Khutbah Jum’at : Ramadhan Telah Meninggalkan Kita

Khutbah Jum’at : Ramadhan Telah Meninggalkan Kita

pandai mendengar

Berikut pembahasan Khutbah Jum’at : Ramadhan Telah Meninggalkan Kita yang disampaikan Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah Hafizhahullahu Ta’ala. Khutbah

Keutamaan Membaca Al-Qur’an
Penjelasan Ibadah Istighatsah dan Menyembelih
Khutbah Idul Adha: Pentingnya Mengenal Allah

Berikut pembahasan Khutbah Jum’at : Ramadhan Telah Meninggalkan Kita yang disampaikan Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah Hafizhahullahu Ta’ala.

Khutbah Pertama : Ramadhan Telah Meninggalkan Kita

 

Ahibbati fillah,

Ramadhan telah berlalu, lebaran juga telah selesai. Kemudian mau apa kita? Apa yang seharusnya kita lakukan?

Beberapa hari yang lalu, kita masih menyaksikan bagaimana masjid itu penuh ketika sholat isya. Juga orang yang berbondong-bondong untuk sholat tahajjud berjama’ah, untuk sholat tarawih. Kita bisa melihat bagaimana tatkala subuh tanggal 1 Ramadhan, kita menyaksikan pemandangan yang aneh, yang menakjubkan, tidak seperti biasa, shaf-shaf di masjid itu penuh dengan orang-orang yang memakmurkan rumah Allah ‘Azza wa Jalla.

Kita bisa menyimak, dimana-mana orang melantunkan bacaan Al-Qur’an al-Karim. Lembaran-lembaran Al-Qur’an itu dibuka. Di berbagai tempat kita menyaksikan orang-orang bershadaqah, berbagi dengan saudaranya. Di lampu-lampu merah, mereka berbagi, mereka ingin membantu saudara-saudaranya yang lain.

Ahibbati fillah,

Akan tetapi, dengan tenggelamnya matahari Ramadhan, syaithan-syaithan keluar dari penjara. Tempat-tempat maksiat yang awalnya ditutup, mulai dibuka kembali. Bahkan tanggal 1 Syawal pun tempat-tempat maksiat mulai ramai dihadiri manusia-manusia yang kemarin mereka memakmurkan masjid, yang kemarin mereka sibuk membaca Al-Qur’an al-Karim.

Tatkala syaithan atau iblis diusir oleh Allah ‘Azza wa Jalla, iblis berkata kepada Allah ‘Azza wa Jalla,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Wahai Rabbku, karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” QS. Al Hijr [15] : 39

Syaithan yang awalnya dibelenggu, pintu neraka yang awalnya ditutup, kemudian dibuka kembali, iblis berjanji akan membuat indah kemaksiatan di muka bumi. Dia akan menggambarkan ketaatan itu suatu hal yang berat untuk dikerjakan. Sehingga jiwa manusia sulit untuk diajak menuju kepada Allah ‘Azza wa Jalla setelah Ramadhan.

“Kenapa di Bulan Ramadhan mudah sekali, Ustadz? Ana bisa sholat malam. Ana bisa membaca Al-Qur’an al-Karim. Ana bisa puasa. Ana bisa banyak berbuat kebaikan di Bulan Ramadhan. Tapi setelah itu terasa berat.”

Iblis mulai melakukan aktifitasnya. Bahkan dia mengatakan,

وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ …

“.. dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” QS. Al Hijr [15] : 39

Bukan berarti yang bergelar ustadz tidak digoda oleh iblis. Bukan berarti yang suka membaca Al-Qur’an tidak digoda oleh iblis. Iblis akan terus menggodai.

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” QS. Al Hijr [15] : 39

Tapi yang selamat adalah hamba-hamba Allah yang beriman, yang ikhlas beribadah, yang terus beribadah, dan yang istiqomah beramal.

Maka jama’ah, Allah mengingatkan kepada kita,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ

“Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, ..” QS. An Nahl [16] : 92

Mungkin sebagian di antara kita seperti itu. Tidak lagi membaca Al-Qur’an, tidak lagi sholat malam, dan puasa cukup di Bulan Ramadhan saja.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi hamba Allah yang istiqomah dalam beribadah. Karena beribadah itu bukan hanya di waktu tertentu, bukan hanya di musim tertentu. Allah ‘Azza wa Jalla kasihan kepada kita. Dia Ar Rahim, Ar Rahman, Dia tahu manusia diciptakan lemah. Maka Allah sediakan musim-musim kebaikan, dimana mereka di situ bisa berbekal untuk masa yang akan datang.

Sebulan penuh mereka berbekal untuk menghadapi Bulan Syawal dan Dzulqo’dah. Bulan Dzulhijjah, Allah kasih lagi tempat untuk berbekal di 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah. Orang berangkat haji, beribadah ke sana. Allah tahu kita makhluk yang lemah.

Maka setelah Ramadhan, setelah perjuangan yang panjang, perjuangan kita lebih berat, perjuangan kita tatkala bala tentara syaithon kita hadapi di mana saja kita berada. Maka bekal itu perlu kita kembangkan.

Yang membaca Al-Qur’an, dibuka lagi Al-Qur’annya. Kalau di Bulan Ramadhan satu hari satu juz, selesai Ramadhan setengah juz. Tidak mampu setengah juz, maka satu halaman. Satu halaman tapi istiqomah, setiap hari engkau baca.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ الى الله تعالى أَدْوَمُهَا وَاِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” HR. Muslim No. 783

Yang kedua adalah puasa. Kita mampu puasa sebulan penuh, mengapa tidak mampu puasa Senin-Kamis? Mengapa tidak mampu puasa enam hari di Bulan Syawal?

Kembali kepada tugasnya iblis tadi. Dia akan menggambarkan puasa itu sulit, berat, dan bikin lelah. Bayangkan, sebulan kita mampu, lalu enam hari tidak mampu? Terlalu banyak enam hari? Kalau begitu, tiga hari saja.

Kita disunnahkan puasa dalam sebulan itu tiga hari. Mampu tanggal 13, 14, dan 15. Jika tidak mampu, terserah mau di tanggal berapa saja, (misal) Senin, Kamis, dan Senin. Dijaga puasanya.

Apalagi amalan yang kita lakukan di Bulan Ramadhan? Sholat malam. Kita tidak berhenti sholat malam, setiap hari datang ke masjid. Ada yang 21 raka’at, ada yang 11 raka’at, antum jaga itu. Tetap sholat malam. Kalau bisa, kerjakan di akhir malam. Kalau tidak bisa, engkau sholat sebelum tidur. Berapa raka’at? Tiga raka’at. Jaga tiga raka’at. Jangan engkau pejamkan matamu kecuali engkau sudah sholat witir tiga raka’at. Tidak mampu tiga raka’at? Satu raka’at saja.

Tapi mengapa kita mampu 11 raka’at, mengapa kita mampu 21 raka’at, sekarang hanya tiga? Berat untuk kita.

Ya, godaan itu semakin kuat buat kita. Maka lakukan itu. Shadaqah, jangan berhenti. Yang tidak bisa puasa sunnah, coba berbagi santapan berbuka untuk orang-orang yang sedang puasa sunnah. Banyak orang yang membutuhkan. Alhamdulillah Allah berikan kelebihan kepada kita. Dan shadaqah tidak harus menunggu kaya. Bahkan itu salah satu pintu kekayaan. Perbanyaklah shadaqah.

Kemudian, doa. Kita dapat kabar bahwa doanya orang yang puasa itu akan dikabulkan, iya. Dan masih banyak waktu-waktu mustajab yang perlu kita berdoa saat selesai Ramadhan. Saat antara adzan dan iqamah, saat sepertiga malam terakhir, di hari jumat, di akhir jumat, manfaatkan waktu-waktu tersebut untuk berdoa. Silahkan engkau minta. Karena sejatinya kita tidak akan mampu istiqomah kecuali dengan bantuan Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga dalam sholat kita pun, kita mengikrarkan hal itu. Kita menyatakan hal itu. Kita mengatakan :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” QS. Al Fatihah [1] : 5

Karena sejatinya kita tidak akan mampu datang ke masjid ini, kecuali karena Allah yang menggerakkan hati kita.

Khutbah Kedua : Ramadhan Telah Meninggalkan Kita

 

Jama’ah rahimakumullah,

Kira-kira ibadah yang kita lakukan itu diterima atau tidak? Lelah kita, pengorbanan kita, kira-kira diterima atau tidak? Belum tentu diterima.

Kita tahu kisah Habil dan Qabil. Allah menolak qurbannya Qabil. Lalu Habil mengatakan :

اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ من المُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” QS. Al Maidah [5] : 27

Maka jika kita ingin diterima puasa, sholat, jum’at kita, sedekah kita, jadilah engkau orang-orang yang bertakwa. Banyak-banyak istighfar, mohon ampun sama Allah ‘Azza wa Jalla. Tumbuhkan rasa takut tidak diterima. Karena itu sifat orang yang bertakwa. Dia takut amalannya tidak diterima. Bukan malah bangga dengan amalannya. Ujub dengan ibadahnya.

Alhamdulillah engkau bisa khatam tiga kali, lima kali, bisa shadaqah ratusan juta. Tapi jangan pernah engkau bangga dengan amalanmu. Sekali-kali kita harus sadar bagaimana cara iblis menggoda manusia. Jadilah orang yang bertakwa, yang ketika beramal dan beribadah, dia meminta kepada Allah agar diterima.

Seperti doanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika ia membangun Ka’bah. Apa kata beliau?

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ  …

“.. Wahai Rabb kami, terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS. Al Baqarah [2] : 127

Nabi Ibrahim takut amalnya tidak diterima. Apalagi kita? Maka takutlah tidak diterima, namun juga berharaplah diterima. Dengan banyak-banyak istighfar. Memohon ampun sama Allah ‘Azza wa Jalla.

Di antara surah yang paling terakhir turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, adalah Surat An Nashr.

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima taubat.” QS. An Nashr [110] : 1-3

Bayangkan, di akhir hayat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah pengorbanan bertahun-tahun, perjuangan tiada henti, kata Allah, “.. bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu..”

Semuanya itu Allah yang kasih taufiq kepadamu. Semuanya Allah yang memudahkan untuk dia terima. Dan kau minta ampun sama Allah. Nabi disuruh minta ampun di akhir hayatnya. Apalagi kita? Maka perbanyaklah istighfar.

Ahibbati fillah,

Hari ini Hari Jum’at, harinya bersholawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Perbanyaklah sholawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Allah ‘Azza wa Jalla mengatakan,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” QS. Al Ahzab [33] : 56

Video Khutbah Jum’at : Ramadhan Telah Meninggalkan Kita

Komentar

WORDPRESS: 0