Pengertian Ilmu Dalam Islam

Pengertian Ilmu Dalam Islam

ceramah tentang gowes

Dan apabila diucapkan kalimat ilmu dalam nash-nash kitab dan sunnah dan dipuji ahli ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an dan sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, yaitu ilmu syariat.

Hadits Tentang Tanda Seseorang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah
Muqaddimah 2 Silsilah Amalan Dan Penyakit Hati
Bersedekah Harus Dilakukan Dengan Hati

Pengertian Ilmu Dalam Islam ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafidzahumullahu Ta’ala.

Lihat juga: Mukadimah Kajian Al-Ushul Ats-Tsalatsah

Kajian Islam Tentang Pengertian Ilmu Dalam Islam

Menit ke-3:53 Bismillahirrahmanirrahim.. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada keluarganya, para sahabatnya dan pengikutnya yang setia sampai hari kiamat nanti.

Para pendengar yang semoga dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah dalam kitab Ushul Ats-Tsalatsah ini memulai pembahasan dengan perkataan beliau العلم. Dan yang dimaksud dengan ilmu adalah mengetahui kebenaran dan petunjuk. Dan apabila diucapkan kalimat “ilmu” dalam nash-nash kitab dan sunnah dan dipuji ahli ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu ilmu syariat. Maka ayat-ayat yang menunjukkan kemuliaan ahli ilmu, kemuliaan ulama dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang pujian terhadap ilmu, pujian terhadap ulama, maka yang dimaksud adalah ilmu syariat, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan ilmu syariat ini terbagi menjadi dua bagian, yang pertama fardhu ‘ain dan yang kedua adalah fardhu kifayah. Jadi, banyak dari ilmu syariat yang tidak wajib untuk seseorang mempelajarinya, akan tetapi jika sebagian telah mempelajari ilmu tersebut maka yang lain tidak wajib untuk mempelajarinya.

Ilmu yang merupakan fardhu ‘ain

Menit ke-5:52 Adapun ilmu yang merupakan fardhu ‘ain, yaitu ilmu yang tidak boleh seorangpun untuk tidak mengetahuinya dan wajib bagi setiap orang untuk mempelajari ilmu tersebut. Dan di antara ilmu yang wajib tersebut yaitu masalah-masalah yang akan kita jelaskan dan akan kita pelajari dengan dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Oleh karena itu diriwayatkan dari Imam Ahmad Rahimahullah bahwasanya beliau berkata:

يجب عليه أن يطلب من العلم ما يقوم به دينه

“Wajib bagi seseorang untuk menuntut ilmu yang dengannya dia bisa menegakkan agamanya.”

Dan ini merupakan batasan yang jelas untuk mengetahui ilmu mana saja yang wajib untuk kita pelajari. Beliau mengatakan: “Wajib bagi seseorang untuk mempelajari ilmu yang dengannya dia menegakkan agamanya,” karena sesuatu yang tidak sempurna suatu kewajiban dengan sesuatu tersebut, maka sesuatu tersebut pun menjadi wajib. Dalam kaidahnya dikatakan:

ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

“Sesuatu yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya, maka hal tersebut pun menjadi wajib.”

Oleh karena itu mengetahui tauhid merupakan fardhu ‘ain, juga mempelajari masalah shalat, rukun-rukun shalat, wajib-wajib shalat, syarat-syarat shalat, juga merupakan fardhu ‘ain. Begitu pula mempelajari tentang haji, rukun-rukun haji, wajib-wajib haji, syarat-syarat haji, juga merupakan fardhu ‘ain bagi orang yang ingin melaksanakan ibadah haji dan mampu untuk melakukan perjalanan ke sana. Begitupun dengan kewajiban-kewajiban agama dan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diwajibkan bagi setiap muslim, maka dia wajib untuk mempelajari hal tersebut. Karena wajib bagi seseorang untuk mempelajari ilmu yang dengannya dia menegakkan agamanya.

Kemudian dikatakan dan ditanyakan kepada Imam Ahmad Rahimahullah: ‘Seperti apa Wahai Imam contohnya?” Beliau menjawab:

الذي لا يسعه جهله صلاته وصيامه، ونحو ذلك

“Yaitu yang tidak boleh baginya untuk tidak mengetahuinya, seperti masalah shalatnya, masalah puasanya dan semacamnya.”

Hal-hal ini merupakan fardhu ‘ain yang wajib bagi setiap muslim untuk mempelajarinya. Oleh karena itu beliau berkata yang pertama adalah Al-Ilmu. Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu yang wajib untuk dipelajari. Oleh karena itu beliau mengatakan يجب علينا (wajib bagi kita), kemudian beliau mengatakan Al-Ilmu. Maka yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu yang fardhu ‘ain untuk dipelajari oleh setiap Muslim dan Muslimah.

Ilmu yang merupakan fardhu kifayah

Menit ke-9:02 Adapun perkara-perkara syariat yang lain yang merupakan fardhu kifayah, maka tidak wajib bagi semua orang untuk mempelajarinya. Akan tetapi apabila sebagian telah mempelajarinya, maka yang lain tidak wajib untuk mempelajari hal tersebut.

Maka beliau mengatakan yang pertama adalah Al-Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal NabiNya dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.

Ilmu adalah mengenal Allah, mengenal NabiNya dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya

Menit ke-13:37 Para pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Perkataan beliau Al-Ilmu yaitu معرفة الله (mengenal Allah), معرفة نبيه (mengenal NabiNya), ومعرفة دين الإسلام بالأدلة (dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya), beliau Rahimahullah mengkhususkan tiga pokok utama ini karena pokok-pokok ini merupakan pondasi agama kita.

Yang mana pokok-pokok ini merupakan asas dan pondasi bagi sebuah bangunan dan seperti akar bagi sebuah pohon. Sebagaimana pohon tidak akan mampu untuk berdiri tanpa akar-akar yang kuat dan bangunan tidak akan berdiri kecuali dengan tiang dan pondasinya, maka agama ini pun seperti itu, tidak akan berdiri dan tidak akan tegak kecuali dengan pokok-pokok ini. Yaitu:

  1. Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  2. Mengenal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena ia merupakan perantara antara Allah dan antara hambaNya dalam menyampaikan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dalam menjelaskan agamanya.
  3. Juga mengenal agama Islam yang merupakan satu-satunya jalan yang menyampaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang mana seseorang tidak akan mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak akan dapat mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak akan selamat dari hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan agama Islam ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٨٥﴾

Dan barangsiapa yang memilih atau mencari selain agama Islam, maka tidak akan diterima darinya dan dia pada hari akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali-Imran[3]: 85)

Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Aku sempurnakan atas kalian nikmatKu, dan Aku telah ridha Islam sebagai agama.” (QS. Al-Maidah[3]: 3)

Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّـهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah agama Islam.” (QS. Ali-Imran[3]: 19)

Maka agama Islam adalah satu-satunya jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun selainnya dari jalan-jalan maka tidak akan menyampaikan kecuali kepada kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala menutup semua pintu, semua jalan, kecuali agama Islam. Karena agama Islam adalah agama Allah ‘Azza wa Jalla yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima agama selainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ

Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain yang mencerai-beraikan kalian dari jalanNya.” (QS. Al-An’am[6]: 153)

Oleh karena itu datang atau tertera dalam kitab musnad dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنَبَتَيِ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرَخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا! وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَفْتَحَ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ وَالصِّرَاطُ: الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللَّهِ وَالدَّاعِي مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengambil perumpamaan jalan yang lurus dan di sisi dua jalan tersebut ada dua pagar, dan pada dua pagar tersebut ada pintu-pintu yang terbuka. Dan pada pintu-pintu tersebut terdapat tirai-tirai yang menutup pintu-pintu tersebut. Kemudian ada seorang penyeru yang menyeru dari permulaan jalan yang mengatakan: ‘Wahai hamba Allah, masuklah kalian ke dalam jalan tersebut, janganlah kalian menyimpang.’ Dan juga penyeru di tengah jalan, dia mengatakan: ‘Wahai hamba Allah, janganlah kalian membuka pintu-pintu tersebut. Karena jika engkau membukanya, maka engkau akan memasukinya.’

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Adapun jalan tersebut, maka jalan itu adalah jalan Islam. Dan dua pagar adalah batasan-batasan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun pintu-pintu yang terbuka yang padanya ada tirai-tirai menutup, maka itu adalah keharaman-keharaman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan adapun penyeru yang menyeru di awal jalan, maka itu adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla. Dan penyeru yang menyeru di tengah jalan adalah penasihat Allah di hati setiap muslim.'” (HR. Ahmad)

Maka Islam adalah satu-satunya jalan yang lurus yang akan menyampaikan kepada Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan surgaNya.

Dan di dalam doa yang wajib untuk diucapkan setiap muslim setiap hari 17 kali, yaitu doa:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾

Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah[1]: 6)

Yaitu jalan Islam, agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah Allah ridhai kepada hambaNya dan Allah tidak akan menerima agama selainnya. Dan agama tersebut adalah agama Islam.

Ilmu itu dibangun di atas dalil

Menit ke-19:05  Kemudian beliau mengatakan:

بالأدلة

Maksudnya adalah kembali kepada tiga pokok tersebut, yaitu engkau mengenal Allah, mengenal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengenal Islam, yang dengan mempelajari hal-hal tersebut engkau bangun di atas dalil, yaitu firman Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena ilmu adalah قال الله قال رسوله (apa yang diucapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Bukan ilmu yang dibangun di atas hawa nafsu atau pendapat atau perasaan atau mimpi-mimpi atau pengalaman-pengalaman atau cerita-cerita bohong atau selainnya yang mana banyak dari kalangan manusia menjadikan hal-hal tersebut sebagai sumber pendalilan. Padahal ilmu harus dibangun di atas dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan barangsiapa yang tidak berpegang teguh dengan kitab dan sunnah, maka ia akan tersesat. Dan barangsiapa yang ingin mencapai satu jalan yang bukan pada jalannya, maka ia akan tersesat sebagaimana dikatakan: “Bagaimana seseorang mampu untuk sampai kepada tujuannya kecuali dengan apa yang telah digariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Dan tidak mungkin seorang hamba untuk mengenal Allah, mengenal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengenal agama ini dengan ilmu yang benar kecuali dengan dalil dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan barangsiapa yang meninggalkan dalil, maka ia akan tersesat. Dan tidak ada dalil kecuali dari apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Menit ke-23:15 Pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang beliau sering mengulang-ulang yaitu perkataannya:

من فارق الدليل ضل السبيل ولا دليل إلا بما جاء به الرسول

“Barangsiapa yang meninggalkan dalil, maka ia akan tersesat. Dan tidak ada dalil yang benar kecuali apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Kalimat ini sering diulang-ulang oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah.

Adapun perkataan beliau: “Akan tersesat jalannya,” maka ini dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

…فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ …

Dan barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, maka dia tidak akan tersesat.” (QS. Tha-ha[20]: 123)

Pemahaman sebaliknya, yaitu barangsiapa yang tidak mengikuti dalil, tidak mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan wahyuNya, maka ia akan tersesat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَمْ تَضِلُّوا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي

“Aku meninggalkan untuk kalian yang barangsiapa kalian berpegang teguh dengan keduanya maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan sunnahku.”

Dan dalil-dalil akan hal ini sangat banyak sekali. Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan tiga landasan pokok ini dengan perhatian yang kuat, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam dan mengenal agama Islam dengan dalilnya.

Dan wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari hal ini dan meningkatkan jalan-jalan orang yang bodoh, orang-orang yang menyesatkan, yang mana mereka banyak menyesatkan manusia dengan cerita-cerita bohong, dengan mimpi-mimpi, dengan pengalaman-pengalaman atau kisah-kisah yang tidak ada sumbernya yang mereka banyak menyesatkan orang-orang awam dengan mimpi-mimpi tersebut atau kisah-kisah yang tidak benar tersebut. Dan mereka menjauhkan mereka dari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dari jalannya yang lurus.

Dan engkau kadang mendapat seseorang yang berbicara dalam masalah agama akan tetapi dia tidak menyebutkan ayat, tidak menyebutkan hadits, bahkan menyebutkan kisah-kisah yang bohong, menyebutkan cerita-cerita dan mimpi-mimpi dan begitu seterusnya. Dan mereka banyak menyesatkan orang-orang awam dengan cara seperti ini.

Oleh karena itu wajib bagi seorang awam untuk mempelajari agama Islam bukan dengan pengalaman-pengalaman orang. Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan pendapat-pendapat manusia, agama Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan buatan manusia, agama Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan sekedar dibangun diatas perasaan, akan tetapi agama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أُنذِرُكُم بِالْوَحْيِ

Katakanlah wahai Muhammad: ‘Sesungguhnya aku memperingatkan kalian dengan wahyu.’” (QS. Al-Anbiya[21]: 45)

Juga firman Allah:

فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ

Peringatkanlah dengan Al-Qur’an.” (QS. Qaf[50]: 45)

Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah Rabb semesta alam.

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٩٢﴾ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ﴿١٩٣﴾ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ ﴿١٩٤﴾ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ ﴿١٩٥﴾

Kitab ini diturunkan oleh Rabb semesta alam yang diturunkan oleh Jibril kepada hatimu agar engkau menjadi pemberi peringatan dengan bahasa Arab yang nyata.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 192)

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَـٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا

Dan begitulah Kami wahyukan kepada engkau ruh dari perintah kami. Engkau dulu tidak mengetahui apa itu kitab dan apa itu iman, akan tetapi Kami jadikan wahyu ini sebagai cahaya dan Kami beri petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura[42]: 52)

Menit ke-29:18 Para pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Oleh karena itu seyogyanya bagi seorang awam dan bagi seorang muslim secara umum untuk pandai dalam bab ini. Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib di bangun di atas dalil. Dan dalil yang benar adalah yang datang dari Al-Qur’an dan dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan ini adalah permasalahan yang jelas, seperti terangnya matahari.

Maka apabila ada seorang yang mengatakan: “Saya meyakini seperti ini karena saya melihat dalam mimpi seperti ini dan seperti,” atau dia berkata kepadamu: “Kami punya pengalaman,” atau dia menceritakan cerita yang bohong dan lain sebagainya, maka semua hal ini bukan merupakan sumber untuk mengambil dalil. Karena hal ini bukan jalan yang diambil darinya agama dan keyakinan. Agama ini diambil atau bersumber dari firman Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, diambil dari Al-Qur’an dan sunnah.

Dan ini adalah jalannya para salaf yang mereka sejak pertama kali seperti ini sampai saat ini, sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mewariskan bumi ini kepada orang-orang yang akan hidup setelah kita. Dan ini adalah jalannya pengikut kebenaran. Dan tidak akan datang seorang di antara mereka dengan akidah yang ia buat sendiri atau dia karang-karang sendiri dari guru-gurunya. Akan tetapi agama Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Oleh karena itu Ibnu Taimiyah Rahimahullah dalam hal ini berkata dengan perkataan yang agung, yaitu perkataan beliau:

ﻟﻴﺲ ﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ ﱄ ﻭﻻ ﳌﻦ ﻫﻮ ﺃﻛﱪ ﻣﲏ،. ﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ ﷲ ﻭﻟﺮﺳﻮﻟﻪ

“Keyakinan (akidah) bukan dariku dan bukan dari orang yang lebih pandai dariku, akan tetapi keyakinan datangnya dari Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Keyakinan atau akidah adalah apa yang tertera dalam Al-Qur’an, dalam hadits-hadits yang benar (shahih) dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu wajib bagi seorang yang ingin menetapkan suatu akidah untuk dia bangun di atas dalil. Dia mengatakan: “Kami meyakini hal ini karena firman Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti ini, kami meyakini seperti ini karena sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti ini,” ini adalah jalannya ahli ilmu.

Menit ke-34:06 Para pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Adapun sumber-sumber yang dijadikan sumber dalil yang tadi kita sebutkan (selain Al-Qur’an dan sunnah), maka itu adalah sumber-sumber pengikut hawa nafsu.

Dan perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam memperingatkan masalah ini, yaitu firmanNya:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ ﴿١٩﴾ وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ ﴿٢٠﴾

Apakah patut engkau jadikanlah Lata dan Uzza serta Manah yang ketiga?

أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنثَىٰ ﴿٢١﴾

Apakah untuk kalian anak laki-laki dan untuk Allah anak perempuan?

تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ ﴿٢٢﴾

Sesungguhnya ini adalah pembagian yang curang.”

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّـهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ…

Hal itu tidak lain kecuali nama-nama yang kalian dan bapak-bapak kalian beri nama yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah menurunkan hujjah atas hal tersebut.”

…إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ الْهُدَىٰ ﴿٢٣﴾

Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka dan apa yang dibisikkan oleh hawa nafsu. Padahal telah datang dari Rabb mereka petunjuk.” (QS. An-Najm[53]: 23)

Dan ini adalah jalannya pengikut kebatilan dan semua pengikut kesesatan. Karena orang yang berada dalam kesesatannya hanya mengikuti prasangka-prasangka yang dia sangka itu adalah ilmu atau dia mengikuti hawa nafsunya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ جَاءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ الْهُدَىٰ

Dan sungguh telah datang untuk mereka dari Rabb mereka petunjuk.

Al-Huda (petunjuk) yaitu yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diturunkan oleh Rabbul alamin. Maka kenapakah para manusia sibuk dengan prasangka mereka padahal telah turun wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan perhatikanlah dengan baik firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَّا أَنزَلَ اللَّـهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkan hujjah untuk mereka.”

Maka semua akidah yang ada di antara manusia yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkan hujjah dan bukti untuk akidah tersebut, maka akidah tersebut tertolak dan tidak akan diterima. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima dari perkara-perkara agama kecuali apa yang telah diturunkan hujjah dan bukti atas hal tersebut.

Kemudian kenapa dinamakan hujjah itu sebagai sulthan? Karena ia menguasai hati dan tidak akan mampu hati-hati tersebut untuk menolak dari hujjah tersebut disebabkan kuatnya hujjah tersebut.

Menit ke-38:20 Para pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Maka perhatikanlah tiga landasan utama ini dan pokok-pokok ini yang wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan dan mempelajarinya dengan dalil-dalilnya. Dan dalil yang benar adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan dalam kitab ini Anda akan mendapatkan dalil-dalil dari pokok-pokok ini dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Penulis kitab ini Rahimahullah tidak mempunyai andil dalam kitab ini kecuali beliau hanya mengumpulkan dan mengatur serta menjelaskan. Adapun kitab ini, maka semuanya hanya dipenuhi dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan inilah agama sebenarnya. Karena agama Allah adalah apa yang diucapkan oleh Allah dan diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dan seandainya Anda ingin membandingkan antara kitab ini dan kitab-kitab pengikut kebatilan, maka seseorang akan mendapatkan perbedaan yang sangat jauh antara jalannya pengikut kebenaran dan jalan-jalannya pengikut kebatilan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ ﴿١٩﴾

Apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu adalah kebenaran sama seperti orang yang buta? Sesungguhnya hanya orang-orang yang berilmulah yang akan mengingat.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 19)

Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَفَمَن يَمْشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِ أَهْدَىٰ أَمَّن يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٢٢﴾

Apakah orang yang berjalan terjungkal di atas wajahnya lebih banyak mendapat petunjuk daripada orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (QS. Al-Mulk[67]: 22)

Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Katakanlah: ‘Apakah sama orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu?’” (QS. Az-Zumar[39]: 9)

Menit ke-41:00 Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar apa yang telah kita pelajari dapat bermanfaat bagi kita dan aku juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita diberi taufik, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.

Download mp3 kajian Pengertian Ilmu Dalam Islam

Sumber audio:  Penjelasan tentang Ilmu – Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq Al-Badr)

Mari turut menyebarkan catatan kajian “Pengertian Ilmu Dalam Islam” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: