Khutbah Jumat : Mewaspadai Waswas Setan

Khutbah Jumat : Mewaspadai Waswas Setan

Khutbah Jumat: Terlena Dengan Dunia dan Jabatan
Khutbah Jumat: Tawakal
Khutbah Jumat : Menjemput Garis Finish dengan Iman

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Mewaspadai Waswas Setan” yang disampaikan Ustadz Abu Ihsan al-Atsari, Hafidzahullahu Ta’ala

Mukadimah dan Pesan Takwa

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ،أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ أَحْسَنَ الْكَلامِ كَلامُ اللَّهِ ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Wasiat taqwa disampaikan kepada diri pribadi dan seluruh jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)

Pujian dan rasa syukur senantiasa dipanjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala limpahan karunia serta nikmat-Nya. Selawat beserta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh umatnya hingga hari kiamat.

KHUTBAH PERTAMA : Bahaya Waswas dan Keragu-raguan dari Setan

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan di dalam Al-Qur’an mengenai upaya yang telah, sedang, dan akan terus dilakukan oleh setan terhadap anak cucu Adam, yaitu memunculkan rasa waswas atau keragu-raguan di dalam hati mereka.

Di dalam surah An-Nas, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” (QS. An-Nas[114]: 5)

Membisikkan waswas bermakna menanamkan keragu-raguan ke dalam hati manusia. Keragu-raguan tersebut murni bersumber dari setan yang senantiasa melatih hati manusia agar berada di dalam kondisi ragu. Oleh karena itu, fenomena keragu-raguan tidak boleh dianggap remeh. Keraguan umumnya berakar dari ketidaktahuan (jahil). Seseorang yang tidak memiliki ilmu akan mudah diselimuti rasa ragu, bahkan orang yang berilmu sekalipun dapat terjangkit keraguan, terlebih lagi orang yang tidak berilmu.

Penggunaan kata yuwaswisu di dalam ayat tersebut berbentuk fi’il mudhari’. Bahasa Arab memiliki keindahan dan kesempurnaan makna, yang mana fi’il mudhari’ menunjukkan suatu perbuatan yang sedang berlangsung dan akan terus dilakukan pada masa mendatang.

Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan penegasan bahwa penanaman rasa ragu merupakan pola utama yang dijalankan setan secara terus-menerus hingga hari kiamat, baik kiamat kubra maupun kiamat sughra berupa kematian. Setan senantiasa mempergunakan pola yang sama untuk menyesatkan manusia.

Pola penyesatan melalui keragu-raguan telah diterapkan oleh setan sejak awal kepada Nabi Adam ‘Alaihis Salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan peristiwa antara Nabi Adam ‘Alaihis Salam dan Iblis di dalam surah Thaha.

Kebencian dan dendam kesumat Iblis terhadap Nabi Adam ‘Alaihis Salam timbul karena Iblis merasa terusir dari surga akibat keberadaan Nabi Adam ‘Alaihis Salam. Di dalam melancarkan rasa benci tersebut, Iblis tidak menggunakan cara menakut-nakuti atau meneror, melainkan dengan pendekatan yang halus dan penuh tipu daya kepada manusia.

Di dalam melancarkan penyesatan, setan tidak menggunakan cara-cara yang kasar atau memaksa. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan peringatan di dalam Al-Qur’an agar manusia menjaga diri dari strategi bertahap yang diterapkan oleh setan:

لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

“Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 208)

Setan melancarkan tipu daya secara perlahan dan terencana melalui tahapan demi tahapan. Pendekatan semacam ini telah diterapkan sejak awal kepada Nabi Adam ‘Alaihis Salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan proses pembisikan keraguan tersebut di dalam Al-Qur’an:

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ

“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya.” (QS. Thaha[20]: 120)

Pola penyesatan yang dijalankan oleh setan bersifat konsisten dan berulang, baik kepada Nabi Adam Alaihis Salam maupun kepada seluruh keturunannya, yaitu dengan cara menanamkan rasa ragu di dalam hati manusia.

Tahap Pertama: Penawaran dan Pemutarbalikan Fakta

Setan menghampiri Nabi Adam ‘Alaihis Salam dengan cara bersikap pura-pura akrab serta menyampaikan kalimat penawaran tanpa ada unsur paksaan maupun intimidasi. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan perkataan setan di dalam Al-Qur’an:

قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لا يَبْلَى

“Dia (setan) berkata: ‘Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?'” (QS. Thaha[20]: 120)

Pohon yang ditawarkan oleh setan sebenarnya merupakan pohon yang secara tegas dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk didekati melalui firman-Nya:

لا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ

“Janganlah kamu mendekati pohon ini.” (QS. Al-Baqarah[2]: 35)

Setan dinamakan pemutarbalik kenyataan karena memberikan penamaan yang indah (pohon keabadian) terhadap sesuatu yang dilarang. Keburukan dikemas seolah-olah menjadi suatu kebaikan.

Kondisi tersebut membuat Nabi Adam ‘Alaihis Salam berada di antara dua pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan larangan tersebut. Rasa ragu yang berhasil ditanamkan membuat Nabi Adam ‘Alaihis Salam akhirnya memilih untuk mendekati pohon terlarang tersebut. Pada tahap awal ini, akibat dari pelanggaran belum terlihat secara langsung, sehingga keadaan tampak seolah baik-baik saja.

Tahap Kedua: Mendorong Terjadinya Pelanggaran

Keberhasilan di dalam mengarahkan manusia mendekati larangan tidak membuat setan berhenti. Begitu Nabi Adam ‘Alaihis Salam sudah berada di dekat pohon tersebut, setan kembali menerapkan pola yang sama dengan membisikkan keraguan mengenai keputusan untuk memetik buahnya atau tidak.

Nabi Adam ‘Alaihis Salam menyaksikan buah dari pohon tersebut berada di dalam jangkauan yang sangat dekat, sebagaimana gambaran kemudahan memetik buah-buahan di dalam surga yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ

“Buah-buahannya dekat.” (QS. Al-Haqqah[69]: 23)

Kedekatan posisi serta godaan yang terus dibisikkan oleh setan menjadikan keraguan tahap kedua ini berlanjut pada tindakan memetik dan mengonsumsi buah yang dilarang tersebut.

Keragu-raguan yang terus dihembuskan oleh setan mendorong Nabi Adam ‘Alaihis Salam pada tahapan berikutnya, yaitu menentukan pilihan untuk memetik atau tidak memetik buah terlarang tersebut. Pilihan akhirnya jatuh pada tindakan memetik buah tersebut. Pada tahapan ini, akibat buruk dari dosa belum secara langsung terlihat.

Setan terus melancarkan tipu dayanya saat buah terlarang tersebut telah berada di dalam genggaman. Rasa ragu kembali ditanamkan untuk menentukan apakah buah tersebut dimakan atau tidak. Dorongan rasa penasaran serta anggapan meremehkan dosa membuat Nabi Adam ‘Alaihis Salam beserta istrinya memakan buah tersebut.

Saat pelanggaran tersebut terjadi, akibat dari dosa langsung ditampakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kejadian tersebut diabadikan di dalam Al-Qur’an:

فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى

“Maka keduanya memakannya, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Rabbnya dan sesatlah ia.” (QS. Thaha[20]: 121)

Pelanggaran terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakibatkan terlepasnya pakaian surga yang mengenai tubuh mereka, sehingga Nabi Adam ‘Alaihis Salam beserta istrinya berusaha menutupi aurat menggunakan dedaunan surga.

Setan tidak secara langsung menjerumuskan manusia ke dalam kebinasaan dosa yang besar, melainkan melalui tahapan dan langkah-langkah yang terencana. Namun, seluruh tahapan tersebut bertumpu pada satu pola utama, yaitu membisikkan rasa ragu (waswas).

KHUTBAH KEDUA : Penerapan Waswas dalam Kehidupan dan Ibadah

Keberadaan rasa ragu di dalam kehidupan sehari-hari patut diwaspadai. Setan memulai penyesatan dari hal-hal kecil yang berisiko rendah, seperti memunculkan keraguan di dalam menentukan pilihan antara pergi ke masjid atau ke pusat perbelanjaan. Pilihan yang diambil dapat mengarahkan seseorang pada hal yang kurang bermanfaat.

Keragu-raguan tersebut dapat meningkat pada perkara yang lebih besar, yaitu di dalam pelaksanaan ibadah. Banyak orang mengalami waswas saat hendak menunaikan shalat, seperti timbulnya keraguan mengenai batal atau tidaknya wudhu akibat buang angin.

Keraguan di dalam shalat yang terus dipelihara dapat merusak kekhusyukan dan kesempurnaan ibadah, sehingga perhatian seorang hamba selama shalat dari takbir hingga salam teralih pada keraguan kondisi bersucinya.

Keragu-raguan yang ditiupkan oleh setan dapat meningkat hingga tingkat yang sangat membahayakan, yaitu merusak hal-hal yang berkaitan dengan takdir dan iman. Ketika seseorang mengucapkan kalimat penyesalan seperti, “Seandainya tadi melakukan hal tersebut, niscaya hasilnya tidak akan seperti ini,” maka hal itu menandakan bahwa hati telah terjangkit waswas dari setan berupa keraguan di dalam menerima ketetapan serta takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan petunjuk untuk menyikapi musibah atau takdir yang tidak sesuai dengan keinginan:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Jika engkau tertimpa sesuatu (musibah), maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku melakukan demikian, tentu akan menjadi demikian dan demikian.’ Akan tetapi katakanlah: ‘Ini sudah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena sesungguhnya perkataan ‘seandainya’ itu membuka perbuatan setan.” (HR. Muslim)

Penggunaan kata penyesalan tersebut menjadi pintu masuk bagi setan untuk menyuntikkan waswas, sehingga timbul prasangka buruk (su’uzhan) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta pertanyakan terhadap takdir-Nya.

Bahkan di dalam hal akidah, setan berusaha menanamkan keraguan tentang keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dipaparkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ

“Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian lalu bertanya: ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ hingga dia bertanya: ‘Siapa yang menciptakan Rabbmu?'” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setiap hamba yang mendapati bisikan keraguan semacam itu hendaknya menempuh lima langkah untuk membentengi hatinya:

  • Menghentikan bisikan keraguan (waswas) tersebut secara tegas.
  • Meludah tipis ke arah kiri sebanyak tiga kali untuk menolak kehadiran setan.
  • Mengucapkan ikrar keimanan:

آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ

“Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.” (HR. Muslim)

  • Membaca Surah Al-Ikhlas:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ، اللَّهُ الصَّمَدُ ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas[112]: 1-4)

  • Membaca ta’awwudz untuk memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Langkah-langkah tersebut merupakan perisai utama untuk menepis keragu-raguan yang dilancarkan oleh setan. Seluruh hamba hendaknya senantiasa melatih diri sepanjang hayat untuk membendung keraguan dan berpegang teguh pada keyakinan yang lurus.

Penutup

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا تَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sumber Video Khutbah Jumat “Mewaspadai Waswas Setan”

Sumber : Maa HaaDzaa

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: