Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Pengorbanan Para Sahabat” yang disampaikan Ustadz Afifi Abdul Wadud, Hafidzahullahu Ta’ala
Muqaddimah Khutbah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]: 70-71)
أَمَّا بَعْدُ
KHUTBAH PERTAMA : Kedudukan dan Pujian atas Para Sahabat Nabi
Di antara tuntutan iman yang sangat mendasar adalah mencintai para sahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in. Mereka merupakan manusia serta generasi terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah memuji para sahabat secara keseluruhan maupun secara individu.
Pujian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para sahabat diabadikan di dalam Al-Qur’an melalui berbagai firman-Nya:
أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Merekalah orang-orang yang jujur.” (QS. Al-Hasyr[59]: 8)
أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taubah[9]: 88)
أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا
“Merekalah orang-orang yang benar-benar beriman.” (QS. Al-Anfal[8]: 4)
أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
“Merekalah orang-orang yang mengikut jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurat[49]: 7)
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 119)
Keutamaan para sahabat dikuatkan pula melalui sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي
“Sebaik-baik manusia adalah yang berada pada zamanku (para sahabat).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh sebab itu, mencintai para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan bagian dari keimanan. Sebaliknya, membenci serta mencela para sahabat merupakan bentuk kekafiran, kemunafikan, dan sikap zindiq. Di antara kelompok yang gemar mencaci maki para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah kelompok Rafidhah yang berpusat di Iran, yang mana Iran merupakan keturunan bangsa Persia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan para sahabat sebagai teladan dalam beragama. Mengikuti jalan para sahabat dalam beragama merupakan sebuah kewajiban, sedangkan menyelisihi jalan mereka adalah suatu kesesatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan barang siapa yang mendurhakai Rasul sesudah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa'[4]: 115)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan syariat agama ini dengan seterang-terangnya, hingga keadaannya di malam hari sama terang benderangnya seperti di siang hari.
Seseorang yang menyimpang dari cahaya serta warisan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dipastikan akan mengalami kebinasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam siapa saja yang menyelisihi petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak mengikuti jalan para sahabat melalui firman-Nya:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan barang siapa yang mendurhakai Rasul sesudah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa'[4]: 115)
Pihak yang paling berhak menyandang predikat orang-orang mukmin adalah para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in. Merekalah generasi yang dipastikan berada di atas shiratal mustaqim, paling memahami agama yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta paling lurus dalam mengamalkannya.
Keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terbagi ke dalam tiga kelompok utama sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an:
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah.” (QS. At-Taubah[9]: 100)
- Kaum Muhajirin, yaitu generasi pertama yang menyambut dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka berhijrah dari Mekkah ke Madinah demi mengharap keridaan, karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta membela agama-Nya. Seluruh kepentingan duniawi dikorbankan demi perjuangan tersebut.
- Kaum Anshar, yaitu warga Madinah yang menyambut kedatangan kaum Muhajirin. Mereka mempersiapkan keimanan dan tempat tinggal serta menunjukkan loyalitas tinggi atas dasar cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para pejuang agama-Nya.
- Pengikut Jalan Para Sahabat, yaitu orang-orang yang meneladani kaum Muhajirin dan Anshar dengan cara yang terbaik.
Generasi saat ini tidak mungkin menjadi bagian dari kaum Muhajirin maupun Anshar. Namun, peluang terbuka lebar untuk masuk ke dalam kelompok ketiga, yaitu dengan mengikut jejak para sahabat secara baik.
Para sahabat merupakan tolok ukur kelurusan beragama, baik dalam aspek ilmu, pemahaman, maupun pengamalan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan peringatan mengenai banyaknya penyimpangan serta pemikiran yang keluar dari shiratal mustaqim. Agar seorang hamba tetap lurus dan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati yang selamat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan wasiat melalui sabdanya:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia dan gigitlah ia dengan gigi geraham.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Seseorang yang mengikuti jalan para sahabat dipastikan berada di atas shiratal mustaqim. Sebaliknya, barang siapa yang menyelisihi mereka dipastikan akan menyimpang sejauh tingkat penyimpangannya dari jalan para sahabat. Sejarah, Al-Qur’an, dan hadits telah mencatat secara abadi betapa besarnya pengorbanan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Penanggalan tahun Hijriah kaum muslimin diambil dari peristiwa hijrahnya para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Peristiwa hijrah menjadi titik tolak tercapainya kejayaan Islam hingga berhasil menundukkan kekaisaran Persia dan Romawi. Perkembangan tersebut bermula dari hijrahnya para sahabat ke Madinah untuk membangun kekuatan, sehingga Islam dapat tersebar ke berbagai negeri melalui dakwah serta perjuangan mereka.
Salah satu kisah yang amat fundamental terjadi pada Suhaib ar-Rumi Radhiyallahu ‘Anhu. Ketika hendak berhijrah, langkahnya dihadang oleh kaum kafir Quraisy yang menolak hartanya dibawa keluar dari Mekkah. Suhaib ar-Rumi Radhiyallahu ‘Anhu menawarkan seluruh harta serta menunjukkan lokasi simpanannya kepada kaum Quraisy agar diizinkan melanjutkan perjalanan ke Madinah. Pengorbanan tersebut merupakan bentuk transaksi perdagangan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala demi mempertahankan keimanan dan hijrah. Setibanya di Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyambutnya dengan bersabda:
رَبِحَ الْبَيْعُ أَبَا يَحْيَى، رَبِحَ الْبَيْعُ أَبَا يَحْيَى
“Sungguh beruntung jual beli tersebut, wahai Abu Yahya! Sungguh beruntung jual beli tersebut, wahai Abu Yahya!” (HR. Al-Hakim)
Peristiwa pengorbanan harta Suhaib ar-Rumi Radhiyallahu ‘Anhu demi keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua : Kewibawaan Karakter Generasi Sahabat
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ، أَمَّا بَعْدُ
Umat Islam pada masa lalu memiliki kekuatan jiwa yang luar biasa sehingga memicu rasa gentar di hati musuh-musuh mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat disegani oleh pihak lawan bahkan sejak sebulan sebelum kedatangan pasukan muslimin.
Ketakutan para musuh timbul akibat keteguhan mental kaum muslimin. Khalid bin al-Walid Radhiyallahu ‘Anhu pernah menegaskan karakter pasukan muslimin kepada musuhnya bahwa pasukan yang dipimpinnya mencintai kematian sebagaimana pihak musuh mencintai kehidupan. Para sahabat bertindak bagaikan singa di siang hari dan menjadi hamba yang tekun beribadah di malam hari. Jiwa mereka dibangun secara kokoh di atas akidah serta orientasi akhirat tanpa terbuai oleh kemewahan duniawi. Karakter tersebut membuat Allah Subhanahu wa Ta melebihkan dan memberikan kekuasaan kepada mereka selama rentang waktu yang sangat panjang.
Kondisi umat Islam saat ini berada pada tingkat yang amat rendah akibat terjangkit penyakit spiritual sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا… قَالُوا: وَمَا الْوَهَنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Hampir tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa berebut memperebutkan kalian sebagaimana orang-orang merebutkan makanan di piringnya… Para sahabat bertanya, ‘Apakah itu al-wahn?’ Beliau menjawab, ‘Cinta dunia dan takut mati.'” (HR. Abu Dawud)
Sikap enggan mengambil risiko demi agama terjadi saat hati telah terikat secara berlebihan pada urusan duniawi. Penyebab kehinaan umat ditunjukkan pula oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam haditsnya:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Apabila kalian telah melakukan jual beli dengan sistem ribawi (‘inah), sibuk memegang ekor-ekor sapi, rida dengan pertanian, dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpa kekuasaan kehinaan atas kalian yang tidak akan dicabut hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud)
Kehinaan akan senantiasa menimpa kaum muslimin selama berpaling dari ajaran agamanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan jalan keluar dari kehinaan tersebut melalui sabdanya:
سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Niscaya Allah akan menimpa kekuasaan kehinaan atas kalian yang tidak akan dicabut hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud)
Kembali kepada agama bermakna memahami ajaran Islam secara benar dan baik, memurnikan tauhid, serta mengamalkan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara utuh. Kelurusan dalam menjalankan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi kunci kemuliaan kaum muslimin. Kemuliaan (‘izzah) yang hakiki hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta melebihkan, Rasul-Nya, serta orang-orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an:
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ
“Padahal kekuatan (kemuliaan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al-Munafiqun[63]: 8)
Kehidupan dunia bersifat sangat singkat, sementara, dan sedikit. Agama merupakan hal utama yang tidak boleh dikorbankan demi kepentingan duniawi semata. Kehidupan di dunia tidak dapat diulang kembali untuk kedua atau ketiga kalinya, sehingga spekulasi dalam beragama wajib dihindari.
Umat Islam senantiasa membutuhkan nikmat istiqamah agar dapat menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan husnul khatimah serta mendapat panggilan yang mulia:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr[89]: 27-30)
Doa Penutup
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa berselawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melalui firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Sumber Video Khutbah Jumat “Pengorbanan Para Sahabat”
Sumber : Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A.
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS