Khutbah Jumat: Perjalanan Hidup Kita Menuju ke Surga atau ke Neraka

Khutbah Jumat: Perjalanan Hidup Kita Menuju ke Surga atau ke Neraka

dukung ngaji id

Berikut ini khutbah Jumat “Perjalanan Hidup Kita Menuju ke Surga atau ke Neraka” yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc Hafizhahullahu Ta'a

Materi 24 – Poin Penting Menyembunyikan Amal Shalih
Ceramah Singkat: Jangan Membanggakan Amalan
Khutbah Jumat: Terlena Dengan Dunia dan Jabatan

Berikut ini khutbah Jumat “Perjalanan Hidup Kita Menuju ke Surga atau ke Neraka” yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc Hafizhahullahu Ta’ala.

Khutbah Jumat: Perjalanan Hidup Kita Menuju ke Surga atau ke Neraka

Khutbah Pertama

Ma’asyiral muslimin,

Sesungguhnya tujuan kehidupan manusia adalah surga atau neraka. Perjalanan kehidupan kita di permukaan bumi pada akhirnya akan mengantarkan kita ke salah satu di antara tempat yang telah kita sebutkan tadi. Mungkin perjalanan hidup seorang manusia akan mengantarkannya kepada surga Allah Subhanahu wa Ta’ala yang penuh dengan kenikmatan. Atau perjalanan hidupnya -wal ‘iyyadzu billah, nas alullaha salamah- akan mengantarkannya ke neraka Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 185)

Di dalam ayat ini, Allah Tabaraka wa Ta’ala dengan jelas menegaskan bahwa hanya ada dua tempat kembali, yaitu neraka dan surga. Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan tentang orang-orang yang Allah jauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Itulah orang-orang yang sukses, jaya dan beruntung.

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr[59]: 20)

Orang Yang Enggan

Ma’asyiral muslimin,

Target kehidupan/ cita-cita kita di permukaan bumi sebagai seorang muslim yang tertinggi adalah masuk surga Allah Tabaraka wa Ta’ala. Untuk itulah kita berbuat, beramal, patuh, dan taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar di dalam hadits-hadits yang shahih, bahwasanya menjalani perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan-Nya adalah jalan menuju surga. Patuh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jalan menuju surga-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

قَالَ ‏”‏ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، إِلاَّ مَنْ أَبَى ‏”‏‏.‏ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ ‏”‏ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى ‏”‏‏.‏

“Setiap ummatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Kemudian para sahabat bertanya, “Siapakah mereka yang enggan masuk surga, wahai Rasulullah? Lalu Rasulullah menjawab, “Barang siapa yang mematuhiku dia akan masuk ke dalam surga. Dan barang siapa yang menyelisihiku maka dialah orang yang enggan (masuk ke dalam surga)”.” (HR. Bukhari No. 7280)[1]

Cita-Cita Tertinggi

Ma’asyiral muslimin,

Gantungkan cita-cita kita tertinggi di surganya Allah Tabaraka wa Ta’ala. Jangan sampai cita-cita kita hanya bergantung mentok pada dunia. Sungguh kita melihat banyaknya kaum muslimin di zaman ini yang apabila kita bertanya tentang apa cita-cita mereka, sebagian mereka hanya ingin menjadi presiden, menteri, dokter, dan sebagainya. Nyaris sulit bagi kita untuk bertemu kaum muslimin yang cita-cita mereka adalah masuk surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan ini adalah sebuah sudut pandang yang singkat. Sebuah sudut pandang yang bodoh menurut Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum[30]: 7)

Ma’asyiral muslimin,

Oleh karena itu, target hidup kita di dunia adalah mencapai surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menerangkan jalan ke surga dan neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan,” (QS. Al-Balad[90]: 10)

Para ulama ahli tafsir menerangkan bahwa dua jalan itu adalah طرق الطاعة و طرق المعصية, jalan menuju ketaatan dan jalan menuju maksiat.

Maka dari itu, dalam perjalanan kehidupan kita di permukaan bumi ini, kita haruslah senantiasa menjadikan perjalanan kita ini untuk mencapai target tersebut. Dan bagaimana hidup kita di permukaan bumi akan mengantarkan kita ke surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dua Dosa Penghalang ke Surga

Untuk itu, kita juga perlu tahu apa yang akan menghalangi/ mencegah langkah seorang manusia untuk sampai ke surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketahuilah bahwa yang akan menghalangi langkah seorang insan sampai ke surga-Nya adalah dua dosa.

Yang pertama adalah dosa kufur. Dan yang kedua adalah dosa syirik. Kedua dosa ini akan menghalangi langkah seorang insan menuju surga-Nya.

1. Dosa Kufur

Yang pertama adalah dosa kufur. Kufur artinya ingkar. Ia menolak. Dan dosa kufur adalah apabila kita menolak syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, menolak apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah sampai kepada kita sebuah keterangan yang jelas tentang apa yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu kita berani untuk menentang hukum tersebut.

Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala nyatakan halal lalu kita haramkan atau sebaliknya. Lalu apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan dan wajibkan, kemudian kita katakan tidak wajib. Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan lalu kita katakan tidak apa-apa. Sementara telah sampai kepada kita ilmu yang jelas bahwa itu adalah risalah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa itu adalah agama Islam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Nabi-Nya.

Kemudian kita ingkar kepada pemahaman itu dan kita tolak setelah sampai kepada kita sebenar-benarnya syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila ada satu orang yang kemudian menentang satu ayat dari Al-Qur’anul Karim, apabila ada seseorang yang datang kepadanya sunnah Rasulullah yang shahih, kemudian dia tentang dan berani menyatakan bahwa (syari’at) itu tidak benar, maka ini adalah dosa kufur.

Dosa yang bisa mengantarkan kita kepada kekufuran dan akan membawa kita masuk ke neraka selama-lamanya, wal ‘iyyadzu billah. Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala menjauhkan dari surga bagi orang-orang yang ingkar kepada syari’at-Nya dan orang-orang yang kafir yang menentang syari’at Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Tidak terhitung jumlahnya orang-orang yang ingkar dan kafir yang akan terhalang langkahnya. Mereka adalah orang-orang yang mengerti bahwa itu adalah syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala secara ilmu dan keyakinan. Namun amalannya belum mengikuti. Dia yakin bahwa itu adalah syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi dia  meninggalkannya karena tujuan dunia dan tidak menentang hukum-hukum tersebut.

Dia tahu bahwa itu adalah syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dia tidak berani melawannya. Namun syahwatnya masih terus membujuknya untuk menikmati kehidupan dunia ini. Ini adalah maksiat. Dan ini tidak akan mengantarkan seseorang ke neraka untuk selama-lamanya. Walaupun akan mampu mengantarkan seseorang ke neraka, itu hanya untuk sementara waktu jika Allah Subhanahu wa Ta’ala memaafkan.

Ketika seseorang telah menjadi muslim dan telah meyakini agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun amalannya belum menunjukkan sepenuhnya mengamalkan syari’at, masih ada hal-hal yang dilarang oleh syari’at dan ada hal-hal yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan namun belum dia kerjakan, maka sesungguhnya orang ini adalah muslim. Walaupun dosa dan maksiatnya akan mengantarkannya ke neraka, wal ‘iyyadzu billah.

Tapi ada masanya di mana dia akan meninggalkan neraka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memasukkan dia ke surga. Akan tetapi kalau pun kelihatannya di permukaan bumi dia adalah orang yang baik, namun telah datang kepadanya keterangan bahwasanya ini adalah syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan jelas, lalu dia tentang dan batalkan hukum tersebut, maka ini adalah kekufuran yang bisa mengantarkan seseorang ke neraka selama-lamanya.

2. Dosa Syirik

Yang kedua adalah dosa syirik. Makna syirik adalah menyamakan, menyekutukan, dan menjadikan tandingan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maksudnya, syirik adalah kita meyakini ada sesuatu yang sama dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meyakini ada sesuatu yang mampu mengerjakan pekerjaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2.1 Mengangkat makhluk setinggi Allah

Dan ini bisa terjadi dari dua sisi. Yang pertama adalah ada makhluk (manusia/ benda) yang kita angkat setinggi-tingginya sampai dia bisa mengerjakaan pekerjaan yang hanya bisa dikerjakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu artinya kita telah menyekutukan sesuatu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena kita meyakini ada seorang manusia/ benda yang mampu melakukan pekerjaan yang hanya mampu dilakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita memuja dan memujinya hingga puja dan pujian itu hanya berhak dipersembahkan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila ada seseorang yang meyakini bahwa benda ini yang memberinya rezeki, tanggal ini yang telah memberi keamanan pada dirinya, barang ini yang memudahkan kehidupannya dan mendatangkan jodohnya, maka ini adalah menyekutukan suatu benda dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal hal-hal tersebut hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa melakukannya.

Kaum Nashrani meyakini Nabi Isa ‘alaihissalam memiliki peran dalam pengaturan alam. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan kesyirikan mereka karena mereka telah mengangkat Nabi Isa ‘alaihissalam sederajat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka meyakini bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam memiliki andil dalam pengampunan dosa dan penghakiman manusia di padang Mahsyar.

Itulah keyakinan umat Nashrani yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan mereka dari Islam. Maka haram bagi seorang muslim untuk mengangkat seorang makhluk atau benda apa pun dia dengan keyakinan dia bisa melakukan pekerjaan yang hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa melakukannya.

Oleh karena itu, ada orang yang menyekutukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dalam sebuah bait-bait syirik yang diterangkan oleh para ulama aqidah di dalam kitab mereka. Ada orang yang menyanjung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berlebihan. Mereka berkata,

يا أكرم الخلق ما لي من ألوذ به سواك عند حلول الحادث العمم. فإن من جودك الدنيا وضرتها ومن علومك علم اللوح والقلم.

“Wahai manusia termulia (maksudnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), tidak ada lagi orang selainmu sebagai tempat aku berlindung ketika datang sebuah petaka besar yang menimpa. Sesungguhnya kedermawanan dirimu adalah dunia dan seisinya. Dan di antara ilmu yang engkau miliki adalah ilmu yang ada di Lauhul Mahfuzh.” (Syair karya Al Bushuri yang terkenal di kalangan sufi)[2]

Orang yang mengatakan syair ini telah mengangkat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setinggi-tingginya sampai menyamakan derajatnya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Muhammad dikatakan sebagai tempat berlindung kala kesusahan. Dan itu hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pantas untuk mendapatkannya.

Kedermawanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam katanya dunia dan seisinya. Padahal itu hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki. Bukan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katanya adalah ilmu Lauhul mahfuzh. Padahal itu hanya ilmunya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka orang ini telah menyekutukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini adalah kesyirikan yang pertama.

2.2 Menurunkan derajat Allah hingga sama dengan makhluk-Nya

Adapun syirik yang kedua, Allah Subhanahu wa Ta’ala kita turunkan derajatnya sampai sederajat dengan makhluk. Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh umat-umat Yahudi. Keyakinan tentang mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala  ceritakan dalam firman-Nya;

وَقَالَتِ ٱلْيَهُودُ يَدُ ٱللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ

“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu” (alias bakhil)” (QS. Al-Ma’idah[5]: 64)

Orang-orang Yahudi juga berkata;

إِنَّ ٱللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَآءُ ۘ

“Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 181)

Mereka turunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari derajat termulia sehingga bagi mereka Allah Subhanahu wa Ta’ala itu setara dengan makhluk. Ini juga menyekutukan. Karena akhirnya kita samakan makhluk dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan orang-orang Yahudi juga berkeyakinan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan langit dan bumi dalam tujuh hari. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala lelah dan letih. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala istirahat di hari ketujuh.

Di dalam aqidahnya, umat Yahudi juga menyamakan dan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk ketika mereka menurunkan derajat Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga sama dengan makhluk. Padahal yang lelah itu hanya makhluk. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pantas untuk lelah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ

“Dia tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah[2]: 255)

يسأله من في السماوات والأرض كل يوم هو في شأن

“Selalu meminta kepada-Nya seluruh yang ada di langit dan di bumi. Setiap hari Allah sibuk dengan urusan-Nya.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah mengenal lelah.

Dan di antara dua kesyirikan ini, walaupun keduanya adalah syirik, namun menurunkan derajat Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga sama dengan makhluk-Nya itu lebih berbahaya dari pada mengangkat seorang makhluk sampai sederajat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Walaupun keduanya adalah kesyirikan yang akan menghalangi langkah seseorang untuk masuk ke surga, namun syirik itu berjenjang. Ada yang parah dan lebih parah.

Syirik dan Kufur Sederajat

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita menjauhkan diri dari seluruh maksiat. Terutama dosa kufur dan dosa syirik. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengampuni untuk manusia apabila manusia sampai ke derajat ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa'[4]: 48)

Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan kufur adalah syirik. Ketika seseorang kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan meyakini bahwa tidak akan terjadi hari kiamat. Dia menentang syari’at adanya hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا

“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”.” (QS. Al-Kahfi[18]: 42)

Kata para ulama, ayat ini menerangkan bahwa syirik dan kufur adalah sederajat. Dan inilah yang akan menghalangi langkah kita ke surga. Maka jangan pernah ketika sampai kepada kita sebuah keyakinan yang berasal dari kitabullah dan dari hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jangan sampai ada keberanian di dalam hati kita untuk menentangnya ketika kita belum bisa mengamalkan. Akui itu sebagai syariat walaupun kita belum bisa mengamalkannya. Ini minimal. Agar kita tidak kekal di neraka untuk selama-lamanya.

Kemudian jangan sekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu apa pun. Jangan pernah turunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari derajat-Nya yang paling mulia sampai sederajat dengan makhluk. Lalu jangan pernah Anda mengangkat satu orang makhluk, apa pun jenis makhluk tersebut, sehingga bisa memiliki sesuatu kemampuan seperti Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Orang yang Dianggap Sakti

Sebagian kaum muslimin meyakini bahwa ada manusia-manusia yang sanggup menahan hujan di langit agar tidak turun. Ketika mendung datang saat mereka akan melakukan walimah (pesta) untuk anak mereka, lalu mereka memanggil manusia-manusia yang mereka yakini mampu menahan hujan di langit. Dan ketika dukun dan pawang tersebut berkomat-kamit, lalu realita ditemukan bahwa hujan memang tidak turun, kaum muslimin meyakini bahwa pawang ini sakti mampu menahan hujan di langit.

Ketahuilah, ini adalah keyakinan syirik. Karena sesungguhnya kita telah meyakini bahwa pawang ini memiliki kemampuan menahan hujan dan tidak menurunkannya. Ini adalah pekerjaan yang hanya mampu dikerjakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak mampu dikerjakan oleh manusia mana pun.

Dan ini adalah keyakinan syirik, karena kita telah mengangkat orang ini sederajat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mampu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad)

Apabila kita meyakini jimat yang kita gantungkan tersebutlah yang menjaga hidup kita, mengamankan kita, mendatangkan pelanggan di toko kita, melariskan toko kita, memudahkan jodoh kita, apakah itu keris, cincin atau yang lainnya, semua itu adalah perbuatan syirik.

Khutbah Kedua

Sesungguhnya dua dosa ini yang akan menghalangi langkah seorang insan menuju surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu kita harus mawas diri dengan dua dosa yang paling berbahaya ini. Yang tidak akan membuat seseorang yang wafat membawa dosa ini bisa sampai ke surga.

Namun kalau terjadi di permukaan bumi dan kita bertaubat di permukaan bumi, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa orang yang bertaubat di permukaan bumi. Apa pun jenis dosa tersebut.

Apabila seseorang wafat, menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat dengan membawa dosa syirik atau dengan membawa dosa kufur, barulah Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengampuninya. Demikian pula walaupun kita menyatakan hati-hati dengan dua dosa yang sangat besar ini, namun kita juga mengajak diri sendiri dan kaum muslimin agar jangan meremehkan dosa-dosa yang lainnya. Karena sesungguhnya neraka itu berat. Sesungguhnya neraka itu penuh dengan petaka yang tidak tertahankan.

Adzab Paling Ringan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ يُوْضَعُ فِيْ أَخْمَصِ قَدَمِهِ جَمْرَةٌ يَغْلِيْ مِنْهَا دِمَاغُهُ

Penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang kedua telapak kakinya dipakaikan sandal lantas mendidihlah otaknya.” (HR. Bukhari no. 6561 dan Muslim no. 213)[3]

Itulah adzab yang paling ringan di neraka. Tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan orang yang diadzab ini merasa dia adalah orang yang paling berat siksanya di neraka. Padahal dia adalah orang yang paling ringan siksanya.

Oleh karena itu, adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat pedih. tidak sanggup sampai ke neraka. Namun tentu dosa yang akan menghalangi kita ke surga seharusnya lebih kita perhatikan. Sesungguhnya umat Islam di zaman kita sekarang, tidak sedikit yang terjerumus ke dalam keyakinan-keyakinan syirik dan perbuatan-perbuatan yang bisa mengantarkan mereka kekufuran yang akan menghalangi langkah mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Peringatkan dan beritahu mereka bahwa itu berbahaya dan mereka akan sampai kepada titik kekekalan di neraka andai mereka tidak bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sembari kita memelihara diri kita, anak-anak kita, istri, dan orang-orang yang kita cintai agar tidak terjebak ke dalam pekerjaan tersebut.

Sesungguhnya perbuatan baik yang terbaik yang kita lakukan kepada manusia adalah ketika kita berusaha dan berhasil dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala menghalanginya untuk berbuat syirik dan kufur.

Video Khutbah Jumat: Perjalanan Hidup Kita Menuju ke Surga atau ke Neraka

Sumber Video Khutbah Jumat: Khidmatussunnah TV

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download khutbah Jumat “Perjalanan Hidup Kita Menuju ke Surga atau ke Neraka” ini, kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.

Referensi:
[1] https://sunnah.com/bukhari:7280
[2] https://majles.alukah.net/t3273/
[3] https://muslimah.or.id/11593-waspada-terhadap-neraka.html

Komentar

WORDPRESS: 0