Dosa Lisan Yang Berkaitan Dengan Orang Lain

Dosa Lisan Yang Berkaitan Dengan Orang Lain

ceramah tentang gowes

Tulisan tentang "Dosa Lisan Yang Berkaitan Dengan Orang Lain" ini adalah catatan yang kami tulis dari video kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafidzahullah.

Dosa Lisan Yang Berkaitan Dengan Hak Allah
Kisah Motivasi Hijrah Jangan Putus Asa karena Allah Mengampuni Semua Dosa
Kiat Sukses Di Bulan Ramadhan – Sudah Istighfar Atau Belum?

Tulisan tentang “Dosa Lisan Yang Berkaitan Dengan Orang Lain” ini adalah catatan yang kami tulis dari video kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafidzahullah.

A. Mukaddimah Kajian Dosa-Dosa Bahayanya Lisan
B. Dosa lisan yang berkaitan dengan hak Allah
C. Dosa lisan yang berkaitan dengan diri sendiri

D. Dosa lisan yang berkaitan dengan orang lain

1. Ghibah

Menit ke-30:40 Ghibah adalah dosa besar, sampai Allah mengatakan:

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا

Janganlah sebagian kalian berghibah kepada yang lainnya.

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا

Apakah kalian suka jika kalian makan bangkai saudara kalian sendiri?” (QS. Al-Hujurat[49]: 12)

Tentu kalian tidak suka. Bagaimana kita mengghibah teman sendiri. Coba teman itu mati, jadi bangkai, lalu kita makan dagingnya. Tentu kita tidak suka. Jangankan bangkai manusia, bangkai sapi saja kita tidak suka. Jangan daging manusia tidak jadi bangkai, apalagi sudah jadi bangkai dan sudah busuk lalu kita makan daging saudara sendiri?

Jadi kalau seseorang mau ghibah, mikir dulu, ini saudara saya, bagaimana saya makan bangkainya? Tentu jangan. Oleh karenanya ghibah adalah dosa besar. Juga dalam hadits isra’ mi’raj, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendapati sekelompok orang:

لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ

“Mereka memiliki kuku-kuku dari tembaga atau metal, kemudian mereka mencakar-cakar wajah mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Maka Rasulullah berkata: “Siapa mereka Wahai Jibril?”

Kata Jibril ‘Alaihis Salam:

هَؤُلآء الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسَ

“Mereka adalah orang-orang yang memakan daging bangkai saudaranya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Kita tidak boleh mengghibah. Kawan tidak boleh dighibahi, orang tua, istri, suami, ulama, para ustadz, tidak boleh kita ghibahi. Kita berusaha jaga lisan.

Secara hukum asal ghibah hukumnya haram, tetapi dia boleh dalam kondisi darurat, kalau ada kemaslahatan, bukan hanya sekedar melampiaskan kejengkelan, bukan dalam rangka untuk bumbu  pembicaraan, bukan dalam rangka untuk menjadikan majelis yang ada lucu-lucunya sehingga kita mengghibah orang lain, ini tidak boleh.

Kalau ada perlu kita bicarakan kejelekan orang untuk mencari kemaslahatan, ini tidak ada masalah. Misalnya bagaimana tentang si Fulan, dia punya salah, bagaimana caranya kita nasihat dia? Maka ini boleh.

Kita bicara tentang ghibah ibu kita, kita ngobrol dengan ayah kita, atau kita ngobrol sama kakak adek kita tentang bagaimana Bapak kita atau Ibu kita, ini tidak apa-apa karena tujuannya mencari maslahat. Intinya kalau ada maslahatnya maka tidak mengapa. Tapi hukum asal ghibah adalah haram. Maka seorang waspada. Bahkan Imam Nawawi lebih ketat, dalam hal ini sebagaimana hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa ghibah adalah:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

“Ghibah adalah engkau berbicara tentang saudaramu apa yang dia tidak sukai.” (HR. Muslim)

Kata Imam An-Nawawi mencakup seluruhnya. Misalnya seseorang berkata: “Itu ikhwan baik tapi istrinya cerewetnya luar biasa.” Itu ghibah karena ikhwan itu tidak suka kalau istrinya dibilang cerewet. Misalnya seseorang berkata: “Ikhwan itu baik tapi anaknya jorok sekali.” Ini juga tidak boleh. Misalnya juga membicarakan mobilnya: “Mobilnya butut.” Ini juga tidak boleh.

Dalam hal ini Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala lebih ketat. Dia mengatakan bahwa semua yang diceritakan berkaitan dengan saudara kita dan dia tidak suka untuk diceritakan, maka ini termasuk ghibah.

Dan saya katakan bahwa ghibah bertingkat-tingkat. Ghibah orang jauh tidak sama dengan ghibah orang dekat. Ghibah orang dekat tidak sama dengan ghibah orang yang memiliki jasa besar kepada kita. Ghibah tentang suami atau istri lebih buruk, ghibah terhadap ustadz dan ulama lebih buruk, dan selanjutnya.

2. Naminah

Menit ke-34:43 Namimah adalah mengadu-domba diantara manusia. Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ ﴿١١﴾

Allah mencela seorang yang kerjanya kesana-kemari untuk mengadu-domba.” (QS. Al-Qalam[68]: 11)

Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak masuk surga orang yang tukang naminah.” (HR. Ahmad)

Dalam satu riwayat:

لَا يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَتَّاتٌ

Bedanya nammam dengan qattat adalah kalau nammam dia hadir langsung ketika kejadian kemudian dia cerita kesana kemari, kalau qattat adalah dia dengar-dengar kemudian dia pergi menyampaikan berita ke si A dan si B untuk mengadu-domba sehingga A dan B pun bertengkar. Ini dosanya sangat besar. Maka Nabi mengatakan: “Tidak masuk surga orang yang melakukan naminah.”

Kemudian juga diantaranya adalah sebab adzab kubur. Dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, kata Ibnu Abbas: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati dua kuburan, kemudian beliau bersabda:

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ

“Dua penghuni kuburan sedang diadzab. Mereka diadzab dengan dua perkara yang mereka bisa tinggalkan tapi mereka gampang-gampangkan.”

Adapun salah satunya diadzab kenapa?

فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيْمَةِ

“Dia suka jalan kesana kemari untuk mengadu-domba.” (HR.  Bukhari, no. 216 dan Muslim, no. 292)

Makanya dikatakan oleh seorang ulama bahwasanya namimah merusak dalam waktu yang sebentar apa yang tidak bisa dirusak oleh penyihir selama setahun. Orang yang suka namimah, dia bisa merusak kebaikan atau jalinan kasih sayang di antara dua kelompok atau di antara dua orang hanya sebentar. Mungkin dia bikin namimah sejam dua jam atau seminggu dua minggu, sebentar saja dia bisa membuat namimah, ngomong sana ngomong sini, kemudian keduanya pun saling membenci luar biasa sampai bermusuh-musuhan yang hal ini tidak bisa dilakukan oleh penyihir meskipun setahun. Dampak namimah luar biasa.

Jadi kita sebutkan bahwasanya namimah menyebabkan adzab kubur. Dalam sebagian riwayat, kata Ibnu Hajar Rahimahullahu Ta’ala bahwasanya diantara adzab kubur adalah ghibah. Bagaimana hubungan antara namimah dengan ghibah? Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan kaitan namimah dan ghibah, yaitu kalau namimah tujuannya untuk mengadu domba, dengan ghibah maupun terang-terangan. Sedangkan kalau ghibah sekaligus tujuannya mengadu domba, itu namanya namimah. Adapun kalau ghibah tidak harus tujuannya mengadu domba.

Dan banyak orang ghibah tidak niatnya mengadu domba, tapi dalam rangka untuk melampiaskan isi hatinya saja. Mungkin dia hasad dengan orang itu, maka dia ceritakan ke orang lain. Mungkin karena dongkol kalah bersaing, maka ia menjatuhkan orang tersebut. Atau juga karena bumbu pembicaraan, supaya asyik berbicara. Karena ghibah adalah lezat. Makanya majelis yang paling lezat adalah majelis ghibah. Karena maksiat itu lezat, khamr lezat, zina enaknya kayak apa, ghibah juga lezat, musik juga enak. Ini semua kelezatan. Makanya acara TV yang paling disenangi acara ghibah, apalagi ghibah selebriti, MasyaAllah penontonnya luar biasa ibu-ibu. Hal ini karena memang ghibah itu lezat.

Ghibah yang tujuannya mengadu domba, berarti dosa ghibah + namimah.

3. Pemilik dua wajah (bermuka dua)

Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ.

“Orang buruk pada hari kiamat kelak adalah orang yang mendatangi satu kaum dengan wajah tentu dan datang kepada yang lain dengan wajah yang lain pula.” (HR. Bukhari)

Ngomong sama yang ini ngomongnya A, sedangkan dengan yang sini ngomongnya B, sehingga orang lain bingung, ini termasuk dosa besar. Dan Ibnu Hajar mengatakan bahwa ini bisa jadi salah satu bentuk dari namimah. Dia pergi ke Si A seakan-akan memusuhi B, begitu dia pergi ke Si B seakan-akan dia memusuhi A.

Hal ini tercela. Seorang mukmin jangan sampai dia plin-plan.

4. Dusta

Menit ke-41:57 Dusta secara umum adalah dosa. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِيَّاكُمْ والْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، ومَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ ويَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hati-hati kalian dengan dusta, sesungguhnya dusta menghantarkan kepada kafajiran dan sesungguhnya kefajiran menghantarkan kepada neraka jahannam. Senantiasa seorang lelaki berdusta kemudian dia sengaja berdusta (pintar berdusta) sampai dicatat disisi Allah sebagai pendusta.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan banyak terjadi orang yang seperti ini. Seseorang sering berdusta akhirnya dia dicap oleh Allah sebagai pendusta, sampai mati berdusta terus dan dia menganggap hal itu sepele. Berbicara dusta di sana-sini tapi tidak ada masalah bagi dia, menjadi sesuatu yang biasa. Sama seperti orang misalnya dia berzina sekali, dia merasa takut dengan dosa. Adapun kedua, ketiga, dan seterusnya dia menjadi terbiasa.

Dusta ini modelnya banyak, kita akan sebutkan satu persatu, diantaranya:

a. Bersaksi palsu

Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan: “Maukah engkau aku kabarkan tentang dosa-dosa besar? Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

“Syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua.”

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam duduk yang sebelumnya beliau bersandar, kemudian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

أَلَا وَشهادة الزُّورِ

“Ketahuilah! hati-hati saksi palsu.”

Tidak boleh kita bersaksi palsu untuk menjatuhkan yang lain, untuk memenangkan yang lain. Menjadi saksi palsu ini hukumnya dosa besar, jangan dianggap sepele. Bahkan kalau kita harus bersaksi tapi kita jengkel kepadanya, kalau dia benar maka kita harus bersaksi dengan saksi yang jujur.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّـهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا…

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian jujur ketika menjadi saksi, jangan sampai kalian karena benci kepada suatu kaum kalian pun bersaksi palsu.” (QS. Al-Maidah[5]: 8)

b. Pura-pura bermimpi sesuatu

Ini dosanya lebih besar daripada dusta biasa. Dusta di alam sadar masih lebih ringan daripada dusta tentang mimpi. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ تَحَلَّم بحُلمٍ لم يَرَه كُلِّفَ أن يَعْقِد بين شَعِيرَتَيْن، ولن يَفْعَلَ

“Barangsiapa yang mengaku-ngaku mimpi tentang sesuatu padahal dia dusta, maka pada hari kiamat kelak dia disuruh untuk mengikatkan dua butir gandum. Dan dia tidak akan mampu (artinya siksaannya panjang).” (HR. Bukhari)

Kenapa berdusta tentang mimpi lebih para daripada berdusta tentang kejadian di alam nyata? Karena berdusta tentang kejadian di mimpi ini ada kaitannya dengan pembenaran. Karena disebut bahwa diantara tanda-tanda kenabian yang masih tersisa adalah mimpi. Orang kalau bilang: “Saya mimpi tadi malam ada rembulan jatuh.” Tentu orang yang mendengar langsung mengira bahwa yang bercerita adalah orang shalih karena mimpi bertemu rembulan.

Kemudian lagi misalnya seseorang berkata: “Saya mimpi bertemu dengan syaikh fulan, atau sahabat ini, atau mimpi bertemu Nabi.” Tentu orang akan menganggap yang bercerita adalah orang spesial.

Subhanallah.. Hati-hati! Tidak boleh seseorang mengarang dalam mimpi, ini hukumnya haram. Bahkan kata para ulama bahwa lebih parah daripada dia bercerita: “Tadi saya di Bandung bertemu dengan ini.” Seseorang berdusta tentang kejadian alam nyata masih lebih ringan daripada berdusta tentang kejadian alam mimpi. Karena mimpi memang terkadang ada isyarat atau ilham dari Allah dan yang semisalnya.

c. Menyebarkan isu dusta

Dalam hadits yang masyhur tentang orang-orang diadzab dalam alam barzakh, diantaranya seorang yang mulutnya dirobek sampai ke belakang, kemudian sembuh lagi. Hal itu terjadi sampai hari kiamat dia disiksa dalam barzakh. Ketika Nabi bertanya: “Siapa orang itu?” Maka dikatakan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يَكْذِبُ بِالْكَذْبَةِ، تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ

“Seorang yang dia membuat isu kemudian isunya diambil dan disebarkan (dishare) keseluruh penjuru dunia.” (HR. Bukhari)

Dan ini sangat berbahaya bagi orang-orang yang main di medsos, terutama pembawa berita, wartawan televisi dan macam-macamnya. Hati-hati. Jika membuat berita dusta, karena masalah politik membuat cerita bohong untuk menutupi keburukan, binasa ente hari kiamat. Jangan hari kiamat, di alam barzakh pun sudah binasa.

Saya sering sampaikan ketika saya mengisi di stasiun televisi di bulan Ramadhan. Hati-hati, ente kalau sengaja berdusta di bulan Ramadhan, maka puasa Anda tidak dianggap.

مَنْ لَمْ يَدعْ قَوْلَ الزُّورِ فلَيْسَ للَّهِ حَاجةٌ في أَنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرَابهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, Allah tidak butuh dengan puasanya.” (HR. Bukhari)

Maka ada salah seorang dari stasiun televisi mengatakan: “Ustadz, bagaimana kita disuruh buat berita dusta, yang suruh direksi. Yang pahalanya tidak diterima itu direksi saja atau kita juga?” Maka jawabnya adalah semuanya, Anda tahu tapi ikut-ikutan menyebarkan dusta itu. Kalau dikeluarkan dari pekerjaan, keluarkan saja. Apalagi dusta tersebut tersebar ke seluruh penjuru dunia.

d. Mengaku nasab palsu

Mengaku nasab palsu misalnya seseorang berbicara di depan orang bahwa saya anaknya ini, saya keturunan darah biru, saya ningrat, saya raden, saya apa, kalau tidak benar tidak boleh dan berdosa. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَن ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أنَّهُ غَيْرُ أبِيهِ فَالجَنَّةُ عَلَيهِ حَرامٌ

“Barangsiapa mengaku saya anaknya si fulan, saya keturunannya si fulan, saya dari kabilah ini, saya suku ini, padahal dia tahu dia tidak dari suku tersebut, maka surga haram baginya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Tidak boleh saya mengaku orang jawa padahal saya adalah orang bugis. Hukumnya haram. Karena kita tahu masyarakat menghormati nasab. Apalagi kemudian seseorang mengaku keturunan untuk mengambil harta warisan atau yang lain. Mengaku keturunan orang yang bukan bapaknya saja hukumnya haram, apalagi setelah itu ada hal-hal yang haram lagi seperti mengambil harta warisan dan yang lainnya.

e. Cerita dusta agar orang tertawa

Diantaranya berdusta untuk menyenangkan dan membuat orang lain tertawa, ini tidak boleh. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah bagi orang yang dia berbicara kemudian dia berdusta untuk membuat orang lain tertawa karenanya, celaka baginya, celaka baginya.” (HR. Abu Dawud)

Jadi tidak boleh kemudian kita berbohong dan mengarang cerita agar orang tertawa. Apalagi itu dijadikan sebagai sarana untuk dakwah, kita bohong sana bohong sini ternyata bohong agar orang lain senang. Berbohong pada yang bukan dakwah saja kita tidak boleh, apalagi berbohong kita jadikan sebagai sarana dakwah. Maka hukumnya haram.

Nabi sampai mengatakan “celaka” tiga kali. Maka hukumnya seseorang tidak boleh sengaja berdusta untuk menyenangkan dan membuat orang lain tertawa. Dan ini menunjukkan buruknya dusta. Dusta untuk membuat orang lain senang saja tidak boleh, apalagi dusta dalam rangka untuk mendzalimi orang lain.

f. Sumpah palsu untuk mengambil hak orang lain

Sumpah palsu agar mengambil hak orang lain. Ketika Rasulullah ditanyakan tentang dosa-dosa besar, Rasulullah mengatakan: “Syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua, kemudian kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

الْيَمِينُ الْغَمُوسُ

“Sumpah yang menenggelamkan.”

Kenapa disebut demikian? Karena sumpah itu menenggelamkan orang dalam neraka jahannam. Karena sumpah ini bertujuan untuk mengambil hak orang lain. Nabi menjelaskan:

الَّذِي يَقْتَطِعُ مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ

“Seorang yang mengambil dengan sumpahnya tersebut harta orang lain.” (HR. Bukhari)

Bahkan dalam riwayat, sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللهِ؟

“Wahai Rasulullah, meskipun hanya barang sepele?”

Kata Nabi:

وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ

“Meskipun kayu siwak.” (HR. Muslim)

Lihatlah, mengambil siwak orang lain saja membuat masuk neraka, apalagi kemudian bersumpah untuk mengambil tanah orang lain?

g. An-Najsy

Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَلاَ تَنَاجَشُوا

“Janganlah kalian saling najsy” (HR. Bukhari dan Muslim)

Najsy adalah omongan-omongan bohong untuk melariskan dagangan. Misalnya si A jualan barang. Barang ini tidak terlalu menarik. Maka dia panggil temannya B, C, D, untuk pura-pura mau beli dan memberikan testimoni bahwa barangnya bagus dan di tempat lain mahal sedangkan di tempat si A murah. Padahal ini adalah iklan yang bohong, maka ini dosa.

Sama seperti seorang wanita menjadi bintang iklan sampho. Lalu dia mengatakan: “Dengan sampho ini rambut saya menjadi hitam.” Padahal bukan, sebelum memakai sampho itu rambutnya sudah hitam. Bukan karena sampho itu, padahal karena dia pergi ke salon sehingga membuat rambutnya menjadi bagus.

Jadi najsy adalah kata-kata bohong untuk melariskan suatu barang, ini tidak diperbolehkan.

h. Janji bohong

Janji bohong juga tidak diperbolehkan. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Tanda-tanda orang munafik tiga,” diantaranya:

إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Kalau dia berbicara dia bohong, kalau dikasih amanah dia berkhianat, kalau dia berjanji dia menyelisihi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hati-hati, seseorang jangan sampai terjerumus dalam tanda-tanda orang munafik.

5. Menuduh orang lain berzina tanpa bukti

Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿٢٣﴾

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang menjaga diri dituduh berzina, mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka adzab yang besar.” (QS. An-Nur[24]: 23)

Tidak boleh kita menuduh orang lain. Makanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ

“Sesungguhnya darah kalian haram, harta kalian haram, harga diri kalian juga haram.” (HR. Bukhari)

Tidak boleh kita menuduh orang berzina. Misalnya kita mengatakan: “Orang itu pezina.” atau “Laki-laki itu buaya, berapa banyak wanita menjadi korban dia.” atau “Itu laki-laki homo” atau “Itu wanita lesbi”, Ini tidak boleh karena berkaitan dengan harga dirinya, ini hukumnya haram.

Kalau seseorang menuduh orang lain:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً …

Barangsiapa menuduh orang lain melakukan zina kemudian tidak punya bukti empat saksi, maka disuruh oleh Allah Subhanahu untuk dicambuk.” (QS. An-Nur[24]: 4)

6. Mengejek

Menit ke-58:28 Diantaranya adalah sukhriyah (mengejek). Ya Akhi, tidak boleh kita mengejek, karena itu tidak baik. Kalau kita berselisih dengan orang lain, kita jelaskan secara baik, tidak perlu kita mengejek dan merendahkan. Kita bicara ilmiah saja, jangan sampai gara-gara berbeda dengan kita kemudian akhirnya kita mengejek diluar hal yang semestinya, kita menghadapi kebatilan dengan kebatilan, ini tidak boleh. Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sebagian lelaki mengejek kaum lelaki yang lain, jangan sebagai wanita mengajak wanita yang lain, bisa jadi yang diejek lebih baik daripada yang mengejek.” (QS. Al-Hujurat[49]: 11)

Dan kenyataannya demikian. Kebanyakan yang diejek lebih baik daripada yang mengejek. Kenapa demikian? Kata para ulama karena yang mengejek biasanya ada keangkuhan dan ada kesombongan. Kalau kesombongan sebesar zarah pun Allah tidak suka.

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar zarah.” (HR. Muslim)

Dan biasanya itulah yang membuat dia mengejek dan merendahkan.

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

“Cukup seorang dikatakan buruk jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)

Maka jangan sampai kita terjerumus dalam mengejek. Apalagi dengan gelaran-gelaran dan laqob-laqob yang tidak benar. Kalau kita diberi laqob, biarkan saja, jangan kita balas dengan laqob-laqob yang tidak benar, laqob-laqob yang mengejek. Sabar, jangan sampai kita balas dengan ejekan-ejekan yang tidak benar.

7. Berdebat di atas kebatilan

Menit ke-1:00:09 Kemudian diantaranya berdebat di atas kebatilan. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

“Sesungguhnya orang  yang paling dibenci oleh Allah adalah suka berdebat di atas kebatilan.” (HR. Bukhari)

Sudah tahu salah tapi ngeyel, lari sana lari sini. Ente kalau salah, yasudah ngaku salah. Ini tidak, terus mempertahankan kebatilan dengan perdebatan. Hal ini dibenci sekali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati-hati.

Demikianlah, karena kesombongan dan keangkuhan seseorang tidak mau kalah di depan umum. Padahal kalau tidak mau kalah di depan umum tidak usah debat. Kalau kita salah lalu ada yang menegur kita meskipun dia musuh kita, maka kita akui kita salah. Jangan kita membela kesalahan. Karena ini dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan dosa.

Hati-hati, jangan sampai kita disebut oleh orang lain sebagai “Si Ngeyel”. Kalau dicap “ngeyel” maka bisa jadi termasuk hal ini. Seseorang disebut “ngeyel” karena orang tahu dia sudah salah tapi masih membela diri. Ini dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau kita salah, yasudah kita ngaku salah.

8. Memuji orang lain berlebihan

Menit ke-1:01:59 Diantaranya -kata para ulama- juga adalah memuji orang lain berlebihan, ini tidak boleh juga. Apalagi dalam rangka cari muka. Sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegur seseorang:

قَطَعْتُمْ ظَهْرَ الرَّجُلِ

“Kau telah mematahkan tulang punggung orang tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِذَا رَأَيْتُمْ المَدَّاحِيْنَ فَاحْثَوْا فِيْ وُجُوْهِهِمُ التُّرَابَ

“Kalau kalian melihat orang yang sukanya memuji, lemparkan pasir di wajahnya.” (HR. Muslim)

Hal ini karena pujian-pujian itu kalau berlebihan akan membuat orang akhirnya riya’ dan ujub. Padahal dia tadinya sudah ikhlas, itu jadi hancur gara-gara pujianmu. Dia tadinya sudah tawadhu, jadi sombong dan angkuh gara-gara pujianmu. Dan banyak penjilat-penjilat seperti ini. Gurunya, bosnya, semuanya dia jilat. Sehingga seakan-akan gurunya tidak pernah salah. Hal seperti ini hati-hati. Banyak orang terpedaya gara-gara murid-muridnya yang berengsek, orang terpedaya gara-gara pengikutnya yang penjilat dan mencari keuntungan dibaliknya. Maka tidak boleh.

Kalau kita punya kawan salah, maka kita tegur, kita punya guru salah, kita kasih tahu, bukan malah kita puji-puji. Orang dia tidak salah saja tidak boleh kita puji berlebih-lebihan, apalagi kalau dia salah lalu kita puji-puji terus?

Saya ulangi, pujian itu bisa membuat orang berubah dari ikhlas menjadi riya’, dari tawadhu menjadi ujub kemudian menjadi sombong.

9. Mencaci-maki

Menit ke-1:03:47 Diantara hal yang dilarang adalah mencaci-maki. Kalau kita bermusuhan dengan orang, maka tidak perlu caci-maki. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

المُتَسابانِ مَا قَالا فَعَلى البَادِي مِنْهُما حتَّى يَعْتَدِي المظلُومُ

“Kalau dua orang caci-maki, maka seluruh yang diucapkan oleh dua orang ini dosanya kembali kepada yang pertama kali mencaci-maki, kecuali kalau yang dizalimi melampaui batas.” (HR. Muslim)

Misalnya si A dan si B, dan yang pertama kali caci-maki si A. Kemudian si B membalas cacian hingga selama 1 jam mereka caci-maki, maka semua dosanya milik si A. Kecuali kalau si B berbuat dzalim, yaitu dia memaki lebih daripada makian si A, maka yang kelebihannya itu diserahkan kepada si B. Tapi kalau balasannya masih setimpal, seluruh dosanya berkumpul untuk si A. Maka seseorang berusaha untuk menjaga lisannya.

Diantara bentuk mencela adalah mencela kedua orang tua. Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Seseorang mencaci-maki kedua orang tuanya.” Sahabat bertanya: “Bagaimana seorang mencaci-maki kedua orang tuanya?” Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ

“Seseorang mencaci-maki bapak temannya, temannya mencaci bapaknya juga.” (HR. Muslim)

Maka secara tidak langsung dia mencaci bapaknya sendiri. Ini semua adalah bentuk-bentuk dosa berkaitan dengan lisan.

E. Nasihat dan Penutup Kajian Dosa-Dosa Lisan

Baca di sini: Nasihat dan penutup kajian dosa-dosa lisan (InsyaAllah segera diupdate)

Video Kajian Dosa Lisan Yang Berkaitan Dengan Orang Lain

Sumber Video: Dosa-Dosa Bahayanya Lisan

Mari turut menyebarkan kajian “Dosa Lisan Yang Berkaitan Dengan Orang Lain” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

WORDPRESS: 0
Saudaraku, silahkan login atau daftar terlebih dahulu untuk menyalin. Barakallahu fiik.
%d blogger menyukai ini: