Materi 52 – Tawakal Terlarang – Tathayyur

Materi 52 – Tawakal Terlarang – Tathayyur

iklan erto's

Tulisan tentang “Materi 52 – Tawakal Terlarang – Tathayyur” ini adalah catatan yang kami tulis dari Audio kajian khusus peserta WAG UFA OFFICIAL yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafizhahullah.

Sebelumnya: Materi 51 – Tawakal Terlarang – Memakai Jimat

Materi 52 – Tawakal Terlarang – Tathayyur

Di antara hal yang bertentangan dengan tawakal adalah tathayyur. Tathayyur artinya adalah mengaitkan nasib sial dengan sesuatu yang dilihat, sesuatu yang didengar, dengan angka tertentu, dengan hewan tertentu, dengan kejadian-kejadian tertentu. Ini adalah salah satu hal yang bertentangan dengan tawakal. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ

“Bahwasanya tathayyur adalah kesyirikan.” HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538

Kalau dalam istilah kita biasanya orang mengatakan “pamali”. Ini adalah kesyirikan.

Asalnya dahulu orang Arab ketika mereka hendak bersafar, mereka pergi kepada jenis burung tertentu kemudian mereka membuat perbuatan seperti mengusir burung tersebut. Kalau burung tersebut terbang ke arah kanan ketika diusir, maka mereka akan melanjutkan perjalanan mereka. Menurut mereka dengan terbangnya burung ke kanan ini akan mendatangkan keberuntungan. Tetapi jika ketika mereka mengusir burung tersebut kemudian ternyata terbang ke kiri, maka menurut mereka adalah kesialan. Sehingga akhirnya mereka tidak jadi bersafar.

Ini salah suatu hal yang sangat aneh. Bagaimana mereka menggantungkan keberhasilan mereka kepada seekor hewan yang hewan tersebut tidak berakal seperti manusia. Bagaimana seorang manusia yang berakal kemudian menggantungkan keberhasilan mereka kepada burung tersebut? Burung tersebut saja tidak sampai berfikiran demikian, bagaimana manusia yang diberi kemuliaan berupa akal kemudian menggantungkan keberhasilannya dan memberikan keputusannya kepada seekor burung?

Kita saja kalau punya rencana, apakah rencana itu kita serahkan kepada anak kita yang masih kecil? Tentunya tidak. Kita tidak akan menyerahkan urusan kita kepada anak kecil. Kita yang berusaha berfikir karena kita yang punya pengalaman, kita yang berusaha mengambil keputusan, bukan kita serahkan urusan kita kepada anak kecil. Apalagi kita serahkan urusan kita kepada seekor burung. Tentu ini adalah hal yang sangat-sangat tidak logis sehingga seseorang akan bertawakal kepada burung tersebut.

Demikian juga sama, seseorang kemudian menggantungkan urusannya kepada hewan tokek. Ini adalah contoh bentuk tathayyur. Oleh karenanya dalam hadits disebutkan bahwasanya tathayyur bisa dihilangkan dengan tawakal.

وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

“Allah Subhanahu wa Ta’ala menghilangkan tathayyur dengan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538)

Jadi misalnya seseorang keluar rumah kemudian tiba-tiba ada seekor burung merpati kemudian buang kotorannya mengenai tubuh kita misalnya. Bisa jadi dalam hati kita terbetik berbagai macam pemikiran “Wah, jangan-jangan ini, jangan-jangan kok kita baru keluar terkena kotoran merpati. Jangan-jangan ada kesialan di depan, jangan-jangan.” Ini semua tathayyur. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan kesialan kita pada hal tersebut. Maka kita buang semua pemikiran tersebut, kita tawakal dan lanjutkan perjalanan.

Oleh karenanya di antara hal yang benar-benar bertentangan dengan tawakal adalah tathayyur, mengaitkan nasib sial dengan hal seperti itu. Dan itu banyak. Seperti orang menganggap angka 13 adalah angka sial, menganggap angka 4 adalah angka sial, ini juga tathayyur. Kita dapati banyak lift-lift di Jakarta tidak ada tombol nomor 4. Biasanya nomor 1 lantai 1, nomor 2 buat lantai 2, nomor 3 buat lantai 3, nomor 4 mereka tulis 3A atau 3B, lalu setelah itu nomor 5. Menurut mereka angka 4 itu angka sial. Nanti juga angka 13 angka sial.

Demikian juga kita tidak akan dapati kamar nomor 13, lantai nomor 13, apalagi kursi pesawat nomor 13, ini tidak akan kita dapati karena mereka menganggap 13 adalah angka sial. Dari mana seperti ini? Ini semua bertentangan dengan tawakal. Maka seseorang kalau ada timbul perasaan “jangan-jangan”, misalnya dia lagi duduk ada burung hantu lewat lalu ada perasaan “jangan-jangan tanda kesialan,” maka dia harus lawan dengan tawakal.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَلاَ هَامَةَ

“Tidak ada kesialan karena burung hantu.”

Ini semua harus dilawan dengan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

▬▬•◇✿◇•▬▬

Mari turut menyebarkan catatan kajian tentang “Materi 52 – Tawakal Terlarang – Tathayyur” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Baarakallahu fiikum..

Komentar

WORDPRESS: 0
DISQUS: