Mencintai Wali-Wali Allah

Mencintai Wali-Wali Allah

Mencintai Wali-Wali Allah ini adalah apa yang bisa kami ketik dari tabligh akbar yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafidzahumullahu Ta’ala.

A. Mukaddimah Tabligh Akbar Tentang Mencintai Wali-Wali Allah

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarganya dan sahabatnya serta umatnya yang senantiasa mengikuti tuntunannya hingga hari akhir nanti.

Ya Allah, sesungguhnya tidak ada ilmu yang kami miliki kecuali yang Engkau ajarkan kepada kami, maka ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, tambahkan terus kepada kami ilmu dan perbaiki selalu kondisi kami.

Ya Allah, Sesungguhnya kami memohon kepadaMu agar bisa cinta kepadamu dan juga mencintai orang-orang yang mencintaiMu serta mencintai setiap amalan yang mengantarkan kami kepada kecintaanMu.

Ya Allah, berikanlah kepada jiwa kami ketakwaan dan sucikanlah jiwa kami. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik yang mensucikan jiwa.

Waktu ini adalah waktu yang sangat membahagiakan. Saudara-saudara kami yang mulia, kita semua berkumpul di salah satu diantara rumah-rumah Allah ‘Azza wa Jalla yang memang diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk diangkat dan untuk mensyiarkan ajaran Islam. Tempat ini adalah merupakan tempat yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan apa yang kita lakukan saat ini, yaitu berkumpul untuk mempelajari agama adalah salah satu ibadah yang sangat mulia. Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، ويتَدَارسُونَه بيْنَهُم

“Seandainya ada sekelompok orang yang berkumpul di salah satu di antara rumah-rumah Allah, di dalamnya mereka membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya,

إِلاَّ نَزَلتْ علَيهم السَّكِينَة

“malainkan mereka akan mendapatkan ketenangan di dalam jiwanya.”

وَحَفَّتْهُم الملائِكَةُ

“Dan akan dikelilingi oleh para malaikat di sekeliling kita semuanya.”

وغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَة

“Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meliputi kita dengan rahmat dan kasih sayang dariNya.”

وذَكَرهُمْ اللَّه فيِمنْ عِنده

“Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyebut-nyebut nama kita dan membanggakan kita di hadapan para malaikat yang ada di sisiNya.”

Sangat membahagiakan bagi beliau, pada pertemuan diawal ini untuk mengucapkan selamat datang kepada jamaah sekalian, kaum muslimin dan kaum muslimin yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan setiap langkah yang kita ayunkan menuju tempat ini menjadi sesuatu yang berpahala nanti pada hari kiamat, InsyaAllah.

Dan juga beliau tahu banyak bahwa di antara jama’ah sekalian untuk datang ke tempat ini melalui perjalanan yang sangat jauh dan juga telah capek, lelah, akan tetapi semoga ini semua bisa memberatkan amal timbangan kita pada hari kiamat.

Beliau -atas nama pribadi dan juga atas nama kita semua- mengucapkan ribuan terima kasih kepada para panitia penyelenggara yang telah menghabiskan waktu dan tenaganya untuk mensukseskan acara ini dan setiap pihak yang ikut membantu dijalankannya dan suksesnya acara ini, terutama Bapak Patrialis Akbar, Mahkamah Konstitusi dan juga bapak Muzammil Basuni, ketua takmir Masjid Istiqlal dan juga segenap kru Radio Rodja serta siapapun yang ikut mensukseskan acara ini.

Sesungguhnya orang yang mengantarkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengajarkannya atau yang mengamalkannya. Dan beliau akan mengulangi sebuah kalimat yang berkali-kali beliau sampaikan di masjid ini. Bahwa masyarakat dan bangsa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat spesial di hati beliau. Karena beliau melihat bahwa secara umum rakyat Indonesia itu terkenal dengan kelembutannya, dengan sopan santunnya, dengan tutur katanya yang baik, keinginan untuk melakukan kebaikan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menambahkan taufik kepada negeri kita dan semoga kita senantiasa aman dan sentosa, insyaAllah.

InsyaAllah kita akan mengawali kajian kita, yaitu mencintai wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita awali kajian ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Allah berkenan mengaruniakan kepada kita kecintaan yang sejati kepada para wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan semoga Allah membersihkan hati kita dari kebencian dan kedengkian kepada orang-orang mulia pilihan-pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan semoga Allah mengampuni saudara-saudara kita yang terlebih dahulu mendahului kita menghadap kepada Allah dengan membawa keimanan.

Ya Allah, jadikanlah kami senantiasa mencintaiMu dan mencintai orang-orang yang mencintaiMu serta mencintai amalan yang bisa menghantarkan kepada kecintaan kepadaMu.

1. Wajibnya mencintai wali-wali Allah

Menit-13:38 Pertama, perlu kita ketahui bahwasannya mencintai para wali Allah adalah merupakan salah satu amal ibadah yang disyariatkan di dalam agama kita. Dengan mencintai (wali) Allah, kita akan lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab mencintai wali Allah adalah merupakan salah satu tali simpul keimanan yang paling kuat.

Di dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْحَبُّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ

“Simpul keimanan yang paling kuat adalah ketika kita cinta karena Allah dan juga membenci karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Ath-Thabrani)

Di dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ للهِ، وَأَبْغَضَ للهِ، وَأَعْطَى للهِ، وَمَنَعَ للهِ، فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانَ

“Barangsiapa yang mencintai orang lain karena Allah dan membenci orang lain juga karena Allah, dia memberi orang lain karena Allah dan tidak memberi juga karena Allah, sungguh imannya telah sempurna.” (HR. Abu Dawud, no. 4681 dan al-Baghawi, no. 3469.)

Sehingga mencintai wali Allah adalah merupakan salah satu tali simpul terkuat keimanan seorang hamba. Dan dengannya iman seorang hamba akan sempurna.

Oleh karena itu wajib hukumnya bagi kita untuk mencintai wali-wali Allah, kekasih-kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan jangan sampai ada di dalam hati kita kebencian dan juga rasa hasad dan dengki kepada mereka. Salah satu doa yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk kita baca:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu agar aku bisa mencintaiMu, dan mencintai orang-orang yang senantiasa mencintaiMu, dan jadikanlah aku mencintai amalan-amalan yang bisa mendatangkan kecintaanMu kepadaku.”

Di dalam doa ini, kalimat yang dibaca Allah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Mencintai orang-orang yang mencintaiMu,” maka di dalamnya masuk para wali Allah ‘Azza wa Jalla.

2. Membenci wali Allah adalah perbuatan dosa besar

Menit-18:36 Tadi sudah kita sampaikan bahwa mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan juga mencintai wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah merupakan sebuah ibadah yang sangat agung. Maka sebaliknya, membenci wali-wali Allah, memusuhi mereka adalah merupakan sebuah perbuatan dosa besar. Karena membenci para wali Allah tidak akan terjadi kecuali karena ada penyakit di dalam hati hamba tersebut. Dan itu menunjukkan pula bahwa keimanannya bermasalah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bernama Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau bersabda, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

“Barangsiapa yang memusuhi waliku, maka sungguh Aku telah mengumumkan perang kepada orang tersebut.” (HR. Bukhari)

Para ulama kita menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan membenci para wali Allah merupakan sebuah dosa besar. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumumkan perang kepada orang tersebut. Kenapa bisa demikian? Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai para wali-waliNya dan mencintai orang-orang yang mencintai para walinya. Begitu sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci orang-orang yang membenci para wali-waliNya. Oleh karena itu merupakan sebuah bahaya besar bahwa membenci para wali-wali Allah bahkan itu termasuk dosa yang besar.

B. Bagaimana cara mencintai wali-wali Allah?

Menit-23:15 Kewajiban seorang muslim dalam menyikapi para wali adalah memadukan antara dua hal; yang pertama adalah kebersihan hati dan yang kedua adalah menjaga lisan. Dua hal ini dipadukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam sebuah ayat Al-Qur’an. Ketika Allah ‘Azza wa Jalla bercerita tentang orang-orang yang beriman:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ ﴿١٠﴾

Dan orang-orang yang datang setelah para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Ya Allah ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah wafat sebelum kami dengan membawa keimanan. Dan janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami perasaan hasad kepada orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Al-Hasyr[59]: 10)

Ayat ini mengajarkan kepada kita dua hal penting. Yaitu:

1. Kita wajib menjaga lisan kita

Apalagi kepada para wali-wali Allah. Yang keluar dari lisan kita ketika berbicara tentang mereka adalah kebaikan, doa, dzikir, senantiasa menjaga lisan kita untuk tidak mencela mereka, untuk tidak mencaci mereka, untuk tidak mendiskreditkan mereka. Akan tetapi kita senantiasa mendoakan:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

“Ya Allah ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah wafat sebelum kami dengan membawa keimanan.

2. Kebersihan hati

Dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam kelanjutan ayat yang tadi saya baca:

وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami perasaan dengki, iri, hasad kepada orang-orang yang beriman.”

Sehingga hatinya senantiasa bersih. Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan hadits ini adalah hadits shahih, beliau pernah ditanya oleh salah seorang sahabatnya: “Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia tersebut?” maka beliau mengatakan:

صَدُوقُ اللِّسَانِ، مَخْمُومُ الْقَلْبِ

“Orang yang lisannya paling jujur dan hatinya paling bersih.”

Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, lisan yang jujur kami sudah paham. Apa maksud dari hati yang bersih itu?” maka beliau mengatakan:

التَّقِيُّ النَّقِيُّ ، لَا إِثْمَ فِيهِ ، وَلَا بَغْيَ ، وَلَا غِلَّ ، وَلَا حَسَدَ

“Hati yang penuh dengan ketakwaan, hati yang suci yang tidak ada dosa di dalamnya, tidak ada kedengkian kepada orang-orang yang beriman.” (HR. At-Tirmidzi)

C. Siapakah wali-wali Allah?

Menit-29:27 Setelah kita mengetahui bahwasannya mencintai wali Allah merupakan salah satu ibadah yang sangat mulia, maka tentunya wajib bagi kita untuk mengetahui siapakah wali-wali Allah tersebut? Sebab ketika kita tidak memahami siapa wali-wali tersebut, bisa jadi akan tercampur antara yang wali dengan yang bukan wali sehingga akan mencintai orang yang bukan wali atau membenci yang wali.

Oleh karena itu masalah mengetahui siapakah wali Allah adalah sebuah masalah yang sangat urgent untuk kita ketahui.

1. Para Nabi dan Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam

Pertama, wali Allah yang paling istimewa, kekasih Allah yang paling tinggi derajatnya adalah para Nabi dan para Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam. Sebab mereka adalah menusia-manusia yang paling dicintai oleh Allah di muka bumi ini. Karena itu para ulama kita mengatakan bahwa setiap Nabi adalah wali. Karena para Nabi memiliki akhlak-akhlak yang sangat mulia, kriteria-kriteria yang sangat tinggi yang diantaranya adalah kedekatan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan mereka merupakan panutan yang harus kita contoh ketika kita mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Para sahabat Nabi

Setelah para Nabi dan para Rasul, maka para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sesungguhnya para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling utama di muka bumi ini setelah para Nabi dan para Rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Baca Juga:  2# Hati Yang Bersih Akan Ittiba' dan Cinta Kepada Sunnah Nabi

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

Kalian (wahai para sahabat) adalah merupakan sebaik-baik manusia.” (QS. Ali-Imran[3]: 110)

Dan para sahabat adalah merupakan sebaik-baik manusia yang dilahirkan di muka bumi ini. Dan tentunya di antara para sahabat bertingkat-tingkat keutamaannya, yang paling utama adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu, kemudian ‘Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu dan juga sahabat-sahabat berikutnya yang lainnya.

3. Orang-orang yang setia mengikuti ajaran mereka

Setelah itu baru kemudian orang-orang yang setia mengikuti ajaran mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ

Orang-orang yang terdahulu yang masuk Islam dari kalangan muhajirin dan juga golongan anshar, dan orang-orang yang senantiasa setia mengikuti jejak para sahabat tersebut.” (QS. At-Taubah[9]: 100)

Inilah golongan berikutnya setelah para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

D. Pengertian Wali Allah

Menit-33:53 Pertama, kita perlu mengetahui wali itu artinya apa? Dalam bahasa Arab, wali itu diambil dari kata ولاية (kedekatan). Jadi wali adalah orang yang dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu dekat dengan keshalihan amalan yang mereka lakukan. Semakin shalih amalan yang mereka lakukan, maka akan semakin dekat kedudukan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, semakin buruk amalan yang mereka lakukan, maka akan semakin jauh mereka dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka derajat kewalian itu bertingkat-tingkat, tidak satu level. Jadi kedekatan seorang hamba kepada Allah berbeda-beda. Semakin tinggi tingkat keshalihan seorang hamba, semakin baik amal shalih yang dia lakukan, maka dia akan semakin dekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Begitu pula sebaliknya, semakin sedikit amalan shalih yang dia kerjakan, maka dia akan semakin jauh dari Allah ‘Azza wa Jalla.

E. Kriteria para wali Allah

Ketika kita bertanya, apa sebenarnya kriteria para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut? Sifat-sifatnya apa, bagaimana kita mengetahui ini wali Allah dan ini bukan. Jawaban dari pertanyaan tersebut ada di dalam Al-Qur’an dan juga ada dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasul yang menjelaskan hal tersebut. Akan tetapi pada pertemuan ini kita hanya akan mengambil satu ayat dan satu hadits mengenai poin pembahasan tersebut.

1. Firman Allah tentang kriteria wali Allah

Adapun ayat dari Al-Qur’an adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّـهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾

Ketahuilah bahwasannya para wali Allah tidak ada rasa takut dalam hati mereka dan mereka tidak tidak akan pernah merasa sedih.” (QS. Yunus[10]: 62)

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang keistimewaan para wali Allah ini, seakan-akan ada yang bertanya, siapakah para wali Allah tersebut? Apa sifat-sifat mereka? Maka kemudian Allah ‘Azza wa Jalla melanjutkan firmanNya:

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ﴿٦٣﴾

Para wali Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan juga seenantiasa bertakwa kepadaNya.” (QS. Yunus[10]: 62)

Beriman

Oleh karena itu para ulama menyimpulkan dari ayat yang tadi kita baca:

من كان مؤمناً تقيّاً كان لله وليّاً

“Setiap orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah berarti dia adalah walinya Allah ‘Azza wa Jalla.”

Akan tetapi tentu levelnya berbeda-beda. Semakin seseorang imannya tinggi dan takwanya tinggi, maka kedekatan dia kepada Allah pun akan semakin tinggi, semakin berkurang, maka akan semakin berkurang.

1. Beriman

Apa yang dimaksud dengan iman?

Yang pertama tentu adalah beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pencipta kita semua, beriman bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah yang memberi rizki kepada kita semuanya, beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatur alam semesta ini, beriman dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang mulia dan meyakini tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memurnikan seluruh ibadah kita hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Setelah itu kemudian kita beriman dengan rukun-rukun iman berikutnya yang disebutkan di dalam banyak ayat Al-Qur’an. Diantaranya iman kepada Allah, kepada para malaikat, kepada hari akhir, para Rasul, kepada takdir dan seterusnya. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كُلٌّ آمَنَ بِاللَّـهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ

Mereka semuanya beriman kepada Allah, kepada malaikat, kepada rasul, kepada kitab-kitab Allah.” (QS. Al-Baqarah[2]: 285)

Ini semua adalah bagian dari keimanan yang dengannya seseorang akan mendapatkan derajat kewalian.

2. Bertakwa

Menit-42:27 Kriteria yang kedua adalah takwa. Takwa adalah menjalankan setiap perintah Allah dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta menjauhi larangan Allah dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika kita cermati dua kriteria ini, iman dan takwa, iman adalah aqidah yang benar di dalam hati. Sedangkan takwa adalah praktek amaliah dengan amal shalih dengan seluruh fisik kita.

Dengan kita memperhatikan dua kriteria ini, maka kita akan menemukan dan bisa menyimpulkan bahwa para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala itu dalam dan luarnya bagus, lahir dan batinnya bagus, batinnya diisi dengan keimanan dan tauhid yang murni kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan lahiriyahnya senantiasa istiqamah menjalankan perintah-perintah Allah dan amal-amal shalih.

Makanya seorang Salaf pernah ditanya apakah takwa tersebut? Apakah iman wahai ulama? Maka dia mengatakan:

العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ عَلَى نُورٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ

“Senantiasa mengamalkan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian juga berusaha meninggalkan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas cahaya dan tuntunan dari Allah ‘Azza wa Jalla.”

Ketika kita memahami ayat ini, maka kita akan faham wali Allah itu siapa. Jadi, wali Allah adalah orang yang hatinya murni, bersih dengan keimanan kepada Allah dan lahiriahnya senantiasa istiqamah menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Sebagaimana yang tadi disampaikan, para ulama mengatakan: “Barangsiapa yang beriman dan bertakwa, maka dia adalah walinya Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Maka dari sini kita bisa mengetahui bahwa wali bukan lebel, wali bukan julukan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain, asal dipasang satu tahun dua tahun tiga tahun kemudian dilepaskan, tidak demikian. Wali juga bukan pakaian khusus yang dipakaikan oleh seseorang kepada orang yang lain. Akan tetapi kewalian adalah ketika seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Para wali itu tidak mesti memiliki pakaian yang berbeda dengan pakaian orang lain. Para wali tersebut tidak mesti harus memakai pakaian khusus yang menunjukkan derajat kewaliannya. Karena sesungguhnya wali yang paling tinggi kedudukannya, yang paling tinggi levelnya, yaitu Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tapi beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpakaian biasa seperti umumnya para sahabat.

Dan wali bukan lebel, bukan julukan yang harus diberikan oleh seseorang kepada orang yang lain, akan tetapi sesungguhnya kewalian adalah ketakwaan kepada Allah, keimanan kepada Allah, kedekatan seorang hamba kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menjalankan ibadah-ibadah yang disyariatkan olehNya.

2. Hadits tentang kriteria wali Allah

Tadi adalah ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang kriteria wali. Sekarang kita akan membaca hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan tentang kriteria wali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hadits yang akan kita bacakan ini adalah sebuah hadits yang disebutkan di dalam shahih Bukhari.

Para ulama kita mengatakan bahwa hadits ini adalah merupakan hadits yang paling shahih yang berbicara tentang kriteria para wali. Sehingga para ulama kita menjuluki hadits ini sebagai hadits wali. Yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (hadits Qudsi):

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ

“Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku menggumumkan perang kepada orang tersebut.”

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Tidak ada suatu amalan yang dilakukan oleh seorang hamba untuk mendekatkan dirinya kepada Allah yang lebih Aku cintai dibandingkan amalan-amalan yang Aku wajibkan atas mereka.”

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Dan hambaKu seandainya dia terus-menerus melakukan amalan-amalan yang sunnah, maka aku akan mencintai hambaKu itu.”

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ : كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا

“Seandainya Aku mencintai hambaKu, maka Aku akan bimbing pendengaran dia, Aku akan bimbing penglihatan dia, Aku akan bimbing setiap gerakan tangan dan kaki dia.”

وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Andaikan dia minta kepadaKu, niscaya Aku akan berikan, seandainya dia mohon perlindungan kepadaKu, maka Aku akan lindungi dia.” (HR. Bukhari)

Ini adalah merupakan hadits yang sangat agung. Hadits yang berbicara tentang kriteria wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka sungguh Aku menggumumkan perang kepada orang tersebut.” Setelah Allah menyampaikan kalimat ini, seakan-akan ada yang bertanya, siapakah waliMu yang tidak boleh kami benci Ya Allah?

Maka kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab: “Para waliKu adalah orang-orang yang senantiasa mendekatkan dirinya kepadaKu dengan amalan-amalan yang wajib kemudian mengiringinya dengan amalan-amalan yang sunnah.”

F. Level wali-wali Allah

Dari hadits ini para ulama kita menyimpulkan bahwa wali Allah ada dua level.

1. Level muqtashidin (pertengahan)

Siapakah mereka? Yaitu orang-orang yang menjalankan perintah Allah yang hukumnya wajib dan menjauhi segala yang diharam oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang menjalankan kewajiban agama dan menjauhi hal-hal diharamkan oleh Allah, maka dia adalah walinya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam shahih Muslim, bernama Nu’man Ibnu Qauqal Radhiyallahu ‘Anhu, beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Ya Rasulullah, andaikan aku menjalankan shalat lima waktu, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, apakah aku akan masuk surga?”

Maka Nabi mengatakan: “Iya, engkau akan masuk surga.” Maka Nu’man pun mengatakan: “Demi Allah, aku tidak akan menambah setelah itu wahai Rasulullah.” (HR. Muslim)

Jadi seorang hamba ketika menjalankan kewajiban Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah yang hukumnya haram, maka dia termasuk walinya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini adalah level pertengahan.

Di atas level ini adalah level yang lebih tinggi lagi. Yaitu:

2. Level As-Sabiqun (baris terdepan)

Yaitu orang-orang yang senatiasa berada di baris terdepan, yang senantiasa menjalankan ketaatan kepada Allah. Dan ini disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits Qudsi yang tadi saya sampaikan. Yaitu ketika seorang hamba setelah menjalankan kewajiban, dia menambahkan amalan yang hukumnya sunnah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memakai kata “senantiasa”. Artinya istiqamah, senantiasa terus-menerus menjalankan sesuatu yang sunnah, akan tetapi setelah melakukan yang wajib. Jangan sampai dia melakukan sunnah kemudian mengabaikan yang wajib.

Jadi level yang ini adalah orang-orang yang menjalankan kemudian menjalankan yang sunnah. Dan dua level ini disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam banyak ayat di Al-Qur’an. Diantaranya dalam surat Al-Insan, dalam surat Al-Waqi’ah, dalam surat Al-Muthaffifin, dan juga dalam surah Ghafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Ghafir berfirman:

فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ

Ada di antara hambaKu yang mendzalimi dirinya sendiri, meninggalkan kewajiban, melakukan yang haram

Kemudian golongan yang ke-2 Allah sebutkan:

وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ

Dan ada juga golongan yang pertengahan

Ini yang tadi disebutkan, yaitu orang-orang yang tulus senantiasa melakukan kewajiban dan meninggalkan yang haram. Dan golongan yang tertinggi adalah:

وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ

Orang-orang yang senatiasa berada di garda terdepan untuk menjalankan amalan-amalan yang wajib kemudian yang sunnah.” (QS. Fatir[35]: 32)

Dua golongan ini -yaitu orang-orang yang senantiasa menjalankan kewajiban dan menjauhi yang haram (level yang pertama). Dan level yang kedua, setelah melakukan kewajiban menjauhi yang haram lalu dia tambah dengan amalan-amalan yang sunnah- dua level ini akan masuk surga tanpa hisab karena mereka adalah wali-walinya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menit-1:04:27 Jadi, wali Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak harus memakai pakaian khusus atau memakai label tertentu, tidak. Siapapun yang beriman kepada Allah, senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah dan menjauhi hal-hal yang haram, maka dia mendapatkan peluang besar untuk menjadi walinya Allah.

Bisa jadi walinya Allah adalah seorang petani yang bekerja di sawahnya, bisa jadi wali Allah adalah seorang karyawan di pabrik, bisa jadi walinya Allah adalah seorang pedagang di pasar, bisa jadi walinya Allah adalah seorang ahli ibadah di masjid, dan bisa jadi walinya Allah adalah seorang Dai, seorang ulama, seorang mubaligh, bahkan kata Imam Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala sebagaimana diriwayatkan Al-Imam Al-Khatib Al-Baghdadi dalam kitab beliau جامع بيان العلم وفضله:

Baca Juga:  Hakikat Hijrah Artinya Meninggalkan Perkara-Perkara Yang Dilarang Oleh Allah

إن لم يكن العلماء أولياء لله ليس هناك ولي

“Seandainya ulama itu bukan wali, maka tidak ada wali.”

Sehingga ulama adalah merupakan walinya Allah, yaitu mereka yang mempelajari agam aini dengan benar dan teliti, kemudian mengamalkannya dan mendakwahkannya kepada umat manusia. Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan:

فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

“Sesungguhnya keutamaan ulama dibandingkan ahli ibadah, seperti keutamaan bulan purnama dibandingkan bintang-bintang yang ada di langit.”

Kemudian para ulama adalah pewarisnya para Nabi.

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Para ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar, tidak mewariskan dirham, tidak mewariskan emas dan perak, yang mereka wariskan adalah ilmu. Barangsiapa yang mewarisi ilmu tersebut, maka sungguh dia telah mendapatkan jatah warisan yang sangat besar.” (HR. Tirmidzi)

G. Kesimpulan ciri seorang wali Allah dan penyimpangannya

Menit-1:08:36 Jadi, ciri utama seorang wali adalah ketika dia senantiasa menjaga kewajiban-kewajiban agama, dia melakukan apa yang diwajibkan oleh Allah dan menjauhi apa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan diantara kewajiban terbesar yang diwajibkan oleh Allah atas umat ini adalah shalat lima waktu. Dan shalat lima waktu adalah merupakan barometer harian seorang wali.

Jadi, kalau ingin tahu wali itu seperti apa, pertama lihat shalatnya. Apakah dia shalat lima waktunya baik di masjid, sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau jarang kelihatan di masjid?

Seandainya dia jarang kelihatan di masjid, dia suka mengundur-undur waktu shalat, maka dia bukan wali. Wali Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah orang yang senantiasa menjalankan shalat lima waktu tepat pada waktunya dan di masjid-masjid Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutapa bagi kaum pria.

Dan juga meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, maksiat, perbuatan dosa. Seandainya orang mengaku wali akan tetapi dia melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, perbuatan maksiat dia lakukan, maka ini bukan wali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi, wali adalah orang yang senantiasa menjalankan perintah-perintah agama dan menjauhi larangannya.

Menit-1:13:25 Jadi, para wali adalah orang yang senantiasa menjalankan kewajiban agama dan menjauhi hal yang diharamkan oleh Allah. Maka dari sini kita mengetahui kekeliruan sebagian orang yang mengatakan bahwa kalau orang sudah sampai derajat wali, maka dia sudah tidak wajib lagi untuk menjalankan perintah agama dan sudah bebas untuk melakukan apa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah sebuah pemahaman yang keliru, yang menyimpang dari jalan yang lurus. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ ﴿٩٩﴾

Beribadahlah kalian kepada Allah sampai datangnya al-yaqin.” (QS. Al-Hijr[15]: 99)

Sebagian dari mereka mengatakan “yaqin” ini adalah sebuah derajat ketika seseorang sudah sampai gugur dari kewajiban agama dan bebas melakukan larangan-larangan agama. Ini sebuah pemahaman yang keliru. Pemahaman yang benar, arti dari “yaqin” adalah kematian. Sehingga:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ ﴿٩٩﴾

Beribadahlah kalian kepada Allah sampai datangnya ajal (kematian).” (QS. Al-Hijr[15]: 99)

Hal ini selaras dengan ayat Al-Qur’an:

… وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ﴿١٠٢﴾

Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (QS. Ali-Imran[3]: 102)

Sebelumnya Allah memerintahkan:

اتَّقُوا اللَّـهَ

Bertakwalah kepada Allah.”

Jadi bertakwa kepada Allah sampai kita menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka contohlah para wali-wali Allah yang mulia, para Nabi, para Rasul, para sahabat Ridwanullah ‘Alaihim.

Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dihari beliau wafat, saat itu adalah waktu subuh. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena saking beratnya sakitnya beliau tidak bisa shalat di masjid. Akan tetapi ada sebuah jendela dari rumahnya yang dengannya beliau bisa melihat orang-orang yang sedang shalat di masjid.

Waktu itu shalat subuh. Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat -Subhanallah- para wali Allah, para sahabat berjejer rapi shalat berjamaah di masjid, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat, itulah wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi begitu melihat para sahabatnya rajin dan lurus shafnya, wajah beliau berseri-seri melihat wali-wali Allah. Inilah seharusnya wali-wali Allah.

Jadi bukan wali Allah yang mengatakan bahwa dirinya sudah tidak wajib lagi melakukan ini dan itu karena sudah gugur dari kewajiban, bukan. Apalagi ada di antara mereka yang kemudian mengatakan kalau orang sudah sampai derajat wali, maka tidak perlu dia pergi ke Ka’bah, Ka’bah yang datang kepada dia. Subhanallah.

Jadi kalau misalnya sudah sampai derajat wali tertentu, dia tidak perlu pergi ke Ka’bah, tidak perlu tawaf keliling Ka’bah, malah Ka’bah yang telah mengelilingi dia. Na’udzubillahi min dzalik. Ini adalah sebuah penyimpangan yang tidak sesuai dengan ajaran islam yang benar yang dibangun diatas Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Berbicara kisah tentang Ka’bah yang pergi mengelilingi wali, ada sebuah buku yang menuliskan “Andaikan suatu saat Ka’bah pergi mendatangi wali Allah, kita ini shalat menghadap kemana?” Mereka mengatakan bahwa ini adalah masalah fiqih. Jadi kalau misalnya suatu saat Ka’bah ini lagi plesir, lagi bepergian untuk mendatangi wali, kita ini shalat kemana? Kata mereka, ada dua pendapat dalam masalah ini.

Pendapat yang pertama kita tetap shalat menghadap ke tempat aslinya Ka’bah, jadi ke arah Mekkah. Pendapat yang kedua adalah kita harus mencari Ka’bahnya dimana. Ini adalah sebuah khurafat yang dengannya jahil dan minim ilmu agamanya, mereka termakan dengan khurafat-khurafat yang seperti ini.

Maka seharusnya kita memperhatikan hal itu. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah mengingatkan, sesungguhnya golongan yang paling aku takutkan atas umatku adalah orang-orang yang dijadikan panutan akan tetapi mereka menyimpang dari jalan Allah. Inilah orang yang paling ditakutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Wali Allah tidak pernah menganggap dirinya suci

Menit ke-1:22:07 Diantara ciri wali Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa mereka tidak akan pernah menganggap dirinya suci, sebesar apapun amalan yang dia lakukan. Hal ini karena menjalankan perintah Allah adalah:

…فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ ﴿٣٢﴾

Janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Allah lebih tahu siapa yang bertakwa diantara kalian.” (QS. An-Najm[53]: 32)

Makanya perhatikan, para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para wali-wali Allah ‘Azza wa Jalla, mereka tidak pernah menganggap diri mereka suci. Jadi tidak benar seandainya ada orang mengaku wali lalu dia membanggakan kewaliannya sehingga orang-orang datang kepadanya.

Di dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’minun, Allah Subhanahu wa Ta’ala bercerita tentang sifatnya orang-orang yang beriman, para wali Allah.

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ

Orang-orang yang senatiasa bersedekah, rajin membantu orang lain dari rezeki yang Allah berikan kepada mereka, dan hati mereka senantiasa merasa khawatir, merasa takut.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 60)

‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha ketika membaca ayat ini beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, siapakah orang ini? Sudah bersedekah tapi hatinya masih takut, apakah orang ini selain bersedekah dia juga berzina, dia mencuri, dia membunuh, sehingga dia takut?”

Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

ا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا تُقْبَلَ مِنْهُمْ

“Bukan itu wahai putrinya Abu Bakar Ash-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang senantiasa shalat, mereka orang-orang yang rajin berpuasa, mereka orang-orang yang rajin bersedekah, akan tetapi hatinya merasa khawatir jangan-jangan amalan tersebut tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Tirmidzi)

Kalau kita perhatikan, para wali-wali Allah dari kalangan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para tabi’in, kita akan temukan mereka adalah orang-orang yang khawatir amalannya tidak diterima. Dari ‘Abdullah Ibnu Abi Mulaikah, salah seorang mengatakan: “Aku bertemu dengan 30 orang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan semuanya takut termasuk golongan munafik.”

Subhanallah, sahabat Nabi saw takut terjangkiti penyakit nifak, bagaimana dengan kita?

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau pernah mengatakan: “Andaikan aku tahu ada satu sujud saja yang aku lakukan diterima sama Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya itu lebih aku cintai daripada dunia seisinya.”

Al-Hasan Al-Bashri, beliau mengatakan: “Orang yang beriman adalah orang yang menggabungkan antara perbuatan baik dan perasaan khawatir di dalam hati, taat kepada Allah tapi ada perasaan khawatir di hati. Sedangkan orang munafik adalah orang yang menggabungkan antara perbuatan maksiat dengan perasaan aman.”

Perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam ketika mendapatkan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membangun Ka’bah.

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا

Ingalah ketika Nabi Ibrahim membangun Ka’bah beserta dengan putranya Ismail, beliau berkata: ‘Ya Allah terimalah amalan kami’” (QS. Al-Baqarah[2]: 127)

Para ulama mengatakan bahwa Nabi Ibrahim membaca doa ini setiap menaruh satu bongkah batu. Berapa ratus batu yang ada di Ka’bah? Makanya para ulama ketika membaca ayat ini, salah seorang ulama namanya Wuhaib bin Al-Ward, beliau menangis ketika membaca doa ini.

Subhanallah, Khalilurrahman, kekasihnya Allah, membangun rumahnya Allah, dengan perintah dari Allah, dia merasa takut amalannya tidak diterima. Bagaimana dengan kita?

H. Apakah wali Allah memiliki karomah?

Menit ke-1:30:26 Satu hal penting yang perlu kita ketahui, bahwa bukan merupakan syarat menjadi wali seseorang harus bisa melakukan hal-hal yang ajaib dan yang aneh-aneh. Karena ada sebagian orang yang mengira bahwasanya  seseorang belum menjadi wali kalau belum bisa melakukan sesuatu yang ajaib atau yang tidak umum di masyarakat, dan ini adalah sebuah kekeliruan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keajaiban atau yang biasa diistilahkan dengan karomah kepada para waliNya dengan salah satu diantara dua tujuan. Tujuan yang pertama adalah sebagai bukti tentang kejujuran wali tersebut. Yang kedua karena adanya kebutuhan untuk membantu wali tadi. Dan ini semua adalah bentuk penghormatan dan pemuliaan Allah kepada para wali-waliNya.

Dan perlu diketahui bahwasannya karomah yang paling tinggi adalah keistiqamaah seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi kalau ingin tahu karomah yang paling tinggi yaitu ketika seorang hamba taat kepada Allah, bukan dengan hal-hal yang ajaib, aneh atau yang tidak umum.

Makanya kita temukan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mereka adalah para wali Allah, banyak diantara mereka tidak dikaruniai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karomah berupa hal-hal yang ajaib tadi.

Jadi sekedar ada seseuatu yang ajaib, ada sesuatu yang aneh, ini bukan barometer utama bahwa seseorang adalah wali. Kenapa bisa demikian? Karena sesuatu yang aneh dan ajaib itu bisa dilakukan dengan bantuan sentan. Bisa saja setan membantu manusia untuk melakukan hal-hal ajaib itu.

Maka ukuran utama seorang dianggap wali adalah keistiqamahan dia.

Dan ketika kita sampaikan hal ini, bukan berarti kita tidak percaya adanya karomah. Ada banyak karomah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menyebutkan banyak cerita tentang karomah para wali-wali Allah. Akan tetapi yang perlu kita ingat, bukan itu ukuran wali. Karena banyak wali yang tidak mendapatkan karomah dari Allah. Dan tidak setiap sesuatu yang ajaib atau aneh itu dari Allah, bisa jadi itu adalah bantuan dari setan.

I. Tiga barometer wali Allah

Menit ke-1:37:42 Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah dalam kitab beliau Ar-Ruh menyampaikan sebuah nasihat yang sangat bagus. Kata beliau: Seandainya engkau suatu saat mengalami kebingungan, merasa ragu di dalam menilai seseorang apakah dia wali atau bukan, maka untuk mengukur ini wali Allah atau bukan, barometernya ada tiga:

  1. lihat shalatnya,
  2. lihat apakah dia mencintai sunnah dan mencintai Ahlus Sunnah serta membela mereka atau tidak?
  3. lihat apakah dia mengajak ke jalan Allah dan jalan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau tidak?

1. Shalat

Sebagaimana yang tadi disampaikan, ini adalah barometer harian seorang wali. Apakah dia tekun menjalankan shalat lima waktu atau tidak? Seandainya dia tidak tekun menjalankan shalat lima waktu, tidak pernah kelihatan di masjid, ini bukan walinya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Kecintaan kepada sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Apakah dia mencintai ajaran Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Apakah dia mencintai Ahlus Sunnah? Atau justru sebaliknya?

Seandainya dia membenci sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan membenci Ahlus Sunnah, maka ini bukan wali.

3. Mengajak ke jalan Allah dan RasulNya

Lihatlah apakah dia mengajak ke jalan Allah dan jalan RasulNya atau tidak? Mengajak ke jalan Allah itu maksudnya adalah berdakwah murni karena ingin orang-orang ini dekat dengan Allah, tidak ada keinginan dan tendensi duniawi apapun. Karena ada sebagian orang mengaku berdakwah mengajak ke jalan Allah tapi sebenarnya dia mengajak orang-orang untuk mengagungkan dirinya sendiri. Sehingga yang penting buat dia adalah orang-orang datang menjadi pengikut dia,  itulah ukuran yang dia inginkan. Padahal sebenarnya yang diperintahkan oleh agama kita adalah kita berdakwah kepada jalan Allah.

Baca Juga:  Dahsyatnya Mencintai Karena Allah

Imam Syafi’i pernah mengatakan: “Aku berharap dan bercita-cita andaikan semua orang mengenal ajaran Islam ini walaupun tubuhku harus dicabik-cabik.” Artinya beliau tidak peduli, yang penting orang mengenal sunnah walaupun tidak kenal beliau. Inilah seharusnya kita contoh dari para imam kita.

Kemudian juga berusaha untuk mendakwahkan kepada jalan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maksudnya adalah berusaha untuk meneladani tuntunan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Apakah dia senantiasa setia meneladani ajaran Rasul atau tidak?

Dengan tiga barometer ini -kata Imam Ibnul Qayyim- timbanglah orang-orang yang kamu bingung apakah ini wali atau bukan.

Jadi bukan dengan keanehan atau keajaiban yang dimiliki seseorang seperti bisa jalan di atas air, bisa terbang di langit, bukan ini. Akan tetapi dengan tiga barometer yang tadi disebutkan.

J. Wali Allah senantiasa memurnikan tauhid dan ittiba’

Menit ke-1:44:05 Wali Allah adalah orang yang senantiasa memurnikan tauhid dan memurnikan mutaba’ah dia kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Seseorang tidak akan mungkin sampai kepada derajat kewalian kecuali seandainya dia memenuhi dua syarat tersebut. Yaitu senantiasa memurnikan keikhlasan dia kepada Allah, mendakwahkan kepada aqidah yang lurus dan juga mengajak umat dan dia sendiri meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam kehidupannya.

Dua hal ini Allah gabungkan di dalam FirmanNya:

قُلْ هَـٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّـهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِ

Katakanlah wahai Muhammad: ‘inilah jalanku, aku berdakwah kepada Allah (inilah tauhid, berdakwah kepada Allah bukan kepada yang lainnya). Aku berdakwah diatas ilmu sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasul dan orang-orang yang mengikuti beliau’” (QS. Yunus[12]: 108)

Jadi, dua hal ini adalah merupakan syarat mutlak seorang menjadi wali. Adapun orang yang mengajak kepada kesyirikan, mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ini bukan wali. Atau orang yang mengajak umat manusia untuk beribadah bukan dengan tata cara yang dicontohkan oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengajarkan khurafat, ini juga bukan wali. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah orang yang merealisasikan dua kalimat syahadat. Dan dua kalimat syahadat tadi:

  1. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (asyhadu an laa ilaha illallah), intinya adalah tauhid
  2. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ (wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah), intinya adalah mutaba’ah atau meneladani Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

K. Pembahasan ulama tentang wali Allah

Menit ke-1:47:52 Pembahasan yang kita bahas hari ini, yaitu masalah wali, mendapatkan perhatian spesial di hati para ulama kita. Makanya mereka menulis banyak kitab tentang masalah ini.

Hadits yang tadi kita baca, yang dijuluki oleh para ulama dengan hadits wali, Imam Asy-Syaukani Rahimahullah menulis satu buku khusus untuk menjabarkan makna hadits tadi. Judulnya adalah قطر الولي على حديث الولي. Ini adalah salah satu buku yang sangat bagus, yang sangat mahal isinya yang dijelaskan di dalamnya tentang siapakah wali Allah.

Kemudian juga sebelumnya Imam An-Nawawi Rahimahullah, beliau menjabarkan hadits tadi di dalam kitab beliau, Syarah Al-Arbain dengan penjabaran yang cukup ringkas. Kemudian dijabarkan lebih luas lagi oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hambali di dalam kitab beliau Jami’ al-Ulum wa al-Hikam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, beliau mempunyai buku khusus membahas masalah ini, judulnya Al-furqon baina auliya al-rahman wa auliya al-syaitan (Pembeda antara walinya Allah dan walinya setan). Dalam kitab tersebut beliau membahas masing-masing cirinya. Semua dijelaskan dengan gamblang di dalam kitab tersebut.

L. Nasihat Syaikh ‘Abdur Razzaq

Menit ke-1:51:16 Di penghujung pembahasan hari ini, beliau ingin menyampaikan nasihat untuk beliau sendiri dan juga untuk kita semua dengan beberapa poin yang dijelaskan oleh para ulama kita.

1. Bersemangatlah dan berusaha keraslah untuk menjadi wali Allah

Poin yang pertama, bersemangatlah dan berusaha keraslah untuk menjadi wali Allah. Jadikan diri kita orang-orang yang punya semangat tinggi untuk mengejar itu. Sebagaimana dinasihatkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا ، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Bersemangatlah engkau untuk menjalankan hal-hal yang bermanfaat untukmu. Dan mintalah tolong kepada Allah, dan janganlah engkau bersikap lemah. Seandainya kita tertimpa sesuatu, jangan engkau katakan andaikan dan andaikan. Akan tetapi katakanlah: ‘Ini sudah takdirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala.'” (HR. Muslim)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan di dalam Al-Qur’an:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Dan orang-orang yang bermujahadah dalam beribadah kepada Allah, maka sungguh Kami akan berikan petunjuk kepada mereka ke jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut[29]: 69)

Maka jangan sampai kita bermalas-malasan, bersemangatlah untuk mengejar derajat yang tinggi tersebut.

2. Memperbanyak doa

Nasihat yang kedua -kata beliau- perbanyaklah berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena sungguh doa adalah merupakan kunci kebaikan dari kebaikan dunia maupun akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Rabb kalian telah berfirman: ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku akan kabulkan.’” (QS. Ghafir[40]: 60)

Maka perbanyaklah doa, apalagi doa yang diajarkan oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits-hadits yang shahih. Diantaranya adalah doa yang ada dalam shahih Muslim. Dimana Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajari kita untuk berdoa:

اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

“Ya Allah karuniakan kepada jiwaku ketakwaan. Sucikanlah jiwaku, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik yang mensucikan jiwa. Sesungguhnya Engkau Yang menguasai jiwa-jiwa kami.” (HR. Muslim)

Kemudian dalam hadits shahih yang lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي

“Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami dan luruskanlah jalan kami.” (HR. Muslim)

Dan ketika berdoa, berdoa dalam keadaan kita yakin, yakin bahwa doa kita akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ

“Berdoalah kalian kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan.”

Maka terus berdoa, terus berdoa kepada Allah, carilah waktu-waktu yang mustajab, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan usaha hambaNya.

3. Cintailah orang-orang yang shalih

Berikutnya nasihat yang ketiga, cintailah orang-orang yang shalih, cintailah orang-orang yang menjalankan dan rajin melakukan kebajikan. Awas, jangan sampai kita membenci mereka. Karena sungguh, mencintai orang-orang yang shalih adalah merupakan salah satu di antara simpul keimanan yang paling kuat. Sebagaimana hadits yang kita bawakan tadi.

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْحَبُّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ

“Simpul keimanan yang paling erat adalah ketika engkau mencitai sesuatu dan orang lain karena Alalh dan membenci sesuatu dan orang lain juga karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Ath-Thabrani)

Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ ، وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ ؟

“Wahai Rasul, bagaimana menurut pendapatmu ada orang yang dia cinta kepada suatu kaum (orang-orang shalih) akan tetapi amalan orang itu tidak bisa seperti amalan orang-orang shalih tadi.”

Maka apa kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang pada hari kiamat akan disatukan dengan orang-orang yang dia cintai.”

Maka ketika para sahabat mendengarkan hadits, ini mereka senang sekali.

Maka ketika kita mendapatkan seorang alim, seorang ulama, seorang ustadz yang tekun mendakwahkan kepada sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, cintailah dia.

Andaikan kita menemukan ada seorang yang rajin beribadah sesuai dengan tuntunan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, cintailah dia.

Kalau misalnya kita temukan orang yang akhlaknya baik, mulia, menjalankan perintah agama sesuai dengan tuntunan Rasul, cintailah dia.

Para ulama kita dahulu mengatakan:

أُحِبُّ الصالِحينَ وَلَستُ مِنهُم

“Aku mencintai orang-orang shalih walaupun aku bukan bagian dari mereka.”

Dan ini menunjukkan ketawadhuan mereka. Mereka orang shalih, akan tetapi mereka tidak merasa demikian.

Mencintai orang-orang shalih memiliki efek yang luar biasa di dalam amalan kebaikan seorang hamba. Dia akan terus termotivasi untuk melakukan amalan-amalan kebajikan.

4. Terus pelajari ilmu syar’i

Nasihat yang ke-4, terus pelajari ilmu syar’i yang dibangun diatas kitab dan sunnah. Karena ilmu syar’i merupakan cahaya, ilmu syar’i merupakan lentera yang akan menerangi jalan yang akan kita titi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menasihatkan:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang meniti jalan mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga.” (HR. Muslim)

Dengan ilmu, kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah,  mana yang sesuai dengan petunjuk dan mana yang menyimpang dari petunjuk, mana yang sesuai dengan sunnah dan mana yang tidak sesuai dengan sunnah.

Dan sesungguhnya berusahalah kita untuk meluangkan banyak waktu kita untuk mempelajari ilmu syar’i tersebut.

5. Bertemanlah dengan orang-orang yang baik

Kemudian nasihat berikutnya adalah bertemanlah dengan orang-orang yang baik, bergaulah dengan orang-orang yang baik. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  pernah menasihatkan:

ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻦِ ﺧَﻠِﻴﻠِﻪِ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻈُﺮْ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳُﺨَﺎﻟِﻞُ

“Seseorang itu tergantung teman dekatnya, maka perhatikan masing-masing dari kita siapakah teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita untuk bergaul dengan orang-orang yang lalai dari dzikir kepada Allah.

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا

Janganlah engkau mentaati orang-orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Kahf[18]: 28)

Apa manfaatnya ketika kita berteman, bergaul, dekat dengan orang-orang yang baik? Kita akan termotivasi untuk menjalankan kebaikan pula.

6. Jauhi pintu-pintu keburukan

Nasehat yang ke-6 -kata beliau- adalah jauhi pintu-pintu keburukan, apalagi di zaman kita ini begitu banyak pintu-pintu tersebut. Dan banyak diantara pintu-pintu tadi mengantarkan kita kepada kerusakan akidah, kerusakan ibadah, kerusakan akhlak dan lain sebagainya.

Diantara pintu-pintu itu dizaman ini adalah ketika kita tidak selektif dalam memilih situs-situs yang ada di internet. Ketika kita tidak selektif, maka kita akan terjerumus kepada banyak kerusakan. Begitupula saluran-saluran televisi yang barangkali di dalamnya mengajarkan keburukan. Dan ini juga kita harus waspadai. Intinya jauhilah pintu-pintu yang menghantarkan kepada keburukan.

7. Banyak memuhasabah diri kita

Yang terakhir banyak-banyaklah memuhasabah diri kita sebelum kita dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dunia ini, mumpung masih ada kesempatan untuk beramal, maka perbanyaklah amalan.

فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ

“Hari ini waktunya kita beramal, hisab belum datang saatnya. Adapun kelak pada hari kiamat adalah waktunya hisab dan sudah tidak ada lagi kesempatan untuk beramal.”

Orang yang ceradas adalah orang yang senantiasa mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kehidupan setelah kematian.

M. Penutup tabligh akbar Mencintai Wali-Wali Allah

Di penghujung kajian ini beliau berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala memohon kepada Allah Yang Mulia dengan nama-namaNya yang sangat indah agar menjadikan kita semuanya termasuk wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bertakwa kepadaNya.

Ya Allah, perbaikilah agama kami yang merupakan pedoman hidup kami. Dan perbaikilah dunia kami yang merupakan tempat kami untuk hidup. Perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami. Dan jadikanlah kehidupan ini sebagai media untuk menambah kebaikan dan jadikanlah kematian sebagai pemutus dari keburukan.

Ya Allah, ampunilah kami, ampunilah kedua orang tua kami, ampunilah kaum muslimin dan muslimat yang sudah meninggal maupun yang masih hidup.

Ya Allah, berikanlah kepada jiwa kami ketakwaan dan sucikanlah jiwa kami, sesungguhnya Engkau sebaik-baik yang mensucikan jiwa.

Ya Allah, masukkanlah rasa takut kepada hati kami untuk menjalankan atau melakukan perbuatan maksiat. Karuniakanlah kepada kami keyakinan di dalam hati sehingga musibah-musibah dunia itu terasa ringan.

Ya Allah, jadikanlah kami bisa memanfaatkan pendengaran, penglihatan dan segala anggota tubuh kami untuk kebaikan dan ketaatan kepadaMu. Dan bantulah kami untuk menghadapi orang-orang yang memusuhi kami. Dan janganlah Engkau jadikan musibah terbesar kami dalam masalah agama. Dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai tujuan utama kami.

اللهم صلى على محمد وعلى آله وصحبه وسلم.  وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

N. Mp3 Kajian Mencintai Wali-Wali Allah

Sumber video: Radio Rodja – Tabligh Akbar: Mencintai Wali-Wali Allah (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq Al-Badr)

Mari turut menyebarkan kajian “Mencintai Wali-Wali Allah” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

Saudaraku, silahkan login atau daftar terlebih dahulu ya. Barakallahu fiik.
%d blogger menyukai ini: