Ceramah Singkat: Sandaran Hati

Ceramah Singkat: Sandaran Hati

pandai mendengar

Penyandaran hati, tawakal, takut dan berharap kepada Allah, yakin dengan pilihanNya, ridha dengan ketentuanNya, selalu bersangka baik kepada Allah, ini justru yang menentukan keberhasilan dan kebaikan.

Ceramah Singkat: Penyejuk Hati
Kultum Singkat Tentang Sulitnya Memperbaiki Niat
Hijrah yang Wajib bagi Setiap Orang

Berikut ceramah singkat “Sandaran Hati” yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. Hafidzahullahu Ta’ala.

Ceramah Singkat: Sandaran Hati

Banyak di antara kita yang tidak memahami tingginya kedudukan bersandar kepada Allah dalam segala sesuatu yang kita inginkan, baik dalam kebaikan-kebaikan urusan dunia apalagi dalam urusan agama. Tidak sedikit di antara kita yang menganggap bertawakal, berdoa kepada Allah, bergantung kepadaNya sebagai perkara yang dilakukan nomor 2, nomor 3 atau nomor 4. Pertama kita usaha dulu, lakukan dulu dengan anggota badan kita, biasanya orang mengatakan “ikhtiar dulu baru tawakal setelah itu.”

Apakah ini benar? Tentu ini bukan hal yang dibenarkan dalam agama.

Bertawakal itu dilakukan dari awal, di pertengahan dan sampai akhir, tidak dijadikan urusan yang kedua atau ketiga. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa hidayah tergantung dari i’tishom (penyadaran diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Barangsiapa yang selalu bersandar/berpegang teguh dengan Allah, maka dialah yang mendapatkan bimbingan/petunjuk untuk menempuh jalan yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 101)

Mengenai tawakal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa yang bertawakal/berserah diri/menyandarkan hatinya dengan benar kepada Allah, maka Allah akan mencukupi segala urusan dan kebutuhannya.” (QS. At-Talaq[65]: 3)

Coba lihat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tawakal itu yang harusnya diutamakan/didahulukan. Memang kita diperintahkan melakukan sebab, tapi siapa yang mengatakan sebab itu hanya usaha-usaha dzahir yang dilakukan manusia, hanya berdasarkan apa yang dipikirkan, strategi yang dirancang manusia atau kekuatan fisiknya, keterampilan badannya. Siapa yang mengatakan demikian?

Doa adalah sebaik-baik usaha. Penyandaran hati adalah usaha yang paling utama. Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan:

أَنَّ الدُّعَاءَ مِنْ أَقْوَى الْأَسْبَابِ لجَلْبِ المَصَالِح وَدَفْعِ المَكَارِه

“Sesungguhnya doa termasuk usaha yang paling kuat/sebab yang paling besar untuk bisa mendatangkan kebaikan-kebaikan dan menolak keburukan-keburukan.”

Jadi, penyandaran hati, tawakal, takut dan berharap kepada Allah, yakin dengan pilihanNya, ridha dengan ketentuanNya, selalu bersangka baik kepada Allah, ini justru yang menentukan keberhasilan dan kebaikan, ini justru yang menjadikan tenang hati hamba ketika bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya dalam hadits Qudsi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku sesuai dengan persangkaan/pengharapan hambaKu kepadaKu.” (Muttafaqun ‘alaih)

Lihatlah dalam hal pengampunan dosa. Sebanyak apapun hamba berbuat dosa, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits Qudsi yang shahih riwayat Tirmidzi dan yang lainnya:

يَا ابْنَ آَدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوتَنِيْ وَرَجَوتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلا أُبَالِيْ

“Wahai manusia, selama engkau masih berharap kepada Allah, berdoa kepada Allah, maka Aku akan ampuni semua dosa-dosamu tidak peduli sebanyak apapun dosa tersebut.” (HR. Tirmidzi)

Salah seorang sahabat pernah dijenguk oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika sedang sakit. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepadanya: “Apa yang kamu rasakan saat ini?” Sahabat Radhiyallahu ‘Anhu dalam hadits ini mengatakan:

وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنِّي أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي

“Wahai Rasulullah, Demi Allah aku benar-benar mengharapkan rahmat Allah dan khawatir karena dosa-dosaku.”

Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

“Tidaklah terkumpul dua perasaan takut dan berharap dalam hati seorang hamba dalam kondisi sakit seperti ini kecuali Allah akan berikan apa yang diharapkannya dan Allah akan selamatkan dia dari apa yang ditakutkannya.” (HR. Tirmidzi)

Luar biasa pengaruhnya dari penyadaran hati. Makanya jangan kita mempersempit yang luas, apalagi mengatakan kita dahulukan dulu usaha, penyusunan strategi, perempuan dan keterampilan anggota badan, baru kita bertawakal, baru berdoa, baru kita bersandar kepada Allah.

Subhanallah, apakah pantas kita mengatakan pertolongan Allah itu belakangan kita harapkan? Bukan dari awal? Siapa yang akan memberikan bimbingan kepada kita dari awal untuk memulainya dengan tepat/untuk merencanakannya sesuai dengan sebab-sebab yang mendatangkan kebaikan kalau bukan karena pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala? Kenapa kita menjadikan memohon pertolonganNya itu nomor dua? Apalagi dalam urusan-urusan kebaikan yang  berhubungan dengan agama.

Oleh karena itulah perkara tawakal/bersandar kepada Allah tidak boleh kita remehkan. Makanya sebelum berusaha/berbuat apa saja, kita berpikir bahwa usaha ini bisa kita rancang strategi untuk menghasilkan yang baik, mungkin dengan keterampilan kita, hasil kursus kita, hasil bertanya kita, pengalaman kita, kita bisa memikirkan bagaimana caranya sebab-sebab untuk menghasilkan yang baik. Tapi pertanyaannya apakah kita tahu akibat kebaikan dari segala sesuatu? Apakah kita pastikan usaha yang kita anggap baik ini nanti juga akibatnya/dampaknya akan baik (utamanya bagi agama kita)?

Pertanyaan yang lebih tinggi daripada itu, apakah kamu yang lebih tahu dibandingkan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Siapa yang sempurna pengetahuannya, yang mengetahui segala sesuatu dengan akibat-akibatnya? Siapa yang bisa memastikan kebaikan yang kita perkirakan ini benar-benar baik untuk agama kita?

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mengetahui semuanya.

Makanya perencanaan yang ada dalam pikiran manusia bisa jadi dianggapnya baik, tapi bisa jadi setelah itu menimbulkan yang buruk. Atau apa yang tidak disukainya dianggap buruk tapi ternyata bisa menghasilkan kebaikan. Karena manusia tidak tahu. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Wahai manusia bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal itu mendatangkan kebaikan bagimu, atau kamu menyukai sesuatu padahal justru memberikan keburukan bagimu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 216)

Maka tahu dirilah untuk kita kemudian mengatakan: “Setinggi apapun pengetahuan saya, saya tetap tidak mengetahui akibat dari segala sesuatu.” Tahu dirilah untuk kita bersandar kepada sebaik-baik Dzat yang tempat kita pantas bersandar kepadanya. Karena Dia sempurna ilmuNya, sempurna kebaikanNya, sempurna rahmat dan karuniaNya.

Demi Allah, tentu pilihanNya lebih baik daripada apa yang dipilih, dirancang dan direncanakan manusia itu untuk dirinya sendiri. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan nasihat ini bermanfaat dan memahami bahwa penyadaran diri kita kepada Allah dari awal sampai akhir justru yang merupakan penentu terbesar dari hasil yang baik dan kesudahan yang baik dari segala urusan kita.

Video Ceramah Singkat: Sandaran Hati

Sumber video: Yufid.TV

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang kultum singkat “Sandaran Hati” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0