Teks Khutbah Idul Fitri Tentang Pelajaran dari Ramadhan

Teks Khutbah Idul Fitri Tentang Pelajaran dari Ramadhan

Teks Khutbah Idul Fitri Tentang Pelajaran dari Ramadhan ini kami catat dari khutbah Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafidzahullah. Download versi PDFnya via telegram t.me/ngajiID/9

Lomba #NyatetKajian Berhadiah
Buat kamu yang suka dengerin dan nyatet kajian, yuk ikuti Lomba Nyatet Kajian Periode Syawal 1441 H (ngaji.id/klik/62)

Teks Khutbah Idul Fitri Pertama Tentang Pelajaran dari Ramadhan

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَه،ُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أما بعد

Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar Walillahil Hamd…

Ma’asyiral muslimin..

Hari ini adalah hari kebahagiaan, hari ini adalah hari kemenangan setelah kaum muslimin berjuang selama sebulan penuh menahan lapar, menahan dahaga, menahan syahwat, semuanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka bergembiralah pada hari ini. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لِلصَّائم فَرْحتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، فَرْحةٌ عِنْدَ لقَاء رَبِّهِ.

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa dia akan mendapatkan dua kebahagiaan; kebahagiaan tatkala berbuka dan kebahagiaan tatkala bertemu dengan Rabbnya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Adapun kebahagiaan tatkala bertemu dengan Rabbnya, dia akan mendapatkan ganjaran yang besar pada hari kiamat kelak. Bukankah Allah subhanahu wa Ta’ala dalam hadits Qudsi berkata:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ

“Seluruh amalan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa.”

فَإِنَّهُ لِي

“Maka puasa adalah untukku.”

وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Maka Aku yang akan membalas pahala tersebut ini.” (HR. Bukhari)

Ini isyarat bahwasannya puasa adalah spesial dan Allah akan berikan ganjaran yang sangat besar. Oleh karenanya banyak ahlu tafsir yang mengatakan diantara pahala orang puasa sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

…إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ ﴿١٠﴾

“…sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi ganjaran tanpa batas.”

Dan orang tatkala puasa, dia sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan dia sabar dalam menjauhi larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dia sabar menahan lapar dan dahaga, maka dia akan mendapatkan pahala tanpa batas.

Demikian juga orang yang berpuasa akan dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat kelak. Dalam hadits, kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Sungguh bau mulut seorang yang sedang berpuasa akan lebih harum dari minyak kasturi.”

Sebagian ulama mengatakan yaitu tatkala di padang mahsyar. Pada hari kiamat kelak akan keluar bau harum dan wangi dari mulut mereka karena mereka selama ini berpuasa.

Demikian juga mereka akan masuk ke surga melalui pintu yang khusus bernama Baburroyyan.

Ma’asyiral muslimin,

Demikian juga tatkala hari kiamat, maka puasa dan Al-Qur’an akan membelanya. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak.”

يَقُولُ الصِّيَامُ

“Puasa berkata”

رَبِّ ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ

“Yaa Rabbku, sesungguhnya aku telah menahan dia jadi makanan dan dari syahwatnya.”

فَشَفِّعْنِي فِيهِ

“Berilah izin kepadaku untuk memberi syafaat kepadanya.”

وَيَقُولُ الْقُرْآنُ

“Dan Al-Qur’an berkata”

رَبِّ ، مَنَعْتُهُ النَّوْمَ

“Yaa Rabbku, aku telah mencegah dia dari tidur.”

فَشَفِّعْنِي فِيهِ

“Berikanlah izin kepadaku untuk memberi syafaat kepadanya.”

Ma’asyiral muslimin..

Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar Walillahil Hamd…

Adapun kebahagiaan yang kedua:

فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ،

“Kebahagiaan tatkala berbuka.”

Setiap hari tatkala berbuka dia berbahagia. Terlebih lagi tatkala dia menyempurnakan tiga puluh hari atau sebulan penuh berpuasa. Maka hari ini disebut dengan ‘Idul Fithr (hari raya berbuka) karena orang-orang yang berpuasa pada hari ini bergembira dengan berbuka, gembira karena telah menjalankan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga:  Kultum Singkat Ramadhan: Apakah Tidurnya Orang Berpuasa Adalah Ibadah?

Maka berbahagialah kaum muslimin sekalian, antum sekalian yang tatkala di bulan Ramadhan berdiri lama karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga pada yaumul qiyamah kelak antum dimudahkan untuk tidak lama menunggu kedatangan Allah Subhanahu wa Ta’ala di padang mahsyar.

Berbahagialah antum tatkala di bulan Ramadhan bersedekah, maka kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya setiap orang pada hari kiamat kelak akan berada di bawah naungan sedekahnya.”

Lihat juga: Ceramah Singkat Kedudukan Dan Manfaat Sedekah Dalam Islam

Bergembiralah antum yang berpuasa, bergembiralah antum yang membaca Al-Qur’an, yang mengkhatamkan Al-Qur’an, maka pada hari ini adalah hari kemenangan bagi antum sekalian.

Ma’asyiral muslimini..

Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah pesantren selama sebulan yang megajarkan kepada kita banyak makna-makna yang harus kita bahwa terus makna-makna tersebut menghadapi 11 bulan kedepan sampai datang bulan Ramadhan berikutnya.

Diantara faidah-faidah atau pelajaran yang bisa kita ambil dari kegiatan kita selama bulan Ramadhan:

1. Peka terhadap orang miskin

Dengan berpuasa, kita diajari untuk peka terhadap orang-orang yang miskin, orang-orang yang kelaparan. Kita tahu bagaimana susahnya rasa lapar. Tatkala kita berpusa, kita bekerja, maka rasa lapar yang menusuk perut kita, rasa dahaga yang sangat kita rasakan, demikianlah dirasakan oleh orang-orang miskin yang mereka susah untuk makan, susah untuk minum.

Oleh karenannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا ءَامَنَ بِي مَنْ باتَ شَبْعانَ وَجارُهُ جائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ

“Tidaklah beriman kepadaku -kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- seseorang yang tidur dalam kondisi kenyang sementara tetangganya tidur dalam kondisi lapar.” (HR. Thabrani)

Maka di sini Nabi menyuruh kita untuk peka terhadap orang sekitar kita. Jangan sampai kita dalam kondisi senang-senang sementara orang sekitar kita dalam kondisi kita susah.

Dan kita berbahagia, setiap bulan Ramadhan kita bisa buka bersama bersama kawan-kawan, bersama karib kerabat, bersama anak dan istri. Sementara di bumi yang lain, saudara-saudara kita tidak bisa berpuasa bersama kerabat mereka. Ada seorang kawan dari Suria berkata: “Beberapa tahun yang silam kita berbuka bersama kerabat, kakak adik berkumpul, sekarang kalau bisa membuka kita terpencar-pencar. Bahkan keluarga di 4 benua berbeda.”

Bayangkan betapa bahagianya kita bisa merasakan puasa bersama dengan keluarga dan bisa berbuka bersama dengan keluarga. Maka ini nikmat yang harus kita syukuri.

2. Meninggalkan maksiat

Kemudian di antara pelajaran yang bisa kita ambil dari bulan Ramadhan. Kita tatkala bulan Ramadhan, bagaimanapun kondisi kita, kita tidak berani untuk berbuka, tidak berani makan makanan, tidak berani minum meskipun tidak ada seorangpun yang melihat kita. Maka ini sebagai pelajaran bagi kita untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meskipun tidak ada yang melihat kita.

Betapa banyak orang yang tatkala di hadapan kawan-kawannya dia nampak bertakwa. Tetap tatkala dia bersendirian, maka dia melanggar perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak dia jaga pandangannya, tidak dia jaga lisannya, tidak dia jaga pendengarannya. Maka dengan berpuasa, kita belajar tentang muraqabah. Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengawasi kita.

Kalau karena Allah kita bisa meninggalkan perkara yang halal, makanan halal kita tinggalkan, minum halal kita tinggalkan, berhubungan dengan istri kita tinggalkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bagaimana lagi dengan perkara-perkara maksiat? Seharusnya kita lebih takut untuk melanggarnya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Saling mengingatkan dalam ketaatan

Diantara pelajaran yang bisa kita ambil dari bulan Ramadhan adalah bahwasannya tatkala bulan Ramadhan kita bekerjasama antara kita, istri dan anak-anak untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Istri memasakkan makan sahur, membangunkan anak-anak, kita sahur bersama mereka, saling mengingatkan untuk berpuasa, saling mengingatkan untuk shalat malam, saling memberi motivasi, maka ini pelajaran sangat berharga bahwasannya dalam menjalani kehidupan rumah tangga, kita harus bersama-sama, tidak boleh egois.

Baca Juga:  Kultum Ramadhan Singkat: Kultum Tentang Malam Lailatul Qadar

Oleh karenanya Nabi Shallalalhu ‘Alaihi wa Sallam tatkala 10 hari terakhir, apa yang dikatakan tentang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

كَانَ إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ

“Tatkala tiba di 10 malam hari terakhir di bulan Ramadhan.”

شَدَّ مِئْزَرَهُ

“Maka Nabi mengencangkan sarungnya.”

وَأَحْيَا لَيْلَهُ

“Dan Nabi menghidupakan malamnya dengan beribadah.”

وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Dan Nabi bangunkan istrinya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Ini dalil bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memikirkan istrinya agar istrinya juga beribadah. Maka dalam kehidupan ini tidak boleh seorang egois: “Yang penting saya beriman, saya tidak peduli dengan istri dan anak-anak saya, masing-masing urusannya.” Tidak, seorang tidak boleh egois, dia harus memikirkan anaknya, dia harus memikirkan istrinya.

Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ…

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dari neraka..”

Apakah sampai di situ, titik? Belum, masih koma. Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian, jaga anak kalian, jaga istri kalian, jangan sampai terkena adzab neraka jahannam.” (QS. At-Tahrim[66]: 6)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ

Suruhlah keluargamu untuk shalat, perintahkanlah anak istrimu untuk shalat.”

Maka dalam kehidupan ini kita harus saling bantu-membantu antara suami dan istri dan anak-anak agar kita bisa besama-sama dikumpulkan dalam surga kelak.

Ma’asyiral muslimin..

Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar Walillahil Hamd…

4. Perhatian kepada istri

Diantara pelajaran yang bisa kita ambil dari bulan Ramadhan yaitu bagaimana perhatian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap istrinya meskipun beliau sedang berpuasa. Datang hadits-hadits yang menunjukkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meskipun sibuk berpuasa, meskipun sibuk i’tikaf, beliau tetap memperhatikan istri-istri beliau. Diantaranya kata ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dalam shahih Al-Bukhari:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ ، وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

“Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menciumku dan mencumbuiku padahal dia sedang berpuasa dan dia lebih bisa menahan syahwatnya.”

Demikian juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala i’tikaf, lihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membangunkan istrinya untuk shalat malam. Bahkan tatkala Nabi sedang i’tikaf, datang istri Shafiyyah bintu Huyay kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di masjid kemudian ngobrol dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka Nabi pun mengobrol dengan istrinya bahkan Nabi keluar dari masjid untuk mengantar istrinya ke rumahnya padahal beliau sedang sibuk beribadah.

Oleh karenanya seorang tidak ada alasan baginya untuk tidak perhatian terhadap istrinya. Jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang super sibuk dan sibuk dengan ibadah, yang paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetap bisa mesra dengan istrinya meskipun di bulan Ramadhan, apalagi di luar bulan Ramadhan.

Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar Walillahil Hamd…

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب وخطيئة فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Teks Khutbah Idul Fitri Kedua Tentang Pelajaran dari Ramadhan

الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلي عليه وعل أله وأصحابه وإخوانه.

Ma’asyirol Muslimin,

Diantara pelajaran yang kita ambil dari bulan Ramadhan yaitu:

5. Murahnya hati untuk banyak bersedekah di bulan Ramadhan

Oleh karenanya Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَ كَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

“Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam orang yang paling dermawan, dan dia sangat dermawan lagi tatkala di bulan Ramadhan.”

Maka di bulan Ramadhan, Alhamdulillah kita bersedekah dan semoga sedekah kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan bukan berarti setelah bulan Ramadhan kita tidak bersedekah lagi. Bahkan datang dalam hadits-hadits tatkala Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat ‘Ied, Nabi berkata kepada para sahabat:

Baca Juga:  Kultum Singkat Ramadhan: Bulan Pembebasan Dari Neraka

تَصَدَّقُوا

“Bersedekahlah kalian!”

Nabi menyuruh bersedekah di hari Ied, di hari lebaran. Menunjukkan bahwasanya ibadah sedekah bukan hanya bulan Ramadhan saja. Bahkan berlanjut di hari-hari yang lainnya. Karena sedekah adalah ibadah yang sangat mulia sebagaimana telah saya sampaikan, kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya setiap orang pada hari kiamat kelak akan berada di bawah naungan sedekahnya.”

Tatkala matahari jarak satu mil, tatkala manusia kepanasan bercucuran keringat, maka orang yang rajin bersedekah dibawah naungan sedekahnya.

Terutama para wanita, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala hari lebaran maju menuju shaf-shaf para ibu-ibu, Nabi memberikan nasihat khusus kepada mereka untuk bersedekah. Maka Nabi berjalan menuju shaf ibu-ibu bersama Bilal. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada para wanita:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ ، تَصَدَّقْنَ

“Wahai para wanita, bersedekahlah.”

فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

“Karena kalian banyak penghuni neraka jahannam.”

Ada seorang wanita yang berkata: “Kok bisa kami penghuni neraka jahannam yang paling banyak?”

Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Karena kalian adalah orang yang suka tidak berterima kasih kepada suami, kufur kepada suami, lupa dengan kebaikan suami, maka kalian banyak melakukan dosa-dosa. Demikian juga kalian suka mengeluh, dan itulah sifat para wanita.”

Maka Nabi menyuruh mereka untuk banyak bersedekah. Karena sedekah itulah yang akan menyelamatkan mereka dari neraka jahanam. Maka ketika Nabi menasihati mereka, para wanita kemudian mengeluarkan sedekah mereka, mereka lepaskan cincin-cincin mereka dan mereka lepaskan anting-anting mereka tatkala itu. Kemudian mereka lemparkan kepada Bilal.

Oleh karenanya para Ibu-Ibu yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan diantara bentuk takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah taat kepada suami. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang wanita penghuni surga. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Barangsiapa diantara para wanita yang:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا

“Jika seorang wanita shalat lima waktu.”

وَصَامَتْ شَهْرَهَا

“Kemudian dia berpuasa di bulan Ramadhan.”

وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا

“Dan dia menjaga kemaluannya.”

وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا

“Dan dia taat kepada suaminya.”

قِيلَ لَهَا

“Dikatakan kepadanya”

ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang kau kehendaki.”

Maka taat kepada suami merupakan ibadah yang mulia, sebab utama untuk masuk surga. Tentu perlu kesabaran, tentu perlu perjuangan.

Ma’asyiral muslimin.. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima ibadah kita.

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

(Taqabbalallahu Minna wa Minkum)

Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar Walillahil Hamd…

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَاقَاضِيَ الْحَاجَاتْ

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ

وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ

وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اللهم اجعل هذا البلد آمناً مطمئناً وسائر بلاد المسلمين

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَآخِرُ دَعْوَاناَ أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Video Sumber Teks Khutbah Idul Fitri Tentang Pelajaran dari Ramadhan

Sumber Video: Firanda Andirja – Khutbah Sholat Idul Fitri 1440 H – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Mari turut menyebarkan Teks Khutbah Idul Fitri Tentang Pelajaran dari Ramadhan di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: