Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Tawakal” yang disampaikan Ustdaz Firanda Andirja, Hafidzahullahu Ta’ala
KHUTBAH PERTAMA: Tawakal sebagai Ciri Kesempurnaan Iman
Bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan salah satu ibadah yang sangat agung sekaligus menjadi ciri utama dari orang-orang beriman yang sempurna imannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal[8]: 2)
Kewajiban bertawakal juga menjadi salah satu ciri dari golongan orang yang masuk surga tanpa azab dan tanpa hisab. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai kriteria mereka:
وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Dan mereka hanya bertawakal kepada Tuhan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ikrar mengenai ketundukan dan penyerahan diri ini selalu diucapkan oleh setiap muslim dalam shalat melalui pembacaan surat Al-Fatihah:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya Engkaulah yang kami habdi, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah[1]: 5)
Seorang mukmin yang sadar akan kelemahan, ketidakmampuan, serta kebutuhannya yang mutlak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa menempatkan dirinya sebagai hamba yang fakir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fatir[35]: 15)
Banyak orang yang mengira bahwa tawakal hanya berlaku dalam urusan dunia, seperti mencari rezeki, mencari jodoh, mencari pekerjaan, atau menjaga kesehatan. Ikhtiar keduniaan tersebut memang memerlukan tawakal, namun ada hal yang jauh lebih penting, yaitu bertawakal dalam menjalankan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tujuannya adalah agar ibadah yang dikerjakan dapat berjalan dengan baik dan diterima di sisi-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ
“Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud[11]: 123)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan beberapa teladan di dalam Al-Qur’an tentang penerapan tawakal ketika beribadah, salah satunya adalah saat membaca Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Apabila kamu membaca Al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.” (QS. An-Nahl[16]: 98-99)
Kurangnya konsentrasi saat membaca Al-Qur’an, mudah berpaling untuk membaca berita, atau memutus bacaan demi urusan yang tidak mendesak menjadi tanda kurangnya tawakal hamba tersebut. Setan akan terus berusaha mengganggu manusia yang sedang membaca Al-Qur’an, sehingga diperlukan keseriusan dalam memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui bacaan taawudz. Setan tidak akan mampu menguasai orang-orang yang beriman dan bertawakal.
Ibadah lain yang memerlukan tawakal yang kuat adalah shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat pula) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 217-220)
Ketika hendak shalat, seorang hamba harus bertawakal dengan menghadirkan keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang melihatnya, menyayanginya, Maha Perkasa, Maha Mendengar, serta Maha Mengetahui. Kesadaran ini akan membantu hamba agar bisa lebih khusyuk dan konsentrasi dalam shalat.
Ketidak Khusyukan di dalam shalat disebabkan oleh kurangnya tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menguasai hati manusia dan yang mampu menganugerahkan kekhusyukan. Kemampuan seorang hamba untuk bangun tepat waktu, melaksanakan shalat malam, hingga melangkahkan kaki menuju masjid semata-mata terjadi karena pertolongan-Nya. Oleh karena itu, ketika muazin mengumandangkan Hayya ‘alash shalah dan Hayya ‘alal falah, setiap muslim diajarkan untuk bersandar melalui kalimat:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tanpa pertolongan dari Allah ‘Azza wa Jalla, seorang hamba tidak akan mampu melangkahkan kaki menuju masjid, serta tidak akan bisa membuka mata untuk bangun melaksanakan shalat subuh maupun shalat malam. Oleh karena itu, di dalam ibadah shalat pun manusia sangat membutuhkan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bentuk tawakal lain dalam ibadah adalah tawakal ketika berdakwah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kisah para nabi terdahulu yang senantiasa bertawakal kepada-Nya saat menghadapi berbagai gangguan dari kaum mereka. Salah satunya adalah kisah Nabi Nuh Alaihissalam ketika menghadapi penghinaan dari kaumnya:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُم مَّقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ
“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya, ‘Wahai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggalku (bersamamu) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah aku bertawakal’.” (QS. Yunus[10]: 71)
Para rasul yang diutus Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menegaskan kepasrahan mereka atas segala intimidasi dengan berkata:
وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا ۚ وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَىٰ مَا آذَيْتُمُونَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ
“Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang yang bertawakal berserah diri.” (QS. Ibrahim[14]: 12)
Tawakal yang kokoh juga dicontohkan oleh Nabi Hud Alaihissalam saat kaumnya mencoba menakut-nakutinya dengan ancaman gila atau terkena penyakit akibat kutukan berhala sembahan mereka. Nabi Hud Alaihissalam menjawab dengan penuh ketegasan:
قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ مِن دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُم مَّا مِن دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dia berkata, ‘Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dengan tidak menangguhkan lagi. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus’.” (QS. Hud[11]: 54-56)
Kaum ‘Ad yang bertubuh kuat, perkasa, dan berjumlah banyak pada akhirnya tidak mampu mencelakakan Nabi Hud Alaihissalam sedikit pun. Kenyataan ini membuktikan bahwa aktivitas dakwah sangat membutuhkan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berkuasa membuka hati manusia, menjaga keselamatan sang dai, memenangkan hati, serta menjauhkannya dari segala gangguan. Saat menghadapi rintangan dakwah, seorang dai hendaknya tidak mengeluh di media sosial, melainkan mengembalikan urusannya melalui tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ibadah agung lainnya yang memerlukan tawakal adalah usaha untuk meninggalkan kemaksiatan. Seorang hamba tidak akan mampu melepaskan diri dari jerat maksiat tanpa adanya pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Al-Qur’an mengisahkan bagaimana Nabi Yusuf Alaihissalam diselamatkan dari godaan Zulaikha yang sangat dahsyat:
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, ‘Marilah ke sini’. Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya Rabbku telah memperlakukan aku dengan baik’. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf[12]: 23)
Nabi Yusuf Alaihissalam menyadari bahwa dirinya tidak akan selamat dari godaan wanita cantik di dalam kamar yang seluruh pintunya telah terkunci, kecuali jika diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau tidak menyombongkan tingkat keimanan maupun ketaatannya, melainkan langsung memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melalui ketulusan tawakal tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkannya:
كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ
“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian.” (QS. Yusuf[12]: 24)
Perlindungan yang serupa atas kesucian diri juga diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika mengutus Malaikat Jibril untuk meniupkan ruh anak ke dalam rahim Maryam.
Ketika ditiupkan ruh ke dalam rahimnya, Maryam sempat menyangka bahwa Malaikat Jibril yang mendatanginya akan melakukan perbuatan buruk. Pertemuan tersebut terjadi secara berkhalwat tanpa ada orang lain, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
“Maka Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, lalu dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.” (QS. Maryam[19]: 17)
Melihat seorang lelaki tampan yang tiba-tiba berada di dekatnya, Maryam segera memohon perlindungan dan mengingatkan lelaki tersebut untuk takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tindakan refleks ini terekam dalam Al-Qur’an:
قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا
“Dia (Maryam) berkata, ‘Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih darimu, jika engkau seorang yang bertakwa’.” (QS. Maryam[19]: 18)
Di zaman sekarang, begitu banyak godaan yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kemaksiatan. Seorang muslim dilarang keras untuk bersandar pada ketaatan dan kekuatan imannya yang lemah serta sedikit. Perlindungan dan keselamatan hanya dapat diraih dengan bersandar sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketika bisikan setan mulai mendekat, orang-orang yang bertakwa akan segera mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyadari bahwa tidak ada yang dapat menolong mereka selain Dia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi oleh fikiran jahat (setan), mereka segera ingat (kepada Allah), maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’raf[7]: 201)
Kesadaran tersebut seketika memberikan ilmu dan petunjuk bagi mereka untuk melihat keburukan maksiat, lalu segera meninggalkannya.
KHUTBAH KEDUA: Urgensi Doa Memohon Pertolongan dalam Beribadah
Setiap muslim hendaknya memperbanyak doa agar dibimbing untuk dapat beribadah dengan baik. Tanpa adanya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, aktivitas ibadah tidak akan terlaksana dengan sempurna. Hal ini selaras dengan wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Mu’adz bin Jabal:
يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَلَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Wahai Mu’adz, demi Allah sesungguhnya aku mencintaimu, maka janganlah kamu tinggalkan di setiap akhir shalat untuk berdoa: ‘Ya Allah, tolonglah aku untuk berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu’.” (HR. Abu Dawud)
Tantangan untuk konsisten berzikir terasa kian berat akibat pengaruh arus informasi. Waktu manusia sering kali habis hanya untuk mengikuti berita demi berita, berpindah dari satu komentar ke komentar lain, serta menyimak bantahan demi bantahan. Kondisi ini membuat lisan manusia lebih sering basah karena membicarakan makhluk daripada mengingat Sang Pencipta. Akibatnya, rutinitas penting seperti zikir pagi dan petang sering terabaikan.
Selain zikir, bantuan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga sangat dibutuhkan agar hamba tetap mampu bersyukur, terutama saat menghadapi masa-masa sulit. Manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk mengeluh dan mengingkari nikmat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya.” (QS. Al-‘Adiyat[100]: 6)
Mengenai tabiat ini, Hasan Al-Bashri memberikan penjelasan yang dikutip oleh para ulama:
يَعُدُّ الْمَصَائِبَ وَيَنْسَى النِّعَمَ
“Manusia itu terbiasa menghitung-hitung musibah dan melupakan nikmat-nikmat.” (Tafsir Al-Baghawi)
Kecenderungan untuk terus mengingat musibah yang menimpa dan melupakan limpahan nikmat yang telah diterima menjadi penghalang utama bagi seseorang untuk bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, sebuah untaian doa diajarkan agar seorang hamba dibantu untuk senantiasa bersyukur dan mempersembahkan ibadah terbaik (wa husni ‘ibadatik).
Pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat dibutuhkan agar hamba tidak terjebak dalam ritual ibadah yang asal-asalan. Shalat, membaca Al-Qur’an, umrah, haji, hingga bakti kepada orang tua hendaknya dilakukan secara serius demi mencapai rida-Nya. Target utama dari setiap penghambaan adalah mencapai derajat ihsan, yaitu sebuah kondisi ketika seorang hamba beribadah dengan keyakinan penuh bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang melihatnya. Tidak ada yang mampu meningkatkan kualitas ibadah tersebut melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagai bentuk kepasrahan total, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan sebuah doa agung yang hendaknya dibaca pada pagi dan petang hari:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Wahai Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku dan jangan Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri meskipun hanya sekejap mata.” (HR. An-Nasa’i)
Doa ini memuat pengakuan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Seorang hamba menyerahkan segala urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memohon agar seluruh kehidupannya senantiasa diperbaiki.
Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebaik-baik tempat bersandar bagi orang-orang yang bertawakal karena Dia Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:
قُلْ هُوَ الرَّحْمَٰنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا
“Katakanlah, ‘Dialah Yang Maha Pengasih, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kami bertawakal’.” (QS. Al-Mulk[67]: 29)
Setiap hamba yang menyerahkan urusannya kepada Zat Yang Maha Pengasih akan mendapatkan kecintaan dari-Nya. Ketika sebuah tekad dan ikhtiar telah bulat, maka kewajiban berikutnya adalah menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 159)
Sumber Video Khutbah Jumat “Tawakal”
Sumber: Firanda Andirja
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS