamanya. Kecintaan yang suci ini tidak mungkin disusupi oleh perangkap setan yang hendak mencelakakan manusia.
Para ulama menjelaskan bahwa seluruh syariat Allah ‘Azza wa Jalla bermuara pada kemaslahatan setiap insan, sedangkan seluruh larangan-Nya bertujuan untuk menghindarkan manusia dari segala bentuk mudarat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
“Maka ambillah kejadian itu untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan” (QS. Al-Hasyr[59]: 2)
KHUTBAH KEDUA : Berserah pada Ilmu Allah dan Menjemput Maslahat Syariat
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَأَنْعِمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
“Segala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya, dan rasa syukur kepada-Nya atas taufik dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya yang menyeru kepada keridaan-Nya. Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam, keberkahan, dan nikmat kepada hamba dan rasul-Mu, Muhammad, serta kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka.”
Sidang Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Prinsip yang telah disampaikan merupakan kebenaran yang tidak bisa diingkari oleh akidah seorang muslim yang tulus. Sungguh mustahil seorang manusia mengetahui maslahat dan mudharat bagi dirinya melebihi luasnya ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, logika orang yang beriman menuntutnya untuk menundukkan diri demi keselamatan jiwanya dengan menaati seluruh aturan, perintah, serta larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Sikap tersebut menjadi bukti nyata bahwa seorang hamba benar-benar menyayangi dirinya sendiri. Ia menyerahkan segala kemaslahatan serta perlindungan dari kemudaratan kepada Rabb-nya, Dzat Yang Maha Mengetahui segala hal terbaik bagi makhluk-Nya melebihi pengetahuan makhluk itu sendiri. Hal ini sejalan dengan keterbatasan pemikiran manusia sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al-Isra'[17]: 85).
Oleh karena itu, orang yang mendekatkan diri kepada agama dan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala serta berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari merupakan orang yang sejatinya menyayangi dirinya sendiri. Sebaliknya, manusia yang berusaha lari dari syariat sesungguhnya tidak menzalimi atau mendatangkan kemudaratan kecuali kepada dirinya sendiri. Tindakan tersebut menjauhkannya dari Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang serta tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya'[21]: 107)
Melalui mimbar ini, khatib mengajak umat muslim sekalian untuk senantiasa berusaha sekuat tenaga di atas permukaan bumi yang singkat ini agar dapat mengamalkan kepatuhan sebanyak-banyaknya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Segala kemudahan yang telah dianugerahkan seyogianya dimanfaatkan untuk mencapai tujuan mulia tersebut. Suatu saat nanti, dunia yang fana ini pasti akan ditinggalkan dan setiap tindakan serta perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan suatu perkara yang dimulai dari diri-Nya sendiri dan diikuti oleh para malaikat-Nya yang senantiasa bertasbih mensucikan-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
”Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya” (QS. Al-Ahzab[33]: 56).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda di dalam hadits:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali” (HR. Muslim)
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَأَنْعِمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
“Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam, keberkahan, dan nikmat kepada hamba dan rasul-Mu, Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya.”
Umat muslim dianjurkan untuk memohon ampunan, ketakwaan, dan kebaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan doa-doa berikut:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Al-A’raf[7]: 23)
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami menyimpang setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi” (QS. Ali ‘Imran[3]: 8)
اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
“Ya Allah, anugerahkanlah ketakwaan pada jiwa kami dan sucikanlah ia karena Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah Pelindung dan Penolongnya” (HR. Muslim)
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا
“Ya Allah, perbaikilah keadaan para pemimpin urusan kami.”
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka” (QS. Al-Baqarah[2]: 201)
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
Hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS. An-Nahl[16]: 90). Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah keutamaan yang paling besar.
Sumber Video Khutbah Jumat “Menyayangi Diri dengan Kepatuhan kepada Syariat”
Sumber : Maududi Abdullah
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS