Nasihat dan Penutup Kajian Dosa-Dosa Lisan

Nasihat dan Penutup Kajian Dosa-Dosa Lisan

ceramah tentang gowes

Tulisan tentang “Dosa Lisan Yang Berkaitan Dengan Diri Sendiri” ini adalah catatan yang kami tulis dari video kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafidzahullah.

Mempelajari Amalan Hati – Part 4
Materi 17 – Nasib Donatur Yang Riya’
Waktu Seperti Pedang

Tulisan tentang “Nasihat dan Penutup Kajian Dosa-Dosa Lisan” ini adalah catatan yang kami tulis dari video kajian Islam yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Hafidzahullah.

A. Mukaddimah Kajian Dosa-Dosa Bahayanya Lisan
B. Dosa lisan yang berkaitan dengan hak Allah
C. Dosa lisan yang berkaitan dengan diri sendiri
D. Dosa lisan yang berkaitan dengan orang lain

E. Nasihat dan Penutup Kajian Dosa-Dosa Lisan

Menit ke-1:05:29 Thayyib, inilah para ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, para jama’ah majelis ta’lim Sebaris yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang dosa-dosa berkaitan dengan lisan, semoga kita bisa menjauhinya, terutama di zaman sekarang yang memancing kita untuk bisa berbicara dengan perkataan yang batil. Saya ingatkan di penghujung pengajian kita:

1. Hukum tulisan sama dengan hukum lisan

Yang pertama, hukum tulisan sama dengan hukum lisan, hati-hati. Dosa ini bisa jadi dengan omongan, bisa jadi dengan rekaman suara, bisa dengan video, bisa jadi dengan tulisan di komentar misalnya atau di status atau di berita, ini juga sama.

2. Setiap perkataan kita dicatat oleh malaikat

Kita harus yakin bahwasanya setiap perkataan kita dicatat oleh malaikat. Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ ﴿١٨﴾

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf[50]: 18)

3. Jangan sibuk dengan urusan orang

Ingat sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مِنْ حُسْنِ إسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Diantara keelokan Islam seseorang meninggalkan yang bukan urusannya.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan yang lainnya)

Kita jangan sibuk dengan urusan orang. Kalau Anda pedagang, sibuk dengan perdagangan. Kalau Anda herbalis, sudah sibuk saja dengan jualan herbal, jangan kemudian bicara sana-sini yang tidak ada manfaatnya, jangan sok tahu dan yang lainnya. Kalau Anda adalah da’i, jangan bicara yang diluar kemampuan Anda. Sudah da’i bicara tentang kesehatan, kedokteran, kimia, yang itu semua bukan ranah Anda.

Jadi, masing-masing sibuk dengan urusannya dan meninggalkan perkara-perkara yang bukan urusannya.

4. Jagalah lisanmu dan lapangkanlah rumahmu

Jangan sampai kita menyesal. Ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Ya Rasulullah, berilah aku mauidzah yang ringkas.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, diantaranya:

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

“Kalau engkau hendak shalat, maka shalatlah seakan-akan seperti orang yang hendak meninggalkan dunia ini.”

Kemudian kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا

“Janganlah kau berbicara yang engkau akan minta udzur dikemudian hari.”

Artinya Rasulullah mengajarkan seseorang untuk memikirkan apa yang hendak dia ucapkan. Jangan sampai nanti dia minta maaf, minta maaf, minta maaf. Sebelum kau minta maaf, pikirkan, supaya engkau tidak perlu minta maaf di kemudian hari. Itu berlaku kepada kita ngomong sama orang, kita ngomong sama anak buah, kita ngomong sama bos, kita ngomong sama istri, kita ngomong sama suami. Hati-hati, jangan kita ucapkan perkataan yang nanti akhirnya kita butuh untuk minta maaf atas perkataan tersebut.

Kemudian yang ketiga, kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاسِ

“Putus asa lah dari apa yang ada di tangan manusia.”

Artinya jangan engkau berharap sedikitpun dari punya orang, berharaplah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian hadits yang lain dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ada yang bertanya kepada Nabi: “Ya Rasulullah, apa itu keselamatan?” Ini yang perlu kita renungkan, terutama dizaman sekarang ini. Bagaimana cara selamat? Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

أمْسِكْ عَلَيْكَ لِسانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بيْتُكَ

“Jagalah lisanmu dan lapangkanlah rumahmu.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Nabi memerintahkan jaga lisan, jangan asal ngomong, jangan asal nulis. Dan jadikanlah rumahmu lapang, artinya betah di rumah. Itu isyarat agar jangan suka ngurusin urusan orang, jangan ingin tahu urusan orang. Saya ini terlalu banyak urusan orang, ada orang telpon menceritakan masalah, saya juga tidak suka, tapi kasihan, saya harus memberikan solusi.

Intinya kalau kita tidak ada urusan, tidak usah mencari tahu urusan orang. Biarkanlah rumah Anda menjadi rumah yang lapang, tentram, sibuk dengan istri dan anak, itu lebih penting. Urusin istri dengan baik, kasih ke salon biar tambah cantik, biar kita lebih tentram di rumah, anak-anak diajarin dengan baik.

Penutup Kajian

Ini saja yang saya sampaikan, para ikhwan dan akhwat, para jama’ah majelis ta’lim Sebaris, semoga Allah menjaga lisan-lisan kita. Semoga lisan yang Allah anugerahkan kepada kita menjadi penyebab diangkatnya derajat kita di surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Video Kajian Nasihat dan Penutup Kajian Dosa-Dosa Lisan

Sumber Video: Dosa-Dosa Bahayanya Lisan

Mari turut menyebarkan kajian “Nasihat dan Penutup Kajian Dosa-Dosa Lisan” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: