Perhatikan Makananmu! – Khutbah Idul Fitri Ustadz Syafiq Riza Basalamah

Perhatikan Makananmu! – Khutbah Idul Fitri Ustadz Syafiq Riza Basalamah

pandai mendengar

“Daging mana saja (baik di tangan kita, atau yang di dada kita, atau kaki kita) yang tumbuh dari hasil yang haram, maka nerakalah tempatnya.” (HR. Thabrani)

Khutbah Jumat: Cara Mensyukuri Nikmat Allah Berupa Kesehatan
Khutbah Jumat Singkat Padat – Waktu Kita Untuk Apa?
Khutbah Jumat tentang Al-Qur’an -Dimana Qur’an-mu? – Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah

Berikut transkrip khutbah idul fitri Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah Hafidzahullahu Ta’ala tentang “Perhatikan Makananmu”.

Perhatikan Makananmu! – Khutbah Idul Fitri Ustadz Syafiq Riza Basalamah

Pernahkah kita melihat manusia yang hidup tidak disiplin, hidup tidak beraturan, makan seenaknya, buang kotoran semaunya, tidur sesukanya, bangun sebangunnya, berpakaian seenaknya, bekerja secapeknya? Semua dia lakukan mengikutin hawa nafsunya, mengikuti syahwatnya, yang penting buat dia happy, yang penting dia gembira. Manusia seperti ini kalau ada di antara kita, kata Allah ‘Azza wa Jalla:

أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ

“Mereka seperti sapi, mereka seperti unta, mereka seperti kambing.”

Tidak jama’ah, mereka tidak seperti itu.

بَلْ هُمْ أَضَلُّ

“Mereka lebih parah daripada kambing dan sapi.”

أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Mereka adalah manusia-manusia yang lalai dalam kehidupan ini.” (QS. Al-A’raf[7]: 179)

اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَر اَللَّهُ اَكْبَرْ ـ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ ـ اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

Ma’asyral Muslimin, seorang mukmin hidupnya disiplin, dia mengikuti aturan, dan bukan membuat aturan semau dia. Dia mengikuti perintah, dan bukan mensiasati untuk menolak perintah.

Kita bisa lihat, kenapa 1 bulan penuh dibulan Ramadhan kita tidak makan di siang hari, kita tidak minum di siang hari, kita tidak mendekati syahwat kita, dan kenapa hari ini kita harus makan? Wajib hari ini kita makan dan minum. Bahkan haram bagi seorang yang ingin puasa dihari ini. Kenapa seperti itu?

Kemarin yang diharamkan justru sekarang diwajibkan. Itulah seorang mukmin, dia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa menereka diciptakan tanpa aturan? Dibiarkan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang?”

Coba dia berfikir,

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَىٰ

“Bukankah dia diciptakan dari air mani yang terpancarkan? Bukankan dia diciptakan dari air yang hina?”

مَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ

“Kemudian mani itu menjadi darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya.” (QS. Al-Qiyamah[75]: 38)

Hari ini tanggal 1 syawal, setiap muslim di Indonesia dan dibelahan dunia lainnya dengan gegap gempita bertakbir membesarkan nama Allah ‘Azza wa Jalla. Kenapa kemarin kita tidak bertakbir? Kenapa besok kita tidak bertakbir?

Na’am, jawabannya adalah karena aturannya seperti itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah[2]: 185)

Kembali kita mengikuti aturan.

Ahibbati Fillah, Ramadhan yang telah lalu, telah mengajarkan kepada kita banyak pelajaran indah. Kita dididik untuk mengontrol nafsu, untuk mengontrol perut kita, untuk mencapai tingkat taqwa.

Dalam kehidupan dunia kita bisa melihat, orang yang makan sembarangan, dia akan riskan terkena penyakit. Orang yang tidak peduli dengan kebersihan makanan yang masuk kemulutnya, biasanya dia akan terkena diare. Dan ketahuilah hampir seluruh penyakit itu dimulai dari perut.

Jamaah Rahimakumullah, kalau kita lihat diakhir-akhir ini manusia semua ingin hidup sehat. Dan Alhamdulillah banyak laboratorium yang membantu kia untuk mengecheck diri kita, sehatkah kita atau sakit. Adakah penyakit yang sedang berkembang di tubuh kita. Bahkan manusia berusaha untuk membuat makanan-makanan yang sehat.

Sebagaimana kita ingin tubuh ini selama berada di muka bumi sehat wal ‘afiat, kita tidak ingin terjangkit penyakit apapun dalam kehidupan yang sementara, dalam kehidupan yang hanya 60 tahun, yang hanya 70 tahun, kita peduli dengan apa yang masuk ke dalam perut kita. Bahkan sebagian orang kalau sudah sakit dia akan ikut aturan dokter, bahkan dia rutin kontrol ke dokter, dia minum obat dan membayar supaya sehat.

Yang perlu kita tanyakan, tidakkah kita ingin hidup sehat wal afiat di akhirat? Pernahkah kita berfikir, apakah yang selama ini yang masuk ke rumah kita, yang masuk ke perut kita, yang kita berikan kepada istri dan anak-anak kita, apakah itu tidak menyebabkan penyakit untuk mereka?

Wallahi jamaah.. Kalau kita sakit di muka bumi ini, masih ada harapan sembuh. Tapi tatkala kita makan yang haram, kita mengkomsumsi yang dibenci oleh Allah ‘Azza wa Jalla, apa kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Daging mana saja (baik di tangan kita, atau yang di dada kita, atau kaki kita) yang tumbuh dari hasil yang haram, maka nerakalah tempatnya.” (HR. Thabrani)

Apa makanan di sana? Ghisliin, Zaqum, Dhari’. Apa minuman yang akan didapat buat orang yang sakit di dunia, yang sembarangan makan, yang sembarangan membawa harta ke rumahnya? Mereka akan diberi minuman yang akan membuat usus mereka terburai terpotong-potong.

Ahibbati Fillah, Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kepada kita aturan, apa yang boleh kita makan, dan apa yang tidak boleh kita makan.

Sebulan penuh kita membaca Al-Qur’an, sebagian khatam 2 kali, sebagian khatam 3 kali, tapi pernahkah engkau ketika melewati ayat-ayat aturan Allah ‘Azza wa Jalla kemudian engkau mengamalkannya?

Mungkin sebagian kita berkata bahwa tidak paham/tidak mengerti. Maka seharusnya kita membaca artinya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di surat An-Nisa Ayat 29:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ…

“Wahai orang-orang yang beriman…”

Yang beriman dipanggil. Adapun yang tidak beriman tutup kupingnya, tidak perlu mendengarkan ayat ini. Allah panggil hambaNya yang beriman, yang tahu bahwa dirinya diciptakan dengan aturan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allah memberitahu kepada kita tentang aturan makan:

Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang bathil.”

Yaitu dengan cara yang salah, dengan judi, dengan menipu, dengan riba, dan dengan cara-cara lainnya yang tidak disyariatkan dan diperbolehkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.”

Pertnyaannya, pernahkah kita belajar untuk tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh?

Kecuali perdagangan yang saling ridha di antara kalian.

Di surah Ali Imran ayat 130, Allah berbicara tentang makan lagi. Supaya kita peduli bahwa kita diatur, tidak seperti sapi yang kadangkala ketika dilepas dari tali kekangnya dia memakan rumput tetangga, dia makan jagung tetangga, itulah sapi dan kambing. Bila tidak dijaga oleh pengembalanya, tahu-tahu dia mengkonsumsi tanaman di sawah milik tetangganya. Karena dia kambing, adapun kita manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا

Allah berulang kali memanggil kita. Sebanyak 89 kali Allah panggil kita di dalam Al-Qur’anul Karim dengan sebutan “Wahai Orang-orang yang beriman,”

ا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً

“Kalian jangan makan riba yang berlipat ganda.”

Sebagian orang berfikir bahwa kalau riba tidak berlipat ganda maka boleh. Namun kenyataannya semua riba akhirnya berlipat ganda. Hanya butuh proses agar rumah Anda disita, supaya mobil yang Antum beli dengan cara riba itu disita. Semua riba itu berakhir dengan berlipat ganda. Dan itu sudah terbukti.

Apa kata Allah selanjutnya?

وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Kalau kalian ingin sukses, bertakwalah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 130)

Ketika Ramadhan, sebulan penuh kita dididik untuk bertaqwa, dididik untuk bisa mengontrol makanan kita, akankah setelah Ramadhan kita makan riba dan makan harta saudara kita kembali?

Ahibbati Fillah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang suatu masa dimana orang tidak peduli dengan hasil kerjanya apakah dari yang halal atau dari yang haram.” (HR. Bukhari)

Yang penting dia makan, yang penting dia hidup. Dan sepertinya zaman itu sudah tiba, jama’ah. Kita bisa melihat manusia-manusia yang tidak peduli, yang makan riba, yang bekerja di bank riba, yang bekerja di tempat-tempat riba, ketika diberitahu, mereka menjawab: “Sulit mencari pekerjaan, sulit mencari yang halal.”

Ahibbati Fillah, salah satu dampak dari memakan yang haram, baik itu riba atau yang lainnya adalah sulitnya mencari pekerjaan yang halal, dan itu gara-gara kita sendiri.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di dalam surah An-Nisa ayat 160-161. Allah menceritakan tentang orang-orang Yahudi:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا

Dikarenakan kedzaliman yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka yang baik-baik yang awalnya halal buat mereka, dan dikarenakan mereka suka menghalangi jalan Allah.”

وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Dan karena mereka memakan riba, memakan harta orang dengan cara yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.

Jadi kalau ada orang yang berfikir sulit mencari pekerjaan, itu karena kita makan riba. Di rumah kita ada mobil riba, di rumah kita ada motor riba, bahkan rumah kita pun pakai riba. Sebagian yang dibawa makan dan diberikan kepada anak-anaknya adalah riba. Lalu dia menganggap itu remeh?

Allah ‘Azza wa Jalla mengumumkan perang kepada pelaku riba. Allah kKatakan di surat Al-Baqarah ayat 278 dan 279, baca setelah pulang dari sini agar tahu aturan seorang mukmin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa riba kalau kamu orang yang beriman.

Kalau kamu orang kafir silahkan makan riba itu. Tapi kalau kamu merasa beriman, merasa KTPnya Islam, shalat, tinggalkan sisa-sisa riba.

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا

Kalau kalian tidak melakukan itu, kalian tidak peduli, mau makan apa saja, silahkan! Allah tidak butuh sama Antum. Allah katakan:

فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Umumkan kepada mereka perang dengan Allah dan RasulNya.

Kita melawan penyakit saja tidak mampu. Jika Allah berikan kanker untuk kita maka kita tidak mampu melawannya. Allah berikan penyakit apa saja Antum akan lemah menghadapi semua itu.

Para ulama mengatakan, ayat ini mengisyaratkan bahwa orang yang memakan riba akan mati su’ul khatimah. Allah biarkan ketidakpedulian terhadap makanan dia, akhirya membuat dia berakhir dari kehidupan ini dengan su’ul khatimah.

Ahibbati Fillah, kita masih meremehkan riba. Yang penting Ana tidak berzina, yang penting Ana tidak memakan hak orang, Ana hanya bekerja, Ana hanya mencatat, Ana hanya menjadi saksi. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat pemakan riba, penyetor riba, yang mencatat riba, yang menjadi saksi. Kata beliau, ‘Semuanya sama dosanya.’” (HR. Muslim)

Ahibbati Fillah, masihkah kita berfikir untuk memakan riba? Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

“Tingkatan dosa riba itu ada 73 pintu. Dosa riba yang paling ringan adalah seperti anak yang menzinai ibunya sendiri.”

Apakah kita menganggap ini remeh?

Dalam hadits riwayat Ahmad, kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ

“Satu dirham riba (mungkin 100 rb) yang dimakan oleh seseorang dan dia tahu bahwa itu hasil riba, dia kerja di tempat riba, dia makan bersama anak dan istrinya dalam kondisi dia tahu,”

أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

“Itu lebih parah daripada 36 kali berzina.”

Namun ada lagi yang berkata bahwa kalau tidak menggunakan Bank bagaimana hidup kita? Maka jawabnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.

Orang-orang yang memakan riba akan dibangkitkan dari kuburnya seperti orang gila. Hal ini karena ketika diberi aturan dia tidak mau dengan aturan, tidak peduli dengan aturan, seperi orang-orang gila. Bahkan dia menantang, berhujjah, berdalil, berargumensi.

Maka kita katakan: “Silahkan!” Tapi ingat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

“Orang-orang yang makan riba, dia tidak akan dibangkitkan dari kuburnya kecuali seperti orang yang kerasukan jin (yaitu seperti orang gila).” (QS. Al-Baqarah[2]: 275)

Jamaah Rahimakumullah, orang yang makan haram, doanya tidak dikabulkan.

Mungkin sebagian orang berfikir, kenapa di Indonesia, kenapa di belahan dunia banyak muslim–muslim yang hina? Bukankah di antara mereka ada orang-orang shalih, ada orang-orang yang baik, dimalam-malam Ramadhan mereka Qunut, mengangkat tangan, meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar diberi pemimpin yang baik, agar diangkat kedzaliman dari negrinya, agar diangkat kehinaan dari umat Islam. Tapi seakan-akan Allah tidak mengabulkan doa kita. Hal ini karena kita memakan yang haram.

Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang seseorang yang mengangkat tangannya, dalam kondisi pakaiannya yang sangat lusuh, rambutnya penuh dengan debu, dia bersimpuh mengangkat tangan dan mengatakan: “Ya Rabb, Ya Rabb, aku hambaMu.”

Apa kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Makanannya haram, minumannya haram, bajunya haram dan diberi makan dari yang haram, bagaimana Allah akan mengabulkan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)

Ahibbati Fillah, Rasulullah Salalallahu’alaihi wa Sallam mengatakan:

مَنْ جَمَعَ مَالًا حَرَامًا

‘’Barangsiapa yang mengumpulkan harta yang haram,”

ثُمَّ تَصَدَّقَ مِنْهُ

“Kemudian dia bersedekah,”

لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيهِ أَجْرٌ وَكَانَ إِصْرُهُ عَلَيْهِ

“Dia tidak akan mendapatkan pahala, bahkan dia akan menanggung dosanya.”

Dia mendapatkan dosa karena memberi makanan yang haram kepada orang lain. Dia menanggung dosa orang yang tidak tahu bahwa makanan itu halal untuknya. Mungkin engkau membangun Masjid, mungkin engkau memberangkatkan orang lain untuk umrah dan haji dengan hasil yang haram, jangan berharap itu menjadi penghapus dosa-dosa Antum.

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan:

لا يقبل الله صلاة امرئ وفي جوفه حرام

“Allah tidak akan terima shalat seorang hamba yang diperutnya ada yang haram.”

Kita membaca dalam shalat: Rabbighfilii, Warhamni, Wajburni, tapi di perut kita ada yang haram, shalat kita tidak diterima.

Subhanallah.. Wahb bin Al-Ward (seorang tabi’in) mengatakan:

لو قمت قيام السارية

“Kalau engkau shalat seperti tiang ini (shalat terus, tidak bergerak semalam suntuk).”

ما نفعك

“Tidak akan berguna untukmu.”

حتى تنظر ما يدخل بطنك أحلال أم حرام

“Sampai engkau melihat di perutmu, apakah itu halal, atau itu haram.”

Yusuf bin Asbath (seorang tabi’in) juga mengatan:

إن الشاب إذا تعبد قال الشيطان لأعوان

“Sesungguhnya anak muda kalau tumbuh besar beribadah, setan tidak suka.”

Adapun orang tua senang beribadah, biasa saja. Tapi kalau ada anak muda yang taat, dikatakan setan akan berkata kepada pasukannya:

انظروا من أين مطعمه فإن كان مطعم سوء قال : دعوه يتعب و يجتهد فقد كفاكم نفسه إن إجهاده مع أكل الحرام لا ينفعه

“Engkau lihat makanan dia dari mana, kalau ternyata makanannya dengan cara yang buruk, setan mengatakan: ‘biarkan, tidak perlu digoda orang itu, dia mau lelah beribadah, sudah cukup dia sendiri yang membuat amalan dia akhirnya tertolak, dengan dia makan haram, tidak berguna ibadahnya.'”

Sebagian ulama mengatakan bahwa ada satu perbuatan yang setan sangat suka, yaitu setan menggoda seseorang untuk memakan makanan haram, juga untuk bekerja di tempat yang haram. Kalau dia sudah bekerja di tempat yang haram, mendapatkan penghasilan dari yang haram, kalau dia menikah maka menikah dari yang haram, kalau dia berbuka puasa maka berbuka dari yang haram, kalau dia berhaji maka haji dari yang haram, dan setan tidak perlu menggodanya lagi, karena semuanya tertolak.

Lalu apakah kita tidak peduli dengan makanan kita?

Untuk ibu-ibu yang ada di belakang, engkau yang di rumah dan menerima hasil kerja suami, engkau katakan kepada suamimu: “Wahai suamiku, aku dan anak-anakku siap menahan lapar di dunia, siap berpuasa senin dan kamis, siap puasa dawud, tapi kita tidak siap untuk makan api neraka.”

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

di dalam Surat Al-Baqarah Ayat 172

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari yang Kami rezekikan kepada kalian…” (QS. Al-Baqarah[2]: 172)

Ahibbati Fillah.. Ramadhan telah berlalu dengan segala suka dan dukanya. Sebagian bertanya bagaimana tahu Ramadhan kita diterima? Bagaimana kita tahu shalat malam kita diterima? Bagaimana kita tahu mendapatkan Lailatul Qadar?

Jawabnya adalah kalau engkau dihari ini dan selanjutnya menjadi lebih baik dari sebelumnya, maka semoga Allah ‘Azza wa Jalla menerima amalan kita.

Ahibbati Fillah, Allah ‘Azza wa Jalla Berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Mohonlah kepada Aku, pasti Aku kabulkan.” (QS. Ghafir[40]: 60)

Dengan syarat kita makan yang halal!

Video Perhatikan Makananmu! – Khutbah Idul Fitri Ustadz Syafiq Riza Basalamah

Sumber video: SRB Official

Mari turut menyebarkan transkrip Khutbah Idul Fitri Ustadz Syafiq Riza Basalamah ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0