Khutbah Jumat: Sabarlah…Raihlah Kebahagiaan

Khutbah Jumat: Sabarlah…Raihlah Kebahagiaan

Khutbah Jumat : Ngerinya Kezaliman di Bulan Haram
Khutbah Jumat: Agama Islammu Jangan Kau Sepelekan
Naskah Khutbah Jumat Memakmurkan Masjid

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Sabarlah…Raihlah Kebahagiaan” yang disampaikan Ustadz Firanda Andirja, Hafidzahullahu Ta’ala

Pembuka Khutbah (Muqaddimah)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

KHUTBAH PERTAMA : Hakikat Kehidupan sebagai Ajian Ujian

Setiap hamba diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk diuji di dalam kehidupan dunia, sehingga kesiapan menghadapi ujian menjadi hal yang sangat mendasar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk[67]: 2)

Penciptaan alam semesta beserta perhiasan di atas bumi pun dimaksudkan sebagai sarana ujian bagi manusia. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arasy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Hud[11]: 7)

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahf[18]: 7)

Seorang muslim hendaknya mempersiapkan diri menghadapi jalannya ujian kehidupan. Dinamika ujian kerap mendatangkan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi, sebagaimana peribahasa menyatakan bahwa angin sering kali berembus ke arah yang berlawanan dengan pelayaran kapal.

Ciri keselamatan dari kerugian diatur melalui sikap saling mengingatkan dalam kesabaran. Kehidupan manusia senantiasa berpindah dari satu ujian ke ujian berikutnya.

Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai Imamush Shabirin (pemimpin orang-orang yang bersabar) mendapatkan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’-ala me-rekonstruksi perintah sabar secara berulang di dalam Al-Qur’an:

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ

“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu.” (QS. Al-Insan[76]: 24)

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلاً

“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” (QS. Al-Ma’arij[70]: 5)

وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan.” (QS. Al-Muzzammil[73]: 10)

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.” (QS. Al-Ahqaf[46]: 35)

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya.” (QS. Al-Kahf[18]: 28)

Kisah-kisah para nabi diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala guna meneguhkan hati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَكُلاًّ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (QS. Hud[11]: 120)

Setelah memaparkan perjuangan dakwah Nabi Nuh ‘Alaihissalam selama 950 tahun, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلاَ قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ

“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu; tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Hud[11]: 49)

Sabar berkedudukan sebagai ibadah yang sangat agung. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai luasnya karunia kesabaran:

وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang-orang yang bersabar memperoleh cinta, kesertaan, serta ganjaran tanpa batas dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Landasan keutamaan ini ditegaskan di dalam Al-Qur’an:

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 146)

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 153)

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar[39]: 10)

Bentuk kesabaran yang diperintahkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sabrun jamil (sabar yang indah) sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلاً

“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” (QS. Al-Ma’arij[70]: 5)

Hakikat dari sabrun jamil adalah kesabaran yang tidak melibatkan pengaduan kepada manusia sama sekali, baik melalui ucapan lisan, raut wajah, maupun isyarat. Seorang hamba yang memiliki sabrun jamil memfokuskan seluruh pengaduan dan keluh kesahnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Prinsip kesabaran yang indah (sabrun jamil) diutarakan oleh Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam ketika harus terpisah dari putra yang sangat dicintainya, Nabi Yusuf ‘Alaihissalam. Ungkapan kesabaran tersebut diabadikan di dalam Al-Qur’an:

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِيفُونَ

“Maka hanya bersabar dengan sabar yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah jualah tempat memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan.” (QS. Yusuf[12]: 18)

Sabrun jamil tercermin melalui sikap tidak mengeluh kepada siapa pun. Ketika mendapatkan kabar bahwa putranya yang lain, Bunyamin, tertahan akibat tuduhan mencuri serta putra tertua enggan pulang sebelum menemui ayahnya, Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam kembali menegaskan kesabarannya:

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Maka hanya bersabar dengan sabar yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadamu; sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf[12]: 83)

Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam menegaskan bahwa seluruh pengaduan atas rasa sedih dan penderitaan hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui firman-Nya:

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf[12]: 86)

Setiap hamba hendaknya berusaha tidak mengeluh kepada manusia sewaktu ditimpa musibah. Mengeluh kepada manusia sama halnya dengan mengeluhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Penyayang kepada makhluk yang tidak memiliki sifat penyayang. Seorang yang diuji hendaknya memanjatkan pengaduan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta bersabar, karena kesabaran akan membawanya kepada kesudahan yang indah sebagaimana firman-Nya:

فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ

“Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Hud[11]: 49)

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

KHUTBAH KEDUA : Tiga Tingkatan Sabar Menurut Ibnu Qayyim

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ

Ibnu Qayyim rahimahullahu ta’ala menjelaskan bahwa kesabaran yang berkaitan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala terbagi menjadi tiga tingkatan:

1. As-Sabru Billah (Sabar dengan Pertolongan Allah)
As-Sabru billah merupakan kesabaran yang bersandar penuh kepada pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang yang diuji tidak boleh bersandar pada kecerdasan, pengalaman, keuletan, maupun kekuatan ekonominya semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Dan bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl[16]: 127)

2. As-Sabru Lillah (Sabar Karena Allah)
As-Sabru lillah merupakan kesabaran yang diniatkan secara ikhlas hanya demi mengharap keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sabar adalah bentuk ibadah, sehingga tidak perlu dipublikasikan atau dipamerkan kepada orang lain agar mendapat pujian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

“Dan karena Rabbmu, bersabarlah.” (QS. Al-Muddatstsir[74]: 7)

3. As-Sabru Ma’allah (Sabar Bersama Allah)
As-Sabru ma’allah merupakan kondisi ketika seorang hamba berusaha untuk rida terhadap seluruh keputusan dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesabaran atas setiap ketetapan Allah Subhanahu wa Ta me-yakinkan bahwa kesudahan yang diperoleh pasti mendatangkan kebaikan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai keutamaan sikap seorang mukmin:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka hal itu baik baginya.” (HR. Muslim)
Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam sebuah hadits:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Bala (ujian) akan senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, anaknya (keluarganya), maupun hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa membawa dosa sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)

Terkadang, telah tercatat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala suatu kedudukan (manzilah) yang tinggi bagi seorang hamba. Namun, amal ibadah hamba tersebut ternyata belum cukup untuk mengangkatnya ke derajat mulia tersebut.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ujian pada diri, harta, istri, serta anak-anaknya.
Di saat yang bersamaan, Allah Subhanahu wa Ta’ala menanamkan kesabaran di dalam hati hamba tersebut untuk menghadapi ujian-ujiannya hingga ia berhasil mencapai kedudukan yang telah ditetapkan untuknya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلاَهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبَلِّغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى

“Sesungguhnya seorang hamba, apabila telah ditetapkan baginya suatu kedudukan dari Allah, yang tidak dapat dicapainya dengan amalannya, maka Allah akan mengujinya pada tubuhnya, hartanya, atau anaknya. Kemudian Allah menjadikannya bersabar atas hal itu, hingga akhirnya Allah menyampaikan hamba tersebut pada kedudukan yang telah ditetapkan untuknya dari Allah Yang Maha Tinggi.” (HR. Abu Dawud)

Penutup Khutbah

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hamba-hamba-Nya sebagai pribadi yang senantiasa bersabar, rida terhadap segala keputusan-Nya, serta selalu mengharapkan ganjaran terbaik dari-Nya.
Sebagai penutup, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa berselawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)

Sumber Video Khutbah Jumat “Sabarlah…Raihlah Kebahagiaan”

Sumber : Firanda Andirja

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: