Meraih Kemenangan di Bulan Ramadhan

Meraih Kemenangan di Bulan Ramadhan

iklan erto's

Meraih Kemenangan di Bulan Ramadhan ini merupakan transkrip kajian yang disampaikan oleh Ustadz Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A.

Meraih Kemenangan di Bulan Ramadhan

Secara ringkas, di antara cara dan kiat untuk sukses di bulan Ramadhan, sebagaimana kita tahu bahwa bulan ini adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin secara umum.

Mereka bergembira, berbahagia, dan bersuka cita ketika akan datang bulan Ramadhan. Karena bulan ini adalah bulan di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak memberikan kebaikan.

Diskon besar-besaran di bulan Ramadhan. Amalan yang sedikit akan dilipat gandakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi belipat-lipat. Sehingga seorang muslim yang beriman itu gembira dengan datangnya bulan Ramadhan. Disitulah dia akan menambah amunisi dan bekal. Karena masing-masing dari kita menyadari bahwasanya dia di dunia hanya sementara, sebentar lagi akan meninggalkan dunia dan isinya.

Perjalanan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala masih panjang. Dan semakin panjang perjalanan, maka semakin banyak pula kita membutuhkan bekal. Dan perjalanan kita menuju Allah adalah perjalan yang sangat panjang. Kita membutuhkan bekal yang banyak.

Cara mengumpulkan bekal, waktunya adalah sekarang ini (di dunia). Karena kalau sampai di dunia kita tidak sempat mencari bekal, maka kita tidak memiliki waktu lagi. Maka jangan sampai kita lalai di dunia ini. Kita tidak tahu kapan kita akan meninggal dunia, maka berlombalah sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan bekal tersebut.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmatNya, membuat musim untuk kita semua yang di sana kita bisa memanfaatkan untuk membawa bekal sebanyak-banyaknya. Di antaranya adalah musim bulan Ramadhan ini.

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam memberikan kabar gembira untuk para sahabat. Beliau bersabda,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ , تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ , وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ , وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ , لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ, مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, sebuah bulan yang barakah (banyak kebaikannya). Allah mewajibkan kepada kalian puasa, di dalamnya ada sebuah malam yang lebih baik daripada seribu bulan (malam lailatul qadr)…”

Di antara 29 atau 30 hari di bulan Ramadhan, di sana ada satu malam yang sangat istimewa lebih baik daripada 1.000 bulan. Artinya orang yang beramal di malam tersebut ditulis pahalanya dilipat gandakan oleh Allah sehingga seakan-akan dia beramal lebih dari 1.000 bulan (kurang lebih 83 tahun).

Maka Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam setiap tahun ketika bulan Ramadhan, beliau mengejar malam Lailatul Qadr.  Setiap 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau melakukan i’tikaf. Siang dan malam beliau berdiam diri di masjid, tidak keluar kecuali ada sesuatu yang darurat.

Bahkan sebelum beliau mengetahui bahwa Lailatul Qadar terjadi pada 10 malam yang terakhir, semenjak 10 hari yang pertengahan, beliau sudah mulai beri’tikaf. Jadi pada tahun tersebut selama 20 hari beliau melakukan i’tikaf.

Beliau saja yang sudah diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, serta sudah dijamin akan masuk ke dalam surga, semangatnya luar biasa mencari Lailatul Qadar. Lalu bagaimana dengan kita?

Saat itu beliau bukan dalam keadaan masih muda, umurnya sudah 50 tahun lebih. Karena kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan baru diturunkan pada tahun ke-2 hijriyyah. Sembilan kali beliau menemui bulan Ramadhan setelah diwajibkan berpuasa di dalamnya.

Jadi ketika beliau berumur 53 atau 54 tahun sampai umur 63 tahun, beliau masih bersemangat melakukan i’tikaf. Oleh karena itu, i’tikaf bukan hanya untuk anak muda, justru yang sepuh-sepuh kalau bisa melakukan i’tikaf.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Barang siapa yang tidak mendapatkan keutamaan malam tersebut, sungguh dia tidak mendapatkan keutamaan yang banyak.” (HR. An Nasa’i)

Barang siapa yang menyia-nyiakan malam tersebut, sehingga bulan Ramadhan berlalu sedangkan dia tidak maksimal pada malam Lailatul Qadar, maka sungguh dia telah diharamkan (dijauhkan) dari kebaikan yang banyak.

Dan di dalam sebuah hadits, Nabi ﷺ mengatakan: “Aamiin” sebanyak tiga kali. Aamiin artinya semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan.

Kemudian beliau ditanya, “Wahai Rasulallah, mengapa engkau mengatakan aamiin tiga kali?”

Lalu beliau menceritakan bahwasanya datang malaikat Jibril dan dia mendoakan kejelekan untuk tiga golongan. Terhina seseorang, kemudian beliau menyebutkan 3 golongan.

Yang pertama adalah orang yang ketika disebutkan nama Nabi ﷺ, namun dia tidak mengucapkan shalawat untuk beliau. Maka malaikat Jibril mendoakan semoga dia adalah orang yang terhina.

Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, “Aamiin”.

Golongan kedua yang didoakan kehinaan oleh malaikat Jibril adalah orang yang menemui bulan Ramadhan, kemudian bulan Ramadhan berlalu sementara dia tidak mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka malaikat Jibril mendoakan kejelekan untuk orang ini, dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengaminkannya.

Utusan dari malaikat mendoakan kejelekan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam pun mendoakan kejelekan bagi orang yang menemui bulan Ramadhan kemudian keluar bulan Ramadhan dia tidak mendapatkan ampunan.

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)

Satu hari berpuasa jika benar puasanya dan niatnya ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu. Harusnya orang yang berpuasa itu, setiap hari keluar dari bulan Ramadhan sudah terhapus dosanya. Ditambah lagi di malam hari dia disyariatakan untuk melaksanakan shalat tarawih. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang melakukan shalat malam dibulan Ramadhan (tarawih) karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Siangnya berpuasa, maka diampuni dosanya yang telah lalu. Lalu malamnya melakukan shalat tarawih, dan diampuni dosanya yang telah lalu. Kesempatan untuk menghapus dosa terjadi selama 29 ata 30 hari, tapi ternyata tidak diampuni dosanya. Maka celakalah orang yang tidak sukses di bulan Ramadhan. Jika bulan ini saja tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, lalu bagaimana dengan bulan-bulan yang lain?

Kiat sukses di bulan Ramadhan

Beberapa kiat sukses di bulan Ramadhan:

1. Bergembira

Kita sambut dengan gembira, bergembira dengan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sebentar lagi akan turun.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا…

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS. Yunus[10]: 58)

Kita senang dengan datangnya bulan Ramadhan. Karena ada orang yang tidak senang ketika datang bulan Ramadhan.

2. Mempersiapkan bulan Ramadhan dengan ilmu

Imam Al-Bukhāri rahīmahullāh di dalam shahihnya mengatakan,

بَابٌ: العِلْمُ قَبْلَ القَوْلِو العمل

Bab : Ilmu dilakukan sebelum berucap dan beramal

Artinya adalah sebelum seseorang berucap harus mempunyai ilmu. Sebelum seseorang beramal, harus mempunyai ilmu. Termasuk di antaranya bulan suci Ramadhan yang penuh dengan keutamaan.

Maka kita harus belajar dan membuka kembali. Apalagi sudah satu tahun yang lalu, mungkin banyak di sana beberapa hukum/ permasalahan yang perlu kita muraja’ah kembali. Jangan sampai masuk bulan Ramadhan namun kita tidak tahu ilmunya.

3. Memohon pertolongan kepada Allah

Jangan lupa berdo’a meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar bisa memanfaatkan bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Meminta kepada Allah kesehatan dan kekuatan jasmani sehingga bisa maksimal melakukan ibadah di bulan Ramadhan. Bisa berpuasa dengan sempurna, shalat tarawih bersama yang lainnya, mengkhatamkan Al-Qur’an beberapa kali, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kemudahan untuk melakukan amal ibadah yang lainnya.

4. Memasang strategi

Kita berusaha menyusun jadwal kegiatan yang akan dilakukan selama bulan Ramadhan. Misalnya target dua kali mengkhatamkan Al-Qur’an atau minimal khatam sekali. Itu berarti dalam sehari minimal harus membaca Al-Qur’an sebanyak satu juz.

Kemudian merencanakan untuk bershadaqah. Misalnya memberi makanan atau minuman untuk berbuka puasa bagi kaum muslimin. Atau bershadaqah kepada anak yatim. Kita rencanakan amalan apa saja yang akan kita lakukan di bulan Ramadhan.

Maka diharapkan orang yang masuk di bulan Ramadhan dan dia sudah mempunyai rencana, diharapkan bisa lebih tertib dan lebih bisa mendapatkan kesuksesan di bulan Ramadhan.

Lalu siapakah orang yang wajib berpuasa? Lihat di sini.

Video Meraih Kemenangan di Bulan Ramadhan

Mari turut menyebarkan “Meraih Kemenangan di Bulan Ramadhan ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: