Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat : Ngerinya Kedzaliman di Bulan Haram” yang disampaikan Ustadz Abdullah Zaen, Hafidzahullahu Ta’ala
Mukadimah dan Wasiat Ketakwaan
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَحْبِهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Jamaah shalat Jumat yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hendaknya senantiasa ditingkatkan dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan mengamalkan seluruh perintah Allah ‘Azza wa Jalla serta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sekaligus menjauhi seluruh hal yang dilarang oleh Allah ‘Azza wa Jalla serta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
KHUTBAH PERTAMA: Nama-Nama Allah ‘Azza wa Jalla dan Keistimewaan Ashhurul Hurum
Salah satu nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mulia adalah Al-Khaliq (Sang Maha Pencipta). Seluruh wujud di alam semesta ini merupakan ciptaan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak hanya malaikat, manusia, jin, binatang, dan tumbuh-tumbuhan, tetapi juga mencakup tempat dan waktu.
Di samping sebagai Al-Khaliq, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga bersifat Al-Hakim (Maha Bijaksana). Setiap hal yang diciptakan oleh-Nya mengandung hikmah yang sangat mulia. Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan ciptaan-Nya secara berbeda-beda:
- Ada manusia yang beriman dan ada yang tidak beriman.
- Ada tempat yang memiliki keistimewaan khusus dan ada tempat yang biasa.
- Ada waktu yang sangat spesial dan ada waktu yang tidak memiliki keistimewaan khusus.
Salah satu waktu spesial yang berkedudukan mulia adalah Asyhurul Hurum (bulan-bulan haram). Penyebutan ini didasari oleh ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengharamkan berbagai bentuk Kedzaliman serta sangat menekankan kehormatan dan kemuliaan pada bulan-bulan tersebut.
Jumlah bulan-bulan haram ada empat, yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Keberadaan momen hari ini yang bertepatan dengan tanggal 13 Dzulqa’dah 1447 Hijriah menandakan bahwa umat Islam saat ini sedang berada di dalam salah satu bulan haram yang mulia tersebut.
Kemuliaan suatu waktu membawa konsekuensi hukum dan amalan yang harus dipahami oleh setiap muslim:
- Amal Saleh: Setiap amalan kebaikan yang dikerjakan pada bulan haram mendatangkan ganjaran pahala yang jauh lebih besar dibandingkan jika dikerjakan pada waktu lainnya.
- Perbuatan Dosa: Sebaliknya, pelanggaran dan dosa yang dilakukan pada bulan haram mendatangkan hukuman serta konsekuensi dosa yang jauh lebih berat dibandingkan jika dilakukan pada waktu biasa.
Allah ‘Azza wa Jalla melarang perbuatan zalim di dalam bulan-bulan haram sebagaimana tercantum di dalam Al-Qur’an:
فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri di dalam bulan-bulan (haram) tersebut.” (QS. At-Taubah[9]: 36)
Larangan berbuat zalim di dalam ayat ini tidak bermakna bahwa kezaliman diperbolehkan pada bulan-bulan selainnya. Penekanan larangan tersebut menunjukkan bahwa tingkat keharaman dan konsekuensi dosa perbuatan zalim pada bulan-bulan haram menjadi jauh lebih dahsyat karena dilakukan pada waktu yang diagungkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di dalam Tafsir at-Thabari, Imam Qatadah Rahimahullah, seorang pakar tafsir terkemuka dari kalangan tabi’in, menjelaskan makna penekanan ayat di atas:
فَإِنَّ الظُّلْمَ فِي الأَشْهُرِ الْحُرُمِ أَعْظَمُ خَطِيئَةً وَوِزْرًا مِنَ الظُّلْمِ فِيمَا سِوَاهَا
“Sesungguhnya kezaliman yang dilakukan pada bulan-bulan haram memiliki tingkat kesalahan dan Dosa yang jauh lebih besar dibandingkan kezaliman yang dilakukan pada bulan-bulan lainnya.”
وَإِنَّ الظُّلْمَ عَلَى كُلِّ حَالٍ عَظِيمٌ ، وَلَكِنَّ اللَّهَ يُعَظِّمُ مِنْ أَمْرِهِ مَا يَشَاءُ
“Meskipun pada hakikatnya kezaliman di dalam keadaan apapun merupakan dosa besar, namun Allah mengagungkan sebagian perkara sesuai dengan kehendak-Nya.”
Secara umum, kezaliman terbagi menjadi tiga jenis sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam haditsnya:
الظُّلْمُ ثَلاَثَةٌ : فَظُلْمٌ لاَ يَتْرُكُهُ اللَّهُ ، وَظُلْمٌ يُغْفَرُ ، وَظُلْمٌ لاَ يُغْفَرُ. فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لاَ يُغْفَرُ فَالشِّرْكُ لاَ يَغْفِرُهُ اللَّهُ ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يُغْفَرُ فَظُلْمُ الْعَبْدِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ ، وَأَمَّا الَّذِي لاَ يَتْرُكُهُ فَقَصَاصُ بَعْضِهِمْ بَعْضًا
“Kezaliman itu ada tiga macam: kezaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah, kezaliman yang diampuni oleh Allah, dan kezaliman yang tidak diampuni oleh Allah. Adapun kezaliman yang tidak diampuni oleh Allah adalah kesyirikan, Allah tidak akan mengampuninya. Adapun kezaliman yang diampuni adalah kezaliman seorang hamba di dalam hubungan antara dirinya dengan Rabbnya. Sedangkan kezaliman yang tidak akan dibiarkan adalah kezaliman (hak) antara sesama manusia, Allah akan menuntaskan balasan di antara mereka.” (HR. Abu Dawud At-Thayalisi)
Setiap muslim dituntut untuk mewaspadai ketiga jenis kezaliman tersebut di dalam kehidupan sehari-hari:
1. Kezaliman terhadap Hak Allah Subhanahu wa Ta’ala (Kesyirikan)
Kesyirikan merupakan bentuk kezaliman terbesar, yaitu menempatkan ibadah bukan pada tempat yang semestinya dengan mempersembahkan ibadah kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla. Praktik pengalihan ibadah ini masih banyak dijumpai di tengah masyarakat, seperti:
- Meminta keselamatan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Mempersembahkan sesaji kepada makhluk gaib.
- Menggantungkan harapan pada tempat-tempat keramat.
- Melakukan nazar yang ditujukan untuk penghuni kubur.
Seluruh tindakan tersebut merupakan bentuk pengalihan ibadah yang murni merupakan hak mutlak Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
2. Kezaliman terhadap Diri Sendiri
Kezaliman terhadap diri sendiri dilakukan melalui perbuatan dosa dan maksiat, baik berupa maksiat lisan, mata, telinga, hati, tangan, maupun kaki. Kenikmatan sesaat yang dirasakan pelaku maksiat pada hakikatnya merupakan tindakan penganiayaan dan perusakan terhadap fisik serta kesucian hatinya sendiri, timbulnya kegelisahan hati serta ketidak tenangan di dalam hidup. Pelaku maksiat bahkan berpotensi terjerat di dalam kebiasaan buruk yang sulit dihentikan. Kendati demikian, selama hamba tersebut bersedia bertobat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, pintu ampunan senantiasa terbuka lebar baginya.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
KHUTBAH KEDUA: Kezaliman Antarmanusia dan Akibatnya
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، أَمَّا بَعْدُ
Sidang Jumat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Kezaliman AntarManusia
Kezaliman jenis ketiga adalah kezaliman antarmanusia dan antar makhluk Allah ‘Azza wa Jalla. Bentuk kezaliman ini seringkali diremehkan oleh sebagian orang, padahal akibat yang ditimbulkannya sangat berat di akhirat serta bentuk perbuatannya sering terjadi di dalam kehidupan sehari-hari:
- Seorang suami yang bersikap kasar kepada istrinya atau menelantarkan nafkah keluarganya.
- Orang tua yang mengabaikan pendidikan agama anak-anaknya serta membiarkan mereka jauh dari ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Seorang guru yang hanya berfokus mengejar target kurikulum tanpa memperhatikan pembinaan akhlak murid-muridnya.
- Tetangga yang sering mengganggu, menyebarkan aib, atau mengambil hak orang lain tanpa izin.
Seluruh tindakan tersebut merupakan kezaliman antarmanusia yang tidak akan dibiarkan begitu saja oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, melainkan akan dimintai pertanggungjawabannya secara terperinci kelak pada hari kiamat. Pertanggungjawaban tersebut menjadi jauh lebih berat apabila kezaliman dikerjakan pada bulan-bulan haram yang sedang berlangsung saat ini hingga beberapa bulan ke depan.
Penutup
Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan umat beriman untuk berselawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ أَنْجِ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ ، اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِكَ عَلَى عَدُوِّهِمْ ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى الْيَهُودِ يَا عَزِيزُ يَا جَبَّارُ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ ، وَآخِرُدَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Sumber Video Khutbah Jumat “Ngerinya Kedzaliman di Bulan Haram”
Sumber : Ustadz Abdullah Zaen
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS