Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini adalah apa yang bisa kami ketik dari tabligh akbar yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafidzahumullahu Ta’ala.

Navigasi Catatan:

Mukaddimah Tabligh Akbar Tentang Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

Menit-10:58 Kata beliau, segala puji bagi Allah Rabbul ‘Alamin. Dan aku bersaksi bahwa tidak tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia. Dia merupakan Ilahnya manusia dari generasi awal maupun generasi akhir, Dia pengatur langit dan bumi, Dia Pencipta seluruh makhluk. Dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah Rasulullah yang sangat jujur, yang sangat amanah. Semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya dan kepada para sahabatnya.

Ya Allah, ajarkan kepada kami ilmu-ilmu yang Engkau berikan kepada kami. Ya Allah, berikan kepada kami ilmu-ilmu yang bermanfaat dan jadikan kami sebagai orang-orang yang memberikan hidayah. Dan jangan Engkau serahkan urusan-urusan kami kepada diri kami sekejap mata pun.

Ya Allah, berikan kami petunjuk kepada jalan-Mu yang lurus. Dan aku mohon kepada Engkau Ya Allah, hidayah-Mu. Dan demikian pula bimbingan-Mu kepada kebenaran. Aku memohon kepada Engkau bantuanmu dan jangan Engkau serahkan urusan kami ini kepada diri kami sekejap mata pun. Sesungguhnya Allah Maha mendengar dan Dialah Allah yang menjadi pengharapan kami.

Kaum mukminin sekalian, demi Allah ini adalah merupakan saat-saat yang sangat indah. Kita berkumpul di sini di sebuah tempat yang diberkahi, di sebuah tempat yang baik sekali, dengan teman-temanku di jalan Allah. Yang mengumpulkan kita ialah cinta kepada Allah, mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti sunnah NabiNya Shalawatullahi ‘Alaihi wa Salamuhu.

Tapi tadi kita sudah mendengarkan pendahuluan yang baik sekali yang menunjukkan kepada perasaan cintanya dan mengungkapkan bagaimana perasaan saudara-saudara kita. Dan akupun merasakan sama dengan apa yang ia rasakan. Dan yang membuat aku di sini duduk adalah tiada lain dalam rangka mencintai karena Allah dan saling tolong-menolong di dalam kebaikan. Aku memohon kepada Allah Jalla fi ‘Ula agar memberikan kepada kita kemudahan dan Dialah Allah yang memberikan kepada kita semua kemudahan-kemudahan dan agar menerima amalan-amalan kita yang shalih. Dan agar itu semuanya dijadikan sebagai timbangan kebaikan-kebaikan kita. Dan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita taufik kepada setiap kebaikan.

Mencintai Rasulullah merupakan konsekuensi daripada mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala

Menit-16:39 Dan cukuplah dalam pertemuan kita ini sebagai kepanjangan dari pada pertemuan kita yang terdahulu. Dimana dahulu kita sudah pernah berbicara tentang cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan pembicaraan kita pada hari ini adalah tentang cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dimana kata beliau, mencintai Rasulullah adalah merupakan konsekuensi daripada mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mencintai Rasulullah adalah bagian daripada mencintai Allah dengan cara kita mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi kemaksiatan kepada beliau.

Disana ada dua cinta; cinta yang pertama adalah cinta kepada Allah yang merupakan pokok segala cinta, dan yang kedua adalah mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang merupakan pengikutan daripada cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Telah disebutkan dalam Al-Qur’an, di dalam ayat-ayat, tentang pentingnya dua cinta ini. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّـهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّـهُ بِأَمْرِهِ…

Katakanlah (Hai Muhammad): ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, teman-teman kalian, istri-istri kalian, demikian pula karip-kerabat kalian, perdagangan yang kalian ridhai, tempat tinggal yang kalian sukai, itu semua lebih kamu cintai daripada mencintai Allah dan RasulNya dan berjihad dijalan Allah, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan urusan-Nya.’” (QS. At-Taubah[9]: 24)

Dan disebutkan pula di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari hadits Anas bin Malik RadhiyAllahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثَلاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيَمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا، سِواهُما، وأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ للَّهِ، وَأَنْ يَكْرَه أَنْ يَعُودَ في الكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ في النَّارِ

“Ada tiga perkara, siapa yang tiga perkara ini ada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman:

  1. Yang pertama, Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari segala-galanya.
  2. Yang kedua, ia tidak cinta kepada seseorang kecuali karena Allah.
  3. Yang ketiga, ia tidak suka untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan ia sebagaimana ia tidak suka untuk dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cinta kepada Rasulullah adalah kewajiban yang Allah wajibkan kepada kita semuanya

Dan cinta kepada Rasulullah adalah kewajiban yang Allah wajibkan kepada kita semuanya. Dan bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih berhak untuk kita cintai dari siapapun dari kaum mukminin, bahkan daripada dirinya sendiri. Maka seorang mukmin tentunya lebih mendahulukan Allah dan Rasul-Nya daripada diri-diri mereka sendiri.

Rasulullah orang yang sangat sayang kepada umatnya, dimana Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ ﴿١٢٨﴾

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul yang berasal dari diri kalian yang merasa susah terhadap apa yang menimpa kalian, yang begitu semangat memberikan hidayah kepada kalian dan kepada kaum mukminin sangat kasih sayang dan lemah lembut.” (QS. At-Taubah[9]: 128)

Jadi kewajiban kaum muslimin adalah lebih mendahulukan Rasulullah daripada dirinya sendiri, lebih mendahulukan Rasulullah dari pada anak-anaknya sendiri, daripada istrinya, daripada keluarganya, bahkan dari seluruh manusia. Dan disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim, dari hadits Anas bin Malik, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, tidak beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, bapaknya, dan dari pada seluruh manusia.” (HR. Bukhari Muslim)

Bahkan di dalam Shahihul Bukhari, bahwasanya Umar bin Khathab berkata kepada Rasulullah:

لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي

“Ya Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku wahai Rasulullah.”

Maka Rasulullah bersabda:

لاَ ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ

“Tidak sempurna imanmu wahai Umar, sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”

Lalu Umar berkata:

فَإِنَّهُ الآنَ ، وَاللَّهِ ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي

“Sekarang wahai Rasulullah, Demi Allah, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu sampai-sampai daripada diriku sendiri.”

Maka Rasulullah bersabda:

الآنَ يَا عُمَرُ

“Sekarang hai Umar, imanmu sempurna.”

Cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah perbekalan menuju kehidupan akhirat kelak

Menit-26:38 Cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah perbekalan kita menuju kehidupan akhirat kelak, menuju kehidupan yang dimana kita bisa akan bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tentunya cinta itu harus menimbulkan berbagai macam amalan shalih, berupa ibadah-ibadah yang sunnah maupun ibadah-ibadah yang wajib.

Di dalam shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Anas RadhiyAllahu ‘Anhu bahwasanya seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?” Lalu kata Rasulullah: “Apa yang engkau persiapan untuk menuju kehidupan akhirat itu? Apa yang engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Lalu orang ini berkata: “Aku tidak mempersiapkan apa-apa yang banyak dari shalat ataupun puasa. Akan tetapi aku mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Maka Rasulullah bersabda: “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai kelak.” Anas berkata: “Aku tidak pernah merasa gembira lebih daripada kegembiraanku ketika mendengar sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini: ‘Engkau bersama orang yang engkau cintai kelak,’ dan aku cinta kepada Rasulullah, aku cinta kepada Abu Bakar, aku cinta kepada ‘Umar, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka tapi aku mohon kepada Allah agar Allah mengumpulkan aku dengan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga:  Hadits Tentang Tanda Seseorang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah

Ini merupakan buah yang agung ketika seseorang benar-benar mendahulukan Allah dan RasulNya daripada segala sesuatu, ia sangat cinta kepada Allah dan RasulNya.

Bagaimana mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sebenar-benarnya?

Menit-30:55 Kata beliau, cobalah kita ingin melihat bagaimana mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sebenar-benarnya? Yaitu dengan melihat sejarah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bagaimana perjalanan hidup para sahabat yang mereka sangat cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tidak ada orang yang sangat cinta kepada Rasulullah daripada para generasi para sahabat. Dan bukti-bukti yang menunjukkan kepada hal ini sangat banyak. Diantaranya yaitu yang ada di dalam shahih Bukhari dari hadits Abu Mas’ud As-Saqafi, dia berkata: “Sungguh aku pernah mendatangi raja-raja dan aku tidak pernah melihat ada seorang raja yang sangat dicintai oleh pengikutnya kecuali Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dimana para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melebihi dari pada diri mereka sendiri.” (HR. Bukhari)

Saudara-saudaraku, sesungguhnya cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan sebatas klaim semata. Akan tetapi cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hakikat yang agung, yang tentunya akan memberikan pengaruh dan bekas pada diri seseorang. Oleh karena itu mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan memberikan tanda-tanda kepada pelakunya bila memang cinta itu adalah cinta yang betul-betul jujur dari hatinya. Maka engkau akan menemukan tanda-tanda orang-orang yang mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ittiba’ dan berpegang kuat kepada sunnah

Yang pertama dan ini yang paling agung, tanda orang yang mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berpegang kuat kepada sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan Allah Ta’ala telah menyebutkan itu dan surat Ali Imran:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّـهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّـهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakan (Hai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (yaitu Rasulullah), niscaya Allah akan mencintai kamu dan Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu.” (QS. Ali-Imran[3]: 31)

Oleh karena itu Ibnul Qayyim berkata bahwasanya ayat ini merupakan hakim atas setiap orang yang mengklaim bahwa dirinya mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Siapa saja yang mengklaim bahwa dirinya mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tapi dia tidak mengikuti sunnahnya, ia tidak berpegang kepada sunnahnya, tentu cintanya menjadi sebuah cinta yang dusta kepadanya.

Oleh karena itu para ulama berkata ayat ini disebut dengan ayat ujian. Artinya ujian bagi mereka yang mengaku bahwa dirinya mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Saudara-saudaraku, sesungguhnya ayat ini memberikan bimbingan kepada kita. Bahwasannya cinta yang betul-betul jujur adalah cinta yang disertai dengan ittiba’, yaitu mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam kehidupannya, didalam kesehariannya. Adapun orang-orang yang mengaku dirinya mencintai Rasul akan tetapi ia tidak mau mengikuti Rasulullah, tidak mau ia berpegang kepada sunnahnya, maka ini bukanlah tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang benar.

Perhatikanlah saudaraku yang mulia, sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan hadits itu adalah hadits yang hasan. Dari salah seorang sahabat, ia berkata: “Kami berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu beliau meminta air untuk berwudhu. Lalu beliau pun berwudhu dengannya. Lalu kami pun mengikutinya. Lalu kemudian kami meminum air wudhu yang beliau berwudhu dengannya tersebut. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepadanya: ‘Kenapa kalian lakukan itu?'”

Artinya sahabat ini ketika melihat ada air sisa wudhu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, diambilnya lalu kemudian diminumnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: “Kenapa kalian melakukan seperti itu?” Lalu sahabat ini berkata: “Aku mencintai Allah dan RasulNya.” Kata Rasulullah: “Jika kalian memang mencintai Allah dan RasulNya dan jika kalian suka Allah dan RasulNya mencintai kalian, maka laksanakanlah amanah dan jujurlah dalam berkata dan berbuat baiklah kepada karib kerabat dan tetangga.”

Lihatlah bagaimana tanda yang Rasulullah sebutkan dalam hadits ini. Bahwasanya mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tiada lain dengan cara ittiba’, yaitu mengikuti Rasulullah dan berpegang kepada manhaj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Banyak mengingat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Kemudian tanda yang kedua yaitu memperbanyak dengan mengingat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu memperbanyak shalawat kepada beliau. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkat penyebutan Rasulullah, Allah telah memberikan kemuliaan dan keharuman nama. Maka dari itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam beberapa ibadah, seperti adzan, seperti iqamah, seperti tasyahud dan beberapa tempat yang lainnya, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan menyebutkan nama beliau di tempat-tempat tersebut.

Dan memperbanyak mengingat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam caranya bagaimana? Yaitu dengan cara:

Yang pertama, mempelajari bagaimana kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, perjalanan hidupnya, perjuangannya, demikian pula memperhatikan bagaimana akhlak beliau, bagaimana adab-adab beliau, bagaimana kehidupan beliau, keseharian beliau, selain ia mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berpegang kepada manhajnya.

Dan tentunya juga ia berusaha untuk semangat untuk banyak mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Terlebih ketika kita mendengar nama Nabi Muhammad disebutkan. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

البَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang yang bakhil itu adalah orang yang disebutkan nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di sisinya, akan tetapi ia tidak bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Tirmidzi)

Ingin melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Kemudian diantara tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu mempunyai keinginan kuat dan kerinduan untuk melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Disebutkan dalam shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا، نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ

“Sesungguhnya umatku yang paling cinta kepadaku, ada seorang dari umatku nanti setelahku dan dia sangat ingin untuk melihatku walaupun dia harus mengorbankan keluarga dan harta benda.” (HR. Muslim)

Lihatlah bagaimana kerinduan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kekuatan untuk senantiasa mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan tentunya kerinduan ini akan menimbulkan ittiba’ dan senantiasa menapaki jejak kaki Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Diantara tanda-tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkan demikian di dalam ayat-ayatNya. Diantaranya yaitu firmanNya:

لَّا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُم بَعْضًا

Jangan kalian jadikan memanggil Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu seperti memanggil sebagian kalian kepada sebagian yang lainnya.” (QS. An-Nur[24]: 63)

Demikian pula Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ…

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengangkat suara kalian diatas suara Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (QS. Al-Hujurat[49]: 2)

Maka kewajiban seorang hamba adalah untuk mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pengagungan yang layak kepadanya, dengan pengagungan yang menunjukkan akan kecintaan dan mengenal haknya, dengan pengagungan yang mengharuskan dia mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pengagungan dengan lisan juga, yaitu dengan cara memujinya, yang tentunya pujian-pujian yang tidak disertai dengan ghuluw (sikap berlebih-lebihan) ataupun java’ (sikap meremehkan). Pengaguman itu juga dengan anggota badannya, dengan cara mengikuti kehidupan Rasulullah, mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berpegang kepada manhajnya. Sebagaimana Allah Ta’ala menyebutkan demikian dalam Al-Qur’an:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sungguh telah ada pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam uswah yang baik.”

Untuk siapa?

لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا

Bagi orang yang menginginkan Allah dan kehidupan akhirat dan ia banyak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)

Baca Juga:  Mencintai Wali-Wali Allah

Memperbanyak shalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi

Menit-55:23 Dan diantara tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu memperbanyak bershalawat dan mengucapkan salam kepadanya. Terlebih -kata beliau- sangat dianjurkan untuk mengucapkan shalawat dan salam ketika disebutkan nama beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan juga sangat ditekankan terutama dihari Jumat, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَكْثِرُوا مِنَ الصَّلَاةِ عَلَيَّ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ ولَيْلَةِ الْجُمْعَةِ

“Perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari Jumat dan pada malam Jumat.”

Ini adalah hadits yang hasan. Oleh karena itu Imam Syafi’i Rahimahullah berkata:

أحبّ كثرة الصلاة على النبي صلّى الله عليه وسلّم في كل حال، وأمّا في يوم الجمعة وليلتها فأشدّ استحباباً

“Aku suka untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada setiap keadaan. Adapun pada hari Jumat, maka itu lebih aku sukai lagi untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Mencintai keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Menit-57:27 Dan diantara tanda kejujuran cinta seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu mencintai keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mencintai Ahlul Bait Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mencintai para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Demikian pula mencintai istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mencintai mereka-mereka yang menjadi sahabat Rasulullah, karena Allah telah memberikan kepada mereka berbagai macam keistimewaan. Dimana mereka melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dimana mereka diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk langsung mengambil ilmu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu Allah memuji mereka dalam ayatNya:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ…

Kalian adalah sebaik-baiknya umat yang dikeluarkan untuk manusia.” (QS. Ali-Imran[3]: 110)

Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baiknya manusia adalah generasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya.”

Mencintai orang-orang yang berpegang kepada sunnah

Menit-1:00:02 Dan diantara tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu mencintai orang-orang yang berpegang kepada sunnah, mencintai orang-orang yang menyeru kepada kebenaran, menyeru kepada petunjuk, yang senantiasa mereka menyeru kepada jalan Allah. Disebutkan dalam shahih Bukhari dari hadits Ibnu Mas’ud bahwasanya datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu ia berkata: “Bagaimana pendapatmu Wahai Rasulullah tentang seseorang yang mencintai suatu kaum tapi dia tidak bertemu dengan mereka?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang itu akan bersama dengan yang ia cintai.” (HR. Bukhari)

Maka mencintai pembawa sunnah termasuk mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mencintai para Dai kepada sunnah, itu termasuk mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan diantara bahaya yang paling agung, yaitu seseorang membenci para pemegang sunnah, membenci orang-orang yang membawa sunnah dan menyerukan kepada sunnah.

Mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kecintaan Islam

Menit-1:02:53 Diantara tanda cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam -dan ini adalah tanda terakhir yang akan saya sebutkan- yaitu kita mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kecintaan Islam.

Maksudnya yaitu cinta yang tidak pernah berlebihan dan cinta yang tidak meremehkan. Coba perhatikan sebuah atsar berikut ini yang dikeluarkan dari Al-Hakim, dari Yahya bin Said, ia berkata: “Kami pernah berada di sisi ‘Ali bin Husain, lalu datanglah suatu kaum dari Kufah kepada ‘Ali bin Abi Thalib. Lalu ‘Ali bin Abi Thalib berkata: ‘Wahai penduduk Irak, cintailah kami dengan kecintaan Islam. Karena aku mendengar ayahku berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Wahai manusia, jangan kalian mengangkat aku melebihi kedudukanku. Karena Allah telah menjadikan aku sebagai seorang hamba sebelum aku diangkat sebagai seorang Rasul.'”

Perhatikan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib ini: “Cintailah kami dengan kecintaan Islam.” Artinya kecintaan yang tengah-tengah, yang betul-betul benar, yang tidak terdapat padanya sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dan tidak pula bersikap meremehkan atau melecehkan.

Selayak agar kita bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak bersikap melecehkan. Karena sebaik-baiknya urusan adalah yang tengah-tengah, tidak berlebih-lebihan dan tidak melecehkan. Dan manusia dalam masalah ini terbagi menjadi tiga kelompok:

Kelompok pertama, orang-orang yang tidak berlebih-lebihan kepada Rasulullah dan tidak pula melecehkan. Dan sudah kita sebutkan tandanya sebelum ini, yaitu tentang orang-orang yang mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kelompok kedua, yaitu orang-orang yang melecehkan dan meremehkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kelompok ketiga, orang-orang yang berlebih-lebihan dan cintanya kepada Rasulullah begitu berlebih-lebihan sehingga mendudukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melebihi kedudukan beliau sebagai seorang manusia biasa dan RasulNya. Barangkali aku akan menyebutkan sebagian tanda-tanda sikap yang meremehkan yang berhubungan dengan masalah ini.

Sikap meremehkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Lemahnya kecintaan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Menit-1:07:41 Dan diantara tanda orang yang meremehkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu lemahnya kecintaan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hati. Dia lebih mendahulukan cinta kepada dunia, lebih mendahulukan cinta kepada hawa nafsu dan kelezatan-kelezatan yang tidak kekal, ia lebihkan itu daripada mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Berpaling dari sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Menit-1:08:43 Diantara tanda orang yang melecehkan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu berpaling dari sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berpaling dari petunjuk beliau yang lurus dan tidak mau mempelajari dan tidak mau memperhatikannya, bahkan ia lebih disibukkan dengan mempelajari pendapat-pendapat yang batil, pemikiran-pemikiran yang merusak ataupun yang lainnya yang bisa memalingkan manusia dari mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Tidak menghormati hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Menit-1:10:23 Diantara tanda orang-orang yang melecehkan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu tidak menghormati hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Terkadang kamu lihat pada sebagian majelis, apabila disebutkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ia mendengar hadits tersebut seperti mendengar perkataan manusia biasa. Bahkan mungkin dia berani untuk membantah dengan hawa nafsunya.

Contohnya misalnya bila disebutkan padanya sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka orang itu berkata: “Kenapa begini? Kenapa begitu?” sengaja ia ucapkan itu untuk menentang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu dimana penghormatan dia kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Dimana pengagungan dia kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berbicara dari hawa nafsunya? Karena Allah telah menyebutkan demikian.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ﴿٣﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ ﴿٤﴾

Nabi Muhammad tidak pernah berbicara dari hawa nafsunya, akan tetapi ia adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm[53]: 3-4)

Tidak memperhatikan sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Menit-1:12:53 Diantara fenomena sikap meremehkan adalah kita tidak memperhatikan sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, perjuangan, keistimewaan dan keutamaan beliau. Karena sesungguhnya sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah seutama-utamanya sirah, sesuci-sucinya sirah. Dimana kita mendapati sebagian manusia malah berpaling daripada mempelajari sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka menyibukkan diri dengan sirah orang-orang yang tidak mempunyai keutamaan dan keistimewaan apa-apa. Bahkan mungkin dia termasuk orang-orang yang jauh daripada Allah dan RasulNya. Ia pun kemudian berpaling dari sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena lebih disibukkan dengan mempelajari hal-hal seperti itu.

Membela bid’ah dan berpaling dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Menit-1:12:53 Dan diantara fenomena sikap melecehkan terhadap sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu membela bid’ah dan berpaling daripada petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan disebutkan di dalam shahih dalam Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari Muslim)

Beliau juga bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak diatasnya perintah kami, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan bahkan Rasulullah setiap hari jumat berkhutbah kepada manusia. Beliau mengucapkan:

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا.

“Sebenar-benarnya perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah. Dan seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan…” (HR. Muslim)

Mencaci-maki para sahabat

Menit-1:16:47 Dan diantara fenomena bersikap jafa’ (meremehkan) hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah mencaci-maki para sahabat. Yaitu berusaha untuk bagaimana para sahabat itu dibenci oleh manusia. Bahkan ia pun mencaci-maki orang-orang yang mengikuti para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Padahal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي ، لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا ، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ

Baca Juga:  Makna Tauhid Adalah Mengesakan Allah Ta'ala

“Jangan kalian mencaci-maki para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, kalaulah salah seorang dari kalian berinfak dengan sebesar gunung emas, niscaya itu tidak akan mengalahkan infaknya sahabat dengan emas 1 mud (yaitu 2 telapak tangannya)” (HR. Muslim)

Ini yang berhubungan dengan sikap jafa’, yaitu meremehkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Sikap berlebih-lebihan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Fenomena-fenomena yang menunjukkan sikap berlebih-lebihan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita sudah ketahui bahwa manusia ada tiga kelompok: yang berlebih-lebihan, yang melecehkan dan yang terbaik adalah yang tengah-tengah, yaitu yang tidak berlebihan dan tidak melecehkan.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah menjelaskan bahwasanya sikap ghuluw (berlebih-lebihan) akan membinasakan pelakunya. Telah datang dalam nash-nash, dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, diantaranya yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

 إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ

“Jauhi oleh kalian sikap ghuluw (berlebih-lebihan), karena sikap berlebih-lebihan itu membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Ibnu Majah)

Dan juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ

“Janganlah kalian berlebih-lebihan didalam memuji aku sebagaimana orang-orang Nasrani itu berlebih-lebihan dalam memuji ‘Isa bin Maryam.” (HR. Bukhari)

Perhatikanlah sabda Rasulullah:

 فَقُولوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Akan tetapi ucapkan: ‘Aku ini adalah hamba Allah dan RasulNya.'” (HR. Bukhari)

Sabda Rasulullah: “Ucapkan aku ini hamba Allah dan RasulNya” memberikan kepada kita peringatan agar kita bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak melecehkan. Ketika Rasulullah mengatakan: “Hamba Allah,” berarti penghambaan ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh berlebih-lebihan. Dan ketika kita katakan: “RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,” ini menunjukkan kita tidak boleh melecehkan hak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka selayaknya kita bersikap tengah-tengah antara itu semuanya.

Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menutup berbagai macam pintu yang menjerumuskan kepada perkara-perkara yang menyimpang dari agama. Diantara contoh-contohnya adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila mendengar ucapan-ucapan yang berbau sikap ghuluw (berlebih-lebihan) yang berhubungan dengan beliau ataupuan yang berhubungan dengan yang selain Rasulullah, maka Rasulullah segera melarangnya, segera mengingkarinya.

Sebuah contoh, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar seorang sahabat mengatakan begini:

مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ

“Apa yang Allah kehendaki dan apa yang engkau kehendaki.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam marah dan beliau bersabda:

أجَعَلْتني لِلَّهِ نِدّا؟!

“Apakah kamu hendak menjadikan aku tandingan selain Allah!?”

Tapi katakan:

مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ

“Dengan kehendak Allah saja.” (HR. An-Nasa’i)

Dan ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar seorang wanita berkata:

وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ

“Pada kami ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi dimasa depan.”

Maka Rasulullah mengingkari dan beliau bersabda:

لاَ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ

“Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi dimasa depan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Bukhari)

Bahkan ketika ada seorang laki-laki yang disuruh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk bertaubat kepada Allah, orang itu berkata: “Aku bertaubat kepada Allah dan aku tidak bertaubat kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sungguh orang ini telah mengetahui hak kepada siapa pemiliknya.”

Janganlah seseorang beralasan melakukan suatu perkara yang diada-adakan dengan mengatakan bahwa itu untuk mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Niat yang baik dan tujuan yang baik harus disertai dengan mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Oleh karena itu di dalam atsar yang masyhur dari Ibnu Mas’ud, beliau berkata: “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, akan tetapi dia tidak mendapatkannya karena tidak sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Seorang hamba hendaklah mengikatkan dirinya dengan tali sunnah dan berpegang kepadanya dan jangan sekali-kali ia membiasakan suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan sunnah dengan alasan bahwa ia lakukan itu sebagai cinta dia kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan diantara yang menjelaskan itu juga adalah kisah seorang sahabat yang menyembelih hewan kurbannya sebelum shalat Idul Adha. Tentunya ia menyembelih hewan kurbannya tersebut bukan karena niat yang buruk, pasti niatnya baik sekali, pasti tujuannya bagus sekali. Akan tetapi karena itu tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah, apa kata Rasulullah?

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Sembelihanmu itu sembelihan daging biasa, bukan qurban sama sekali.” (HR. Bukhari)

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seakan mengingatkan bahwasanya jika kamu menginginkan sesuai dengan sunnah, kalau kamu mau menyembelih sesuai dengan syariat, seakan-akan beliau mengatakan: “Ikuti sunnah Rasulullah, sembelihlah dengan apa yang disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,” yaitu menyembelih hewan kurban tersebut setelah shalat Idul Adha.

Lihatlah bagaimana sahabat ini melakukan suatu perbuatan yang dia niatnya baik, tujuannya baik, akan tetapi perbuatannya tidak sesuai dengan sunnah Rasul. Padahal berkurban itu ada syariatnya dalam agama, tapi ketika dilakukan tidak sesuai dengan perbuatan Rasulullah, ternyata ditolak. Bagaimana apabila perbuatan itu tidak ada asalnya sama sekali?

Maka dari itu janganlah seseorang berkata begini: “Aku tidak melakukan ini kecuali karena aku ingin mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aku melakukan perbuatan-perbuatan ini semuanya dalam rangka mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Maka kami berkata kepadanya: “Cintamu kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memang bagus, tapi ingat, kamu pun harus sesuai dengan syariat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bukan sebatas cinta, akan tetapi harus direalisasikan dengan kesesuaian diri atau ibadah kita dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kesimpulan Tabligh Akbar Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dan kesimpulannya -kata beliau- bahwa kita ingin tata cara kita mencintai Rasulullah dan manhaj kita dalam mencintai Rasulullah, yaitu seperti tata cara Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan seluruh para sahabat. Ia adalah tata cara yang paling baik, manhaj yang paling lurus, yang jauh dari sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan. Ia adalah tata cara yang diberkahi, yang diatasnyalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Lihatlah oleh kita bagaimana keadaan sebagian manusia dizaman ini, mereka melakukan perbuatan-perbuatan dan tidak ada asalnya dari syariat dan tidak ada asalnya dari petunjuk Nabi, tidak pula dari petunjuk para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan ketika ada orang bertanya: “Kenapa kamu melakukan perbuatan sementara para sahabat tidak melakukannya? Apakah kamu hendak mengklaim bahwa kamu lebih mencintai Rasulullah dari para sahabat? Bahwasanya kamu lebih cinta kepada Rasulullah daripada cintanya para sahabat kepada Rasulullah? Kenapa para sahabat tidak mengamalkan perbuatan itu?”

Jawabannya hanya satu, karena para sahabat adalah orang yang cintanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan cinta yang benar, cinta yang disertai dengan ittiba’ (mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), bukan sebatas cinta tapi mudian ia melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Doa Penutupan Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Beliau menutup pertemuan kita ini dengan doa beliau:

“Ya Allah, aku memohon kepada Engkau untuk bisa mencintaiMu, mencintai orang-orang yang mencintaiMu, dan mencintai amalan yang bisa mendekatkan diriku kepada cintaMu.”

“Ya Allah, perbaikilah untuk kami agama kami yang merupakan perlindungan urusan kami. Dan perbaikilah dunia kami yang merupakan kebaikan akhirat kami. Dan jadikanlah kehidupan kami sebagai tambahan untuk kebaikan dan jadikan kematian itu sebagai peristirahatan dari berbagai macam keburukan.”

“Ya Allah, berikan kepada jiwa kami ketaqwaannya. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan. Dan jangan Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki kepada mereka.”

“Ya Allah, berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat pun kebaikan. Ya Allah, perbaikilah urusan kami dan jangan Engkau serahkan kepada kami sekejap mata pun juga.”

“Ya Allah, berikan kepada kami tambahan iman  dan jadikan kami sebagai orang-orang yang memberikan hidayah kepada manusia.” Dan akhir seruan kami adalah mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Video Kajian Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Sumber video: Rodja TV – Cinta Rasulullah (Syaikh Abdurrozaq bin Muhsin Al Abbad Al Badr)

Mari turut menyebarkan kajian Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

Pembahasan: Hadits mencintai rasulullah, cara mencintai rasulullah, mencintai nabi muhammad, bukti cinta kepada rasul, cara mencintai dan memuliakan rasul, pengertian mencintai rasul, keutamaan mencintai rasulullah, kultum cara mencintai rasulullah.

COMMENTS

Saudaraku, silahkan login atau daftar terlebih dahulu ya. Barakallahu fiik.
%d blogger menyukai ini: