Khutbah Jumat: Wasiat Takwa dan Hakikat Kematian

Khutbah Jumat: Wasiat Takwa dan Hakikat Kematian

Khutbah Jumat: Memuliakan Ulama
Khutbah Jumat : Fase Kehidupan Manusia dan Keistimewaan Usia Muda
Khutbah Jumat: Pentingnya Menyambung Silaturahmi

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Wasiat Takwa dan Hakikat Kematian” yang disampaikan Ustadz Abdullah Roy, Hafidzahullahu Ta’ala

KHUTBAH PERTAMA : Kepastian Kematian dan Pentingnya Mengingat Akhir Hayat

ma’asyarul mukminin…

Khatib berwasiat kepada diri sendiri yang penuh dengan kekurangan ini, serta kepada para jemaah sekalian, dengan sebuah wasiat yang senantiasa Allah Subhanahu wa Ta’ala gariskan bagi orang-orang terdahulu maupun orang-orang yang datang kemudian. Wasiat tersebut adalah perintah untuk bertakwa dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.” (QS. An-Nisa'[4]: 131)

Ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla merupakan fondasi utama bagi setiap mukmin, terutama dalam menyikapi sebuah kepastian besar yang akan menimpa setiap makhluk yang bernyawa, yaitu kematian. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan berita agung ini melalui firman-Nya:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 185)

Ayat ini merupakan sebuah peringatan besar bagi manusia yang tengah menjalani kehidupan di dunia dengan segala kemilau perhiasannya. Terkadang, kondisi fisik yang masih muda, sehat, dan kuat membuat seseorang terbuai dan merasa seolah-olah kematian masih sangat jauh dari dirinya. Demikian pula dengan kecukupan harta benda yang melimpah serta tingginya jabatan, kedudukan, atau wewenang yang dimiliki dalam membuat kebijakan, seringkali melalaikan manusia sehingga merasa seakan-akan akan hidup selamanya.

Manusia seringkali lupa, padahal kabar kematian hampir setiap hari terdengar di lingkungan sekitar, baik kabar mengenai wafatnya seorang teman, tetangga, maupun guru. Apabila ajal yang dijanjikan itu telah tiba, tidak akan ada satupun manusia yang mampu meloloskan atau menyelamatkan dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan mutlaknya takdir kematian ini melalui firman-Nya:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa'[4]: 78)

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat menekankan umatnya untuk memperbanyak mengingat pemutus kelezatan ini. Anjuran tersebut disampaikan bukan dengan tujuan agar manusia berputus asa dari rahmat Allah, melainkan agar tumbuh kesadaran batin bahwa kehidupan di dunia ini tidak bersifat kekal.

Pada saatnya nanti, setiap orang akan berpisah dengan seluruh hal yang dicintainya di dunia, mulai dari orang tua, istri, anak, hingga harta kekayaan. Manusia akan ditarik kembali untuk menghadap Allahu Rabbul ‘Alamin, Tuhan yang telah menciptakan dari kondisi yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Kesadaran penuh mengenai kepastian mati dan kembalinya manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus menjadi pendorong utama untuk mempersiapkan pertanggungjawaban atas segala amal perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia.

Kesadaran akan datangnya kematian harus mampu memicu semangat seorang hamba untuk memperbanyak amal saleh, menjadikannya lebih berhati-hati, serta memunculkan rasa takut untuk melakukan kemaksiatan. Dampak positif dari mengingat mati adalah lahirnya dorongan kuat di dalam diri manusia untuk bersegera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika ajal yang dijanjikan telah tiba, ketetapan tersebut tidak akan pernah bisa dimajukan maupun diakhirkan sedikit pun.

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan penegasan agar umat Islam senantiasa mengingat pemutus kebahagiaan duniawi tersebut melalui sabda beliau:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi) [1]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga memberikan definisi mengenai hakikat manusia yang cerdas. Ukuran kecerdasan sejati dalam pandangan syariat bukan terletak pada banyaknya hafalan atau kuatnya kapasitas otak, melainkan pada kemampuan seseorang dalam menundukkan hawa nafsunya demi meraih kenikmatan akhirat yang jauh lebih baik dan kekal. Manusia yang cerdas adalah individu yang fokus mempersiapkan bekal untuk menghadapi fase kehidupan setelah mati. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menggolongkan kita semua ke dalam kelompok manusia yang cerdas, yang senantiasa mengisi waktu dengan beramal, bersegera bertaubat, serta menjauhkan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

KHUTBAH KEDUA: Keberkahan Umur Seorang Mualim

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)

Kepastian mati yang diserukan ini terbukti nyata pada hari ini melalui kabar duka atas wafatnya salah seorang guru dan ustadz kita, yaitu Ustadz Abu Rafiq Gufron Lc. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mencurahkan rahmat yang luas kepada beliau.

Beliau merupakan sosok dai dan pengajar (mualim) yang telah menghabiskan sebagian besar usianya sejak masa muda untuk berkhidmat pada dakwah Islam. Berdasarkan catatan biografi beliau, dedikasi dakwahnya telah dimulai sejak usia dua puluh tahun dengan mengemban tugas sebagai dai di kawasan pedalaman Kalimantan.

Setelah melewati fase tersebut, beliau menempuh pendidikan di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Arab Saudi. Sekembalinya dari masa studi, beliau melanjutkan perjuangan dakwah dengan mendirikan pondok pesantren. Aktivitas pengajaran yang beliau lakukan telah memberikan kontribusi keilmuan yang sangat besar bagi umat, termasuk melahirkan banyak ustadz dan pengajar yang saat ini meneruskan estafet perjuangan dakwah di tengah masyarakat. Kepergian beliau harus menjadi pengingat bagi kita akan pentingnya memanfaatkan sisa umur untuk kebaikan sebelum ajal menjemput.

Wafatnya guru kita, Ustadz Abu Rafiq Gufron Lc., memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi semua orang. Pelajaran pertama adalah penegasan kembali mengenai hakikat manusia, bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menghadapi kematian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 185)

Pelajaran kedua adalah mengenai kepergian seorang dai yang telah memberikan kontribusi serta manfaat yang besar bagi umat. Keberadaan seorang dai menjadi wasilah atau sebab bagi sekian banyak orang untuk mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, kepergian beliau tidak boleh membuat umat Islam patah semangat atau mengendorkan tekad dalam berdakwah.

Peristiwa duka ini justru harus menjadi pelecut semangat bagi para penuntut ilmu untuk semakin giat dan istiqamah dalam menyebarkan ilmu syariat di tengah-tengah masyarakat. Beliau telah wafat sebagaimana wafatnya orang-orang saleh terdahulu serta para imam (aimmah) yang mengakhiri perjalanan hidup mereka di atas landasan ilmu, amal, dan dakwah.

Mari kita panjatkan doa semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa merahmati beliau, mengampuni segala dosa dan kekhilafannya, menerima seluruh amal saleh yang telah beliau dedikasikan, menyelamatkan beliau dari siksa azab, serta memasukkan beliau ke dalam surga-Nya. Kita selaku murid-murid beliau juga berharap dapat meneladani kegigihan, kesungguhan, serta konsistensi yang telah beliau contohkan dalam upaya menyampaikan ajaran agama ini kepada umat manusia.

Sumber Video Khutbah Jumat “Wasiat Takwa dan Hakikat Kematian”

Sumber : HSI Abdullahroy 

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

REFERENSI :

[1] https://sunnah.com/tirmidhi:2307

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: