Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dan Pemuda” yang disampaikan Ustadz Abu Zubair al-Hawary, Hafidzahullahu Ta’ala
Muqaddimah Khutbah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ عَمِلَ عَلَى نَهْجِهِ وَتَمَسَّكَ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ:
KHUTBAH PERTAMA : Keagungan Masa Muda dan Kejayaan Islam
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan manusia dari kelemahan, kemudian mengurniakannya kekuatan, lalu mengembalikannya kepada kelemahan dan masa tua. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memuji para pemuda di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahf[18]: 13)
Selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memberikan perhatian khusus kepada generasi muda. Perjalanan sejarah membuktikan bahwa tersebarnya Islam ke berbagai pelosok dunia serta berkibarnya panji-panji tauhid terwujud di atas pundak para pemuda yang mendampingi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah pula kepada keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
Pemuda merupakan penopang utama dan harapan terbesar bagi kemajuan umat Islam. Karakteristik pemuda cenderung lebih mudah menerima kebenaran, memiliki hati yang lembut, tersentuh, serta lebih dekat dengan fitrah.
Hal tersebut menjadi alasan mendasar mayoritas pendamping dan pengemban misi dakwah yang diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berasal dari kalangan pemuda. Sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga pun didominasi oleh para pemuda berusia belasan hingga tiga puluh tahun. Fenomena ini menunjukkan betapa besarnya peran pemuda sejak awal terbitnya cahaya Islam.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan umatnya agar memanfaatkan masa muda sebaik mungkin sebelum datangnya hari pertanggungjawaban. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لاَ تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ
“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabbnya hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia infakkan, serta tentang apa yang telah ia amalkan dari ilmunya.” (HR. Tirmidzi)
Empat perkara utama akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak pada hari kiamat saat hisab dilaksanakan:
- Umur, mengenai bagaimana masa hidup dihabiskan.
- Masa muda, mengenai bagaimana kekuatan dan semangat digunakannya.
- Harta, mengenai dari mana diperoleh dan ke mana diinfakkan.
- Ilmu, mengenai sejauh mana pengamalannya.
Masa muda berkedudukan sangat penting karena menjadi puncak kejayaan dari fase umur manusia. Oleh sebab itu, pertanyaan mengenai masa muda ditegaskan secara khusus di samping pertanyaan mengenai umur secara umum.
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengutus seorang nabi melainkan dalam usia muda. Demikian pula ilmu agama yang dianugerahkan kepada para ulama, umumnya diserap secara maksimal pada masa muda mereka. Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma menyatakan:
مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلاَّ شَابًّا، وَلاَ أُوتِيَ الْعِلْمَ عَالِمٌ إِلاَّ وَهُوَ شَابٌّ
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan dalam keadaan muda, dan tidaklah seorang alim dianugerahkan ilmu melainkan pada masa mudanya.”
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus menjadi rasul pada usia empat puluh tahun, yang merupakan puncak kematangan, kesempurnaan, dan keemasan usia seorang manusia. Pada masa mudalah seseorang berada dalam kapasitas terbaik untuk mencari harta maupun menuntut ilmu. Meskipun menuntut ilmu di usia tua tetap memungkinkan, hasilnya tidak akan semaksimal usaha yang dilakukan sewaktu usia muda.
Sirah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencatatkan perhatian yang amat besar terhadap generasi muda melalui pemberian kepercayaan untuk mengemban tugas-tugas strategis. Salah satu contoh nyata adalah pengutusan Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu sebagai dai ke negeri Yaman yang sangat jauh.
Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu belum genap berusia dua puluh tahun ketika diutus ke Yaman untuk berdakwah menghadapi Ahlul Kitab. Pemberian amanah besar ini membuktikan kapasitas Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu yang kelak digelari sebagai Sayyidul ‘Ulama (pemimpin para ulama). Saat melepas keberangkatannya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan pembekalan melalui sabdanya:
إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahlul Kitab.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Misi utama dakwah yang diemban oleh para pemuda adalah mengajak manusia kepada kalimat tauhid. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu, beliau menetapkan landasan utama dakwah tersebut melalui sabdanya:
فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
“Maka hendaknya hal pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah syahadat bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penyebaran dakwah tauhid ini dipercayakan kepada pemuda seperti Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu. Begitu pula sebelum peristiwa tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengutus seorang pemuda bernama Mus’ab bin Umair Radhiyallahu ‘Anhu untuk menyebarkan Islam di Kota Madinah. Pemberian kepercayaan kepada pemuda yang memiliki kapasitas terbukti memberikan manfaat yang sangat besar bagi agama dan umat.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat menyayangi para pemuda serta memahami kondisi gejolak jiwa, fitnah, dan godaan besar yang dihadapi pada usia muda. Beliau senantiasa memberikan arahan dan nasihat dengan penuh kasih sayang. Kurangnya perhatian, kasih sayang, dan pendampingan terhadap generasi muda dapat menyebabkan mereka terjerumus ke dalam kebatilan serta penyimpangan.
Kisah penanganan gejolak pemuda tercermin saat seorang pemuda mendatangi majelis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan meminta izin untuk berzina. Kedatangan pemuda tersebut menunjukkan keberanian dan kejujuran karena meyakini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai sosok pemaaf yang mampu menampung keluh kesah serta memberikan solusi. Ketika para sahabat hendak memarahi pemuda tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencegah mereka dan meminta sang pemuda untuk mendekat.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menghakimi atau menyudutkan pemuda yang sedang dikuasai hawa nafsu tersebut, melainkan mengajaknya berpikir rasional melalui sebuah dialog:
أَتُحِبُّهُ لأُمِّكَ؟ قَالَ: لاَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاكَ. قَالَ: وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لأُمَّهَاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لاِبْنَتِكَ؟ قَالَ: لاَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاكَ. قَالَ: وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لأُخْتِكَ؟ قَالَ: لاَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاكَ. قَالَ: وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لأَخَوَاتِهِمْ
“Apakah engkau menyukainya jika perbuatan itu dilakukan terhadap ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda, “Demikian pula orang lain tidak menyukai perbuatan itu dilakukan terhadap ibu-ibu mereka.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau menyukainya jika perbuatan itu dilakukan terhadap putrimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda, “Demikian pula orang lain tidak menyukai perbuatan itu dilakukan terhadap putri-putri mereka.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau menyukainya jika perbuatan itu dilakukan terhadap saudarimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda, “Demikian pula orang lain tidak menyukai perbuatan itu dilakukan terhadap saudari-saudari mereka.” (HR. Ahmad)
Setelah meluruskan pemikiran pemuda tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meletakkan tangan beliau di dada pemuda itu seraya mendoakannya:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ
“Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.” (HR. Ahmad)
Pendekatan dialogis, kasih sayang, dan doa dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berhasil menyentuh hati pemuda tersebut. Sejak peristiwa itu, sang pemuda berubah menjadi pribadi yang rajin beribadah di masjid dan senantiasa berada dalam kebaikan. Generasi muda saat ini sangat membutuhkan perhatian, pendampingan, serta doa kebaikan dari orang tua, para dai, dan pendidik.
KHUTBAH KEDUA : Pentingnya Memanfaatkan Masa Muda
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan pentingnya mempergunakan kesempatan hidup melalui sabda beliau:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu…” (HR. Al-Hakim)
Masa muda hendaknya dimanfaatkan secara maksimal untuk berbagai kebaikan. Memasuki usia tua, kemampuan fisik akan menurun sehingga berbagai ibadah tidak lagi dapat dijalankan seoptimal sewaktu muda. Penglihatan mulai melemah sehingga membaca Al-Qur’an terasa berat, kekuatan fisik berkurang untuk mendirikan salat malam, serta daya ingat tidak lagi tajam untuk menuntut ilmu.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan pujian bagi pemuda yang meluangkan usianya dalam ketaatan. Pemuda yang taat termasuk ke dalam tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat, yaitu pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ… وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya… dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Masyarakat berada dalam keindahan ketika generasi mudanya tumbuh di masjid, aktif di majelis ilmu, serta bersemangat menyebarkan kebaikan melalui dakwah. Kejayaan suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberadaan para pemuda yang beriman dan bertakwa. Sebaliknya, kehancuran suatu bangsa dipicu oleh generasi muda yang tenggelam dalam dosa dan maksiat, lalai terhadap tanggung jawab, serta melupakan tujuan penciptaan dirinya. Generasi muda membutuhkan hidayah serta taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, diiringi dukungan, kesempatan, dan bimbingan penuh kasih sayang dari generasi tua.
Penutup
Sebagai penutup, Allah Subhanahu wa Ta’ala serta Rasul-Nya memerintahkan umat Islam untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menegaskan keutamaan berselawat melalui sabdanya:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Barang siapa yang berselawat kepadaku satu kali, maka Allah akan berselawat (memberi rahmat dan pujian) kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)
Setiap muslim hendaknya memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pemimpin serta teladan bagi seluruh umat.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. آمِين
Sumber Video Khutbah Jumat “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dan Pemuda”
Sumber : Masjid Darussakinah Batam
Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.


COMMENTS