Materi 71 – Tawadhu’ Terhadap Anak Kecil

Materi 71 – Tawadhu’ Terhadap Anak Kecil

dukung ngaji id

Tulisan tentang “Materi 71 - Tawadhu' Terhadap Anak Kecil” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang d

Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Amalan Hati
Materi 68 – Tawadhu’ Terhadap Orang Miskin
Khutbah Idul Fitri: Cita-Cita Penduduk Mahsyar

Tulisan tentang “Materi 71 – Tawadhu’ Terhadap Anak Kecil” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafizhahullah.

Sebelumnya: Materi 70 – Tawadhu’ Ketika Berkunjung dan Menghadiri Undangan

Materi 71 – Tawadhu’ Terhadap Anak Kecil

Di antara praktik tawadhu’ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah tawadhu’ terhadap anak kecil. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu berbaur dengan kami sampai-sampai beliau berkata kepada saudaraku yang masih kecil, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:

يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ

“Wahai Abu ‘Umair, apa yang terjadi dengan Nughair.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Anas bin Malik -sebagaimana yang telah lalu- adalah pembantu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dia punya adik yang dikenal dengan Abu ‘Umair, yang merupakan anak dari Ummu Sulaim yang menikah dengan Abu Thalhah Al-Anshari Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu. Jadi satu ibu lain bapak, karena bapaknya Anas bin Malik sudah meninggal, kemudian ibunya (Ummu Sulaim) menikah dengan sahabat Abu Thalhah dan dikenal dengan Abu ‘Umair.

Abu ‘Umair masih kecil, para ulama mengatakan umurnya mungkin di bawah 5 tahun. Dan dia punya hewan peliharaan burung yang namanya Nughair. Ternyata burungnya mati, tentu dia bersedih.

Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun datang kepada anak yang masih kecil, adiknya Anas bin Malik,  dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Ya Aba ‘Umair,” Rasulullah panggil dia dengan kunyah. Kita tahu orang kalau sudah besar baru ada kunyahnya. Tapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyempatkan diri untuk ngobrol dengan anak tersebut, dengan mengatakan: “Apa yang terjadi dengan burungmu?”

Hal ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lakukan untuk menghilangkan kesedihan hatinya. Kita tahu anak-anak kalau hewan peliharaannya mati, tentu sangat sedih. Sebagaimana anak kita kalau kucingnya mati, atau kelincinya mati, tentu sangat sedih. Demikian juga anak ini memiliki mainan burung, ternyata hewan peliharaannya mati, maka dia akan sangat sedih.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan begitu kesibukannya yang luar biasa, beliau masih sempat datang kepada anak tersebut kemudian dia candai, “Wahai Abu ‘Umair, apa yang terjadi dengan burungmu?”

Makanya Anas mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbaur dengan kami sampai-sampai dia berkata kepada adikku yang masih kecil.

Lihatlah bagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai menurunkan levelnya untuk bicara dengan anak-anak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tahu bagaimana bicara dengan anak-anak dan apa yang membuat mereka senang.

Padahal kita tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat besar, orang yang sangat karismatik, yang sangat mulia, tetapi tetap tawadhu’ untuk berbicara dengan anak-anak yang sedang bersedih. Siapa tahu pembicaraan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut membantu menghilangkan kesedihannya. Subhanallah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam peduli dengan anak kecil tersebut.

Anak kecil tersebut siapa sih? Adiknya Anas bin Malik, pembantunya, bukan siapa-siapa. Bukan anak pejabat, bukan anak raja, tapi adik dari pembantunya. Artinya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghargai Anas bin Malik yang pernah berkata:

لَقَدْ خَدَمْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَشَرَ سِنِيْنَ, فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ وَلَا قَالَ لِشَيْئٍ فَعَلْتُهُ لِمَ فَعَلْتَهُ؟, وَلَا لِشَيْئٍ لَمْ أَفْعَلْهُ: أَلَا فَعَلْتَ كَذَا؟

“Sungguh aku telah menjadi pembantu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah menegurku terhadap satu perkataanku, tidak pernah berkomentar tentang apa yang aku lakukan, “Mengapa kamu lakukan”, dan tentang apa yang tidak aku lakukan, “Mengapa kamu tidak melakukan demikian.” (Muttafaqun ‘alaih)

Lihat bagaimana sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sang pembantu Anas bin Malik dan bagaimana penghargaan beliau kepada pembantu tersebut sampai beliau ke rumahnya berulang-ulang dan bahkan beliau peduli dengan adiknya yang masih kecil, Abu ‘Umair yang burung peliharaannya mati.

Inilah tawadhu’ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap anak-anak. Wallahu A’lam Bishshawab.

▬▬•◇✿◇•▬▬

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Materi 71 – Tawadhu’ Terhadap Anak Kecil” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Baarakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0