Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Mengapa Allah Memberi Kita Ujian dan Kesulitan?” yang disampaikan Ustadz Erwandi Tarmidzi, Hafidzahullahu Ta’ala
Muqaddimah Khutbah
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
KHUTBAH PERTAMA : Hakikat Kepastian Kesulitan dalam Kehidupan Manusia
Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan kepastian di dalam Al-Qur’an bahwa kehidupan manusia di atas muka bumi senantiasa diliputi kesulitan, kelelahan, kesusahan, dan berbagai hal yang tidak menyenangkan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad[90]: 4)
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa sejak diciptakan hingga wafat, manusia senantiasa berhadapan dengan kesulitan demi kesulitan, baik kesulitan agama, ekonomi, fisik, kesehatan, maupun sosial. Seorang penyair mengungkapkan hakikat dunia melalui bait syairnya:
طُبِعَتْ عَلَى كَدَرٍ وَأَنْتَ تُرِيدُهَا … صَفْوًا مِنَ الأَقْذَارِ وَالأَكْدَارِ وَمُكَلِّفُ الأَيَّامِ ضِدَّ طِبَاعِهَا … مُتَطَلِّبٌ فِي الْمَاءِ جَذْوَةَ نَارِ
“Dunia diciptakan di atas keruhan dan kesulitan, sedangkan engkau menginginkannya bersih dari segala kekeruhan dan kotoran. Orang yang menuntut hari-hari menyelisihi tabiatnya bagaikan orang yang mencari nyala api di dalam air.”
Mengharapkan kehidupan dunia yang bersih dari kesulitan merupakan hal yang mustahil karena bertentangan dengan tabiat dasarnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan kepastian ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui doa saat menghadapi kesulitan:
مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ
“Ketentuan-Mu pasti berlaku padaku, dan keputusan-Mu amat adil bagiku.” (HR. Ahmad)
Sikap terbaik dalam menghadapi kesulitan hidup yang pasti terjadi adalah bersiap diri sesuai dengan ajaran Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.
Sikap pertama yang diajarkan adalah berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan merendahkan serta menghinakan diri di hadapan-Nya. Sikap tunduk dan merendah saat berdoa menjadi salah satu tujuan utama diutuskannya kesulitan dalam kehidupan manusia. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpa) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (QS. Al-An’am[6]: 42)
Kesulitan yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bertujuan agar seorang hamba menghinakan diri di hadapan-Nya. Seluruh pencapaian, strategi, serta siasat yang dirancang manusia hanyalah bentuk ikhtiar, sedangkan seluruh keputusannya berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika menghadapi hal yang tidak diinginkan, seorang hamba hendaknya merendahkan diri dan berdoa agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat kesulitan tersebut.
Sikap tunduk saat menghadapi kesulitan diabadikan di dalam Al-Qur’an melalui kisah kaum Nabi Yunus ‘Alaihissalam:
فَلَوْلاَ كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلاَّ قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ
“Mengapa tidak ada satu pun negeri yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Sewaktu mereka (kaum Yunus) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu tertentu.” (QS. Yunus[10]: 98)
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ketika tanda-tanda azab mulai terlihat, kaum Nabi Yunus ‘Alaihissalam keluar menuju lapangan bersama anak, istri, serta hewan ternak mereka. Selama berhari-hari mereka merendahkan diri, berdoa, dan beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebelum azab turun, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat azab yang telah berada di hadapan mereka. Kesulitan hidup tidak dapat dihindari, melainkan diselesaikan dengan cara menundukkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Merendahkan dan mengkerdilkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melalui doa Karb (penolak kesusahan):
اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada dalam genggaman-Mu, hukum-Mu berlaku padaku, dan keputusan-Mu amat adil bagiku.” (HR. Ahmad)
Pernyataan kepasrahan total serta pengakuan diri sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sarana diangkatnya berbagai kesulitan duniawi.
Sikap lain yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat menghadapi kesulitan disampaikan di dalam sebuah riwayat oleh Hudzaifah bin al-Yaman Radhiyallahu ‘Anhu:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى
“Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila menghadapi suatu kesulitan, beliau segera mendirikan shalat.” (HR. Abu Dawud)
Pengamalan tersebut selaras dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 45)
Keselamatan di dunia dicapai dengan menghadapinya melalui ketundukan diri, doa, serta mendirikan shalat sebagaimana diteladani oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaum Nabi Yunus ‘Alaihissalam.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
KHUTBAH KEDUA : Shalawat dan Berdoa
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ. أَمَّا بَعْدُ:
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk berselawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melalui firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْغَلاَءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ وُلاَةَ أُمُورِنَا وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى
Sumber Video Khutbah Jumat “Mengapa Allah Memberi Kita Ujian dan Kesulitan?”
Sumber : Dkm Mutiara Sunnah Legenda
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS