Khutbah Jumat: Semangat Berqurban Di Masa Pandemi

Khutbah Jumat: Semangat Berqurban Di Masa Pandemi

dukung ngaji id

Para ulama memperbolehkan bahwa siapa yang tidak sanggup untuk berqurban dan dia bisa berhutang, maka boleh baginya untuk berhutang. Dengan catatan dia sanggup untuk membayarnya.

Khutbah Jumat Singkat Tentang Kurban
Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah Tentang Hakikat Ibadah Qurban
Khutbah Jumat Menyambut Muharram: Mencintai Sunnah Rasulullah

Semangat Berqurban Di Masa Pandemi merupakan transkrip dari video khutbah jumat yang disampaikan Ustadz Ahmad Zainuddin Al-Banjary Hafizfhahullahu Ta’ala.

Khutbah Jumat: Semangat Berqurban Di Masa Pandemi

Khutbah Jumat Pertama: Semangat Berqurban Di Masa Pandemi

Wahai kaum muslimin yang saya cintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu menjaga kita. Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan (pembeda antara haq dan bathil).” (QS. Al-Anfal[8]: 29)

Kaum muslimin yang saya cintai karena Allah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu menjaga kita.

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah. Dan di dalam bulan Dzulhijjah terdapat ibadah yang sangat agung dan mulia, yaitu ibadah berqurban. Yang disebut di dalam bahasa Arab dengan udhiyyah (أُضْحِيَّةٌ), pengertiannya adalah hewan yang disembelih karena Idul Adha, baik itu hewan unta, sapi, atau kambing.

Pada kesempatan kali ini, khatib akan berbicara menyemangati kaum muslimin agar bersemangat untuk berqurban meski kita dalam keadaan pandemi covid-19. Semua serba sulit dan susah. Tetapi bersemangatlah berqurban dan semoga setelah mendengar khutbah ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan hati-hati kita agar kita tetap bersemangat untuk berqurban menyembelih hewan pada hari Idul Adha ataupun hari-hari tasyriq.

Berikut kiat-kiat agar kita lebih bersemangat dalam berqurban.

1. Mengetahui Hikmah Berqurban

Kiat yang pertama agar semangat berqurban adalah kita harus mengetahui tentang hikmah dari berqurban. Dan salah satu hikmah terbesar dari berqurban adalah mengikuti ajaran Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam Khalilullah (kekasihnya Allah), Abul Anbiya (bapaknya para Nabi ‘alaihish shalatu wassalam). Dan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَٱتَّبِعُوا۟ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا

“Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus,” (QS. Ali ‘Imran[3]: 95)

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mengikuti ajaran Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut mereka sebagai orang yang bodoh/ dungu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri,” (QS. Al-Baqarah[2]: 130)

Maka kiat pertama agar seseorang semangat untuk berqurban yaitu dia meyakini bahwa dia sedang mengikuti ajaran Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam. Karena Nabi Ibrahim lah yang pertama kali mencontohkan menyembelih hewan qurban. Dan juga di dalam surah Ash Shaffaat menceritakan tentang bagaimana Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam mendapatkan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyembelih anaknya Ismail ‘alaihissalam.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. Ash Shaffaat[37]: 102)

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan,

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“.. demikianlah Kami memberi ganjaran kepada orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Ash Shaffaat[37]: 105)

Ini menunjukkan bahwasanya orang yang berqurban berarti dia telah mengerjakan tingkatan keislaman yang paling tinggi yaitu berbuat ihsan. Dia membeli hewan qurban kemudian dia menyembelihnya, lalu dia bagikan kepada orang fakir dan miskin. Mungkin dari sisi matematika dia rugi. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan dia telah berbuat ihsan, berbuat keislaman yang paling tinggi. Ini hal yang pertama sebagai penyemangat kita untuk berqurban.

2. Mengetahui Hukum Berqurban

Hal yang kedua yaitu mengetahui tentang hukum berqurban. Para ulama mengatakan bahwasanya hukum berqurban disyariatkan. Dan pensyariatan hukum berqurban tertuang di dalam Al-Qur’an, hadits serta ijma’ para ulama. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan di dalam Al-Qur’an,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar[108]: 2)

Ayat itu memerintahkan agar menyembelih. الأَصْلُ في الأَمْرِ لِلْوُجُوبِ (asal hukum perintah menunjukkan kepada kewajiban).

Kemudian dilihat dari hadis Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang berqurban, kita bisa lihat dari sabda beliau, ucapan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian perbuatan beliau, dan persetujuan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan Imam Ahmad,

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلا يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barang siapa mendapatkan kelapangan (rezeki) tetapi tidak berqurban, maka jangan sekali-kali dekati tempat-tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Itu adalah perintah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ancaman bagi siapa yang mampu dan dia tidak berqurban. Oleh karenanya, perbuatan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kata sahabat Nabi, Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma, Beliau berkata:

أَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ، يُضَحِّي كُلَّ سَنَةٍ

“Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tinggal di kota Madinah selama 10 tahun. Setiap tahunnya beliau senantiasa berqurban.” (HR. Tirmidzi)

Wahai orang-orang yang masih ragu-ragu untuk berqurban, berqurbanlah. Nabimu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban setiap tahunnya semenjak disyariatkannya. Kemudian dilihat dari persetujuan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau menyetujui para sahabatnya untuk berqurban.

Adapun dilihat dari ijma’, maka para ulama menyebutkan di antaranya Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al Mughni, Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari, Imam Ibnu Daqiqil ‘ied dalam kitabnya al-Imam fi al-Ahkam mengatakan,

لا خلاف أن الأضحية من شعائر الدين

“Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama, bahwasanya berqurban termasuk daripada syiar-syiar agama.”

Syiar artinya sesuatu yang sangat dominan dan karakteristik dari syariat ajaran Islam.

3. Mengetahui Kedudukan Berqurban

Yang ketiga, agar kita semangat untuk berqurban maka kita harus mengetahui kedudukan berkurban di dalam agama Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam kitab majmu’ al-fatawa menjelaskan kedudukan berqurban yang tinggi dalam agama Islam. Bahwasanya berqurban adalah ibadah yang dikerjakan oleh seluruh kaum muslimin di seluruh daerah, tanpa terkecuali. Dari mulai ujung baratnya sampai ujung timurnya dan ujung utaranya sampai ujung selatannya, disyariatkan untuk berqurban. Ini yang pertama, kedudukan dan tingginya ibadah berqurban di tengah-tengah kaum muslimin.

Yang kedua, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan berqurban مَقْرُوْنٌ بِالصَّلَاةِ (digandengkan dengan shalat). Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am[6]: 162)

Digandengkan dengan rukun Islam yang kedua; shalat. Menunjukkan bagaimana berqurban mempunyai kedudukan yang tinggi.

Begitu juga yang ketiga. Dari ayat yang sama kita ambil pelajaran bahwasanya berqurban merupakan salah satu tanda orang mengamalkan tauhid. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan di dalam ayat tadi لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, “… hanya untuk Allah Tuhan semesta alam.”

لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚ

“Tiada sekutu bagi-Nya.” (QS. Al-An’am[6]: 163)

Yang keempat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar[108]: 2)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menyembelih, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk shalat. Lihat bagaimana kedudukan berqurban yang sangat tinggi tersebut.

Yang kelima, kedudukan dari berqurban. Bahwasanya berqurban adalah syiar agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat jelas. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَٱلْبُدْنَ جَعَلْنَٰهَا لَكُم مِّن شَعَٰٓئِرِ ٱللَّهِ  ۖ

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu (menyembelih) unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah,” (QS. Al-Hajj[22]: 36)

Sekali lagi, syiar artinya ciri yang sangat dominan, karakteristik yang sangat terlihat dari ajaran Islam. Bahkan bisa dikatakan, negara ini adalah negara Islam ketika ada qurban, daerah ini adalah daerah kaum muslimin ketika ada ibadah qurban.

Kemudian yang sangat luar biasa, yang keenam. Berqurban adalah tanda seseorang bersyukur. Karena setelah ayat-ayat tadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“… Agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Hajj[22]: 36)

Siapa yang ingin mengetahui dan mengukur dirinya bersyukur atau tidak, maka silahkan, apakah dia berqurban atau tidak. Silahkan cek dirinya.

Khutbah Jumat Kedua: Semangat Berqurban Di Masa Pandemi

Wahai kaum muslimin,

Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengerjakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Terutama dengan tersebarnya penyakit covid-19. Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memakai masker, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, menjaga stabilitas dan mobilitas. Itu adalah sarana.

Berapa banyak orang yang mengerjakan sarana. Tetapi ketika tidak bertakwa, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan sebagai sarana yang bisa menahan dia. Maka kerjakanlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ

“Jagalah Allah, (jagalah hukum-hukum Allah dan benar-benar bertakwa) niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. At Tirmidzi)

Ahibbatiy hafizhakumullah,

Terakhir, agar semangat berqurban. Para ulama memperbolehkan bahwa siapa yang tidak sanggup untuk berqurban dan dia bisa berhutang, maka boleh baginya untuk berhutang. Dengan catatan dia sanggup untuk membayarnya. Saya katakan boleh dan tidak wajib. Karena hukum berqurban baik yang mewajibkan bagi siapa yang mampu, atau mengatakan sunnah muakkadah bagi siapa yang mampu, tidak mengatakan wajib untuk berhutang. Tetapi boleh berhutang untuk berqurban.

Ya Allah, kami memohon kepada Engkau ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, jagalah pandangan kami, jagalah pendengaran kami, jagalah tubuh kami. Ya Allah, jagalah kami dari depan, belakang, kanan, kiri dan atas kami. Kami berlindung dengan keagungan-Mu untuk mendapatkan musibah dari bawah kaki kami.

Video Khutbah Jumat: Semangat Berqurban Di Masa Pandemi

Sumber audio: Rifqan TV

Mari turut menyebarkan tulisan tentang “Khutbah Jumat: Semangat Berqurban Di Masa Pandemi” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0