Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Hakikat Syahwat dan Tipuan Dunia” yang disampaikan Ustadz Syafiq Riza Basalamah, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA : Hakikat Syahwat dan Tipuan Dunia
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Wahai hamba-hamba Allah, setiap manusia memiliki predikat melekat sebagai budak yang tidak memiliki dirinya sendiri, apalagi harta benda yang ada di dalam rumah. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menciptakan dan memberikan segala fasilitas hidup, dan kelak kepada-Nya pula semua manusia akan kembali untuk mempertanggungjawabkan segala hal yang telah diberikan. Hanya orang-orang yang bertakwa yang akan meraih kesuksesan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)
Sejenak manusia perlu duduk merenungkan kehidupan ini, termasuk melihat carut-marut yang terjadi di berbagai negeri. Alasan di balik semua peristiwa tersebut dan keberadaan manusia di tempat ini patut menjadi bahan perenungan. Rumah-rumah dan berbagai negeri dibangun dengan begitu megah, tetapi terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan badai yang menyebabkan negeri tersebut luluh lantak, gempa yang meludeskan perkampungan, atau tsunami yang mengakibatkan puluhan hingga ratusan ribu manusia wafat. Fenomena ini menunjukkan bahwa apa pun yang dibangun oleh manusia pada akhirnya akan hancur. Dalam Al-Qur’an surat Al-Kahf ayat 7 dan 8, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka siapakah di antaranya yang terbaik amalnya. Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi rata.” (QS. Al-Kahf[18]: 7-8)
Sesuatu yang disebut perhiasan memang indah dilihat dan terkadang nyaman dipakai, tetapi sifatnya hanya sekadar hiasan atau aksesori bagi bumi. Tujuan dari keberadaan perhiasan tersebut adalah untuk menguji siapa di antara manusia yang paling baik amalannya, paling taat kepada Sang Pencipta, serta tidak tergoda oleh fitnah dunia karena pandai menempatkan diri.
Ujian hidup ini bukan untuk mencari siapa yang paling kaya, paling lama menjabat, paling tampan, paling pintar, paling gagah, atau paling kuat. Semua hal material itu akan hancur dan tidak ada yang dibawa mati kecuali amalan yang terbaik. Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan bahwa semua yang ada di atas muka bumi ini, termasuk bangunan masjid, bahkan Makkah dengan Masjidil Haram dan Ka’bah di dalamnya, suatu saat akan hancur dan rata dengan tanah menjadi tempat yang tandus tanpa penghuni. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan yang terkadang tidak disadari oleh manusia.
Dalam surat Ali ‘Imran ayat 14, Al-Qur’an menyebutkan tentang perhiasan dunia yang kerap membuat manusia tergoda hingga melupakan tujuan utama mereka diciptakan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan…” (QS. Ali ‘Imran[3]: 14)
Syahwat merupakan kecondongan alami terhadap sesuatu. Allah ‘Azza wa Jalla sengaja menanamkan syahwat tersebut di dalam diri manusia, yang pertama adalah kepada wanita. Syahwat kepada wanita ini diciptakan karena keberadaan generasi manusia di muka bumi tidak akan berlanjut tanpa adanya kecondongan tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan syahwat dalam diri manusia semata-mata untuk menjaga keberlangsungan hidup di muka bumi ini. Namun, sebagian manusia seringkali lalai dan sibuk menuruti hawa nafsunya. Seseorang yang mengikuti syahwatnya kepada wanita tanpa mempedulikan aturan syariat diibaratkan seperti orang yang meminum air laut; semakin diminum, justru semakin dahaga. Ia tidak akan pernah merasa puas dengan wanita mana pun dan akan terjerumus ke dalam kemaksiatan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Alasan manusia berzina karena menuruti syahwat menjadi tidak berdasar jika mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperbolehkan pernikahan hingga dua, tiga, atau empat pasangan sebagai batasan terakhir.
فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً
“Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja.” (QS. An-Nisa[4]: 3)
Permasalahan syahwat kepada wanita ini sering kali bermula dari pandangan mata yang tidak ditundukkan saat berada di jalanan. Bahkan pada masa kini, fitnah wanita tersebut telah masuk melalui gawai di genggaman tangan. Solusi utama untuk meredam gejolak ini adalah dengan menundukkan pandangan. Jika seseorang telah menikah namun syahwatnya tetap membara, solusi berikutnya yang dapat ditempuh adalah dengan menjalankan ibadah puasa. Suatu kekeliruan jika ada anggapan bahwa syahwat akan mereda dengan sendirinya seiring bertambahnya usia manusia menjadi semakin tua.
Keinginan memiliki anak laki-laki juga sering kali menjadi syahwat tersendiri demi sebuah kebanggaan status sosial. Namun, kenyataan menunjukkan betapa banyak anak yang justru durhaka kepada orang tuanya. Untuk mendapatkan keturunan yang saleh, seseorang harus memperbaiki diri dan menjadi saleh terlebih dahulu. Hal yang sama terjadi pada kecintaan terhadap harta yang bertumpuk-tumpuk. Pada fase awal, manusia mencari harta sekadar untuk memenuhi kebutuhan urusan perut. Namun setelah kebutuhan pokok tersebut terpenuhi, muncul kecintaan baru untuk menimbun harta demi gengsi dan gaya hidup. Harta yang diperoleh dengan cara halal pun kelak akan tetap dihisab. Demi memenuhi syahwat yang tidak pernah puas ini, setan mulai meracuni pikiran manusia dengan bisikan-bisikan bahwa kepemilikan kendaraan, rumah, atau kesuksesan usaha tidak akan dapat terwujud tanpa melibatkan sistem riba. Oleh karena itu, setiap orang yang berdagang dan berusaha wajib mempelajari ilmunya agar syahwatnya tidak salah menempatkan diri.
حُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ
“Neraka dikelilingi oleh syahwat dan surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai.” (HR. Bukhari)
Manusia pada era ini sibuk mengumpulkan emas, perak, kendaraan mewah, peternakan, serta perkebunan yang semuanya merupakan kesenangan dunia yang bersifat sementara. Umur manusia saat ini tidak akan mencapai ratusan atau ribuan tahun; rata-rata sebelum mencapai usia seratus tahun, fisik manusia sudah tua renta dan tidak mampu berbuat banyak. Hanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala tempat kembali yang sebenarnya.
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la[87]: 16-17)
Sebagian besar manusia masih lebih mementingkan urusan duniawi dalam benak, mimpi, dan perencanaannya. Penting bagi setiap jiwa untuk mulai merencanakan langkah agar dapat berada di surga Firdaus, masuk surga tanpa hisab dan azab, menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan, serta mendapatkan pahala berupa bidadari-bidadari surga.
KHUTBAH KEDUA : Kemenangan dan Pengendalian Diri
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ أَمَّا بَعْدُ
Ayat ke-14 dari surat Ali ‘Imran diturunkan setelah rangkaian ayat yang menceritakan tentang peristiwa Perang Badar.
قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۖ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ
“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu. Segolongan berperang di jalan Allah dan yang lain golongan kafir.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 13)
Dalam peristiwa tersebut, umat Islam yang berjumlah sekitar 300 orang dengan persenjataan sederhana mampu mendapatkan kemenangan mutlak atas musuh yang berjumlah 1.000 orang dengan persenjataan lengkap. Kemenangan tersebut murni karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Urutan pembahasan ini mengandung pesan tersirat yang sangat mendalam bagi kaum Muslimin. Kaum Muslimin tidak akan pernah mampu mengalahkan musuh di medan perang sebelum mereka mampu mengalahkan dan mengendalikan syahwat yang ada di dalam diri mereka sendiri.
Umat Islam tidak akan pernah meraih kemenangan ketika mereka mulai sibuk mencari dunia, menimbun harta, dan memperturutkan syahwatnya terhadap wanita. Hal ini menjadi momentum berharga bagi setiap jiwa untuk bersama-sama memperbaiki diri. Langkah awal dalam memperbaiki diri tersebut dapat dimulai dari perkara yang paling sederhana, yaitu dengan berkomitmen untuk tidak lagi terlambat menghadiri salat Jumat. Allah ‘Azza wa Jalla memberikan panggilan khusus yang ditujukan hanya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah[62]: 9)
Setiap pekan sekali, seorang Muslim hendaknya datang tepat waktu untuk mendengarkan dzikrullah, menyimak peringatan dari ayat-ayat Allah yang dibacakan, serta merenungkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disampaikan oleh khatib. Segala bentuk kesibukan dan aktivitas perdagangan di pasar harus ditinggalkan sejenak demi memenuhi panggilan tersebut.
Sebagian pekerja yang memiliki jam kerja hingga pukul 11.00 atau 11.30 sebenarnya mempunyai waktu yang cukup untuk bersiap ke masjid. Namun, sebagian lainnya justru memilih untuk menunda-nunda waktu hingga akhirnya datang terlambat, bahkan ketika khatib sudah memasuki khotbah kedua. Manusia sering kali tidak menyadari bahwa ketika khatib naik ke atas mimbar, para malaikat yang berjaga di pintu-pintu masjid untuk mencatat kehadiran manusia guna mendapatkan fadhilah dari Allah ‘Azza wa Jalla akan segera menutup buku catatan mereka.
Meninggalkan kesibukan dunia demi mendengarkan khotbah Jumat yang berdurasi maksimal dua puluh menit ditambahkan dengan pelaksanaan salat adalah sebuah pilihan yang jauh lebih baik. Sangat disayangkan apabila waktu yang singkat tersebut masih saja terlewati, padahal manusia mampu meluangkan waktu bekerja hingga delapan jam sehari dari Senin hingga Jumat. Ada syahwat di dalam diri yang harus ditundukkan, dan hal tersebut memerlukan permohonan pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Di setiap penghujung salat, doa ini hendaknya dipanjatkan:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud)
Urusan rezeki tidak perlu dikhawatirkan karena ketetapannya telah ada bahkan sebelum manusia dilahirkan. Ketika manusia masih berada di dalam buaian ibu, disusui, belum bekerja, dan belum mampu berjalan, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap melimpahkan rezeki-Nya. Adalah sebuah bentuk ketidakyakinan kepada Allah ‘Azza wa Jalla apabila setelah tumbuh dewasa, mampu berlari, berjuang, dan berkorban, manusia justru merasa ragu akan jaminan rezeki dari-Nya.
Hari Jumat merupakan momentum yang sangat utama untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Setiap desahan nafas hendaknya diisi dengan ucapan Allahumma sholli wasallim ‘ala Muhammad.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)
Allahumma sholli wasallim ‘ala abdika warasulika sayyidina wa maulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.
Allahummaghfir lil mukminin wal mukminat wal muslimina wal muslimat al-ahya-i minhum wal amwat, innaka sami’un qaribun mujibud da’awat.
Allahummanṣur ikhwananal mustadh’afin. Allahumma aslih wulaata amrina wa umural muslimin.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf[7]: 23)
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةُ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah[2]: 201)
Sumber Video Khutbah Jumat “Hakikat Syahwat dan Tipuan Dunia”
Sumber : Bareng Baik
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS