Ceramah Singkat: Pilihan Allah Adalah Yang Terbaik

Ceramah Singkat: Pilihan Allah Adalah Yang Terbaik

ceramah tentang gowes

Berikut ceramah singkat pembahasan “Pilihan Allah Adalah Yang Terbaik” yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. hafizhahullahu ta'ala. Pi

Kultum Singkat Tentang Shalat Merupakan Tiang Agama
Kumpulan Ceramah Ramadhan Singkat dan Praktis
Ceramah Singkat Tentang Rumah Tangga – Kiat Menjaga Rahasia Suami Istri
Berikut ceramah singkat pembahasan “Pilihan Allah Adalah Yang Terbaik” yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. hafizhahullahu ta’ala.

Pilihan Allah Adalah Yang Terbaik

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,

Menentukan pilihan yang tepat dalam urusan dunia kita, tentu merupakan bagian taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala yang didambakan oleh orang-orang yang beriman. Tetapi permasalahannya adalah bagaimanakah kita bersikap agar dalam kondisi-kondisi seperti ini, taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala tetap menaungi kita, yang menjadikan kita dimudahkan, diberkahi, dan dihindarkan dari keburukan-keburukan ketika salah satu dari urusan dunia kita dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala terjadi pada diri kita.

Menentukan pilihan jika itu berhubungan dengan urusan agama, keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala, atau sebab yang jelas menunjukkan kebaikannya tentu tidak susah. Kita memilih dan mengutamakan keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala. Memilih sesuatu yang lebih mendekatkan kepada agama. Tetapi cobalah kita renungkan, bagaimana jika kita menentukan pilihan dalam perkara-perkara yang tidak kita ketahui akibatnya. Yang mungkin sekedar dengan pandangan kita, pikiran kita, kita menyangka hal itu baik. Padahal tetap saja kita sebagai manusia, ilmu kita terbatas, kemampuan kita terbatas. Allah subhanahu wa ta’ala Dia-lah yang sempurna pengetahuanNya, Maha Sempurna sifat-sifatNya, yang berarti pilihan Allah subhanahu wa ta’ala itulah yang terbaik karena Dia Maha Mengetahui akibat dari segala sesuatu. Sepandai apapun kita, seterampil apapun kita, sedalam apapun pengalaman kita, tetap kita hanya bisa mereka-reka, tidak tahu akibat dari segala sesuatu.

Mari kita renungkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴿٢١٦﴾

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Q.S. Al Baqarah : 216

Lihatlah bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan kita akan terbatasnya ilmu kita. Apalagi terhadap akibat dari urusan kita, baik atau tidaknya. Jadi kita harusnya sadar, kita tidak boleh menentukan pilihan dalam sesuatu yang tidak kita ketahui akibatnya, mendahului pilihan Allah subhanahu wa ta’ala, atau cenderung kepada sesuatu yang kemudian kita ungkapkan, sampai pun kita mohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang seolah-olah dengan ini kita ingin mengajukan usul kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Dzat Yang Maha Mengetahui akibat dari segala sesuatu. Tentu ini tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Tentu ini menunjukkan kelemahan hamba tersebut dalam memahami sempurnanya kesempurnaan nama dan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala.

Mari kita lihat faidah yang bisa kita ambil dari ayat tersebut di atas, sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim al Jauziyyah rahimahullahu ta’ala dalam kitab Al Fawaid, di antaranya adalah, manusia ketika dia melakukan atau mendapatkan satu keburukan misalnya, jangan dia berputus asa karena bisa jadi dari celah-celah keburukan itu akan datang kebaikan untuk dirinya. Sebagaimana jika dia mendapatkan kebaikan, mendapatkan nikmat, jangan dia merasa aman akan kemungkinan di balik nikmat tersebut ada musibah yang mencelakakan dirinya, ada keburukan yang akan merusak dirinya.

Maka dalam keadaan dia selalu memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari segala kebutuhan, dan meminta kepadaNya semua karunia kebaikan.

Kemudian di antara faidah yang penting yang terkandung dalam ayat ini, adalah yang berhubungan dengan masalah meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sepantasnya bagi seorang hamba untuk tidak mengajukan usulan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, memilih sesuatu kemudian diajukannya pilihan itu kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ini sering terjadi. Seorang hamba ketika dia melakukan sesuatu, cenderung dia telah memilih terlebih dahulu, bukan berdasar kebaikan atau pertimbangan agama, tetapi karena pilihan dari dirinya, dari pikirannya, atau mungkin pengalaman orang lain yang pernah didapatkannya. Akhirnya dia mengungkapkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, “Ya Allah, mudahkanlah terjadi apa yang aku inginkan ini, kabulkanlah keberhasilan usahaku ini.” Padahal dia tidak mengetahui apa akibatnya jika seandainya Allah subhanahu wa ta’ala jadikan urusannya berhasil.

Jika dia menyadari dirinya tidak mengetahui akibat dari satu urusan, mengapa dia harus memilih? Mengapa dia tidak serahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha Sempurna pilihanNya? Dia Maha Mengetahui akibat dari semua perkara, baiknya atau buruknya. Ini yang pertama.

Yang kedua adalah setelah pilihannya tersebut misalnya dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, lalu bagaimana kelanjutannya? Apakah dia tidak butuh pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala, untuk dimudahkan kebaikan kepadanya, dihindarkan dari fitnah? Misalnya usahanya berhasil, apakah tidak ada fitnah kesuksesan? Harta yang merupakan fitnah, kesibukan yang melalaikan, dan berbagai macam keburukan-keburukan yang lainnya. Siapa yang akan menolongnya jika bukan Allah subhanahu wa ta’ala? Siapa yang akan menghindarkannya dari keburukan? Seandainya pilihan tersebut telah dimulai dari kemauannya, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan berlepas diri darinya. Tetapi jika sejak awal dia menyerahkan pilihannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengatakan, “Ya Allah, jika Engkau mengetahui urusanku ini baik, mendatangkan kemanfaatan bagi imanku, untuk dunia dan akhiratku, maka mudahkanlah untuk berhasil. Tetapi jika Engkau mengetahui dengan ilmuMu yang sempurna, ini tidak baik bagi dunia dan akhiratku, maka palingkanlah aku darinya. Dan palingkanlah dia dariku.”

Jika sejak awal dia serahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka apa yang Allah subhanahu wa ta’ala tentukan baginya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menolongnya, memberikan taufik dan kemudahan padanya, dan menghindarkannya dari segala keburukan. Baik ketika Allah subhanahu wa ta’ala takdirkan itu berhasil, ataupun tidak berhasil sesuai dengan yang diharapkan manusia.

Subhanallah, jadi, sebab yang menjadikan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala itu adalah karena sikap kita sendiri sejak awal. Maka untuk bisa mendapatkan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala, benahi sikap kita. Jangan kita mendahului ketentuanNya.

Di sinilah pentingnya kita merenungkan bahwasanya manusia jika memahami takdir dengan benar, dia akan meyakini sebesar apapun ambisi dia dalam menghendaki sesuatu, tidak akan mempengaruhi takdir. Jadi dia akan lelah, bersusah payah untuk menganalisa dengan ilmunya yang terbatas, tetapi tetap saja tidak akan merubah ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal yang menimpanya, jadi atau tidak jadinya. Sudah begitu dia tidak mendapatkan pahala. Sudah begitu dia tidak akan dihindarkan dari keburukan.

Tetapi jika dia memasrahkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dia akan teruji sejak awal dibantu dengan yang Allah subhanahu wa ta’ala tentukan takdirnya baginya, setelah itu Allah subhanahu wa ta’ala jadikan dia beristirahat. Tidak perlu memikirkan dan bersusah payah, karena dia mempercayakan urusannya kepada Dzat Yang Sangat Sempurna dalam menangani segala urusannya, yang akan mencukupi urusan dari hamba-hambaNya yang selalu bertawakkal kepadaNya.

ومن يتوكل على الله فهو حسبه…

“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Q.S. Ath Thalaq : 3

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan ayat ini sebagai renungan bagi kita semua untuk kita menentukan sikap yang benar dalam memilih urusan-urusan kita. Tentu urusan yang tidak berhubungan dengan agama, yang belum jelas kebaikannya dengan hanya menyandarkannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dan memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang terbaik dari segala urusan tersebut. Baik itu berhasil ataupun tidak berhasil.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan taufik dalam kebaikan, dan menjada kita dari segala keburukan.

Lihat juga: Ceramah Singkat Tentang Kisah-Kisah Menakjubkan Pilihan Allah Yang Terbaik

Video Ceramah Singkat tentang Pilihan Allah Adalah Yang Terbaik :

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang Ceramah Singkat ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

WORDPRESS: 0
Saudaraku, silahkan login atau daftar terlebih dahulu untuk menyalin. Barakallahu fiik.
%d blogger menyukai ini: