Empat Perkara Yang Wajib Diketahui

Empat Perkara Yang Wajib Diketahui

ceramah tentang gowes

Empat perkara yang wajib diketahui itu adalah (1) ilmu, (2) beramal dengan ilmu, (3) berdakwah kepada ilmu, (4) sabar dalam mengajak manusia kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala

Mempelajari Amalan Hati – Part 1
Khutbah Jumat Singkat Tentang Amalan Tergantung Akhirnya
Ikhlas – Part 1

Empat Perkara Yang Wajib Diketahui ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafidzahumullahu Ta’ala.

Lihat juga: Mukadimah Kajian Al-Ushul Ats-Tsalatsah

Kajian Islam Tentang Empat Perkara Yang Wajib Diketahui

Menti ke-1:22 Bismillahirrahmanirrahim, segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya.

1. Ilmu

Penulis kitab ini Rahimahullah mengatakan:

الأولى: العلم.

“Yang pertama: ilmu.”

وهو معرفة الله، ومعرفة نبيه، ومعرفة دين الإسلام بالأدلة.

“Ilmu di sini yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalinya.”

a. Mengenal Allah

Menit ke-2:03 Ma’rifatullah معرفة الله (mengenal Allah) mencakup dua jenis tauhid, yaitu tauhid ilmu dan tauhid amal. Dengan seorang muslim mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengesahkanNya serta meyakini bahwasanya Dia satu-satunya Pencipta, Pemberi Rezeki dan Yang Mengatur alam ini, tidak ada sekutu bagiNya. Dan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai nama-nama yang baik serta sifat-sifat yang tinggi. Tidak ada yang sama dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ﴿١١﴾

Tidak ada yang sama dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada sesuatu apapun yang setara dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura'[42]: 11)

Juga seorang muslim diwajibkan untuk mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meyakini bahwasanya Dialah satu-satunya yang berhak disembah dan tidak ada sesembahan yang lain yang berhak untuk disembah dan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya yang berhak untuk dimintai pertolongan dan satu-satunya yang berhak bagi seorang muslim untuk tunduk dan berserah diri kepadaNya. Dan tidak boleh dijadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sedikitpun dari kekhususan-kekhususan dan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hambaNya.

Kemudian penjelasan yang lebih detail tentang masalah ini akan disebutkan oleh pengarang dalam kalimat-kalimat berikutnya.

b. Mengenal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Menit ke-7:27 Pemirsa dan pendengar Radio Rodja yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Pengarang kitab ini berikutnya mengatakan ومعرفة نبيه (dan mengenal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Mengenal bahwa ia adalah utusan yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan petunjuk dan kebenaran, juga sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan yang mengajak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan izinNya, yang membawa cahaya yang terang benderang.

Dan bahwasanya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyampaikan risalah ini kepada umatnya. Telah berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar jihad sampai datang kematian kepadanya.

Dan sungguh tidak ada kebaikan kecuali telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tidak ada keburukan kecuali diperingatkan oleh beliau. Sehingga beliau pun wafat setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan Aku telah sempurnakan untukKu nikmatKu atas kalian dan Aku telah ridha Islam sebagai agama kalian.” (QS. Al-Maidah[5]: 3)

Mengenal Nabi Muhammad ‘Alaihish Shalatu was Salam yaitu dengan meyakini dan mengetahui bahwasanya beliau telah menyempurnakan risalah ini, beliau telah menyampaikan agama ini dengan sempurna. Dan bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di atas akhlak yang agung, di atas agama yang sempurna. Dan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah penutup para Nabi. Dan bahwasanya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyampaikan amanat risalah kepada umatnya dan agama apa yang dibawa oleh beliau. Dan wajib bagi kita untuk mentaati segala perintah-perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan meninggalkan semua yang beliau larang.

Juga kita tidak boleh menyembah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita harus membenarkan semua apa yang disampaikan oleh beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّـهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ

Tidak boleh dan tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminah apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya memerintahkan suatu perkara kemudian mereka memilih pilihan yang lain.” (QS. Al-Ahzab[33]: 36)

Dan juga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّـهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا ﴿١١٦﴾

Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan RasulNya, maka dia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh.” (QS. An-Nisa[4]: 116)

Maka para pemirsa dan pendengar Radio Rodja yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketahuilah bahwasanya mengenal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wajib bagi setiap muslim. Dan barangsiapa yang tidak mengenal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka bagaimana dia bisa mengenal agamanya? Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah jalan dan perantara untuk mengenal agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan di antara hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hamba-hambaNya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkan wahyu kepada setiap pribadi manusia. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan hamba-hamba yang Dia pilih. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih yang terbaik di antara mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اللَّـهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

Allah memilih dari para malaikat dan dari kalangan manusia Rasul-Rasul.” (QS. Al-Hajj[22]: 75)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih dari para hamba-hambaNya, kemudian Allah menurunkan wahyu kepada mereka, kemudian para Nabi-Nabi tersebut  menyampaikan wahyu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa ada kekurangan sedikitpun. Maka agama agama Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mungkin kita ketahui kecuali lewat perantara para Rasul. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutup para Rasul dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Ta’ala berfirman:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَـٰكِن رَّسُولَ اللَّـهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Tidaklah Muhammad bapak salah seorang di antara kalian, akan tetapi dia adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan penutup para Nabi.” (QS. Al-Ahzab[33]: 40)

Dan seorang Rasul bertugas untuk menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

مَّا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ

Tidak ada kewajiban bagi seorang Rasul kecuali menyampaikan.” (QS. Al-Maidah[5]: 99)

Dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyampaikan agama ini dengan sempurna. Maka kewajiban pengikut para Rasul adalah melaksanakan apa yang disampaikan oleh Rasul kepada mereka.

مِنَ اللَّهِ الرِّسَالَةُ ، وَعَلَى رَسُولِ البَلاَغُ ، وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ

“Dari Allah risalah ini turun dan kewajiban Para Rasul adalah menyampaikan. Adapun kewajiban kita adalah menerima dengan sepenuh hati.” (HR. Bukhari)

Allah Ta’ala berfirman:

وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Yaitu menerima dengan sepenuh hati.” (QS. An-Nisa[4]: 65)

Inilah kewajiban seorang hamba, menerima perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tunduk kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴿٦٥﴾

Dan demi Rabbmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau berhukum kepadamu terhadap apa yang mereka perselisihkan di antara mereka. Kemudian mereka tidak mendapati dalam diri-diri mereka rasa berat sedikitpun terhadap keputusan yang engkau putuskan dan mereka menerimanya dengan sepenuh hati.” (QS. An-Nisa[4]: 65)

Inilah yang berkaitan dengan ma’rifaturrasul (mengenal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).

Kemudian akan datang penjelasan-penjelasan yang lain tentang hal ini pada bab-bab berikutnya, yaitu penjelasan-penjelasan tentang mengenal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

c. Mengenal agama Islam

Menit ke-15:20 Kemudian berikutnya yaitu mengenal agama Islam. Dan hal ini juga akan datang penjelasan dan keterangan serta dalil-dalil yang akan disebutkan oleh pengarang kitab ini Rahimahullahu Ta’ala.

2. Beramal dengan ilmu

Menit ke-18:07 Para pemirsa dan pendengar Radio Rodja yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, perkara kedua dari empat permasalahan yang disebutkan oleh penulis kitab ini Rahimahullah yaitu:

العمل به

“Mengamalkan.”

Yang dimaksud dengan beramal di sini, yaitu beramal dengan ilmu. Karena beramal dengan ilmu adalah buah dari ilmu itu sendiri dan tujuan dari seorang menuntut ilmu. Jadi tujuan seorang menuntut ilmu yaitu mengamalkan. Karena apabila ilmu itu tidak diamalkan, maka justru akan menjadi hujjah bagi seorang manusia dan menjadi penyebab dia akan diadzab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu perlu kita ketahui bahwasanya tujuan dari ilmu adalah untuk diamalkan, bukan sekedar dihafal dan diketahui begitu saja. Akan tetapi maksud dan tujuan dari ilmu itu adalah untuk diamalkan. Maka sahabat ‘Ali Radhiyallahu ‘Anhu pernah berkata:

يهتف العلم بالعمل فإن أجابه و إلا ارتحل

“Ilmu membisikkan amalan. Dan apabila ilmu itu dilakukan, maka ilmu itu akan tinggal. Dan apabila ilmu itu tidak diamalkan, maka ia akan hilang.”

Masalah kedua, yaitu beramal dengan ilmu, yaitu seorang wajib untuk mengamalkan apa yang telah dia pelajari, yaitu ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Sebagian para ulama menyebutkan permisalan tentang ilmu dan amal yaitu ilmu adalah wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diumpamakan seperti air dan seperti hujan. Adapun mengamalkan ilmu atau amal dari ilmu seperti tumbuh-tumbuhan dan pepohonan. Tumbuh-tumbuhan dan pepohonan akan hidup apabila disirami dengan air. Juga beramal dengan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala akan bisa diterima apabila dibangun diatas wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu apabila seseorang banyak menuntut ilmu dan dengan niat yang lurus, maka amalnya pun akan baik. Karena ilmu yang bermanfaat yang disertai dengan niat yang baik akan melahirkan amal yang baik pula. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّـهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ ﴿١٦﴾ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّـهَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴿١٧﴾

Apakah belum datang waktunya bagi orang-orang yang beriman hati-hati mereka menjadi takut dikarenakan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kebenaran yang diturunkan? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang diberikan kitab sebelum mereka kemudian waktu pun berlalu, hati-hati mereka menjadi keras dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. Ketahuilah sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan bumi setelah matinya. Kami telah menjelaskan ayat-ayat kepada kalian agar kalian berakal.” (QS. Al-Hadid[57]: 16)

Yaitu sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan bumi ini dengan air, maka hati-hati pun akan hidup dengan ilmu yang bermanfaat yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Maka kita dapati nash-nash dan dalil-dalil yang sangat banyak yang menganjurkan untuk seorang menuntut ilmu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Siapa yang Allah menginginkan kebaikan untuknya, maka Allah akan memahamkan agama kepadanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan yang dia mencari ilmu dalam jalan tersebut, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim)

Karena ilmu itu membuahkan amalan dan amalan akan membuahkan surga. Allah Ta’ala berfirman:

… ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿٣٢﴾

Masuklah ke dalam surga disebabkan apa yang telah kalian lakukan.” (QS. An-Nahl[16]: 32)

3. Berdakwah kepada ilmu

Menit ke-24:32 Pemirsa dan pendengar Radio Rodja yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, penulis kitab ini mengatakan:

الثانية: العمل به، الثالثة: الدعوة إليه.

“Yang kedua mengamalkan ilmu dan yang ketiga adalah berdakwah kepada ilmu.”

Masalah yang pertama dan yang kedua, yaitu ilmu dan amal, berkaitan dengan pribadi setiap orang, yaitu seseorang dituntut untuk belajar dan mengamalkan sehingga dirinya pun menjadi baik dengan petunjuk, dengan ilmu dan dengan amal. Dan inilah yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ…

Dalah yang mengutus RasulNya dengan petunjuk dan agama yang benar.” (QS. At-Taubah[9]: 93)

“Petunjuk” di sini adalah ilmu dan “agama yang benar” adalah mengamalkan ilmu tersebut. Maka apabila seorang hamba telah menjadi baik dengan ilmu dan dengan amal, maka sepantasnya bagi dia untuk berusaha memperbaiki orang lain dengan menularkan kebaikan yang telah sampai kepadanya kepada orang lain. Sehingga dia pun menjadi orang yang berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengajarkan manusia setelah Allah memberinya taufik terhadap petunjuk tersebut. Maka setelah baik pada dirinya, dia melangkah ke masalah yang ketiga, yaitu dia berdakwah kepada ilmu dan kepada amal. Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ

Berdakwah kepada jalan Tuhanmu.” (QS. An-Nahl[16]: 125)

Dan Allah juga berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّـهِ

Siapakah yang lebih baik perkataannya dari orang yang mengajak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?” (QS. Fussilat[41]: 33)

Juga firman Allah Ta’ala:

قُلْ هَـٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّـهِ

Katakanlah: ‘Inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.'” (QS. Yusuf[12]: 108)

Maka seorang manusia mengajak kepada kebaikan yang ia telah pelajari dan ia telah ketahui dan telah dia pahami, dia ajarkan kepada orang lain agar agama Allah ‘Azza wa Jalla tersebar di antara manusia.

Beliau mengatakan الدعوة إليه (berdakwah kepadanya) yaitu kepada agama Allah ‘Azza wa Jalla. Dan perhatikan di sini ketika beliau menyebutkan tentang dakwah, beliau menyebutkan setelah berilmu dan beramal. Maka di sini kita bisa mengambil faedah bahwasanya dakwah itu tidak dilakukan kecuali orang yang mempunyai ilmu. Karena orang yang tidak mempunyai ilmu bagaimana dia akan berdakwah?

فاقد الشيء لا يعطيه

“Orang yang tidak memiliki apa-apa, dia tidak bisa memberikan apa-apa.”

Dan orang yang belum mengamalkan ilmunya, bagaimana dia mengajak orang lain untuk mengamalkannya? Oleh karena itu bagi orang yang ingin berdakwah hendaklah dia memperbaiki dirinya sendiri, baru kemudian dia menularkan kebaikan tersebut kepada orang lain.

4. Sabar dalam mengajak manusia kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Menit ke-30:23  Para pemirsa dan pendengar Radio Rodja yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, permasalahan yang keempat yaitu:

الصبر على الأذى فيه

“Sabar dalam mengajak manusia kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Karena seseorang tidak akan selamat dari gangguan. Para Nabi, bahkan penutup para Nabi, yaitu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, semuanya tidak selamat dari gangguan orang lain. Para sahabat, para ulama dan para imam-imam, mereka semua tidak selamat dari gangguan manusia.

Oleh karena itu kita perlu ketahui bahwasanya jalan dakwah ini tidak mulus, tidak penuh dengan bunga-bunga. Bahkan seorang yang berdakwah tentu akan mendapat gangguan. Orang yang mengajak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghadapi suatu kelompok manusia, akan tetapi dia berhadapan dengan berbagai macam kelompok. Di antara mereka ada yang baik akhlaknya, ada yang buruk akhlaknya, ada yang keras, ada yang kasar dan seterusnya.

Seorang Da’i, dia akan berhadapan dengan berbagai bentuk dan berbagai macam manusia. Oleh karena itu dia harus untuk memiliki akhlak sabar; sabar diatas gangguan, bersabar diatas jalan dakwah. Karena kadang-kadang dia mengajak seseorang sekali atau dua kali atau banyak kali, akan tetapi dia tidak mendapatkan faedah sama sekali atau dia tidak memberi jawaban sama sekali. Oleh karena itu seorang Da’i harus bersabar dan terus berdakwah dan mengulangi nasihatnya dan mengulangi penjelasannya agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kepada orang yang dia nasihati.

Dan sabar ini adalah akhlaknya para Nabi, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ …

Bersabarlah sebagaimana Ulul ‘Azmi dari para Rasul telah bersabar.” (QS. Al-Ahqaf[46]: 35)

Dan ini adalah kebiasaan dan akhlak orang-orang shalih. Dan sabar adalah akhlak yang agung yang dibutuhkan oleh setiap muslim dalam agamanya, dalam shalatnya, dalam puasa dan semua ibadahnya dibutuhkan kesabaran. Bahkan ketika seseorang menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia pun butuh untuk bersabar. Juga seorang dituntut untuk bersabar diatas musibah, diatas cobaan-cobaan, semuanya butuh kesabaran.

Sabar adalah akhlak yang agung yang dibutuhkan seorang muslim dalam setiap perkara yang dihadapi. Allah Ta’ala berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 155)

Penulis mengatakan الصبر على الأذى فيه (sabar diatas jalan dakwah ini), dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perhatikan para pemirsa sekalian, cara Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah dalam kitab ini dan seluruh kitab-kitabnya yang lain. Setiap beliau menyebutkan satu masalah, beliau mesti menyebutkan setelahnya:

والدليل قوله تعالى

“Dan dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Atau beliau mengatakan:

والدليل قول الرسول

“Dan dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Dan engkau tidak akan mendapatkan dalam kitab ini selain hal-hal seperti ini.

Adapun dari kitab-kitab orang yang mengajak kepada kebatilan, maka jalan mereka sangat berbeda dari cara ini. Jika mereka menyebutkan dalil atau ingin berdalil, dia akar menyebutkan perkara-perkara lain, tidak menyebutkan Al-Qur’an, tidak menyebutkan hadits, kadang-kadang dia menyebutkan pengalaman dia atau mimpi dia atau perasaannya atau perasaan guru-gurunya atau yang lainnya. Ini bisa didapatkan oleh orang yang membuka atau membaca kitab-kitab yang ditulis oleh pengikut kebatilan. Dan contoh-contoh terhadap hal ini sangat banyak di kitab-kitab yang menyeru kepada keburukan dan kebatilan.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلُّونَ

“Sungguh hal yang paling aku takutkan atas umatku yaitu para penyeru-penyeru kepada kesesatan.” (HR. Muslim)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam khawatir atas umatnya dikarenakan bahaya dan besarnya mudaratnya bagi manusia. Dan hal ini menghalangi seseorang dari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menit ke-36:30 Pengarang kitab ini Rahimahullah mengatakan:

والدليل قوله تعالى: بسم الله الرحمن الرحيم {وَالْعَصْرِ * إِنَّ الأِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}.

Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling mengingatkan dalam kesabaran.” (QS. Al-Asyr[103]: 2)

Kemudian beliau menyebutkan kalimat yang agung dari Imam Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala dalam menjelaskan kedudukan surat yang agung ini.

Dan kita cukupkan sampai di sini dan insyaAllah kita akan teruskan pada pertemuan berikutnya penjelasan tentang surat yang agung ini serta kandungan-kandungannya yang luas.

Dan kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan kita semua manfaat terhadap apa yang telah kita pelajari dan mengaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat, amal shalih dan menunjukkan kita jalan yang lurus dan memperbaiki agama kita.

Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberi kita taufik, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Menerima doa.

Download mp3 kajian Empat Perkara Yang Wajib Diketahui

Sumber audio: Penjelasan tentang 4 Perkara yang Wajib Diketahui – Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Mari turut menyebarkan catatan kajian “Empat Perkara Yang Wajib Diketahui” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: