Cara Agar Shalat Khusyuk

Cara Agar Shalat Khusyuk

pandai mendengar

Cara Agar Shalat Khusyuk ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Islam "Kiat-Kita Shalat Khusyuk" yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. Hafidzahullah.

14# Bisa Jadi Kesabaran Menjadi Sebab Rujuknya Orang Yang Mendzalimi Kita
Ikatlah Ilmu dengan Tulisan
Materi 27 – Sifat ‘Ujub

Cara Agar Shalat Khusyuk ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Islam “Kiat-Kita Shalat Khusyuk” yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. Hafidzahullah.

A. Mukaddimah Kajian Kiat-Kiat Shalat Khusyuk

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah dan diibadahi kecuali Allah, tidak ada sekutu bagiNya dan bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan juga RasulNya. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai akhir zaman.

Alhamdulillah yang telah mempertemukan kita pada kesempatan kali ini dalam rangka menambah iman, menambah keyakinan, menambah Islam. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas di dalam menghadiri majelis ilmu. Ikhlas dengan niat untuk menghilangkan kebodohan dari diri kita, menghilangkan kebodohan dari orang lain. Dan semoga Allah menerima amal ibadah kita semuanya.

Materi yang akan kita sampaikan pada kesempatan kali ini adalah tentang beberapa kiat khusyuk di dalam shalat. Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya shalat ini adalah rukun Islam yang kedua dan dia memiliki kedudukan yang tinggi di dalam agama Islam. Dan di antara kedudukannya dan keutamaannya bahwa shalat adalah perkara yang pertama kali akan dihisab di antara amalan-amalan kita di hari kiamat, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kita diperintahkan untuk iqamatush shalah sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وأَقِمِ الصَّلَاةَ…

Hendaklah kalian mendirikan shalat.” (QS. Hud[11]: 114)

Dan diantara mendirikan shalat adalah melaksanakan shalat lima waktu dengan khusyuk. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensifati hamba-hambaNya yang beriman ‘Ibadurrahman dengan sifat-sifat yang mulia dan sifat yang utama di dalam Al-Qur’an. Di antara sifat-sifat mereka adalah khusyuk di dalam shalatnya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 1)

Kemudian setelahnya Allah menyebutkan, di antara sifat-sifat mereka dan sifat yang pertama kali disebutkan adalah:

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾

Mereka khusyuk di dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 2)

Dan ini menunjukkan keutamaan khusyuk. Dan bahwasanya kita sebagai seorang muslim dan juga muslimah diperintahkan untuk khusyuk di dalam shalatnya. Oleh karena itu panitia وفقهم الله membuat judul ini dengan tujuan supaya kita bisa menjadi orang yang khusyuk di dalam shalatnya. Oleh karena itu akan kita sebutkan pada kesempatan kali ini beberapa kiat, beberapa cara yang bisa kita lakukan supaya kita sampai kepada kekhusyukan sesuai dengan waktu yang dimudahkan bagi kita.

B. Kiat-Kiat Khusyuk Dalam Shalat

1. Berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Menit ke-4:56 Di antara kiat supaya kita bisa mendapatkan kekhusyukan di dalam shalat adalah berdoa kepada Allah supaya diberikan taufik dan kemudahan khusyuk di dalam shalatnya. Dan ini adalah di antara kiat yang paling jitu dan paling afdhal untuk mendapatkan kekhusyukan di dalam shalat, yaitu berdoa kepada Allah.

Maka seorang muslim merendahkan dirinya, meminta benar-benar dan bersungguh-sungguh supaya diberikan dan dimudahkan untuk khusyuk di dalam shalatnya. Dan ini adalah kebiasaan orang-orang yang beriman, mereka meminta kepada Allah dalam setiap perkara. Bukan hanya perkara dunia, tapi mereka meminta kepada Allah juga di dalam perkara akhirat/agamanya.

Apabila seseorang ingin khusyuk di dalam shalatnya, maka hendaklah dia meminta kepada Allah sifat khusyuk tersebut. Dan apabila kita meminta kepada Allah, maka Allah Subhanahu Ta’ala akan mengabulkan. Hal ini sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ…

Dan Rabb kalian berkata: ‘Berdoa kalian kepadaKu, niscaya aku akan mengabulkan doa kalian…’” (QS. Ghafir[40]: 60)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ…

Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Wahai Muhammad) tentang diriKu, maka sesungguhnya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan doanya orang yang berdoa apabila dia berdoa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 186)

Di dalam dua ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwasanya Allah mengabulkan doa orang yang berdoa kepadaNya, maka apabila seseorang ingin khusyuk di dalam shalatnya, hendaklah dia meminta kepada Allah, berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh supaya diberikan dia kekhusyukan di dalam shalatnya sehingga dia memiliki sifat yang utama di antara sifat-sifat orang yang beriman, yaitu khusyuk di dalam shalatnya.

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ

“Hendaklah kalian berdoa kepada sedangkan kalian dalam keadaan yakin dengan ijabah (yakin bahwasanya Allah akan mengabulkan).” (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim)

Jadi minta kepada Allah kekhusyukan dan ketenangan di dalam shalatnya dan Antum yakin bahwasanya Allah akan mengabulkan doa Antum.

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

“Dan ketahuilah, bahwasanya Allah tidak menerima doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim)

Kalau Antum setengah-setengah atau lalai di dalam meminta kepada Allah, tangan menengadah ke atas, lisan mengucapkan, tetapi hati Antum tidak ada kesungguhan untuk khusyuk di dalam shalat, tidak ada keyakinan bahwasanya Allah akan mengabulkan doanya, maka Allah tidak akan menerima yang demikian. Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lain.

2. Shalat adalah hal yang pertama akan dihisab

Menit ke-9:23 Mengetahui dan menyadari bahwasanya shalat adalah hal yang pertama akan dihisab. Antum shalat dan Antum meyakini bahwasanya inilah yang pertama kali akan dihisab di hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam sebuah hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi sunannya, bahwasanya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ

“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dengannya seorang hamba di antara amal-amalannya di hari kiamat adalah shalatnya.” (HR. Tirmidzi)

Bukan sedekahnya, bukan puasanya, tetapi yang pertama kali akan dihisab di antara amalannya adalah shalatnya.

فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

“Apabila shalatnya baik,” dihisab oleh Allah, dihitung oleh Allah, dilihat oleh Allah, dan ternyata shalat lima waktu yang dilakukan bagus. khusyuk di dalam shalatnya, dikerjakan dengan ikhlas, dikerjakan sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dikerjakan di awal waktunya,

فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ

“maka orang tersebut akan mendapatkan keberuntungan dan dia akan mendapatkan pahala.”

وَإِنْ فَسَدَتْ

“Apabila dihisab dan ternyata shalatnya tersebut rusak,” tidak khusyuk di dalam shalatnya, tidak dikerjakan sesuai dengan sunnah,

فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

“Maka sungguh dia telah rugi.”

Kemudian beliau mengatakan:

فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ

“Kemudian apabila dilihat di dalam shalat lima waktunya tadi ada kekurangan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengatakan: ‘Lihatlah, apakah hambaKu memiliki shalat yang sunnah?'” Apakah dia selain mengerjakan shalat fardhu tadi dia suka mengerjakan shalat-shalat yang sunnah atau tidak?

فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ

“Maka dilengkapi dengan shalat sunnah tadi kekurangan yang terjadi di dalam shalat fardhunya.” (HR. Tirmidzi)

Jadi seseorang yang ingin khusyuk di dalam shalatnya, maka hendaklah setiap kali dia akan shalat, dia menyadari dan memahami bahwasanya shalat inilah yang pertama kali akan dihisab dari seseorang di hari kiamat.

3. Menyempurnakan wudhunya

Menit ke-12:54 Di antara kiat khusyuk di dalam shalat adalah seseorang menyempurnakan wudhunya. Sebagaimana yang kita tahu bahwasanya wudhu adalah syarat di antara syarat-syarat sahnya shalat. Apabila seseorang bagus di dalam wudhunya untuk mengerjakan shalat yang fardhu dan yang sunnah, maka yang demikian membantu dia di dalam kekhusyukan di dalam shalatnya.

Dari ‘Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

مَا مِنَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا ، إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Tidak ada seorang muslim yang menemui waktu shalat fardhu kemudian dia memperbaiki wudhunya dan memperbaiki kekhusyukannya, dan memperbaiki ruku’nya, kecuali shalat tersebut bisa menjadi penebus terhadap dosa yang dilakukan sebelumnya, selama dia tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim)

Syaratnya apa? Syaratnya adalah dengan memperbaiki wudhu. Ini menunjukkan bahwasanya di antara cara untuk khusyuk di dalam shalat adalah seseorang ketika berwudhu ketika akan mengerjakan shalat tersebut, maka hendaklah dia memperbaiki wudhunya.

Maka dari sini seseorang belajar bagaimana sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam berwudhu. Kalau wudhunya baik dan sempurna, maka diharapkan ini bisa menjadi sebab seseorang khusyu di dalam shalatnya.

4. Meletakkan tangan di dada

Menit ke-15:37 Di antara kiat khusus di dalam shalat adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri kemudian meletakkan kedua tangan tadi di atas dada. Dan ini adalah sunnah di dalam shalat. Dan bentuk yang seperti ini, ini termasuk yang membantu kekhusyukan di dalam shalat. Dan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dari Sahl bin Sa’d, beliau mengatakan:

كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ اليَدَ اليُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ اليُسْرَى فِي الصَّلاَةِ

“Dahulu manusia (yaitu para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) diperintahkan salah seorang di antara mereka untuk meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di dalam shalat.” (HR. Bukhari)

Maksudnya adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan diletakkan di atas dadanya. Karena bentuk seperti ini adalah bentuk merendahkan diri. Apabila seseorang di dalam shalatnya meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan diletakkan di atas dada, maka ini menunjukkan bahwasanya dia sedang merendahkan diri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu sunnahnya demikian.

Meskipun dia bukan merupakan rukun di dalam shalat dan bukan merupakan kewajiban shalat, tapi dia adalah sunnah. Maka ini adalah di antara cara khusus di dalam shalat, yaitu seseorang meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri kemudian menaruhnya di atas dada.

5. Melihat ke tempat sujud

Melihat ke tempat sujud ketika dalam keadaan shalat, maka ini sangat membantu orang yang shalat untuk khusyuk dalam setiap keadaan di dalam shalatnya. Kecuali apabila dalam keadaan tasyahud. Dalam keadaan tasyahud, maka sunnahnya mata ini memandang kepada ujung jari telunjuk. Dalam keadaan yang lain, ketika dalam keadaan berdiri, melihat tempat sujudnya. Dalam keadaan dia ruku, melihat ke tempat sujudnya. Dalam keadaan dia duduk di antara dua sujud, melihat tempat sujudnya.

Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah, dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:

دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَعْبَةَ مَا خَلَفَ بَصَرُهُ مَوْضِعَ سُجُودِهِ حَتَّى خَرَجَ مِنْهَا

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke dalam Ka’bah, beliau shalat di dalam Ka’bah dan mata beliau tidak meninggalkan tempat sujudnya (maksudnya adalah senantiasa melihat tempat sujudnya, yaitu tempat beliau meletakkan dahinya) sampai beliau keluar dari Ka’bah tersebut.” (HR. Hakim dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Menunjukkan bahwasanya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam shalat beliau senantiasa matanya melihat ke arah sujud, tidak melihat ke arah yang lain.

6. Pahala shalat tergantung dari kekhusyukan

Menit ke-19:40 Di antara kiat untuk khusyuk di dalam shalat adalah mengetahui bahwasanya pahala shalat seseorang tergantung dari kekhusyukan dia di dalam shalatnya. Pahala kita besar dan sedikitnya di dalam shalat, tergantung dari kekhusyukan kita di dalam shalat kita.

Kalau seseorang mengetahui dan menyadari ini, maka dia akan berusaha untuk khusyuk, bukan hanya secara dzahir saja, tapi dia berusaha untuk khusyuk karena dia mengetahui bahwasanya ganjaran dan juga pahala yang dia dapatkan sesuai dengan kekhusyukan dia di dalam shalat.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ammar bin Yasir Radhiyallahu ‘Anhuma:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Sesungguhnya seseorang selesai shalat dan tidak ditulis untuknya dari pahala kecuali hanya sepersepuluh dari shalatnya, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan setengahnya.” (HR. Abu Dawud)

Ini menunjukkan kepada kita bahwasanya pahala seseorang di dalam shalat ini tergantung dari kekhusyukan seseorang di dalam shalatnya. Semakin dia khusyuk di dalam shalatnya dan semakin dia konsentrasi di dalam shalatnya, maka semakin besar pahala yang akan ditulis bagi orang tersebut.

7. Khusyuk adalah ruh di dalam shalat

Menit ke-22:04 Mengetahui bahwasanya khusyuk adalah ruh di dalam shalat. Kedudukan dia adalah seperti nyawa bagi jasad manusia. Sebagaimana jasad manusia yang tidak ada faedahnya apabila tidak memiliki nyawa, demikian pula shalat. Ruh bagi shalat adalah khusyuk itu sendiri. Apabila tidak ada khusyuk di dalam shalat, maka sebagaimana jasad tidak memiliki nyawa.

8. Isti’adzah kepada Allah dari godaan setan

Menit ke-22:55 Kiat yang selanjutnya adalah isti’adzah kepada Allah dari godaan setan. Yang dimaksud dengan isti’adzah adalah berlindung kepada Allah dari godaan setan, karena setan ini berusaha untuk merusak kekhusyukan kita di dalam shalat.

Sebelum shalat kita tidak ingat suatu hal, tapi ketika dalam shalat banyak hal yang kita ingat. Dan ini adalah was-was dari setan. Maka kita berlindung kepada Allah dari godaan setan. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّـهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ﴿٩٨﴾

Apabila engkau membaca Al-Qur’an, maka hendaklah engkau berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl[16]: 98)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّـهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٠٠﴾

Apabila datang gangguan dari setan, maka hendaklah engkau berlindung kepada Allah dari godaan setan. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf[7]: 200)

Dan dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila beliau melakukan shalat, maka beliau berlindung kepada Allah dari godaan setan. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari Abu Sa’id Al-Khudri, beliau mengatakan: “Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila beliau shalat malam, beliau membaca:

أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha mendengar dan Maha mengetahui dari setan yang terkutuk, dari gangguannya, dari tiupannya dan dari semburannya.” (HR. Abu Dawud)

9. Menghilangkan perkara-perkara yang bisa menyibukkan dia di dalam shalatnya

Menit ke-26:06 Menghilangkan perkara-perkara yang bisa menyibukkan dia di dalam shalatnya. Maksudnya adalah tidak melihat kepada perkara-perkara yang bisa menyibukkan  dia di dalam shalatnya.

Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim, dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat menggunakan khamishah, yaitu jenis baju atau jenis pakaian.

لَهَا أَعْلاَمٌ

“Pakaian tersebut memiliki tanda atau garis-garis atau yang semisalnya.”

فَنَظَرَ إِلَى أَعْلاَمِهَا نَظْرَةً

“Maka beliau melihat kepada tanda-tandanya atau garis-garis yang menjadikan beliau tidak khusyuk di dalam shalatnya dengan sebuah pandangan.”

Ketika beliau sudah selesai shalat, maka beliau berkata:

اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ

“Hendaklah kalian membawa bajuku ini kepada Abu Jahm.” Abu Jahm ini yang memberikan hadiah kepada beliau baju.

وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمِ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلاَتِي

“Kemudian datangkanlah kepadaku dengan pakaian yang polos yang tidak memiliki garis-garis milik Abu Jahm, karena sesungguhnya pakaian yang sebelumnya tadi menjadikan beliau lalai di dalam shalatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya menjadikan beliau tidak khusyuk di dalam shalatnya. Hadits ini adalah dalil tentang wajibnya menghindari atau menjauhi segala perkara yang bisa menyibukkan kita di dalam shalat dan menjadikan kita lalai di dalam shalat. Di antaranya adalah sebagian pakaian yang menjadikan kita lalai.

10. Shalat adalah penghubung antara seseorang dengan Allah

Menit ke-29:04 Di antara cara untuk khusyuk di dalam shalatnya adalah menyadari bahwasanya shalat adalah penghubung antara seseorang muslim dengan Allah. Shalat ini adalah pertemuan kita yang mulia dengan Allah Subhanahu Ta’ala, Rabb bagi seluruh alam semesta, Rabb langit dan juga bumi dan apa yang ada di antara keduanya.

Kita akan bertemu dengan Al-Malik, bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Maha Raja yang memiliki langit dan juga bumi. Maka hendaklah kita khusyuk di dalam shalatnya. Apabila di antara kita ingin bertemu dengan seorang penguasa, tentunya ketika di hadapan penguasa tersebut kita tidak akan melakukan perkara-perkara lain selain kita konsentrasi mendengarkan apa yang dia ucapkan. Tidak mungkin kita melakukan perkara-perkara di luar dari hajat kita tersebut. Ini baru bertemu dengan penguasa di dunia, bagaimana seseorang bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menguasai langit dan juga bumi?

Makanya di antara cara untuk khusyuk di dalam shalat yaitu menyadari bahwasanya dia sedang bertemu dengan Allah Rabbul ‘Alamin.

11. Memikirkan makna-makna ayat yang dibaca

Menit ke-31:03 Di antara kiat khusyuk di dalam shalat adalah memikirkan makna-makna yang ada di dalam ayat yang dia baca di dalam shalatnya atau yang dia dengarkan dari imam. Karena ini sangat berpengaruh di dalam kekhusyukan seseorang.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿٢٠٤﴾

Apabila dibacakan Al-Qur’an, maka hendaklah kalian mendengar dengan konsentrasi dan hendaklah kalian diam, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan rahmat bagi kalian.” (QS. Al-A’raf[7]: 204)

Ini memberikan pengaruh yang besar bagi seseorang di dalam shalatnya. Yaitu seseorang memahami apa yang dibaca oleh imam dan memahami apa yang dia baca. Berarti di sini ada dorongan bagi kita untuk bisa memahami ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diturunkan dalam bahasa Arab. Kalau kita ingin khusyuk di dalam shalat dan kita ingin memahami makna dari ayat-ayat tersebut, berarti di sini kita harus mempelajari bahasa Arab dengan tujuan supaya kita bisa memahami ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dari sana kita bisa mendapatkan kekhusyukan di dalam shalat.

Meskipun imam membaca ayat-ayat yang panjang, kalau kita memahami maknanya maka kita akan terhanyut dan akan merasakan nikmatnya shalat tersebut. Tapi masalah, seandainya dia membaca ayat-ayat yang panjang kemudian kita tidak memahami maknanya. Maka dia membaca kemudian kita memikirkan masalah yang lain. Kenapa? Karena kita tidak memahami maknanya.

Antum masih muda, dan insyaAllah memiliki kemampuan untuk mempelajari bahasa Arab. Maka luangkan waktu untuk bisa mempelajari bahasa Arab, mumpung masih muda, masih kuat untuk menghafal dan masih kuat untuk memahami.

12. Mengingat Kematian bisa datang sewaktu-waktu

Menit ke-33:48 Kemudian di antara kiat khusyuk di dalam shalat adalah mengingat bahwasanya kematian ini bisa datang sewaktu-waktu. Artinya mungkin saja shalat yang dia lakukan adalah shalat yang terakhir.

Di dalam sebuah hadits yang hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah, diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan: “Datang seseorang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian laki-laki ini mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku dan ringkaslah'”

Artinya dia tidak mau panjang-panjang pelajarannya. Maka di antara ucapan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

“Apabila engkau melakukan shalat, maka hendaklah engkau melakukan shalat seperti shalatnya orang yang mau berpisah (yaitu orang yang mau meninggal dunia).” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Ketika dia menganggap bahwasanya ini adalah shalat yang terakhir dan tidak ada shalat setelah itu, maka dia berusaha untuk khusyuk di dalam shalatnya, dia tidak memikirkan urusan bisnisnya, tidak memikirkan urusan dunianya, karena dia merasa bahwasanya dirinya akan meninggal dunia setelah shalat ini. Maka ini di antara cara untuk khusyuk di dalam shalat.

Di dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh ad-Dailami, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhau dan hadits ini hasan, Anas bin Malik mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اُذْكُرِ الْمَوْتَ فِي صِلاَتِكَ

“Hendaklah engkau mengingat kematian di dalam shalatmu.”

فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا ذَكَرَ الْمَوْتَ فِي صَلاَتِهِ لَحَرِيٌّ أَنْ يُحْسِنَ صَلاَتَهُ

“Karena sesungguhnya seseorang apabila dia mengingat kematian di dalam shalatnya, maka wajib bagi dia untuk memperbaiki shalatnya.” (HR. Ad-Dailami)

Artinya orang yang shalat dan dia mengingat kematian di dalam shalatnya, maka orang yang demikian akan memperbaiki shalatnya.

13. Khusyuk sebab diampuni dosa

Menit ke-37:01 Di antara cara khusyuk di dalam shalat adalah menyadari bahwasanya khusyuk di dalam shalat ini adalah sebab diampuni dosa dan sebab mendapatkan keridhaan Allah di dunia maupun di akhirat.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan juga Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ.

“Apa pendapat kalian seandainya ada sungai di depan rumah salah seorang di antara kalian kemudian dia mandi dari sungai tersebut lima kali dalam sehari, apakah akan tersisa kotoran yang ada pada jasadnya?”

Mereka mengatakan:

لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ

“Tidak akan tersisa dari kotoran jasadnya sedikitpun.”

فَكَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

“Maka yang demikian adalah permisalan shalat lima waktu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapus dengannya dosa-dosa seseorang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yaitu apabila dia khusyuk di dalam shalatnya, maka shalat lima waktu tersebut bisa menjadi sebab terhapusnya dosa dia.

14. Berusaha mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Menit ke-39:00 Di antara cara khusyuk di dalam shalat adalah mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam mendirikan shalat, baik berupa amalan-amalan maupun ucapan-ucapan yang dibaca ketika shalat berusaha untuk mengikuti sunnah beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا ﴿٢١﴾

Sungguh telah ada pada diri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam teladan yang baik bagi orang yang mengharap Allah dan juga hari akhir dan dia mengingat Allah dengan ingatan yang banyak.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Hendaklah kalian shalat sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Berarti di sini kita harus mempelajari bagaimana tata cara Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan shalat, mulai dari takbiratul ihram, kemudian apa yang kita baca di dalam ruku’ kita, di dalam sujud kita, bagaimana kita beri’tidal, bagaimana kita duduk di antara dua sujud? Usahakan semua itu dilakukan sama dengan yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

15. Jauhi perkara yang sia-sia

Menit ke-40:36 Di antara cara untuk khusyuk di dalam shalat adalah menjauhi dari melakukan perkara yang sia-sia, misalnya menggerakkan atau bermain-main dengan pakaiannya atau dengan sebagian anggota badannya ketika shalat. Karena ini semua menjadikan seseorang tidak khusyuk di dalam shalatnya.

Menjauhi perkara-perkara yang sia-sia, seperti misalnya menggerakkan atau bermain-main dengan pakaiannya, membenahi pakaiannya, terlalu banyak bergerak, melihat jam ketika dalam keadaan shalat, atau bermain-main dengan anggota badannya, melihat sambil membersihkan kukunya dan lain-lain, maka ini termasuk perkara yang bisa menghilangkan kekhusyukan di dalam shalat seseorang.

16. Menjaga shalat sunnah yang rawatib

Menit ke-41:51 Berusaha untuk menjaga shalat sunnah yang rawatib. Menjaga shalat sunnah rawatib ini termasuk perkara yang bisa membantu seseorang khusyuk di dalam shalatnya. Dan di antara fungsinya adalah untuk melengkapi kekurangan yang kita lakukan ketika melakukan shalat fardhu. Hal ini sebagaimana dalam hadits yang tadi kita sebutkan.

17. Persiapan sebelum shalat

Menit ke-42:30 Sebelum shalat hendaklah seseorang menghilangkan segala perkara yang bisa mengurangi kekhusyukan dia di dalam shalat. Seperti ada beberapa urusan yang kira-kira kalau belum selesai nanti kepikiran di dalam shalat kita dan mengganggu kekhusyukan shalat kita. Maka kita usahakan selesaikan urusan tersebut sebelum shalat sehingga tidak kepikiran ketika kita sedang shalat.

Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam sebuah hadits mengatakan:

لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ

“Tidak ada shalat apabila makanan sudah datang.” (HR. Muslim)

Karena seseorang apabila dia dalam keadaan lapar kemudian dia shalat, tentu shalatnya tidak akan khusyuk, apalagi laparnya adalah lapar yang sangat.

Maka beliau mengatakan: “Tidak ada shalat apabila makanan sudah datang,” dan dia dalam keadaan sangat lapar sekali. Maka yang dilakukan adalah makan terlebih dahulu baru kemudian setelah itu dia shalat.

Kemudian lanjutan haditsnya:

وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ

“Dan tidak ada shalat apabila seseorang dalam keadaan sedang menahan dari buang air kecil dan buang air besar.” (HR. Muslim)

Apabila dalam keadaan demikian, maka jangan memaksa dirinya untuk shalat, karena dia tidak akan khusyuk di dalam shalatnya. Hendaklah dia tunaikan dulu hajatnya, baru setelah itu dia shalat sesuai dengan apa yang dia dapatkan, meskipun harus masbuk di dalam shalatnya, tidak masalah. Daripada dia shalat dari awal bersama imam tetapi dalam keadaan tidak khusyuk menahan sesuatu.

Jadi, sunnahnya justru dia menunaikan dulu hajatnya, baru setelah itu dia bergabung bersama imam melakukan shalat berjama’ah.

C. Penutup Kajian Cara Agar Shalat Khusyuk

Menit ke-45:01 Baik, itu adalah beberapa perkara yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi saya berkaitan dengan beberapa kiat khusyuk di dalam shalat, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaat dari apa yang sudah disampaikan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang khusyuk di dalam shalatnya.

D. Video Kajian Cara Agar Shalat Khusyuk

Mari turut menyebarkan kajian “Cara Agar Shalat Khusyuk” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0