Cara Mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Cara Mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

ceramah tentang gowes

Cara Mencintai Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ini adalah apa yang bisa kami ketik dari tabligh akbar yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. 'Abdur

Kiat-Kiat Agar Bisa Hemat Waktu
Bagaimana cara mencintai wali-wali Allah?
Ceramah Singkat Tentang Cara Ngaji Yang Benar di Medsos

Cara Mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini adalah apa yang bisa kami ketik dari tabligh akbar yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafidzahumullahu Ta’ala.

Lihat sebelumnya: Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Bagaimana cara mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sebenar-benarnya?

Menit-30:55 Kata beliau, cobalah kita ingin melihat bagaimana mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sebenar-benarnya? Yaitu dengan melihat sejarah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bagaimana perjalanan hidup para sahabat yang mereka sangat cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tidak ada orang yang sangat cinta kepada Rasulullah daripada para generasi para sahabat. Dan bukti-bukti yang menunjukkan kepada hal ini sangat banyak. Diantaranya yaitu yang ada di dalam shahih Bukhari dari hadits Abu Mas’ud As-Saqafi, dia berkata: “Sungguh aku pernah mendatangi raja-raja dan aku tidak pernah melihat ada seorang raja yang sangat dicintai oleh pengikutnya kecuali Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dimana para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melebihi dari pada diri mereka sendiri.” (HR. Bukhari)

Saudara-saudaraku, sesungguhnya cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan sebatas klaim semata. Akan tetapi cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hakikat yang agung, yang tentunya akan memberikan pengaruh dan bekas pada diri seseorang. Oleh karena itu mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan memberikan tanda-tanda kepada pelakunya bila memang cinta itu adalah cinta yang betul-betul jujur dari hatinya. Maka engkau akan menemukan tanda-tanda orang-orang yang mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ittiba’ dan berpegang kuat kepada sunnah

Yang pertama dan ini yang paling agung, tanda orang yang mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berpegang kuat kepada sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan Allah Ta’ala telah menyebutkan itu dan surat Ali Imran:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّـهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّـهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakan (Hai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (yaitu Rasulullah), niscaya Allah akan mencintai kamu dan Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu.” (QS. Ali-Imran[3]: 31)

Oleh karena itu Ibnul Qayyim berkata bahwasanya ayat ini merupakan hakim atas setiap orang yang mengklaim bahwa dirinya mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Siapa saja yang mengklaim bahwa dirinya mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tapi dia tidak mengikuti sunnahnya, ia tidak berpegang kepada sunnahnya, tentu cintanya menjadi sebuah cinta yang dusta kepadanya.

Oleh karena itu para ulama berkata ayat ini disebut dengan ayat ujian. Artinya ujian bagi mereka yang mengaku bahwa dirinya mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Saudara-saudaraku, sesungguhnya ayat ini memberikan bimbingan kepada kita. Bahwasannya cinta yang betul-betul jujur adalah cinta yang disertai dengan ittiba’, yaitu mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam kehidupannya, didalam kesehariannya. Adapun orang-orang yang mengaku dirinya mencintai Rasul akan tetapi ia tidak mau mengikuti Rasulullah, tidak mau ia berpegang kepada sunnahnya, maka ini bukanlah tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang benar.

Perhatikanlah saudaraku yang mulia, sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan hadits itu adalah hadits yang hasan. Dari salah seorang sahabat, ia berkata: “Kami berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu beliau meminta air untuk berwudhu. Lalu beliau pun berwudhu dengannya. Lalu kami pun mengikutinya. Lalu kemudian kami meminum air wudhu yang beliau berwudhu dengannya tersebut. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepadanya: ‘Kenapa kalian lakukan itu?'”

Artinya sahabat ini ketika melihat ada air sisa wudhu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, diambilnya lalu kemudian diminumnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: “Kenapa kalian melakukan seperti itu?” Lalu sahabat ini berkata: “Aku mencintai Allah dan RasulNya.” Kata Rasulullah: “Jika kalian memang mencintai Allah dan RasulNya dan jika kalian suka Allah dan RasulNya mencintai kalian, maka laksanakanlah amanah dan jujurlah dalam berkata dan berbuat baiklah kepada karib kerabat dan tetangga.”

Lihatlah bagaimana tanda yang Rasulullah sebutkan dalam hadits ini. Bahwasanya mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tiada lain dengan cara ittiba’, yaitu mengikuti Rasulullah dan berpegang kepada manhaj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Banyak mengingat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Kemudian tanda yang kedua yaitu memperbanyak dengan mengingat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu memperbanyak shalawat kepada beliau. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkat penyebutan Rasulullah, Allah telah memberikan kemuliaan dan keharuman nama. Maka dari itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam beberapa ibadah, seperti adzan, seperti iqamah, seperti tasyahud dan beberapa tempat yang lainnya, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan menyebutkan nama beliau di tempat-tempat tersebut.

Dan memperbanyak mengingat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam caranya bagaimana? Yaitu dengan cara:

Yang pertama, mempelajari bagaimana kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, perjalanan hidupnya, perjuangannya, demikian pula memperhatikan bagaimana akhlak beliau, bagaimana adab-adab beliau, bagaimana kehidupan beliau, keseharian beliau, selain ia mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berpegang kepada manhajnya.

Dan tentunya juga ia berusaha untuk semangat untuk banyak mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Terlebih ketika kita mendengar nama Nabi Muhammad disebutkan. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

البَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang yang bakhil itu adalah orang yang disebutkan nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di sisinya, akan tetapi ia tidak bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Tirmidzi)

Ingin melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Kemudian diantara tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu mempunyai keinginan kuat dan kerinduan untuk melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Disebutkan dalam shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا، نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ

“Sesungguhnya umatku yang paling cinta kepadaku, ada seorang dari umatku nanti setelahku dan dia sangat ingin untuk melihatku walaupun dia harus mengorbankan keluarga dan harta benda.” (HR. Muslim)

Lihatlah bagaimana kerinduan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kekuatan untuk senantiasa mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan tentunya kerinduan ini akan menimbulkan ittiba’ dan senantiasa menapaki jejak kaki Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Diantara tanda-tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkan demikian di dalam ayat-ayatNya. Diantaranya yaitu firmanNya:

لَّا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُم بَعْضًا

Jangan kalian jadikan memanggil Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu seperti memanggil sebagian kalian kepada sebagian yang lainnya.” (QS. An-Nur[24]: 63)

Demikian pula Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ…

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengangkat suara kalian diatas suara Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (QS. Al-Hujurat[49]: 2)

Maka kewajiban seorang hamba adalah untuk mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pengagungan yang layak kepadanya, dengan pengagungan yang menunjukkan akan kecintaan dan mengenal haknya, dengan pengagungan yang mengharuskan dia mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pengagungan dengan lisan juga, yaitu dengan cara memujinya, yang tentunya pujian-pujian yang tidak disertai dengan ghuluw (sikap berlebih-lebihan) ataupun java’ (sikap meremehkan). Pengaguman itu juga dengan anggota badannya, dengan cara mengikuti kehidupan Rasulullah, mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berpegang kepada manhajnya. Sebagaimana Allah Ta’ala menyebutkan demikian dalam Al-Qur’an:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sungguh telah ada pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam uswah yang baik.”

Untuk siapa?

لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا

Bagi orang yang menginginkan Allah dan kehidupan akhirat dan ia banyak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)

Memperbanyak shalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi

Menit-55:23 Dan diantara tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu memperbanyak bershalawat dan mengucapkan salam kepadanya. Terlebih -kata beliau- sangat dianjurkan untuk mengucapkan shalawat dan salam ketika disebutkan nama beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan juga sangat ditekankan terutama dihari Jumat, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَكْثِرُوا مِنَ الصَّلَاةِ عَلَيَّ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ ولَيْلَةِ الْجُمْعَةِ

“Perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari Jumat dan pada malam Jumat.”

Ini adalah hadits yang hasan. Oleh karena itu Imam Syafi’i Rahimahullah berkata:

أحبّ كثرة الصلاة على النبي صلّى الله عليه وسلّم في كل حال، وأمّا في يوم الجمعة وليلتها فأشدّ استحباباً

“Aku suka untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada setiap keadaan. Adapun pada hari Jumat, maka itu lebih aku sukai lagi untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Mencintai keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Menit-57:27 Dan diantara tanda kejujuran cinta seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu mencintai keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mencintai Ahlul Bait Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mencintai para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Demikian pula mencintai istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mencintai mereka-mereka yang menjadi sahabat Rasulullah, karena Allah telah memberikan kepada mereka berbagai macam keistimewaan. Dimana mereka melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dimana mereka diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk langsung mengambil ilmu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu Allah memuji mereka dalam ayatNya:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ…

Kalian adalah sebaik-baiknya umat yang dikeluarkan untuk manusia.” (QS. Ali-Imran[3]: 110)

Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baiknya manusia adalah generasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya.”

Mencintai orang-orang yang berpegang kepada sunnah

Menit-1:00:02 Dan diantara tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu mencintai orang-orang yang berpegang kepada sunnah, mencintai orang-orang yang menyeru kepada kebenaran, menyeru kepada petunjuk, yang senantiasa mereka menyeru kepada jalan Allah. Disebutkan dalam shahih Bukhari dari hadits Ibnu Mas’ud bahwasanya datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu ia berkata: “Bagaimana pendapatmu Wahai Rasulullah tentang seseorang yang mencintai suatu kaum tapi dia tidak bertemu dengan mereka?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang itu akan bersama dengan yang ia cintai.” (HR. Bukhari)

Maka mencintai pembawa sunnah termasuk mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mencintai para Dai kepada sunnah, itu termasuk mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan diantara bahaya yang paling agung, yaitu seseorang membenci para pemegang sunnah, membenci orang-orang yang membawa sunnah dan menyerukan kepada sunnah.

Mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kecintaan Islam

Menit-1:02:53 Diantara tanda cinta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam -dan ini adalah tanda terakhir yang akan saya sebutkan- yaitu kita mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kecintaan Islam.

Maksudnya yaitu cinta yang tidak pernah berlebihan dan cinta yang tidak meremehkan. Coba perhatikan sebuah atsar berikut ini yang dikeluarkan dari Al-Hakim, dari Yahya bin Said, ia berkata: “Kami pernah berada di sisi ‘Ali bin Husain, lalu datanglah suatu kaum dari Kufah kepada ‘Ali bin Abi Thalib. Lalu ‘Ali bin Abi Thalib berkata: ‘Wahai penduduk Irak, cintailah kami dengan kecintaan Islam. Karena aku mendengar ayahku berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Wahai manusia, jangan kalian mengangkat aku melebihi kedudukanku. Karena Allah telah menjadikan aku sebagai seorang hamba sebelum aku diangkat sebagai seorang Rasul.'”

Perhatikan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib ini: “Cintailah kami dengan kecintaan Islam.” Artinya kecintaan yang tengah-tengah, yang betul-betul benar, yang tidak terdapat padanya sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dan tidak pula bersikap meremehkan atau melecehkan.

Selayak agar kita bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak bersikap melecehkan. Karena sebaik-baiknya urusan adalah yang tengah-tengah, tidak berlebih-lebihan dan tidak melecehkan. Dan manusia dalam masalah ini terbagi menjadi tiga kelompok:

Kelompok pertama, orang-orang yang tidak berlebih-lebihan kepada Rasulullah dan tidak pula melecehkan. Dan sudah kita sebutkan tandanya sebelum ini, yaitu tentang orang-orang yang mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kelompok kedua, yaitu orang-orang yang melecehkan dan meremehkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kelompok ketiga, orang-orang yang berlebih-lebihan dan cintanya kepada Rasulullah begitu berlebih-lebihan sehingga mendudukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melebihi kedudukan beliau sebagai seorang manusia biasa dan RasulNya. Barangkali aku akan menyebutkan sebagian tanda-tanda sikap yang meremehkan yang berhubungan dengan masalah ini.

Sikap meremehkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Baca di sini: Sikap meremehkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Video Kajian Cara Mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Sumber video: Rodja TV – Cinta Rasulullah (Syaikh Abdurrozaq bin Muhsin Al Abbad Al Badr)

Mari turut menyebarkan kajian Cara Mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: