khutbah Jumat : Tauhid Sebagai Inti Ketakwaan

khutbah Jumat : Tauhid Sebagai Inti Ketakwaan

Khutbah Jumat: Pentingnya Menyambung Silaturahmi
Khutbah Jumat: Ilmu Agama dan Ilmu Dunia
Khutbah Jumat: Orang Shalih Yang Bangkrut

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Tauhid Sebagai Inti Ketakwaan” yang disampaikan Ustadz Abu Ja’far Cecep Rahmat, Hafidzahullahu Ta’ala

Muqaddimah Khutbah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)

أَمَّا بَعْدُ:

KHUTBAH PERTAMA : Hak Allah atas Hamba dan Hak Hamba atas Allah

Puji dan syukur senantiasa dipanjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan sedemikian banyak kenikmatan, utamanya nikmat Islam, iman, dan kesehatan, sehingga kemudahan bertaburan dalam melaksanakan berbagai kebaikan.

Wasiat takwa senantiasa disampaikan untuk senantiasa melaksanakan segala perintah-Nya serta meninggalkan seluruh larangan-Nya. Meskipun terkadang berselisih dengan hawa nafsu, ketakwaan merupakan kunci kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kesuksesan serta surga senantiasa disediakan khusus bagi orang-orang yang bertakwa.

Bentuk ketakwaan terbesar yang menjadi perintah paling agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah mengesakan-Nya (mentauhidkan Allah) dalam beribadah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (QS. An-Nisa'[4]: 36)

Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beribadah merupakan manifestasi dari firman-Nya:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah[1]: 5)

Seluruh peribadatan seperti shalat, zakat, puasa, haji, doa, harapan, rasa cinta, rasa takut, tawakal, sembelihan, hingga nazar hanya boleh ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memalingkan satu saja dari jenis ibadah tersebut kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam kesyirikan. Dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala jika pelakunya tidak sempat bertaubat sebelum meninggal dunia, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa'[4]: 48)

Keutamaan tauhid disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika bertanya kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu mengenai hak Allah atas hamba-Nya serta hak hamba atas Allah. Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu menjawab bahwa Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan:

حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sedangkan hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan mengazab siapa saja yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan tujuan utama penciptaan manusia dan jin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat[51]: 56)

Jaminan keselamatan bagi orang yang menjaga tauhid ditegaskan pula dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

Barang siapa yang menemui Allah (meninggal dunia) dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, niscaya ia masuk surga. Dan barang siapa yang menemui-Nya dalam keadaan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, niscaya ia masuk neraka.” (HR. Muslim)

Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya ia akan dimasukkan ke dalam neraka. Keagungan tauhid dan keutamaan terbebas dari syirik ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam sebuah hadits qudsi:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa seisi bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan seisi bumi pula.” (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, akidah dan tauhid harus senantiasa dijaga dengan penuh kesungguhan. Penggantungan harapan, penyampaian doa, serta penyerahan tawakal tidak boleh ditujukan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap hamba yang menyandarkan urusannya serta berharap kepada makhluk dipastikan akan mengalami kekecewaan.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ.

KHUTBAH KEDUA : Doa Penutup Khutbah

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melalui firman-Nya di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Sumber Video Khutbah Jumat “Tauhid Sebagai Inti Ketakwaan”

Sumber : Al-Aqsho TV

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: