Khutbah Jumat: Kemenangan yang Hakiki

Khutbah Jumat: Kemenangan yang Hakiki

Perhatikan Makananmu! – Khutbah Idul Fitri Ustadz Syafiq Riza Basalamah
Khutbah Jumat Singkat Tentang Amalan Tergantung Akhirnya
Khutbah Jumat : Hakikat Muraqabah dan Sifat Allah Yang Maha Mengawasi

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Kemenangan yang Hakiki” yang disampaikan Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Hafidzahullahu Ta’ala

Mukaddimah (Pembuka Khutbah)

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Hadirin sidang jumat yang Allah muliakan.

Dalam kesempatan yang mulia ini, khatib kembali mengingatkan agar umat Islam terus menjaga serta meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap hamba perlu meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar apabila diwafatkan kelak, kematian tersebut berada dalam keadaan iman, Islam, dan di atas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Melalui istikamah tersebut, terdapat harapan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan hamba-Nya dari api neraka dan memasukkannya ke dalam surga. Allah Ta’ala berpesan:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 102)

Keyakinan yang mendalam harus tertanam bahwa manusia tidak akan mungkin sanggup menahan panasnya api neraka. Oleh karena itu, peningkatan iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus terus diupayakan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan jalan hidup di dunia serta memberikan keberkahan. Allah ‘Azza wa Jalla berjanji:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq[65]: 2-3)

KHUTBAH PERTAMA: Hakikat Kesuksesan yang Sebenarnya

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Banyak manusia memandang bahwa kesuksesan hanya dilihat dari aspek duniawi. Ketika seseorang menjadi direktur atau memiliki rumah, kendaraan, dan tanah yang luas, ia langsung dikatakan sebagai orang yang sukses. Hal tersebut mungkin merupakan kesuksesan yang semu di dunia. Namun, umat Islam memandang kesuksesan tidak hanya sebatas materi duniawi. Kesuksesan yang hakiki diukur berdasarkan firman Allah Ta’ala:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 185)

Setiap makhluk yang hidup pasti akan menghadapi kematian. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa penyempurnaan pahala baru akan diberikan pada hari kiamat kelak. Berdasarkan ayat tersebut, orang yang benar-benar sukses, beruntung, dan menang adalah mereka yang dijauhkan dari api neraka serta dimasukkan ke dalam surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan perhiasan yang menipu.

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda mengenai kondisi manusia ketika berpindah ke alam kubur:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ

“Akan mengiringi mayit tiga perkara, maka dua perkara akan kembali dan satu perkara akan tetap bersamanya.” (HR. Bukhari)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merincikan ketiga hal tersebut di dalam kelanjutan hadits:

يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Mayat itu akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Lalu keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap bersamanya.” (HR. Bukhari dan HR. Muslim)

Hadirin sidang jemaah yang Allah muliakan.

Akhirat adalah tempat yang abadi. Umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diberikan nasihat berharga oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa keluarga yang mendampingi hidup akan pergi meninggalkan. Begitu pula harta benda yang sibuk dicari dari pagi, siang, sore, hingga malam hari tidak akan dibawa mati. Satu-satunya perkara yang setia menemani adalah amalan.

Oleh karena itu, berbahagialah bagi orang-orang yang mampu memanfaatkan kehidupan di dunia ini dengan mengisi hari-harinya melalui amal saleh dan kebajikan. Amalan tersebut yang akan terus menyertai di dunia, di alam kubur, hingga di akhirat kelak. Sebaliknya, penyesalan dan kesedihan yang mendalam akan menimpa orang-orang yang menyibukkan diri dengan perkara yang tidak berfaedah untuk akhiratnya. Kesibukan terhadap keluarga dan harta benda yang melalaikan hanya akan berujung pada perpisahan, bahkan dapat membuat seorang hamba semakin jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits yang panjang dari Al-Bara bin ‘Azib, ketika seorang mayat yang baik dan beriman sudah berada di dalam kuburan, ia akan ditemani oleh amal salehnya. Amal saleh tersebut menjelma menjadi sesosok teman dengan wajah yang sangat indah, berpakaian bagus, serta memiliki aroma yang sangat harum.

Ketika si mayat bertanya mengenai identitas sosok tersebut, ia menjawab:

أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ

“Aku adalah amal salehmu.” (HR. Ahmad)

Amal saleh seorang hamba akan berubah bentuk menjadi kebaikan yang menenteramkan. Kondisi ini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan orang kafir, orang munafik, atau ahli maksiat. Mereka akan dikawani oleh sesosok makhluk berwajah sangat buruk dan berbau sangat busuk. Ketika ditanya mengenai jati dirinya, makhluk tersebut menjawab bahwa ia adalah amal buruk dan jahat yang dilakukan selama di dunia. Amal buruk akan berubah menjadi kebusukan serta menjadi kawan yang sangat mengerikan di dalam kubur.

Hadirin yang Allah muliakan.

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung unsur targhib (motivasi) dan tarhib (ancaman atau peringatan). Unsur tarhib berfungsi memberikan rasa takut kepada hamba bahwa setiap amal buruk akan selalu menyertai dan mendatangkan kesengsaraan. Sementara itu, unsur targhib memberikan motivasi agar setiap muslim mengisi hidup dengan amal kebajikan yang mampu mendatangkan kebahagiaan di dunia sebelum kebahagiaan di akhirat.

Kebahagiaan hidup di dunia hanya dapat diraih dengan amal saleh, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl[16]: 97)

Kehidupan yang baik menurut penjelasan para ulama adalah lapangnya dada dan tenangnya hati. Di dunia, orang yang beramal saleh dengan landasan iman akan mendapatkan ketenangan dan kenyamanan hidup, meskipun ia hidup dalam kondisi yang seadanya. Kemudian di akhirat, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalas mereka dengan pahala yang jauh lebih baik berupa surga, tempat terindah yang dicita-citakan oleh seluruh orang saleh.

Amal saleh akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, terlebih lagi jika amalan tersebut termasuk jenis amalan yang tidak akan terputus pahalanya meskipun seseorang telah meninggal dunia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ

“Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara…” (HR. Muslim)

إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوهُ لَهُ

“…Kecuali dari sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Ketiga hal tersebut adalah sedekah jariyah, ilmu yang mendatangkan manfaat bagi orang lain, serta anak saleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik-Nya kepada setiap hamba untuk dapat mengamalkan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

KHUTBAH KEDUA: Syarat Diterimanya Amal Saleh

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حَمْدًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعلى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Hadirin sidang jumat yang Allah muliakan.

Keberadaan manusia di dunia ini pada hakikatnya berada di tempat ujian (darul ibtila’). Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji hambanya, sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk[67]: 2)

Berdasarkan ayat tersebut, tolok ukur utama penilaian adalah amalan yang paling baik, bukan amalan yang paling banyak. Amalan yang banyak belum tentu dinilai baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, meskipun amalan yang baik dan banyak merupakan kondisi yang paling utama.

Mengenai definisi amalan yang paling baik, Fudhail bin ‘Iyadh memberikan penjelasan bahwa amalan yang paling baik adalah amalan yang paling ikhlas dan paling benar. Beliau merincikan bahwa sesungguhnya amalan jika dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak akan diterima. Begitu pula jika amalan itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak akan diterima. Sebuah amalan harus memenuhi kedua kriteria tersebut, yaitu ikhlas dan benar.

  1. Khalis (Ikhlas): Amalan tersebut harus dilakukan murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena tujuan duniawi.
  2. Sawab (Benar): Amalan tersebut harus berada di atas sunnah, yaitu dengan mencontoh tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Oleh karena itu, setiap muslim memiliki kewajiban untuk terus mempelajari sunnah-sunnah beliau melalui jalur menuntut ilmu (thalabul ‘ilmi) karena masih banyak hal yang belum diketahui. Umat Islam juga dituntut untuk terus bersabar dalam mengamalkan serta menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam kehidupan sehari-hari.

Harapan terbesar yang senantiasa dipanjatkan adalah agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mewafatkan setiap hamba di atas Islam dan di atas sunnah Rasul-Nya, serta memberikan kekuatan untuk istikamah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Doa Penutup

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِر| لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ،

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber Video Khutbah Jumat “Kemenangan yang Hakiki”

Sumber : Masjid Al-Fattah 

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: