Solusi Islam Terhadap Kemiskinan (Bag. 1)

Solusi Islam Terhadap Kemiskinan (Bag. 1)

dukung ngaji id

Tulisan tentang “Solusi Islam Terhadap Kemiskinan (Bag. 1)” ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Abd

Julurkanlah Jilbab ke Seluruh Tubuh
Ceramah Singkat: Apakah Anda Orang Baik?
Ceramah Singkat: Jangan Menyerah dalam Pekerjaan

Tulisan tentang “Solusi Islam Terhadap Kemiskinan (Bag. 1)” ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullahu Ta’ala.

Sebelumnya: Nasihat Untuk Sang Fakir

Solusi Islam Terhadap Kemiskinan (Bag. 1)

Menit ke-18:43 Sekarang kita akan masuk pada bagaimana solusi atau penyelesaian yang Islam berikan dalam menghadapi problematika kemiskinan. Dan in syaa Allah Syaikh akan menyampaikan beberapa poin yang hendaknya orang yang miskin memperhatikan poin-poin tersebut dan berusaha untuk bisa melaksanakan poin-poin tersebut. Karena ini solusi yang ajaran Islam berikan. Dan setiap poin akan dikuatkan dengan dalil-dalil.

Oleh karena itu, poin-poin yang akan Syaikh sebutkan itu pada hakikatnya merupakan Hulul Islamiyyah yaitu solusi Islami dan Taujihat Islamiyah yaitu pengarahan-pengarahan Islamiyyah. Seseorang yang fakir sebaiknya berusaha untuk bisa melaksanakannya, sehingga dia bisa berjalan di atas jalan yang benar dan bisa mengatasi problem yang dia hadapi. Mari kita dengarkan poin-poin tersebut.

1. Bersabar

Menit ke-21:07 Adapun poin yang pertama yang harus seseorang lakukan ketika diuji dengan kemiskinan, sebagaimana telah diisyaratkan pada pembahasan yang lalu, yaitu seseorang yang miskin maka wajib bagi dia untuk bersabar atas ujian yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan.

Jangan sampai dia marah atau kemudian mengamuk. Hendaknya dia bersabar dan dia tidak mengeluhkan kemiskinannya kepada orang-orang. Dan hendaknya dia mengeluhkan kemiskinannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam Al-Qur’an;

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku,” (QS. Yusuf[12]: 86)

Dan ketahuilah bahwasanya bagi seseorang, sabar itu mungkin di awal melaksanakannya rasanya pahit. Memang sabar itu pahit, sulit untuk dilaksanakan. Akan tetapi kesudahannya sangatlah manis. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan orang-orang yang sabar itu mendapatkan kesudahan yang sangat manis dan sangat indah. Dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 155)

Seseorang mungkin diuji dengan sebagian sanak keluarga yang meninggal dunia, diberi sedikit rasa lapar, kekurangan harta, atau kekurangan hasil panen. Semuanya adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu memang pahit dirasakan akan tetapi akibatnya sungguh indah, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan;

وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

2. Yakin Kepada Allah

Menit ke-24:44 Adapun poin kedua yang harus diperhatikan oleh seseorang yang diuji dengan kemiskinan yaitu dia harus benar-benar yakin bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala;

عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Allah Maha Mengetahui dan Allah Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah[9]: 60 dan di ayat lainnya)

يَدْعُ الأمور مواضعها

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala meletakkan setiap perkara pada tempatnya.”

Allah Maha Bijaksana. Tidak sembarangan dalam mengambil keputusan. Allah Subhanahu wa Ta’ala meletakkan setiap perkara pada tempatnya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah Yang Maha Mengetahui tentang kondisi makhluk-Nya, kondisi hamba-hamba-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui bagaimana yang terbaik buat makhluk-Nya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala;

عَلِيْمٌ بِأَوَخِيْبِهِمْ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui tentang akibat-akibat yang bisa timbul kepada mereka”

Bisa jadi seorang manusia senang terhadap suatu perkara, senang dengan kekayaan, namun bisa jadi ternyata itu mudharat bagi dia. Dan sebaliknya, bisa jadi seseorang benci dengan suatu perkara namun ternyata perkara tersebut baik bagi dia. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam Al-Qur’an;

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 216)

Bisa jadi engkau suka pada kekayaan. Namun Subhanallah, sebenarnya kekayaan tersebut membawa bencana kepada engkau. Seseorang mungkin sekarang miskin, dalam keadaan taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun jika datang kekayaan kepada engkau maka engkau akan binasa. Engkau akan gunakan kekayaan tersebut untuk sarana-sarana kemaksiatan. Tenggelam dalam kemaksiatan dan meninggalkan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan bisa jadi engkau mungkin benci kepada kemiskinan namun itu lebih baik untuk engkau. Semuanya yang tahu adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menutup ayat tadi dengan perkataan-Nya;

وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Allah mengetahui (kemashlahatan kalian), sedang kamu tidak mengetahui.”

Menit ke-27:48 Oleh karena itu dalam suatu hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyampaikan hal ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

إِنَّ مِنْ عِبَادِى مَنْ لاَ يُصْلِحُهُ إِلاَّ بِالغِنَى وَلَوْ أَفْقَرْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذلك. وَإِنَّ مِنْ عِبَادِى المؤمنين لَمَنْ لاَ يُصْلِحُهُ إِلاَّ بالفَقْر, وَلَوْ أَغْنَيْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذلك،

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku ada yang tidak bisa menjadi baik kecuali dengan kekayaan. Kalau seandainya Aku jadikan hamba-Ku tersebut miskin, maka kemiskinan tersebut akan merusak dia. Dan di antara hamba-hamba-Ku yang beriman ada hamba-hamba yang tidak mungkin dia menjadi baik kecuali dengan miskin. Kalau seandainya Aku menjadikan dia kaya, maka kekayaan tersebut akan merusak dia.”

Menit ke-29:23 Maka jika seseorang yang miskin melihat hal ini, cara memandangnya dengan pandangan yang telah dijelaskan bahwasanya semuanya di balik semua yang terjadi ada hikmah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lebih mengetahui kemaslahatan seorang hamba, maka kesedihannya akan pergi.

Dia yakin bahwasanya apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan kepada dia merupakan yang terbaik bagi dia. Kemudian tatkala kesedihannya pergi, maka dia pun akan semangat dalam mencari rezeki. Adapun jika seseorang tetap saja sedih, akhirnya dia akan menjadi malas dalam mencari rezeki. Ini menjadi problem bagi dia. Kalau dia kemudian tetap sedih terus, akhirnya malas mencari rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Lihat ke Bawah, Jangan ke Atas

Menit ke-31:49 Kemudian perkara yang ketiga yang harus diperhatikan oleh seseorang yang fakir, yaitu hendaknya dia tidak melihat kepada yang lebih dari pada dia. Jangan dia melihat ke atas, yang kaya raya. Jangan. Tapi hendaknya dia melihat ke bawah, yang lebih miskin dari pada dia.

Bagaimanapun miskinnya dia, pasti akan mendapati orang yang lebih parah dari pada dia, yang lebih miskin dari pada dia. Kalau dia melihat ke bawah, melihat orang lebih parah dari pada dia, maka dia tidak akan menyepelekan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sesungguhnya kalau direnungkan, nikmat yang dia miliki itu masih banyak. Subhanallah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan dia nikmat yang banyak sekali. Bisa jadi dia memiliki kesehatan yang baik, dia tidak cacat, terlindung dari penyakit, memiliki anak-anak, alhamdulillah dia masih mempunyai rumah, di malam hari tenang (tidak ketakutan). Kemudian dia masih bisa tidur dengan pulas dan nikmat yang paling besar adalah dia seorang muslim. Allah Subhanahu wa Ta’ala masih menjadikannya seorang muslim.

Coba kalau dia perhatikan orang-orang miskin yang lain. Masih banyak orang-orang miskin yang mungkin belum mempunyai rumah. Masih banyak orang miskin yang mungkin dalam keadaan sakit. Sudah miskin kemudian sakit. Juga masih banyak orang miskin yang mungkin ketakutan di malam hari, dia tidak bisa tidur, dan masih banyak orang miskin dalam keadaan kafir.

Alhamdulillah Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan dia nikmat-nikmat yang banyak. Maka jika dia adalah seorang yang miskin kemudian melihat ke bawah, melihat kepada yang lebih miskin dari pada dia, maka dia tidak akan melupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia akan ingat-ingat nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berbeda jika seseorang melihat ke atas, melihat orang yang kaya. Maka dia akan melupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia akan mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan nikmat kepada saya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan saya.”

Oleh karena itu, dalam suatu hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk melihat ke bawah. Dalam satu hadits Rasulullah wa Sallam bersabda;

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada yang di bawah kalian dan janganlah kalian melihat yang di atas kalian, sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian.” (HR Muslim No. 2963)

4. Tidak Meminta Kepada Makhluk

Menit ke-35:02 Perkara yang keempat yaitu seseorang yang fakir janganlah dia berusaha untuk menghilangkan kefakirannya dengan meminta kepada makhluk. Karena para makhluk semuanya tidak memiliki kekayaan yang dia kehendaki. Para makhluk tidak memegang manfaat dan tidak memiliki kemudharatan.

الغنى والفقر بيد الله

Sesungguhnya kekayaan dan kemiskinan itu ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Pemberian dan tidak diberikan sesuatu, itu ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka janganlah seseorang yang miskin minta kepada makhluk yang lain, kepada manusia yang lain. Kecuali kalau memang dalam keadaan darurat  maka tidak mengapa dia minta tolong kepada manusia yang lain. Namun asalnya, seseorang berusaha untuk tidak minta-minta kepada makhluk. Hendaknya dia;

اِخْبَال على الله.

“Bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berdoa dan berusaha. Kalau bukan hal darurat, maka jangan dia minta kepada makhluk. In syaa Allah Syaikh akan menjelaskan bagaimana usaha agar seseorang bisa mendapatkan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menit ke-37:29 Dalam suatu hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan bahwasanya;

إِنَّ الْـمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ : رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ، وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ –أَوْ قَالَ : سِدَادً مِنْ عَيْشٍ- وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُوْمَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ : لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ ، فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْش ٍ، –أَوْ قَالَ : سِدَادً مِنْ عَيْشٍ- فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْـمَسْأَلَةِ يَا قَبِيْصَةُ ، سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا.

“Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah, adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.” (Shahih: HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, an-Nasa-i, dan selainnya). [1]

5. Meminta Kepada Allah

Menit ke-40:12 Poin yang kelima yang seharusnya diperhatikan oleh seseorang yang miskin dan fakir adalah hendaknya dia bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdoa dengan sungguh-sungguh dengan penuh harapan, merengek-rengek minta kepada Allah Subahanhu wa Ta’ala. Karena Allah Subahanhu wa Ta’ala Dia-lah Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki. Dalam Al-Qur’an Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman;

فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ

“maka mintalah rezeki itu di sisi Allah,” (QS. Al-‘Ankabut[29]: 17)

Yakini ayat ini, bahwasannya rezeki di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyia-nyiakan orang yang bermohon-mohon kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan orang yang merengek-merengek dan menangis-nangis minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku,” (QS. Al-Baqarah[2]: 186)

Dan ayat-ayat yang semakna dengan ini ada banyak sekali. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan balasan/ jawaban kepada orang yang berdoa kepada-Nya dengan sungguh-sungguh, konsentrasi, dan penuh harapan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka doa adalah;

الدعاء مفتاح كل خير

Doa adalah kunci dari segala kebaikan.” (Majmu’ Alfatawa 10:661)

6. Tidak Menempuh Jalan yang Diharamkan

Menit ke-43:00 Kemudian perkara yang keenam yang harus diperhatikan oleh seseorang yang fakir dan miskin adalah hendaknya dia menjauhkan dirinya sejauh-jauhnya dari menempuh perkara-perkara yang tidak disyariatkan dalam rangka mendapatkan kekayaan.

Kalau ingin berusaha, berusahalah dengan cara yang halal. Bekerja dengan cara yang benar. Adapun jika ingin memperoleh kekayaan untuk menghilangkan kemiskinan dengan cara-caranya yang tidak benar, maka ini tidak diperbolehkan. Dengan cara-cara khurafat,  perkara-perkara yang penuh dengan khurafat, perkara yang aneh-aneh, pergi ke kuburan, minta kepada penghuni kubur, atau datang ke tukang sihir/ para dukun.

Orang-orang yang menempuh atau ingin kaya dengan cara-cara seperti ini, pergi ke dukun atau pakai tamimah, menggantungkan sesuatu, dia pakai jimat-jimat. Atau dia pergi ke tempat-tempat yang jauh misalnya ke gunung, kemudian mungkin ke danau, atau ke lembah-lembah untuk mencari benda-benda antik. Untuk mencari jimat-jimat supaya dia kaya. Maka mereka tidak melakukan ini kecuali semakin إِلَىٰ وَهْنًا, tidak akan menambah kepada mereka kecuali kelemahan.

لا يزيدهم الا فقرا.

“Semakin mereka melakukannya, maka mereka semakin miskin.”

Mereka hanya ditertawakan oleh para dukun/ tukang sihir. Sementara banyak dukun-dukun itu mereka sendiri dalam keadaan miskin, mereka tidak mampu menolak kemiskinan dari diri mereka, bagaimana mereka bisa (memberikan kekayaan)? Makanya mereka buka praktek perdukunan. Bagaimana mereka bisa menolak kefakiran dari orang-orang selain mereka?

Oleh karena itu, kata Syaikh ini adalah perkara yang sangat penting dan sangat berbahaya. Jangan sampai seseorang ingin mendapatkan kekayaan dengan menempuh cara-cara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan.

Selanjutnya: Solusi Islam Terhadap Kemiskinan (Bag. 2)

MP3 Kajian Solusi Islam Terhadap Kemiskinan (Bag. 1)

 

Mari turut menyebarkan tulisan tentang “Solusi Islam Terhadap Kemiskinan (Bag. 1)” ini di media sosial yang Anda miliki baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum.

Catatan:
[1] Sumber: https://muslimah.or.id/8813-penjelasan-mengenai-larangan-meminta-minta.html

Komentar

WORDPRESS: 0