Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Tampil Beda dalam Ketaatan” yang disampaikan Ustadz Ammi Nur Baits, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA : Alasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Memperbanyak Puasa Syakban
Sahabat Usamah bin Zaid radhiallahu anhu pernah mengajukan pertanyaan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkaitan dengan aktivitas beliau yang sangat rajin menunaikan ibadah puasa di bulan Syakban. Beliau menyampaikan pernyataan bahwa belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih banyak berpuasa sunah pada suatu bulan melebihi puasa beliau di bulan Syakban. Menanggapi pernyataan tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan dua alasan utama melalui sabdanya:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Syakban adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia, antara bulan Rajab dan Ramadan. Bulan tersebut adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, maka aku suka amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i) [1]
Melalui hadits ini, dapat diketahui salah satu metode Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam beramal, yaitu secara sengaja memilih waktu, kondisi, dan kesempatan saat manusia pada umumnya lalai dari beramal serta jauh dan lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada situasi seperti itulah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam justru memanfaatkan waktu tersebut untuk memperbanyak ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan pahala amal seorang hamba bernilai semakin besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ketika amalan tersebut dikerjakan pada waktu manusia sedang lalai dari mengingat-Nya.
Prinsip beramal di waktu manusia lalai ini juga menjadi rahasia di balik besarnya pahala zikir ketika seseorang memasuki pasar. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits riwayat Imam At-Tirmidzi dari sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ
“Barang siapa masuk pasar lalu mengucapkan: ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dia Maha Hidup tidak mati, di tangan-Nya kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu’, maka Allah mencatat untuknya sejuta kebaikan dan menghapuskan darinya sejuta dosa.” (HR. At-Tirmidzi) [2]
Pahala yang sangat besar ini diberikan karena kondisi pasar pada umumnya dipenuhi oleh manusia yang sibuk dengan urusan dunia, seperti menimbang barang dagangan, menghitung uang, tawar-menawar, bahkan berselisih. Di tengah kesibukan urusan dunia yang melalaikan tersebut, ada seorang hamba yang saat pertama kali menginjakkan kaki di pasar justru memilih untuk mengingat Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengucapkan kalimat tauhid. Tindakan ini membuktikan bahwa hamba yang bersangkutan memiliki ketergantungan hati yang sangat besar (ta’alluqul qalbi) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahinya pahala yang melimpah.
Aktivitas beribadah di tengah keterasingan merupakan salah satu sebab utama seorang hamba ditinggikan derajatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang yang tetap istiqamah melakukan ketaatan dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada saat lingkungan di sekitarnya jauh dari agama akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.
Pada umumnya, manusia memiliki kecenderungan untuk sekadar mengikuti arus dan meniru apa yang dilakukan oleh masyarakat di sekitarnya. Namun, seorang hamba yang saleh memiliki keberanian untuk tampil beda dengan tetap taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di saat orang lain menjauh. Kondisi teguh di atas sunah dan syariat inilah yang menyebabkan nilai amalan seorang hamba menjadi sangat agung dan mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.
Ada banyak sekali kesempatan di lingkungan sekitar yang dapat dimanfaatkan untuk beramal. Di berbagai pasar dan tempat keramaian seperti stasiun, bandara, terminal, bahkan saat mengantre di lampu merah, manusia pada umumnya lalai dan lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam situasi penuh kelalaian seperti itulah, seorang hamba dapat memilih untuk menjadi pribadi yang berbeda dari kebanyakan orang dengan memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta senantiasa membasahi lisannya. Amalan ini pada awalnya terasa ringan, namun ketika harus dilakukan secara istiqamah, zikir akan menjadi suatu amalan yang berat.
Mengenai keutamaan menjaga lisan agar terus berzikir, sahabat Abdullah bin Busr radhiallahu anhu meriwayatkan sebuah hadits:
إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، قَالَ: لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam ini sudah terlalu banyak dan berat bagiku, maka tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang bisa aku jadikan pegangan rutin.’ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Jadikanlah lisanmu senantiasa basah dengan zikrullah (mengingat Allah)’.” (HR. At-Tirmidzi) [3]
Para santri saat ini berada di dalam lingkungan pondok pesantren atau masjid yang aman dan nyaman untuk memupuk ketaatan serta membangun iman karena dikelilingi oleh orang-orang yang dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, suasana akan berubah menjadi sangat berbeda ketika mereka melangkah keluar dari lingkungan tersebut.
Tantangan yang sesungguhnya bukan terletak pada lembar meja ujian di kelas, melainkan saat para santri pulang dan harus menghadapi kehidupan nyata di tengah lingkungan masyarakat, teman sepadan, anggota keluarga, serta interaksi sosial di sekitarnya. Hal itu menjadi ujian sejati untuk mengukur sejauh mana aroma ketaatan yang telah dipupuk di dalam pesantren dapat dipertahankan di dunia luar.
Sikap taat di lingkungan orang-orang yang taat merupakan suatu hal yang biasa, sebab seorang santri pasti akan merasa malu apabila memilih bermain di saat semua orang di sekelilingnya sedang murajaah Al-Qur’an. Sebaliknya, bersikap konsisten dalam ketaatan di tengah lingkungan yang dipenuhi kemaksiatan merupakan perkara yang luar biasa. Karakter ini memerlukan latihan yang kuat karena tidak semua orang sanggup melaksanakannya.
Manusia yang memiliki keberanian untuk tampil beda demi menjaga jati dirinya sebagai muslim yang baik, serta tidak mudah ikut arus yang bertentangan dengan prinsip hidupnya, akan menjadi pribadi yang mengukir sejarah mulia.
Pribadi yang berani mempertahankan keimanan di tengah arus kelalaian akan diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Contoh nyata mengenai hal ini dapat dilihat pada kisah Ashabul Kahfi, yaitu sekelompok pemuda pilihan yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di tengah masyarakatnya yang kufur. Jumlah pemuda ini sangat sedikit, tidak sampai sepuluh orang, sebagaimana perselisihan jumlah mereka disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ
“Nanti (ada orang yang) akan mengatakan (jumlah mereka) tiga orang, yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan lima orang, yang keenam adalah anjingnya, sebagai tebakan terhadap yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya.” (QS. Al-Kahf[18]: 22)
Meskipun jumlah mereka sangat sedikit, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka sebagai manusia bersejarah karena keberanian mereka untuk tampil beda dalam ketaatan. Ketika masyarakat lain di zamannya telah terlupakan oleh sejarah, kisah para pemuda ini justru diingat sepanjang masa. Alasan di balik keistimewaan mereka ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:
إِنَّهمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambahkan pula kepada mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahf[18]: 13)
Doa dan harapan senantiasa dipanjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia melimpahkan istiqamah dalam beribadah di tengah orang-orang saleh. Diharapkan pula, saat seorang penuntut ilmu berada di luar lingkungan pesantren, meskipun secara fisik tidak lagi berada di tempat belajar, hatinya tetap terikat bersama dengan orang-orang yang sedang menuntut ilmu agama.
KHUTBAH KEDUA : Semangat Sahabat Menunggu Salat Isya di Tengah Malam
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah secara sengaja menunda pelaksanaan salat Isya sampai tengah malam. Penundaan tersebut berlangsung hingga sahabat Umar bin Khattab radhiallahu anhu datang mengetuk pintu rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengajak beliau agar segera melaksanakan salat Isya.
Sepanjang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada di dalam rumah, tidak ada seorang pun sahabat yang berani untuk maju menjadi imam salat. Umar bin Khattab kemudian memanggil Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengabarkan kondisi jemaah di masjid:
نَامَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ
“Wahai Rasulullah, kaum wanita dan anak-anak telah tertidur.” (HR. An-Nasai) [4]
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa waktu sudah sangat larut malam. Namun, para sahabat yang memiliki semangat tinggi untuk beribadah tetap berada dalam keadaan siaga menunggu kehadiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menunggu datangnya waktu salat Isya, dan menunggu iqamah dikumandangkan tanpa membubarkan diri.
Penundaan tersebut ternyata merupakan suatu kesengajaan yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau kemudian keluar menemui para sahabat dan memberikan motivasi yang besar melalui sabdanya:
إِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ غَيْرُكُمْ
“Demi Allah, sesungguhnya tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang sedang menunggu salat ini selain kalian.” (HR. Bukhari) [5]
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hendak menjadikan para sahabat sebagai manusia yang berbeda dari manusia lain di alam raya pada malam itu. Keutamaan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di tengah kelalaian manusia sejagat ini tidak dapat disamai oleh siapa pun.
Pada masa itu, jumlah pengikut Islam masih sangat terbatas, sehingga hanya orang-orang yang berada di dekat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saja yang sedang mendirikan ibadah, sementara di belahan bumi lain tidak ada satu pun yang melakukannya. Kondisi istimewa inilah yang dibanggakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada mereka.
Keistimewaan ibadah yang didapatkan oleh para sahabat pada malam itu tidak mungkin dapat ditiru oleh generasi setelah mereka. Pada zaman sekarang, seseorang tidak mungkin bisa beribadah sendirian di waktu dunia sepi dari orang yang beribadah, karena di Masjidil Haram aktivitas ibadah terus berlangsung selama 24 jam dan di Masjid Nabawi jemaah tetap beribadah hingga tengah malam.
Meskipun keutamaan tersebut tidak dapat disamai, kaum muslimin wajib berusaha untuk meniru semangat ibadah para sahabat. Upaya meniru kesalehan orang-orang mulia ini ditekankan agar seorang hamba dapat meraih kebahagiaan hidup.
Tantangan terberat bagi seorang hamba untuk menjadi manusia yang istiqamah adalah pada saat ia berinteraksi dan bergesekan dengan orang lain di tengah masyarakat. Di dalam interaksi sosial itulah, ia akan melihat aneka macam bentuk fitnah serta ujian yang menguji keteguhan imannya. Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala memohon agar hatinya senantiasa dijaga di atas kebenaran dengan melafalkan doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. (HR. Tirmidzi) [6]
وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Wahai Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati kami untuk tetap taat kepada-Mu.” (HR. Muslim) [7]
Sumber Video Khutbah Jumat “Tampil Beda dalam Ketaatan”
Sumber : anb channel
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
REFERENSI:
[1] https://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/fiqh/768-keutamaan-bulan-syaban
[2] https://sunnah.com/mishkat:2431
[3] https://sunnah.com/riyadussalihin:1438
[4] https://sunnah.com/nasai:482
[5] https://sunnah.com/bukhari:570
[6] [7] https://pesantrenalirsyad.org/skala-prioritas-dalam-berdoa/


COMMENTS