Materi 72 – Tawadhu’ Terhadap Orang yang di Bawahnya Tanpa Pilih-Pilih Menyapa dan Mengucapkan Salam

Materi 72 – Tawadhu’ Terhadap Orang yang di Bawahnya Tanpa Pilih-Pilih Menyapa dan Mengucapkan Salam

dukung ngaji id

Tulisan tentang “Materi 72 - Tawadhu' Terhadap Orang yang di Bawahnya Tanpa Pilih-Pilih Menyapa dan Mengucapkan Salam” ini adalah catatan yang kami tu

Syarat Terkabulnya Doa
Materi 76 – Tawadhu’nya Nabi Kepada Wanita Lemah
Amalan Wanita Ini Bikin Bidadari Surga Cemburu

Tulisan tentang “Materi 72 – Tawadhu’ Terhadap Orang yang di Bawahnya Tanpa Pilih-Pilih Menyapa dan Mengucapkan Salam” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafizhahullah.

Sebelumnya: Materi 71 – Tawadhu’ Terhadap Anak Kecil

Materi 72 – Tawadhu’ Terhadap Orang yang di Bawahnya Tanpa Pilih-Pilih Menyapa dan Mengucapkan Salam

Ikhwan dan akhwat, kita masih melanjutkan tentang tawadhu’nya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap anak-anak.

Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam shahih mereka, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu:

أَنَّهُ مَرَّ عَلَى صِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ

“Anas bin Malik melewati anak-anak lalu Anas memberi salam kepada anak-anak tersebut.”

Kemudian beliau ditanya kenapa beliau memberi salam kepada anak-anak? Maka Anas berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan demikian.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam hadits ini Anas menceritakan bagaimana tawadhu’nya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau melewati anak-anak maka beliau yang memberi salam kepada mereka.

Kita tahu bahwasanya seharusnya yang muda memberi salam kepada yang tua, apalagi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang kedudukannya lebih tinggi dari siapapun, yang mengatakan:

أَنَا سَيِّد وَلَد آدَم وَلا فَخْرَ

“Aku adalah pemimin seluruh anak Adam pada hari kiamat dan aku tidak sombong.”

Artinya orang termulia di alam semesta ini adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang pintu surga tidak akan terbuka kecuali yang mengetuknya adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dialah Shahibu Syafa’atul Udzma (pemilik syafa’at yang agung), ketika seluruh Nabi menolak untuk memberi syafaat di padang mahsyar, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang memberi syafaat kepada seluruh manusia di Padang Mahsyar.

Begitu agungnya kedudukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun ketika melewati anak-anak dia yang memberi salam terlebih dahulu. Menakjubkan ya akhi, ya ukhti, bagaimana tawadhu’nya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kita bicara tentang diri kita. Terkadang kita kalau lewat dan bertemu orang yang lebih muda, kita maunya dia yang memberi salam kepada kita terlebih dahulu. Kita gengsi, maunya yang muda yang memberi salam. Memang benar, tapi tidak ada salahnya kita tawadhu’ dengan memberi salam kepada yang lebih muda.

Seperti itulah, terkadang mungkin ada seseorang di antara kita bertemu dengan orang yang lebih miskin, maunya dia yang memberi salam kepada kita, dia yang miskin, salam atau tidak salam tidak ada urusan. Tetapi tidak ada salahnya kita beri salam terlebih dahulu sebagai bentuk tawadhu’.

Sekarang ini orang susah memberi salam, tidak semua dia berikan salam, dia memilih-milih untuk memberi salam. Seakan-akan kalau dia memberi salam kepada orang lain (mungkin kepada orang yang lebih rendah, mungkin kepada pembantunya, kepada sopirnya, kepada orang miskin di depan rumahnya), seakan-akan derajatnya rendah.

Lihatlah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahkan kepada anak-anak pun beliau memberi/ mengucapkan salam kepada mereka. Selain  untuk menyebarkan salam, ini menunjukkan juga tawadhu’nya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Maka kita introspeksi diri, masih banyak di antara kita yang pelit memberi salam, maunya orang lain memberi salam kepada kita lalu baru kita balas. Kita merasa kalau memberi salam seakan-akan kita rendah, kita maunya dihormati, maunya orang lain yang menyapa kita dahulu.

Sudah saatnya kita perbaiki hati kita. Kita tidak perlu pengakuan manusia, yang penting kita baik, menjalankan sunnah, mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Percuma kita mulia di hadapan manusia ternyata kita tidak mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka lihatlah bagaimana Nabi tawadhu’ kepada anak-anak, bahkan beliau yang memberi salam terlebih dahulu.

▬▬•◇✿◇•▬▬

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Materi 72 – Tawadhu’ Terhadap Orang yang di Bawahnya Tanpa Pilih-Pilih Menyapa dan Mengucapkan Salam” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Baarakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0