Al-Qur’an dan Hadits Mengisyaratkan Seseorang Untuk Bekerja

Al-Qur’an dan Hadits Mengisyaratkan Seseorang Untuk Bekerja

ceramah tentang gowes

Tulisan tentang "Al-Qur'an dan Hadits Mengisyaratkan Seseorang Untuk Bekerja" ini adalah catatan yang kami tulis dari video kajian Islam yang disampai

7 Orang Yang Dinaungi Allah
Al-Qur’an Sebagai Obat Penyakit Hati dan Penyakit Fisik
Tauhid adalah hal paling agung dalam Al-Qur’an

Tulisan tentang “Al-Qur’an dan Hadits Mengisyaratkan Seseorang Untuk Bekerja” ini adalah catatan yang kami tulis dari video kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafidzahullah.

A. Muslim Yang Ideal Memperhatikan Semua Hak

B. Al-Qur’an dan Hadits Mengisyaratkan Seseorang Untuk Bekerja

1. Al-Qur’an mengisyaratkan seseorang untuk bekerja

Menit ke-9:16 Banyak sekali dalil yang menyuruh seorang untuk menunaikan hak-hak, maka mau tidak mau seorang harus bekerja. Terlalu banyak dalam Al-Qur’an maupun hadits yang mengisyaratkan seseorang untuk bekerja.

Contohnya, dalam Al-Qur’an, Allah memuji sekelompok lelaki yang ada waktunya mereka ke masjid tapi mereka tidak di masjid terus, mereka berdagang tapi perdagangan mereka tidak melalaikan mereka dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّـهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ ﴿٣٧﴾

“Sekelompok lelaki yang perdagangan tidak melalaikan mereka, transaksi tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah, dari menegakkan shalat, dan dari membayar zakat. Mereka takut datang suatu hari dimana mata mereka tidak stabil karena sangat mengerikan pada hari tersebut.”

Di sini Allah jelaskan bahwa mereka berdagang, mereka bertransaksi, tetapi perdagangan mereka dan transaksi mereka tidak memalingkan mereka dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, jadi hak mereka tunaikan semua. Hak Allah mereka tunaikan, hak istri mereka, hak anak-anak mereka, hak orang tua mereka, itu mereka tunaikan dengan berdagang.

Dan ini yang menakjubkan. Sekelompok orang yang mereka tenggelam dalam pekerjaan duniawi tetapi mereka tidak lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karenanya Allah memuji mereka. Allah  tidak sedang memuji orang yang di masjid terus, tetapi Allah sedang memuji orang-orang yang mereka bekerja tapi mereka ternyata tidak lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karenanya seperti Allah berfirman dalam ayat yang lain, kata Allah:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّـهِ وَاذْكُرُوا اللَّـهَ كَثِيرًا…

Jika sudah selesai shalat jum’at, maka bertebarlah di atas muka bumi dan carilah karunia Allah, tapi jangan lupa banyak mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Jumu’ah[62]: 10)

Jadi setelah shalat jum’at jangan santai-santai, tidak demikian. Waktunya kerja, maka bekerjalah. Tapi jangan sibuk dunia sehingga lupa akhirat. Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dalam pekerjaanmu, jangan lupa ingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Contohnya juga, kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ ﴿١٥﴾

Dialah Allah yang telah menundukkan bumi bagimu, berjalanlah kalian di penjuru-penjuru bumi (cari di gunung-gunung kalau perlu), dan makanlah dari rezeki Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kepada Kami lah kalian akan kembali.” (QS. Al-Mulk[67]: 15)

2. Hadits mengisyaratkan seseorang untuk bekerja

Dalam hadits, seperti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan 7 golongan yang dinaungi Allah pada hari kiamat tatkala matahari dalam jarak 1 mil, diantaranya yaitu kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ

“Seorang yang hatinya rindu untuk ke masjid.”

Berarti kita pahami bahwa dia tidak sedang di masjid, dia sedang beraktivitas, tetapi dia rindu kapan diumandangkan adzan sehingga dia bisa melaksanakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini menunjukkan dia beraktivitas tetapi hatinya ke masjid. Bukan sebaliknya, tatkala adzan masjid seakan-akan ini memperlambat transaksi, waktunya shalat terkadang seakan-akan mengurangi keuntungan, bukan demikian. Dia transaksi, dia bekerja, tapi kalau sudah waktunya shalat dia shalat, bahkan dia rindu kapan dia bisa melangkahkan kaki ke masjid. Menunjukkan hadits ini dia sedang kerja tetapi tetap ingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Contoh lagi kisah ‘Umar yang bergantian menuntut ilmu. Dalam Shahih Bukhari, Al-Imam Bukhari membuat sebuah bab yang judulnya بَابُ التَّنَاوُبِ فِي العِلْمِ (bab tentang bergantian dalam menuntut ilmu). Yaitu ‘Umar dengan tetangganya, sehari ‘Umar ikut pengajian dan tetangganya kerja, besoknya gantian tetangganya ikut pengajian bersama Nabi dan ‘Umar yang kerja. Nanti ketika malam mereka bertemu untuk sharing. Dan begitulah ‘Umar bergantian. Ini menunjukkan bagaimana ‘Umar tetap kerja dan dia tidak ingin ketinggalan ilmu sehingga dia bergantian dengan kawannya. Hal ini supaya dia menunaikan kedua hak, hak Allah dia tunaikan dengan menuntut ilmu dan hak keluarganya pun dia tunaikan.

Kemudian kisah seorang sahabat yang bekerja dalam kondisi puasa. Kisah Qais bin Shirmah. Dia pingsan ketika bulan Ramadhan. Haditsnya ma’ruf di shahih Bukhari. Ketika ada seorang sahabat di bulan Ramadhan, kemudian dia bekerja, kemudian besoknya dia bekerja lagi sebelum sempat berbuka puasa dan sahur, saat dia bekerja itu dia pingsan. Ini awal-awal terjadinya puasa. Intinya dia bekerja di bulan Ramadhan sampai dia pingsan. Berarti dia bertanggung jawab kepada keluarganya.

Belum lagi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh untuk bekerja dan tidak minta-minta. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidak ada makanan yang paling halal yang terbaik yang kita makan kecuali dari hasil pekerjaan kita. Dan bahkan Nabi Dawud ‘Alaihish Salam dahulu makan dari hasil pekerjaannya sendiri.” (HR. Bukhari)

Di situ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kita untuk bekerja sendiri dan kalau bisa kita makan dari hasil kerja kita sendiri, tidak meminta-minta kepada orang lain. Ini adalah motivasi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk bekerja.

Kemudian juga misalnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا ، فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

“Lebih baik salah seorang dari kalian mengambil seikat kayu kemudian ia pikul di pundaknya kemudian dia jual daripada dia meminta-minta kepada orang lain dikasih atau tidak dikasih.” (HR. Bukhari)

Pekerjaan mengambil kayu bakar di hutan kemudian jualan ini sepertinya pekerjaan rendah, tapi kata Nabi bahwa itu lebih baik seorang melakukan demikian daripada meminta-minta dan berharap kepada orang lain. Ini  menunjukkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh seseorang untuk bisa bekerja. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkata:

مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا، وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang bisa menjamin kepadaku dia tidak minta-minta kepada orang lain, maka aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Abu Dawud)

Kenapa demikian? Karena semakin orang tidak minta bantuan kepada orang lain, semakin kuat harapannya kepada Allah, semakin tinggi tawakalnya, dia tidak terbiasa meminta-minta kepada orang lain, dia terbiasa selalu bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sampai-sampai Nabi pernah mengambil baiat kepada para sahabat: “Jangan kalian minta kepada orang lain.” Sampai-sampai ketika dia naik kuda atau naik unta kemudian cemetinya jatuh, dia tidak suruh orang untuk ambilkan, dia berhenti, dia turun dan dia ambil sendiri baru kemudian dia naik lagi di atas tunggangannya. Hal ini untuk melatih diri tidak biasa minta kepada orang lain. Tentu beda kalau bos menyuruh anak buahnya, maksudnya untuk sesama kawan, usahakan untuk tidak minta-minta kepada orang lain.

Oleh karena perkataan Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala, dia berkata:

احتج الى من شئت تكن اسيره

“Butuhlah engkau kepada siapapun, maka kau akan jadi tawanannya.”

Engkau semakin banyak hutang budi akhirnya kita menjadi tawanan dia. Kemudian kata Ibnu Taimiyah:

استغنِ عمن شئت تكن نظيره

“Dan cukuplah engkau tidak butuh kepada orang lain, maka engkau akan seimbang dengannya.”

وأحسن إلى من شئت تكن أميره

“Berbuat baiklah kepada orang lain, kau akan menjadi amirnya.”

Ini perkataan yang luar biasa. Kalau kau ingin menjadi tawanan orang, selalu butuh kepada dia, hutang budi banyak-banyak kepada dia, jadilah engkau tawanan dia. Kemudian sebaliknya, kalau kau tidak butuh dengan dia, kau jadi berimbang dengan dia. Tapi kalau sering kasih dia, justru kau menjadi pemimpinnya.

Oleh karenya ketika kita bergaul, kita punya kawan-kawan, kita berusaha tidak minta-minta, kalau dia bantu kita Alhamdulillah, tapi jangan suka biasakan diri kita untuk minta-minta kepada orang lain. Seringlah kita meminta kepada Allah, merendahkan diri kepada Allah dan tidak meminta kepada orang lain. Karena semakin kita tidak minta kepada orang lain, maka tawakal kita semakin tinggi, tauhid kita semakin tinggi. Bukan berarti tidak boleh, tetapi tidak disukai.

Intinya bahwa hadits-hadits ini semua menyuruh seorang untuk bekerja, karena hak yang harus ditunaikan banyak. Hak istrinya, hak anaknya, hak orang taunya, dan dia harus bisa menunaikan bukan cuma hak Allah, tapi hak orang di sekelilingnya harus dia tunaikan, diantaranya dengan bekerja semampunya.

Jadi kita sudah punya gambar tentang muslim, jangan sampai seorang berprasangka bahwa namanya seorang muslim yang sejati adalah muslim yang cuma di masjid doang, yang cuma hafal Al-Qur’an doang, yang cuma ngaji doang, tidak. Islam ini komprehensif, lengkap segalanya dan masing-masing ada haknya. Jika ada satu hak berlebihan dalam hak tersebut padahal bukan profesinya, akhirnya akan menumbalkan hak-hak yang lain. Sebagaimana Abu Darda Radhiyallahu ‘Anhu ketika berlebih-lebihdan dalam puasa dan shalat malam, akhirnya hak istrinya dia lalaikan.

C. Menjadi Muslim Yang Profesional

Baca di sini: Menjadi Muslim Yang Profesional

Video Kajian Al-Qur’an dan Hadits Mengisyaratkan Seseorang Untuk Bekerja

Sumber Video: Ustadz Firanda – Muslim Produktif Kontributif

Mari turut menyebarkan kajian “Al-Qur’an dan Hadits Mengisyaratkan Seseorang Untuk Bekerja” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

Saudaraku, silahkan login atau daftar terlebih dahulu ya. Barakallahu fiik.
%d blogger menyukai ini: