Khutbah Jumat Tentang Ilmu: Kewajiban Yang Terlupakan

Khutbah Jumat Tentang Ilmu: Kewajiban Yang Terlupakan

Allah wajibkan bagi siapapun penganut agama ini untuk memahami dan mempelajari dalil (wahyu) yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan.

Khutbah Jumat Tentang Ilmu: Kewajiban Yang Terlupakan ini adalah transkrip dari khutbah jumat yang disampaikan Ustadz Ammi Nur Baits Hafizhahullahu Ta’ala.

Download PDF via telegram: t.me/ngajiid/121

Khutbah Jumat Tentang Ilmu: Kewajiban Yang Terlupakan

Khutbah Pertama

Hadirin jamaah jumat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Syukur Alhamdulillah atas semua nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita. Allah jadikan kita sebagai hambaNya yang mukmin dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan kita dalam komunitas muslim Ahlus Sunnah. Kita berharap kepada Allah sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan kita di dunia ini dalam ketaatan kepadaNya, semoga kelak Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan kita di surgaNya yang penuh dengan kenikmatan.

Jamaah jumat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, ada satu kewajiban yang kewajiban ini sering disepelekan oleh masyarakat disebabkan karena kesibukan mereka dalam urusan dunia maupun kesibukan dalam urusan yang lainnya. Padahal terdapat banyak dalil dalam Al-Qur’an, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ancaman yang cukup keras bagi orang yang tidak mau melaksanakan kewajiban ini.

Apakah bentuk kewajiban itu? Kewajiban yang kami maksudkan adalah kewajiban belajar ilmu agama.

Jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Allah Ta’ala memberikan agama ini kepada umat manusia dan Allah berikan panduan dari agama ini. Panduan itu berupa dalil; wahyu Al-Qur’an dan Hadits yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sehingga Allah wajibkan bagi siapapun penganut agama ini untuk memahami dan mempelajari dalil (wahyu) yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam Al-Qur’an, orang yang tidak mau mempelajarinya sehingga dia bersikap i’rad (berpaling), kemudian melalaikan diri, melupakan dan seterusnya, Allah memberikan ancaman yang cukup keras. Di antaranya Allah berfirman di surat Al-Mulk ayat yang ke-10. Allah bercerita tentang dialog ahli neraka dan penyesalan mereka ketika sudah dimasukkan ke dalam neraka. Allah mengatakan:

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Mereka mengatakan: ‘Andaikan dulu kami mau mendengar dan kami menggunakan akal kami, maka tentu kami tidak akan menjadi penduduk neraka.’” (QS. Al-Mulk[67]: 10)

Sehingga orang ini menyesal, kenapa dulu saya tidak belajar agama, kenapa dulu saya tidak menggunakan akal saya untuk merenungkan ayat-ayatNya, kenapa dulu ketika di dunia ada pengajian saya tidak mau mendengarkannya. Maka orang seperti ini menyesal di akhirat ketika dia sudah berada di dalam neraka.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan bahwa orang yang tidak mau belajar ilmu agama, tidak mau mendekat kepada agama, maka Allah jadikan dia sebagai temannya setan, dan pasti setan itu akan menyesatkannya. Sebagaimana yang Allah firmankan di surat Az-Zukhruf ayat yang ke-36 dan 37, Allah berfirman:

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Barangsiapa yang ya’syu (berpaling) dari peringatan yang Allah turunkan, maka akan Aku berikan dia setan lalu menjadi teman dekat baginya.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 36)

Makna “ya’syu” dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Yang dimaksud dengan “ya’syu” adalah dia membutakan diri, melalaikan diri, dan dia berpaling, sehingga tidak mau memberika perhatian terhadap ilmu agama.

Sehingga manusia yang tidak punya perhatian terhadap belajar ilmu agama, (Allah katakan di sini) dia akan menjadi temannya setan.

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

Lalu setan itu menghalanginya dari jalan Allah sementara dia merasa kalau dirinya berada di atas jalan kebenaran.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 37)

Sehingga aslinya dia menyimpang, tapi sebenarnya dia sendiri dalam kesesatan. Wal iyadzubillah..

Di surat Thaha, Allah juga menyebutkan ancaman orang yang tidak mau belajar ilmu agama. Dimana kelak di akhirat orang ini akan dijadikan sebagai orang yang buta. Allah berfirman di surat Thaha ayat 124 dan 125:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Siapa yang berpaling (dalam artian tidak memberikan perhatian terhadap peringatan yang telah Aku turunkan), maka dia akan mendapatkan kehidupan yang sempit, dan Kami kumpulkan dia pada hari kiamat dalam kondisi buta.

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا

Dan orang ini bertanya: ‘Ya Allah kenapa Engkau kumpulkan aku dalam kondisi buta, padahal dulu aku bisa melihat?’

قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ

Dijawab oleh Allah: ‘Karena dulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami tapi kamu melupakannya (tidak mempedulikannya), maka pada hari ini kau dilupakan.’” (QS. Tha-ha[20]: 126)

Karena itulah jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu ta’ala,

Dengan mengingat semua pesan-pesan ini yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an, seharusnya menyadarkan kita bahwa belajar ayat yang telah Allah turunkan, belajar ilmu agama, ini adalah bagian dari kewajiban dan siapa yang tidak melaksanakannya berhak mendapatkan ancaman sebagaimana yang Allah sebutkan.

Khutbah Kedua

Jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda dalam hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim. Beliau Nabi  bersabda:

مَثَلُ ما بَعَثَنِي اللَّهُ به مِنَ الهُدَى والعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أصابَ أرْضًا

“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang aku sampaikan itu sebagaimana hujan lebat yang turun di muka bumi.”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengumpamakan ilmu sebagaimana layaknya air, dan beliau mengumpamakan hati kita sebagaimana layaknya tanah. Kita melihat bahwa yang namanya tanah butuh untuk diairi agar menjadi tanah yang subur, maka seperti itu pula hati manusia butuh untuk diairi dengan ilmu agar bisa menjadi hati yang subur. Dan kita bisa mendapatkan manfaat dari tanah yang subur sebagaimana kita bisa mendapatkan manfaat dari hati yang subur.

Sebaliknya, ketika tanah itu sama sekali tidak tersentuh dengan air, bapak-bapak bisa saksikan kondisi sawah yang demikian kering. Apa yang terjadi? Tentu tanah sawah itu menjadi sangat keras. Sehingga ketika dalam kondisi kering itu disiram dengan air satu gayung, mungkin tidak berefek sama sekali. Maka demikian pula hati manusia. Ketika hati itu sangat keras, susah untuk ditembus hidayah. Makanya Allah katakan dalam Al-Qur’an bahwa orang yang sama sekali tidak mau belajar dan dia melupakan untuk belajar, hatinya terkunci.

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Kenapa mereka tidak mau merenungkan Qur’an, ataukah ada kunci dalam hatinya?” (QS. Muhammad[42]: 24)

Para ulama mengatakan bahwa ilmu ada dua; yang pertama ilmu wajib yang harus dipelajari oleh setiap muslim, disebut dengan ilmu fardhu ‘ain. Contohnya adalah bagaimana cara shalat, bagaimana cara puasa, yang jika orang itu tidak tahu pasti dia akan salah dalam beribadah. Sehingga kalau orang tidak mempelajarinya maka dia berdosa.

Yang kedua ada ilmu yang statusnya fardhu kifayah, mempelajari rincian dari syariat yang mungkin bagi sebagian orang itu bukan kebutuhan pokoknya, tapi harus ada ulama yang mempelajarinya agar ilmu itu tetap lestari ada di tengah masyarakat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita untuk melangkahkan kaki atau menggunakan pendengaran ini untuk mau mendengarkan ilmu agama sebagai konsekuensi pengakuan kita sebagai seorang muslim.

Video Khutbah Jumat Tentang Ilmu: Kewajiban Yang Terlupakan

Sumber video: ANB Channel

Mari turut menyebarkan “Khutbah Jumat Tentang Ilmu: Kewajiban Yang Terlupakan” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: