Khutbah Jumat: Faktor Kelancaran Rezeki

Khutbah Jumat: Faktor Kelancaran Rezeki

Khutbah Jum’at: Kunci Sukses Belajar
Khutbah Jumat: Berpikir 1000x Untuk yang Abadi
Khutbah Jum’at – Orang Yahudi dan Nasrani Tidak Pernah Berhenti Untuk Memurtadkan Ummat Islam

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Mengapa Harus Terburu-buru? Rahasia di Balik Takaran Rezeki yang Sempurna” yang disampaikan Ustadz Abdullah Zaen, Hafidzahullahu Ta’ala

KHUTBAH PERTAMA: Ketakwaan sebagai Fondasi Kehidupan

Peningkatan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya merupakan kewajiban setiap muslim. Hal ini diwujudkan dengan mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta menjauhi apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kelancaran rezeki dan keberkahannya merupakan dambaan setiap insan. Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara tua dan muda, pria dan wanita, muslim dan nonmuslim, ahli ibadah maupun ahli maksiat, serta pejabat dan rakyat. Semua menginginkan rezeki yang lancar. Petani menghendaki hasil panen yang melimpah, pedagang menginginkan keuntungan yang berlipat ganda, pegawai, karyawan, dan buruh menghendaki gaji yang tinggi, serta peternak menginginkan hasil ternak yang sehat dan gemuk. Demi mendapatkan dambaan itu, setiap manusia berusaha secara maksimal menempuh berbagai cara serta mengerahkan beragam daya dan upaya.

Untuk mencapai keberhasilan, berbagai profesi memaksimalkan usaha lahiriah demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Petani membajak sawah, mengairi, memilih bibit unggul, menyiangi gulma, serta menjaga tanaman siang dan malam. Pedagang melengkapi barang toko, mempromosikannya dengan gencar, dan memasang harga yang bersaing. Pegawai, karyawan, guru, kontraktor, hingga buruh pabrik pun melakukan hal yang serupa.

Namun, pengerjaan segala upaya tersebut belum tentu memastikan keberhasilan angan-angan indah manusia. Keberhasilan terkadang diraih, dan terkadang kegagalan yang ditemui. Petani bisa mengalami gagal panen, pedagang bangkrut, dan karyawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Kegagalan tetap ada karena adanya faktor penentu yang justru kerap dilupakan oleh banyak orang, meskipun usaha lahiriah sudah maksimal dan perhitungan manusiawi sudah matang.

Faktor yang sering dilupakan tersebut adalah ketentuan dari Sang Maha Pemberi Rezeki dan Penguasa Mutlak alam semesta, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebesar dan semaksimal apapun usaha manusiawi yang dikerahkan, keinginan tidak akan tercapai jika Allah ‘Azza wa Jalla tidak berkehendak. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menentukan segala sesuatu, baik keberhasilan maupun kegagalan, serta rezeki yang lancar maupun yang seret.

Manusia hanya bisa berusaha lahiriah secara maksimal, sedangkan hasil akhirnya berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, selain usaha fisik, manusia juga harus berusaha supaya Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan menentukan takdir yang terbaik. Satu-satunya jalan yang mengantarkan ke sana adalah meningkatkan ketakwaan. Kepatuhan yang semakin tinggi kepada-Nya akan mendatangkan curahan kasih sayang yang semakin besar, sebagaimana janji Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan dianugerahkan-Nya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Thalaq[65]: 2-3)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan berbagai buah manis ketakwaan seperti kelancaran rezeki serta terpenuhinya segala hajat. Keuntungan tersebut baru mencakup hal-hal yang bersifat duniawi. Kelak, masih ada keuntungan lain yang jauh lebih besar, yakni meraih surga di akhirat sebagai negeri keabadian yang dipenuhi kenikmatan tiada tara.

Mengenai tata cara bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, secara garis besar ketakwaan terbagi menjadi dua jenis. Pertama adalah ketakwaan yang hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kedua adalah ketakwaan yang hubungannya dengan sesama manusia.

Ketakwaan yang hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala diwujudkan dengan menunaikan tauhid, shalat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, haji bagi yang mampu, serta ibadah-ibadah mulia lainnya. Manakala seorang hamba taat kepada Allah, menjalankan shalat lima waktu dengan benar, serta berpuasa di bulan Ramadan dengan baik, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalasnya di dunia dengan curahan nikmat, karunia, serta pahala yang berlipat ganda di surga kelak. 

Sebaliknya, pengabaian terhadap syariat akan mendatangkan kesengsaraan hidup. Seseorang yang enggan menunaikan shalat lima waktu, atau hanya shalat seminggu sekali di hari Jumat, atau bahkan hanya setahun dua kali di hari raya Idul Adha dan Idul Fitri, berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Kondisi tersebut diperparah jika ia tidak malu makan dan minum di area publik pada siang hari bulan suci Ramadan, tidak pernah berpikir untuk berzakat, serta melakukan segudang maksiat seperti berjudi, berzina, mabuk-mabukan, hingga praktik mistik dan klenik.

Hamba yang memiliki kondisi mengenaskan seperti itu harus bersiap menghadapi rezeki yang seret, urusan yang macet, serta suasana rumah tangga yang ruwet. 

Para makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dikerahkan untuk memberikan peringatan kepada manusia yang membangkang. Air hujan dapat tumpah ruah tanpa henti sehingga menimbulkan banjir bandang. Gunung berapi bergejolak memuntahkan abu panas dan lahar mendidih. Bumi bergoncang menimbulkan gempa yang meluluhlantakkan segala hal di atasnya. Makhluk-makhluk kecil semisal belalang, wereng, dan tikus pun dikirim untuk merusak wilayah pertanian.

Seluruh fenomena tersebut hanyalah makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjalankan perintah Sang Khaliq, tidak lebih dan tidak kurang. Berbagai kesulitan di dunia ini belum seberapa karena masih ada malapetaka besar yang maha dahsyat di akhirat kelak, yakni kobaran api neraka yang panasnya menembus sampai ke dalam relung dada.

KHUTBAH KEDUA: Ketakwaan dalam Hubungan dengan Sesama Manusia

Hubungan dengan sesama manusia merupakan jenis ketakwaan kedua setelah pemenuhan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini diawasi dan diawali dengan kebaktian seorang anak kepada orang tuanya (birrul walidain). Sifat baik tersebut kemudian dilanjutkan kepada orang-orang terdekat di dalam kehidupan, meliputi hubungan antara suami, istri, anak, kakak, adik, serta karib kerabat lainnya. Ketakwaan yang utuh menuntut setiap hamba untuk berperilaku simpatik kepada tetangga, teman kerja, seluruh kaum muslimin, bahkan kepada semua umat manusia sesuai dengan aturan yang telah digariskan oleh agama. Andaikan seorang hamba menjalankan berbagai jenis ketaatan tersebut dengan benar, niscaya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala rezekinya akan mengalir dengan lancar.

Hubungan baik terhadap sesama manusia memiliki kaitan erat dengan kelapangan hidup. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan penegasan melalui sebuah hadits:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang menginginkan untuk diluaskan rezekinya serta dipanjangkan umurnya, hendaklah dia rajin bersilaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pengabaian terhadap hak-hak sesama manusia akan berdampak buruk pada kelancaran rezeki dan melenyapkan keberkahannya. Berbagai bentuk kezaliman sosial ini meliputi tindakan anak yang durhaka kepada orang tuanya, suami yang menelantarkan istri dan anak-anaknya, serta ibu yang mengabaikan pendidikan putra-putrinya. Demikian pula dengan orang yang gemar menyakiti tetangganya.

Kezaliman dalam urusan harta juga menjadi faktor penghambat rezeki. Hal ini mencakup pelaku bisnis atau siapa pun yang gemar berutang namun enggan membayarnya, atau terbiasa mengulur-ulur pelunasan padahal ia mampu untuk bersegera melunasinya. Begitu pula dengan bos atau atasan yang sering menunda-nunda pembayaran gaji para karyawan serta memotong hak mereka tanpa alasan yang jelas.

Tindakan menyerobot jatah orang-orang miskin seperti mengambil bantuan langsung tunai, raskin, atau tabung gas bersubsidi padahal kondisi hidup sudah berkecukupan, juga merupakan bentuk kezaliman. Seluruh pelaku tindakan ini terancam akan mengalami kesempitan rezeki di dunia serta kesengsaraan besar di neraka jahanam kelak.

Kecurangan dalam interaksi perdagangan merupakan salah satu dosa besar yang merusak keberkahan harta. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ancaman keras kepada para pelaku kecurangan dalam timbangan melalui firman-Nya:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ لِيَوْمٍ عَظِيمٍ يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Celakalah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari ketika manusia berdiri menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Muthaffifin[83]: 1-6)

Sumber Video Khutbah Jumat “Faktor Kelancaran Rezeki”

 

Sumber : Ustadz Abdullah Zaen

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: