Ceramah Singkat Tentang Pernikahan: Menikah Untuk Apa?

Ceramah Singkat Tentang Pernikahan: Menikah Untuk Apa?

iklan erto's

Aku akan berusaha melahirkan daripadanya seorang Putra yang Shalih, Putra yang dididik dengan agama yang baik, Putra yang kelak dididik menjadi besar, menjadi Putra seorang pendekar yang dapat menaklukkan Baitul Maqdis

Ceramah Singkat Tentang Pernikahan: Menikah Untuk Apa? ini adalah catatan faedah dari ceramah singkat yang dibawakan oleh Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, Lc, MA. Hafidzahullahu Ta’ala.

Ceramah Singkat Tentang Menikah Untuk Apa?

Pernahkah Anda terpikir kenapa Anda menikah?

Banyak orang-orang ketika ditanyakan kepadanya, apa obsesi Anda dalam menikah? Dia mengatakan: “Ya.. kebiasaan, biasanya orang-orang telah bekerja, telah memiliki usaha, penghasilan, ya menikah.”

Subhanallah… Bagaimana motivasi dalam menikah dalam pandangan Islam?
Dalam pandangan Islam, menikah bukan sekedar melampiaskan syahwat, tapi lebih daripada itu tujuan dalam pernikahan begitu besar dalam pandangan Islam.

Ada seseorang yang dapat dijadikan sebagai cerminan tentang besarnya obsesinya dalam menikah. Allahuakbar.. dia seorang panglima. Namanya “Najmuddin Ayyub” dia berada di daerah Tikrit. Tikrit adalah Negeri Irak yang sekarang sedang berguncang.

Saudaranya bernama Asaduddin heran dan bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku Najmuddin, telah lama dirimu membujang seperti ini, kapankah kau menikah? Apa yang membuat engkau enggan untuk segera menikah?”

Kemudian Najmuddin mengatakan kepada saudaranya (Asaduddin), “Wahai saudaraku, Aku belum menemukan seorang perempuan yang pas bagiku”.

Maka saudaranya bertanya, “Wahai Najmuddin, sebegini banyak wanita tidak ada yang pas bagimu?”

Lalu Najmuddin mengatakan, “iya belum ada yang pas bagiku dalam menikah”

Maka bertanyalah saudaranya (Asaduddin), “Siapa yang kau cari? Kalau engkau mau, kalau-lah engkau sudi, saya akan segera mendatangi Putri dari Raja kita (Putri Sultan) atau jika engkau mau kita akan berusaha meminang Putri daripada Perdana Menteri”

Lalu ia (Najamuddin) mengatakan, “Wallahi… Putri Perdana Menteri, Putri Raja tidak ada yang pas buatku”

Lalu mereka bertanya, “Subhanallah… tipe wanita bagaimana yang pas bagimu? Apa kekurangan mereka? Bangsawan, hartawan, cantik jelita, Putri Raja, Putri Perdana Menteri, apa obsesimu dalam menikah? Siapa yang kau cari? Wahai Najmuddin segeralah engkau menikah”

Kemudian Najmuddin mengatakan: “Aku ingin seorang wanita yang aku nikahi, dia mengambil tanganku, membawa diriku kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ke surga Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mempunyai obsesi surga Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian aku akan berusaha melahirkan daripadanya seorang Putra yang Shalih, Putra yang dididik dengan agama yang baik, Putra yang kelak dididik menjadi besar, menjadi Putra seorang pendekar yang dapat menaklukkan Baitul Maqdis”

Ketika itu Baitul Maqdis dalam jajahan orang-orang Salibis dan orang-orang Nashara dan sungguh antara Irak dan Baitul Maqdis adalah perjalanan yang panjang.

Jadi apa obsesi Najmuddin dalam menikah? Dia ingin seorang perempuan yang siap sekiranya melahirkan kelak seorang generasi yang akan dididik dengan pendidikan Islam, menjadi seorang penunggang kuda, menjadi seorang pahlawan yang akan memerdekakan di Baitul Maqdis. Wallahi ini adalah merupakan obsesi yang begitu besar.

Maka berkata Asadudin: “Dimana kau dapati perempuan seperti ini?”

Dia katakan: “Andai kata niatku ikhlas, semoga Allah semoga Allah untukku perempuan seperti ini”

Hari berjalan berganti dengan minggu, berganti dengan bulan, Najmuddin belum mendapatkan idaman hatinya, seorang wanita sesuai dengan keinginannya memiliki cita-cita yang besar.

Suatu ketika di Tikrit, dia mendatangi salah seorang daripada ulama yang memiliki majelis di masijdnya. Datanglah Najmuddin dan dia duduk bersimpuh di antara murid-murid lainnya, dan dia mendengarkan kajian daripada ulama tersebut. Selepas kajian, tiba-tiba dari balik tirai ada seorang wanita yang memanggil Syaikh, maka ketika Syaikh mendatangi asal suara tersebut dan bertanya “Wahai Fulanah, bagaimana pemuda yang telah ku kirim kepadamu?”

Dia katakan: “Wahai Syaikh, sungguh pemuda yang kau kirim kepadaku, pemuda yang gagah perkasa, tampan, rupawan, pemuda yang jika seseorang memandang akan terpana dan terpersona, dia layak menjadi seorang laki-laki yang tidak layak ditolak. Tetapi wahai Syaikh.. sungguh aku tidaklah menganggap pemuda tersebut layak untukku, tidak layak untukku.”

Berkata Syaikh tersebut: “Subhanallah apa yang kau cari, pria jenis apa yang kau cari wahai pemudi?”

Dia katakan: “Sungguh aku mencari seorang laki-laki yang siap memegang tanganku membawaku kepada surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang aku akan dapatkan darinya keturunan yang akan aku didik, aku ajarkan menjadi seorang pemuda shalih yang tangguh, yang dengannya akan ditaklukan Baitul Maqdis.”

Allahu akbar.. Betapa terpesona Najmuddin mendengarnya. Apa-apa yang menjadi obsesi dalam menikah ada pada wanita ini. Najmuddin berkata: “Wallahi, wahai Syaikh nikahkan saya dengan perempuan tersebut.”

Syaikh berkata: “Wahai Najmuddin, tahukah engkau dia adalah seorang perempuan yang fakir, dia bukan seorang bangsawan, dia bukan Putri Raja, dia hanyalah seorang perempuan biasa di kampung ini.”

Berkatalah Najmuddin “Wahai Syaikh nikahkan Saya, sungguh cita-cita besarnya yang ada pada dirinya ada pada saya.”

Akhirnya mereka pun menikah.

Subhanallah.. Berjalannya waktu, lahirlah seorang pahlawan besar yang semua orang mengenalnya, bernama Salahuddin Al-Ayyubi (dialah Sang Penakluk), dari hasil pernikahan Najmuddin dengan gadis ini.

Allahuakbar.. Yang dengan kelahiran Salahuddin, dia pun menjadi seorang Panglima yang dapat menaklukkan Baitul Maqdis. Semua orang mengenal Salahuddin Al-Ayyubi dialah Sang Penakluk yang berhasil menaklukan Baitul Maqdis, mengambil kembali daripada orang-orang Salibis.

Allahuakbar.. Sungguh betapa serasinya kedua sejoli ini, memiliki visi dan misi yang sama dalam pernikahan, obsesi besar. Akhirnya semua orang mengenang, semua orang mengenal Salahuddin Al-Ayyubi adalah seorang penakluk terlahir dari rahim seorang ibu yang punya obsesi besar daripada seorang ayah yang punya obsesi besar.

Saya tanyakan kepada Anda keseluruhan, Apa obsesi Anda telah menikah?

Video Ceramah Singkat tentang Pernikahan: Menikah Untuk Apa?

Mari turut menyebarkan ceramah singkat tentang pernikahan “Menikah Untuk Apa?” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: