Khutbah Jumat : Urgensi Istiqamah dalam Ketaqwaan

Khutbah Jumat : Urgensi Istiqamah dalam Ketaqwaan

Khutbah Jumat: 3 Penyelamat & 3 Penghancur – Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A
Khutbah Jumat: Palestina Memanggilmu – Ustadz Abdullah Zaen, M.A.
Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Amalan Hati

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Urgensi Istiqamah dalam Ketaqwaan” yang disampaikan Ustadz Syafiq Riza Basalamah, Hafidzahullahu Ta’ala

KHUTBAH PERTAMA : Hakikat Fitrah Manusia Terhadap Harta Dunia

Amma ba’du.

Wahai hamba-hamba Allah, wasiat takwa ini ditujukan untuk diri sendiri dan kepada semua yang hadir agar senantiasa bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hanya orang-orang bertakwa yang amalannya akan diterima, hidup berbahagia, serta meraih kesuksesan di dunia dan di akhirat.

Allah Jalla Jalaluh mengulangi perintah takwa ini di dalam Al-Qur’an, para rasul menyampaikannya berulang kali, dan para ulama sebagai pewaris nabi terus meneruskan perintah tersebut kepada umat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran[3]: 102)

Perintah ini sering kali didengar dan terus diulang karena manusia memang sering melupakan hakikatnya. Ketakwaan yang sebenarnya bukanlah sekadar tulisan yang dipampang atau ucapan yang diungkapkan, melainkan sesuatu yang diyakini oleh jiwa, diucapkan dengan lisan, dan dipraktekkan melalui amal raga. Standardisasi manusia yang baik bukan dinilai dari kondisinya saat ini, melainkan pada ketetapan imannya tatkala ajal menjemput.

Setiap hari manusia keluar dari rumah untuk menjalani rutinitas kehidupan. Ada yang menuju ke pasar, kantor, pabrik, maupun beraktivitas di jalanan. Baik orang dewasa maupun anak-anak yang berangkat ke sekolah, semuanya bergerak dalam lingkaran rutinitas untuk mencari harta.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memang telah menanamkan kecintaan terhadap materi di dalam jiwa manusia. Keindahan orientasi duniawi ini digambarkan di dalam Al-Qur’an:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran[3]: 14)

Kecintaan syahwat kepada lawan jenis, keturunan, serta harta berlimpah yang bertumpuk merupakan fitrah manusia. Jika dahulu simbol kemewahan diwakili oleh kuda-kuda pilihan, maka pada masa sekarang hal itu terefleksi pada kendaraan mewah, kepemilikan aset pertanian, maupun sektor peternakan. Semuanya merupakan kesenangan kehidupan dunia yang fana, padahal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala terdapat tempat kembali yang jauh lebih baik.

Kenyataan membuktikan bahwa orang-orang terkaya di dunia pada akhirnya harus meninggalkan seluruh kekayaannya di muka bumi ini. Daftar peringkat orang-orang terkaya yang sering dirilis dan dibaca dalam berbagai literatur menjadi bukti nyata bahwa tidak ada satupun dari harta tersebut yang mereka bawa mati.

Oleh karena itu, umat Islam harus waspada agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia. Manusia diperbolehkan bekerja keras dan mencari harta, namun ambisi utamanya tidak boleh ditujukan untuk dunia karena durasi hidup manusia di dalamnya sangat singkat.

Tindakan menimbun harta di dalam brankas setiap hari lalu meninggalkannya begitu saja merupakan bentuk kebodohan berpikir. Manusia sering kali menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menempuh jenjang pendidikan demi mendapatkan harta, namun setelah harta tersebut diperoleh, semuanya justru ditinggalkan di muka bumi saat kematian tiba.

Sebagian besar manusia terjebak dalam siklus menguras energi hanya untuk bekerja dan mengumpulkan materi, hingga akhirnya pergi meninggalkan dunia dalam kondisi yang hampa. Hal ini mengakibatkan sebagian orang menjalani kehidupan yang menderita secara hakiki karena jiwanya kering dari bekal akhirat. Saat ini tercatat sekitar satu miliar manusia mengalami gangguan kesehatan jiwa atau sakit mental. Jauh sebelum fenomena ini terjadi, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan para sahabat mengenai bahaya fitnah harta yang dapat merusak jiwa.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan peringatan ini dalam kondisi para sahabat sedang mengalami kesulitan ekonomi yang berat. Pada masa itu, para sahabat tidak mengetahui apa yang akan mereka makan esok hari. Bahkan, sebagian sahabat yang berangkat ke medan perang hanya memiliki bekal satu butir kurma untuk sepanjang hari, serta berjalan tanpa alas kaki hingga kuku-kuku mereka terkelupas.

Di tengah kondisi penderitaan harta tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajukan sebuah pertanyaan kepada para sahabat mengenai kondisi mereka apabila kelak imperium Persia dan Romawi telah ditaklukkan, kemudian seluruh harta rampasan perang tersebut dibagikan kepada mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ingin mereka merenungkan akan menjadi orang yang seperti apa setelah kemewahan tersebut diraih.

Mendengar pertanyaan tersebut, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu menjawab bahwa kaum muslimin akan menjadi manusia yang senantiasa taat seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan dan perintahkan. Namun, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyanggah jawaban tersebut dan menyatakan bahwa kenyataan yang terjadi justru bisa sebaliknya.

Banyak manusia yang mengawali kehidupan dari kondisi ekonomi yang sulit, seperti hanya memiliki sepeda motor bekas atau belum memiliki aset apapun sebelum menikah. Seiring berjalannya waktu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kelapangan sehingga kondisi ekonomi semakin membaik.

Ketika harta sudah melimpah, tantangan sesungguhnya baru dimulai. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan tahapan-tahapan kerusakan moral yang akan menimpa manusia akibat harta:

1. Saling Bersaing (Tanafasu)

Tahap pertama yang akan terjadi adalah munculnya kompetisi yang tidak sehat dalam urusan materi. Manusia yang sudah memiliki harta banyak cenderung tidak merasa tenang karena selalu ingin mengungguli orang lain. Mereka ingin kendaraan, gawai, rumah, dan hartanya lebih mewah daripada yang dimiliki oleh sesamanya.

2. Saling Hasud (Tatahasadu)

Persaingan materi tersebut pada akhirnya akan melahirkan penyakit hasud atau iri dengki. Dunia ini terasa sempit karena kedudukan dan fasilitas kemewahan jumlahnya terbatas. Akibatnya, timbul keinginan untuk menjatuhkan orang lain demi menggantikan posisinya. Fenomena ini banyak menjangkiti manusia di pusat-pusat perbelanjaan atau pasar. Secara fisik mereka tampak sehat, namun jiwanya sakit karena tidak suka melihat orang lain mendapatkan kebaikan. Padahal, seorang muslim seharusnya merasa gembira atas kebahagiaan saudaranya sendiri.

3. Saling Membelakangi (Tadabaru)

Penyakit hasud yang dibiarkan akan meningkat pada tahap berikutnya, yaitu tindakan saling membelakangi dan tidak mau bertegur sapa. Pertemuan antar-sesama muslim berubah menjadi momen yang menyesakkan dada sehingga mereka saling menjauh.

4. Saling Membenci (Tabaghadu)

Tahap akhir dari fitnah harta ini adalah timbulnya rasa benci dan permusuhan di antara sesama saudara muslim. Penyakit-penyakit inilah yang terus terbawa dalam pikiran, waktu tidur, hingga waktu makan manusia.

Segala bentuk kerusakan sosial tersebut merupakan siklus berulang yang bersumber dari penyakit umat-umat terdahulu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan peringatan dini mengenai bahaya laten ini melalui sabdanya:

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمُ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ

“Telah merayap kepada kalian penyakit umat-umat sebelum kalian, yaitu penyakit hasud (iri) dan benci.” (HR. Tirmidzi)

Syariat Islam sama sekali tidak melarang umatnya untuk bekerja keras dan mengumpulkan harta kekayaan di muka bumi. Namun, hal mendasar yang wajib diperbaiki adalah niat di dalam hati saat mencarinya. Ketika para sahabat melihat ada seseorang yang bekerja sangat keras mencari nafkah dan mereka berharap agar energi serta kekuatan orang tersebut dapat disalurkan di jalan Allah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meluruskan pandangan mereka. Selama pekerjaan tersebut diniatkan untuk menjaga kehormatan diri dan menafkahi keluarga, maka aktivitas tersebut sudah termasuk ke dalam bagian perjuangan di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan penjelasan yang mendalam kepada para sahabat mengenai nilai dari aktivitas bekerja. Seseorang yang keluar dari rumahnya untuk bekerja dengan tujuan memberikan nafkah kepada kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka aktivitasnya dikategorikan berada di jalan Allah (fi sabilillah). Demikian pula bagi seseorang yang bekerja dengan niat memberikan nafkah kepada anak-anaknya yang masih kecil, pekerjaannya tersebut bernilai fi sabilillah dan tidak boleh diremehkan.

Kategori ketiga mencakup seseorang yang bekerja demi menjaga kehormatan dirinya agar tidak menjadi benalu di tengah masyarakat dan tidak menyusahkan orang lain dengan meminta-minta. Aktivitas tersebut juga dinilai berada di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun, kategori keempat menunjukkan kondisi yang sebaliknya. Seseorang yang bekerja dengan motivasi ria, pamer, serta berbangga-bangga atas harta kekayaannya, maka ia sedang berjalan di jalan setan. Manusia harus waspada agar rutinitas keluar rumah setiap hari tidak tergolong ke dalam lingkaran jalan setan akibat dorongan kesombongan batin.

KHUTBAH KEDUA : Hakikat Pengiring Jenazah dan Bekal Kubur

Banyak orang terdekat yang telah mendahului pergi meninggalkan dunia ini dengan meninggalkan seluruh hasil usahanya, mulai dari rumah yang dibangun, kendaraan yang dimiliki, hingga harta benda lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan mengenai perkara yang menyertai seorang manusia ketika wafat:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit itu ada tiga hal; yang dua akan kembali dan yang satu akan tetap bersamanya. Ia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap bersamanya.” (HR. Bukhari)

Ketika seseorang meninggal dunia, iringan mobil dan rombongan keluarga, anak buah, maupun pengagumnya akan ikut mengantarkan jenazah sampai ke area pemakaman. Namun, dari sekian banyak orang yang mengantar, tidak ada satupun yang bersedia tinggal menemani di dalam liang kubur. Baik anak, orang tua, sahabat karib, maupun pekerja yang digaji tinggi, semuanya akan pulang. Perkara tunggal yang tetap tinggal menetap untuk menemani manusia di dalam kubur hanyalah amal perbuatannya.

Menyadari realitas tersebut, umat Islam dituntut untuk segera memperbanyak amal shalih dan tidak menunda-nunda proses berhijrah menuju kebaikan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan agar bersegera beramal sebelum datangnya gelombang fitnah dan ujian yang pekat menyerupai potongan malam yang gelap gulita.

Dampak buruk dari penundaan amal tersebut digambarkan melalui pergeseran iman yang sangat cepat. Akibat dahsyatnya fitnah, seseorang bisa berada dalam kondisi beriman pada pagi hari namun telah berubah menjadi kafir pada sore hari. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang sore harinya masih menghadiri majelis ilmu dan menunaikan shalat, bisa jadi pada keesokan subuhnya telah kehilangan iman.

Fenomena tersebut terjadi karena manusia mulai berani menjual agamanya demi mendapatkan sedikit kenikmatan duniawi, serta mengabaikan batasan halal dan haram demi mengejar harta, jabatan, maupun kedudukan yang fana.

Pada hari Jumat yang mulia, umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak pembacaan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta membaca Surat Al-Kahfi beserta tadabbur maknanya agar terhindar dari perbudakan harta. Kebiasaan imam saat memimpin shalat Jumat yang membaca Surat Al-A’la dan Surat Al-Ghasyiyah juga mengandung pesan berharga agar manusia tidak mengutamakan urusan duniawi di atas akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan teguran di dalam Al-Qur’an:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la[87]: 16-17)

Sumber Video Khutbah Jumat “Urgensi Istiqamah dalam Ketaqwaan”

Sumber : Syafiq Riza Basalamah Official

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: