Ceramah Singkat: Bagai Gelombang di Lautan

Ceramah Singkat: Bagai Gelombang di Lautan

iklan erto's

“Bagai Gelombang di Lautan” ini merupakan catatan kajian dari ceramah singkat yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafizhahullahu Ta’ala

Ceramah Singkat: Bagai Gelombang di Lautan

Akhul Islam,

Lihatlah ombak yang bergelombang itu silih berganti. Ketika ia datang dan pergi, datang lagi ombak yang lainnya. Demikian silih berganti menerpa kehidupan. Ada sesuatu yang mirip dengan ombak yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan kepada kita. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim di mana Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada para sahabat yang sedang duduk-duduk.

أَيُّكُمْ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْفِتْنَة

“Siapa di antara kalian yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang fitnah?”

Maka para sahabat berkata:

نَحْنُ سَمِعْنَاهُ

“Kami semua mendengarnya, wahai Umar.”

Kata Umar,

لَعَلَّكُمْ تَعْنُونَ فِتْنَةَ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ

“Mungkin maksud kalian adalah fitnah seseorang yang menimpa keluarga, harta, dan anak-anaknya.”

Kata mereka, “Betul sekali.”

Kata Umar,

ليس عن هذا

“Bukan tentang ini yang saya inginkan.”

وَلَكِنْ الْفِتْنَة الَّتِي تَمُوجُ مَوْجَ الْبِحَارِ

“Akan tetapi,  ia adalah fitnah yang bergelombang seperti gelombang lautan yang silih berganti.”

Kata Hudzaifah,

لا عليك يا عمر

“Engkau tidak akan ditimpa fitnah itu wahai Umar.”

فَاِنَّ بَيْنَكَ وَ بَيْنَها بَابًا.

“Karena antara engkau dan fitnah itu ada pintu.”

Lalu Umar berkata, “Apakah pintu itu akan terbuka atau pintu itu akan pecah?” Kata Hudzaifah, “Akan pecah.” Kata Umar: “Kalau begitu, tidak akan tertutup selama-lamanya.”

Fitnah Yang Datang Silih Berganti

Subhanallah,

Fitnah yang bergelombang yang menerpa kehidupan mukmin. Ketika fitnah yang satu telah hilang, datang fitnah berikutnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggambarkan juga dalam hadits lain Riwayat Muslim dan An Nasa’i, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِهِ جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا، وَسَيُصِيبُ آخِرَهَا

“Sesungguhnya umat Islam ini dijadikan kebaikannya di generasi pertamanya dan generasi akhirnya akan ditimpa musibah dan bencana.”

وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ

“Dan Nanti akan datang fitnah.”

فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا

“Sehingga menjadikan fitnah setelahnya lebih berat dibandingkan dengan fitnah sebelumnya.”

وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ

“datang fitnah.”

فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ

“si Mukmin berkata,

هَذِهِ مُهْلِكَتِي

“ini akan membinasakanku.”

ثُمَّ تَنْكَشِفُ

“kemudian fitnah itu pergi.”

وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ

“datang lagi fitnah yang lain.”

فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ

“si Mukmin berkata.”

هَذِهِ وَ هَذِهِ

“ini yang akan membinasakanku.”

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Barang siapa yang ingin diselamatkan dari api Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka hendaklah kematian mendatangi dia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhirat.”

وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“dan hendaklah ia mendatangi manusia dengan pergaulan yang baik sebagaimana ia suka untuk pergauli dengan pergaulan yang baik.”

Fitnah Bagi Orang Mukmin

Subhanallah, ternyata akan datang fitnah yang bergelombang menerpa kehidupan seorang mukmin silih berganti. Fitnah itu membersihkan dosa-dosa seorang mukmin. Fitnah itu menempa keimanan sehingga menyaringnya siapa diantara mereka yang benar-benar di atas keimanan yang benar dan siapa yang dusta keimanannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الٓمٓ .أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira akan dibiarkan berkata ‘kami beriman’ sementara ia tidak diuji?” (QS. Al-Ankabut[29]: 1-2)

وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ

“Sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka,”

فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ

“dengan ujian atau fitnah itu akan terlihatlah siapa yang jujur keimanannya dan siapa yang dusta keimanannya.” (Qs. Al-Ankabut[29]: 3)

Subhanallah, fitnah yang bergelombang menerpa kehidupan mukmin, silih berganti tak ada henti-hentinya sampai ia bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan ia tidak membawa dosa. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi)

Tentunya fitnah yang bergelombang itu menakutkan bagi seorang mukmin. Ia khawatir apabila agamanya binasa. Oleh karena itu, kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ

“datang fitnah.”

فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ

“si Mukmin berkata,

هَذِهِ مُهْلِكَتِي

“ini akan membinasakanku.”

Fitnah itu berupa berbagai macam; fitnah syahwat, syubhat, dan fitnah itu terkadang berupa kesenangan yang menimpa kehidupan seorang hamba atau pun kesusahan dan kesulitan. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً

“dan Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah untuk kalian.” (QS. Al-Anbiya[21]: 35)

Harapan Orang Mukmin

Seorang mukmin berharap ia termasuk orang-orang yang berhasil dalam kehidupannya menghadapi berbagai macam fitnah yang menimpa dirinya dan diberikan keistiqomahan. Sehingga ia pun selamat dan meninggal di atas ketakwaan kepada-Nya, oleh karena itu Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala;

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِيْ وَتَرْحَمَنِيْ وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِيْ غَيْرَ مَفْتُوْنٍ

“Ya Allah aku mohon kepada Engkau untuk bisa berbuat kebaikan, meninggalkan kemunkaran dan agar bisa mencintai orang miskin dan agar Engkau ampuni dosaku, sayangi aku, dan Engkau berikan tobat kepadaku. Dan apabila fitnah itu hendak menimpa suatu kaum wafatkan aku di atas dalam keadaan tidak terkena fitnah.” (HR. Tirmidzi & Ahmad)

Ini yang kita harapkan, akhi. Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan datangnya fitnah yang bergelombang, yang menerpa kehidupan kaum mukminin. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui siapa yang di atas keimanan dengan sebenar-benarnya dan siapa yang di atas kedustaan dalam keimanannya. Karena pasti ujian akan menerpa kehidupan seorang mukmin sebagai fitnah untuknya.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita termasuk orang-orang yang berhasil melewati fitnah demi fitnah. Melewati gelombang demi gelombang dengan penuh ketabahan, kesabaran dan keistiqomahan. Lalu kita wafat di atas sesuatu yang diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar fitnah itu tidak mencelakakan kita dan kita tidak ditimpa musibah dalam agama kita. Karena itu fitnah yang berat, ya akhal Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa:

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا

“Ya Allah jangan Engkau jadikan musibah itu menimpa agama kami.”

Video Ceramah Singkat: Bagai Gelombang di Lautan

Sumber video: Channel Yufid.TV

Mari turut menyebarkan tulisan tentang “Ceramah Singkat: Bagai Gelombang di Lautan” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: