Khutbah Jumat: Sebab-sebab diampuninya Dosa

Khutbah Jumat: Sebab-sebab diampuninya Dosa

Khutbah Jumat : Saat Kaki dan Tangan Berbicara
Khutbah Jumat : Hakikat Kehambaan dan Perintah Bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla
Khutbah Jumat: Persiapan Menuju Bulan Dzulhijjah

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Sebab-sebab diampuninya Dosa” yang disampaikan Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Hafidzahullahu Ta’ala

KHUTBAH PERTAMA: Urgensi Takwa dan Istiqamah

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Hadirin sidang jemaah yang Allah muliakan.

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib mengingatkan kembali dan mewasiatkan agar umat Islam terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap muslim wajib menjaga keislamannya serta senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar selalu diberikan bimbingan. Harapan terbesar adalah agar kelak apabila Allah mewafatkan hamba-hamba-Nya, kematian tersebut berada di atas Islam, iman, ketakwaan, dan di atas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah ‘Azza wa Jalla berpesan:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)

Hadirin yang Allah muliakan.

Orang yang meninggal di atas Islam dan iman memiliki landasan kuat untuk berharap kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Keyakinan yang mendalam harus tertanam bahwa tidak ada seorang manusia pun yang sanggup menahan panasnya api neraka. Oleh karena itu, peningkatan takwa melalui pelaksanaan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya harus terus diupayakan. Dalam bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terdapat janji kemuliaan di dunia dan di akhirat:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq[65]: 2-3)

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Terdapat sebuah hadits dari Anas bin Malik yang menceritakan bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا

“Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni engkau atas dosa-dosa yang telah engkau lakukan, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu sampai ke awan langit, kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa seisi bumi…” (HR. Tirmidzi)

ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“…Kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan mendatangkan ampunan sebesar itu pula kepadamu.” (HR. Tirmidzi)

Di dalam hadits qudsi ini terdapat beberapa sebab pengampunan dosa (asbabul maghfirah).

1. Berdoa Disertai dengan Pengharapan

Sebab yang pertama adalah berdoa disertai dengan pengharapan. Hal ini disimpulkan dari firman Allah Ta’ala dalam hadits qudsi di atas:

إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ

“Sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni engkau.” (HR. Tirmidzi)

Berdoa dengan penuh pengharapan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan sebab utama diampuninya dosa-dosa. Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hadits qudsi yang lain:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari)

Berdoa juga merupakan perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kamu kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir[40]: 60)

Berdoa dengan mengharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan syarat mutlak diijabahnya doa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan bimbingan:

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah.” (HR. Tirmidzi)

Apabila seorang hamba ingin mendapatkan ijabah, ia harus berharap penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memiliki keyakinan kuat bahwa Allah akan mengabulkan doa tersebut.

Berdoa juga harus dilakukan dengan memohon kemantapan, bukan dengan keragu-raguan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ

“Janganlah salah seorang di antara kalian berkata, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau kehendaki. Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau kehendaki.’ Hendaklah ia memantapkan permohonannya, karena sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia kehendaki dan tidak ada yang dapat memaksa-Nya.” (HR. Bukhari)

2. Istighfar yang Memenuhi Syarat Pertobatan

Sebab kedua untuk mendapatkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah beristigfar atau memohon ampunan, sebagaimana kelanjutan firman-Nya dalam hadits qudsi:

ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ

“…Kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan ampuni.” (HR. Tirmidzi)

Meskipun demikian, permohonan ampun ini harus dibarengi dengan upaya meninggalkan maksiat. Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada istilah dosa kecil jika dilakukan secara terus-menerus (ma’al israr), dan tidak ada istilah dosa besar jika dibarengi dengan tobat.

Seorang hamba yang beristighfar harus memenuhi syarat-syarat taubat:

Ikhlas: Memurnikan niat beristigfar dan bertobat semata-mata hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menyesal (an-nadam): Merasakan penyesalan yang mendalam atas perbuatan dosa yang telah dilakukan.

Meninggalkan maksiat (al-iqla’): Berhenti secara total dari perbuatan dosa tersebut.

Bertekad kuat (al-‘azm): Memiliki tekad yang bulat untuk tidak mengulangi kemaksiatan tersebut di masa yang akan datang.

3. Tauhid sebagai Sebab Utama Ampunan Dosa

Kemudian, sebab yang ketiga adalah tauhid. Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:

ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“…Kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan mendatangkan ampunan sebesar itu pula kepadamu.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini menjelaskan dengan sangat gamblang dan tegas bahwa tauhid merupakan sebab utama ampunan dari dosa. Seseorang yang tidak memiliki tauhid tidak akan mendapatkan ampunan. Seseorang yang melakukan syirik akbar kemudian meninggal dunia dalam keadaan tidak bertaubat dari kesyirikan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengampuninya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa yang selain dari (dosa) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa[4]: 48)

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، اسْتَغْفِرُوا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

KHUTBAH KEDUA: Konsekuensi Tauhid dan Pertemuan dengan Allah

>الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

Hadirin sidang jumat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Al-Imam Ibnul Qayyim pernah berkata bahwa seluruh kemaksiatan merupakan cabang-cabang dari kekafiran, sebagaimana seluruh ketaatan merupakan cabang-cabang dari keimanan.

Hadirin sidang jemaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di antara tuntutan tauhid adalah mewujudkannya melalui ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta meninggalkan perbuatan maksiat agar tauhid menjadi lebih sempurna. Pelajaran besar mengenai keutamaan tauhid serta bahaya menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat dipetik dari hadits pada khotbah pertama.

Selain itu, hadits tersebut juga menetapkan tentang kepastian pertemuan seorang hamba dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Setiap manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya selama hidup di dunia. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan kebajikan dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi[18]: 110)

Hadirin sidang jumat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada akhir khutbah ini, doa dipanjatkan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala terus membimbing kaum muslimin di atas kebenaran, iman, Islam, serta sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Permohonan juga dipanjatkan agar kelak diwafatkan di atas iman, Islam, dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta dimudahkan dalam segala urusan dunia maupun akhirat.

Doa Penutup Khotbah

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Sumber Video Khutbah Jumat “Sebab-sebab diampuninya Dosa”

Sumber : Masjid Al-Fattah

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: