Materi 16 – Nasib Mujahid dan Ustadz yang Riya’

Materi 16 – Nasib Mujahid dan Ustadz yang Riya’

pandai mendengar

Tulisan tentang "Materi 16 - Nasib Mujahid dan Ustadz yang Riya'" ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL

Ceramah Singkat Nasehat Dalam Membina Rumah Tangga
Kebangkitan Islam Adalah Dengan Ilmu
Bersedekah Harus Dilakukan Dengan Hati

Tulisan tentang “Materi 16 – Nasib Mujahid dan Ustadz yang Riya’” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafidzahullah.

Sebelumnya: Materi 15 – Jihad Melawan Riya’

Transkrip Materi 16 – Nasib Mujahid dan Ustadz yang Riya’

 بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Kita melanjutkan pembahasan kita. Pada pertemuan yang telah telah kita bahas di antara hal yang membantu kita untuk melawan riya’ adalah mengingat atau merenungkan bagaimana nasib seorang yang riya’ di akhirat. Telah kita sebutkan bahwasanya orang yang riya’ akan dipermalukan, kemudian disuruh mencari pahala dari orang yang dia minta sanjungan selama di dunia.

Yang selanjutnya, orang yang riya’ termasuk orang yang pertama kali diadzab oleh Allah pada hari kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ

“Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan hukumannya pada hari kiamat kelak adalah seseorang yang mati syahid, lalu dihadirkanlah dia,” yaitu untuk disidang, dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا

“Maka Allah ingatkan dia tentang nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya dan dia pun ingat semua nikmat tersebut.”

Dan kita tahu namanya orang berjihad, jagoan, mungkin dia kuat, dia pemberani, tubuh yang sehat, keahlian menggunakan pedang, keahlian menggunakan senjata, mungkin keahlian berkuda dan yang lainnya. Dan dia ingat nikmat itu seluruhnya.

قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا

“Allah bertanya: ‘Apa yang kau lakukan dengan nikmat-nikmat yang Aku berikan kepadamu?'” Karena kita tahu bahwasanya wajib disyukuri. Setiap nikmat yang kita punya wajib disyukuri.

Orang yang mati syahid ini berkata:

قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ

“Ya Allah, aku berperang karena Engkau sampai aku mati syahid.”

‏ قَالَ كَذَبْتَ

“Allah berkata: ‘Kau dusta.'”

لَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ

“Tetapi kau berperang/berjihad supaya kau dikatakan seorang pemberani.”

فَقَدْ قِيلَ

“Dan telah dikatakan.”

Perhatikan di sini, ketika ditanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia berkilah, dia berdusta, dia mengatakan: “Saya berjihad karena Engkau Ya Allah,” tapi percuma dusta di hadapan Allah. Di akhirat tidak ada yang bisa berdusta, semua rahasia akan terbongkar.

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ ﴿٩﴾

Hari dimana rahasia dibongkar.” (QS. At-Tariq[86]: 9)

Allah bongkar, Allah katakan: “Tetapi kau berperang supaya dikatakan engkau adalah seorang pemberani, dan telah dikatakan.”

Jadi tujuan dia untuk meraih pujian sanjungan manusia Allah berikan, dia terkenal sebagai jagoan, terkenal sebagai pahlawan, terkenal sebagai pemberani. Apa yang dia harapkan dia dapatkan. Tapi apa yang terjadi di akhirat?

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Kemudian diperintahkan malaikat untuk menggeretnya, maka kemudian dia pun ditarik di atas wajahnya dalam kondisi terhina.”

Ditarik, artinya dia tidak mau tapi digeret dengan wajahnya, bukan kakinya yang tergeret di tanah, tapi wajahnya yang tergeret di tanah di hari kiamat.

حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Sampai dilemparkan dalam neraka jahanam.”

Ini lelaki pertama yang riya’, dia mati syahid tapi ternyata dia pertama kali yang dimasukkan ke dalam neraka.

Yang kedua:

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ

“Orang yang berlajar ilmu mengajarkannya.”

Yang kedua ini ustadz. Ilmu di sini maksudnya adalah ilmu agama, ustadz, da’i. Yang pertama mujahid, yang kedua ustadz yang masuk neraka.

وَقَرَأَ الْقُرْآنَ

“Dan dia membaca Al-Qur’an.”

فَأُتِيَ بِهِ

“Lalu dia dihadirkan/disidang/dihisab.”

فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا

“Maka Allah ingatkan tentang nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada dia dan dia pun ingat itu semua.”

Namanya ustadz, cerdas, kuat hafalannya, mungkin lantunan suaranya ketika melantunkan Al-Qur’an indah, pandai berorasi, pandai berceramah. Maka Allah bertanya:

فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا

“Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat yang aku berikan kepadamu?”

Maka ustadz ini menjawab:

تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ

“Ya Allah, aku belajar ilmu, aku mendakwahkannya/mengajarkannya, aku baca Al-Qur’an semuanya karena Engkau Ya Allah.”

Ustadz ini dusta juga. Kata Allah:

كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ

“Kau dusta! Tetapi kau menuntut ilmu dan mengajarkannya supaya kau dikatakan orang alim,” supaya dipanggil “ustadz”, supaya dikenal.

‏ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ

“Dan engkau baca Al-Qur’an agar orang-orang mengatakan: ‘Inilah sang ahli baca Qur’an'” dikatakan bahwa murotalnya merdu.

Dan apa kata Allah?

فَقَدْ قِيلَ

“Dan telah dikatakan.”

Engkau di dunia masyhur, tersohor sebagai seorang alim, ilmumu luas, suaramu indah, terkenal sebagai ahli baca Qur’an, tujuanmu untuk supaya dikatakan, dikenal oleh masyarakat, disanjung, kau dapatkan di dunia. Tapi di akhirat apa yang didapatkan?

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Kemudian diperintahkan oleh Allah untuk malaikat menggeret orang ini di atas wajahnya kemudian dilemparkan dalam api neraka.”

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Selanjutnya: Materi 17 – Nasib Donatur Yang Riya’

Perhatian Materi 16 – Nasib Mujahid dan Ustadz yang Riya’

⚠️ Note: Kalau team UFA merevisi audionya, insyaAllah catatan ini juga akan direvisi sesuai dengan audio yang baru.

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: