Cara Menjaga Kelembutan Hati

Cara Menjaga Kelembutan Hati

Materi tentang Cara Menjaga Kelembutan Hati ini adalah catatan kajian yang kami catat dari ceramah singkat yang disampaikan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullahu Ta’ala.

Cara Menjaga Kelembutan Hati

Hati yang lembut adalah merupakan modal keselamatan kita di akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَّ لاَبَنُوْنَ . اِلاَّ مَنْ اَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ .

“(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” Q.S. Asy Syu’ara (26) : 88-89

Allah subhanahu wa ta’ala juga menegur kaum mukminin dalam Al Qur’an;

اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْآ اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِاللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ , وَلاَ يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُواالْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ , وَكَثِيْرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُوْنَ .

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melaui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.” Q.S. Al Hadid (57) : 16

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari hati yang tidak bisa khusyuk karena kerasnya hati.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ, وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ, وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ, وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ.

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan). (HR. Abu Dawud, An Nasa’I, dan Ibnu Majah. Hadits ini shahih)

Maka saudaraku sekalian, kelembutan hati adalah merupakan sumber keselamatan hati. Lembutnya hati kepada iman dan islam. Lembutnya hati kepada ketaatan dan ketakwaan. Lembutnya hati, ketika mendengar ayat-ayat Allah ia bergetar. Lembutnya hati, yang selalu merindukan bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Lembutnya hati, yang merasakan kenikmatan dan kelezatan saat ia beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Itulah hati yang lembut. Mudah menangis ketika mendengarkan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala dibacakan kepadanya.

Sebaliknya, hati yang keras, keras ia tidak bisa menerima peringatan. Keras ia tidak bisa mengambil pelajaran. Keras ia sehingga peringatan-peringatan Al Qur’an, peringatan-peringatan Allah subhanahu wa ta’ala bagaikan angin lalu. Tak memberikan faidah di hatinya. Hati yang keras inilah yang kita khawatirkan, saudaraku. Karena Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwasanya orang-orang ahli kitab setelah mereka diberikan alkitab, ternyata yang terjadi adalah menjadi kerasnya hati mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al Qur’an ;

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْ بَعْدِ ذلك فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةً, …

“Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. …” Q.S. Al Baqarah (2) : 74

Mengapa Allah subhanahu wa ta’ala mengumpamakan hati yang keras bagaikan batu, bukan seperti besi ataupun baja? Karena besi dan baja jika dimasukkan ke dalam api, ia akan meleleh. Sedangkan batu, jika dimasukkan ke dalam api, ia tidak akan meleleh.

Saudaraku sekalian, bagaimana caranya agar kita bisa menjaga kelembutan hati kita?

Pertama, menjauhi maksiat

Yang pertama, adalah menjauhi maksiat.

Karena maksiat adalah sumber utama kerasnya hati. Maka dari itu, orang yang paling keras hatinya, adalah orang yang paling banyak maksiatnya terhadap Allah subhanahu wa ta’ala. Semakin seseorang berani berbuat maksiat, semakin menunjukkan betapa keras hatinya. Bahkan kemudian bukan hanya berbuat maksiat, dia berani menentang ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala.

Kedua, taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala 

Saudaraku sekalian,

Yang kedua, adalah taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Karena ketaatan itulah yang melembutkan hati kita. Banyak ketaatan yang bisa melembutkan hati. Contohnya yang pertama adalah sholat. Dengan dipeliharanya kekhusyu’an kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Yang kedua adalah membaca Al Qur’an. Kemudian yang ketiga adalah memperbanyak dzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena Al Qur’an itu adalah obat yang ada di hati kita.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يّاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاّءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَ شِفّاّءٌ لِّمَا فِى الصُّدُورِ, وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Wahai manusia. Sesungguhya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Q.S. Yunus (10) : 57

Lihatlah! Al Qur’an itu adalah penyembuh bagi penyakit yang ada di hati. Oleh karena itulah, lembutkan hati kita dengan Al Qur’an, perbanyaklah membaca Al Qur’an. Sediakan waktu-waktu kita untuk banyak membaca Al Qur’an. Jika kita banyak membaca WhatsApp, banyak membaca Facebook, dimana waktu kita untuk Al Qur’an?

Saudaraku sekalian,

Biasakanlah lisan kita untuk berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena lisan yang selalu berdzikir, dia akan terlindungi dari godaan setan yang terkutuk. Ibnu Abbas berkata;

“Setan itu selalu memperhatikan hati anak Adam. Jika dia berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dia (setan) bersembunyi. Jika ia lalai, ia (setan)pun memberikan rasa was-was dan godaannya kepada manusia.”

Ketiga, berpuasa

Saudaraku sekalian,

Cara melembutkan hati yang ketiga, adalah berpuasa. Orang yang berpuasa, hatinya lembut. Cobalah rasakan saat Anda berpuasa. Hati Anda akan selalu condong kepada ketaatan. Ketika kita berpuasa, hati kita lembut, bahkan mudah menangis ketika membaca ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala.

Keempat, berbuat baik kepada anak yatim

Yang keempat, adalah berbuat baik kepada anak yatim.

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ada seorang sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengeluh kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kerasnya hatinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“dekatkanlah anak yatim kepadamu, usap kepalanya, maka hatimu akan menjadi lembut.”

Bayangkan. Mengusap kepala anak yatim, berbuat baik kepada anak yatim, bisa melembutkan hati kita.

Kelima, duduk di majelis ilmu

Diantara perkara yang bisa melembutkan hati, saudaraku sekalian, yang kelima adalah dengan duduk di majelis ilmu. Majelis yang dibacakan padanya ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala, sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ini adalah sesuatu yang sangat kuat sekali untuk melembutkan hati kita. Karena di majelis tersebut kita mendengarkan nasihat-nasihat dari Allah subhanahu wa ta’ala , yang isinya adalah seruan untuk menuju Allah subhanahu wa ta’ala dan kehidupan akhirat.

Dan inilah saudaraku, kita harus berusaha. Untuk melembutkan hati itu tidak bisa kita berleha-leha, tidak bisa kita bersenang-senang. Untuk melembutkan hati, kita butuh kepada perjuangan, butuh kepada usaha keras. Bagaimana agar hati kita ini menjadi lembut. Sebab, tanpa usaha, kita tidak akan bisa. Tanpa munajat dan berjihad melawan hawa nafsu, kita tidak akan bisa.

Saudaraku sekalian, berusahalah dan terus meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala, agar hati kita dilembutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan agar kita diberikan kekuatan untuk menjaga kelembutan hati kita.

Wa billahi taufiq wal hidayah. Subhanakallahumma wa bihamdika asy-hadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Sumber video Cara Menjaga Kelembutan Hati

Demikianlah Untaian Mutiara Nasihat Tentang Cara Melembutkan Hati ini. Semoga catatan kami ini bermanfaat untuk kita semua.
Mari turut menyebarkan Untaian Mutiara Nasihat Tentang Cara Melembutkan Hati ini di media sosial yang Anda miliki. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Baarakallahu fiikum..
Baca Juga:  Kultum Singkat Tentang Perjuangan Menundukkan Hawa Nafsu

COMMENTS

Saudaraku, silahkan login atau daftar terlebih dahulu ya. Barakallahu fiik.
%d blogger menyukai ini: