Kesyirikan adalah Perkara yang Paling Allah Larang

Kesyirikan adalah Perkara yang Paling Allah Larang

pandai mendengar

Tulisan tentang "Kesyirikan adalah Perkara yang Paling Allah Larang" ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang

Selamat dari Keburukan dan Kerugian
Kewajiban Menaati Rasul
Tiga Perkara Penting Berkaitan dengan Tauhid

Tulisan tentang “Kesyirikan adalah Perkara yang Paling Allah Larang” ini adalah apa yang bisa kami ketik dari kajian Kitab Al-Ushul Ats-Tsalatsah yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-Badr Hafidzahumullahu Ta’ala.

Lihat sebelumnya: Apa makna tauhid?

Kajian Tentang Kesyirikan adalah Perkara yang Paling Allah Larang

Menit ke-3:59 Bismillahirrahmanirrahim, segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga kepada keluarganya dan seluruh sahabatnya.

Para pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pengarang kitab ini kemudian mengatakan:

وأعظم ما نهى عنه: الشرك

“Perkara terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala larang adalah kesyirikan.”

Definisi Syirik

Kesyirikan definisinya adalah:

دعوة غيره معه

“Berdoa kepada selain Allah di samping berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Jadi kesyirikan yaitu seorang berdoa kepada Allah dan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya:

أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ ؟

“Dosa apakah yang paling besar?”

Beliau mengatakan:

أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا ، وَهُوَ خَلَقَكَ

“Engkau menjadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala padahal Dialah yang menciptakanmu.” (HR. Bukhari)

Ini adalah definisi atau pengertian syirik. Dan syirik adalah dosa yang paling besar. Dan pengertiannya atau definisinya adalah engkau menjadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala padahal Dialah yang menciptakanmu.

Maka apabila ada seorang yang bertanya apa itu syirik dan engkau menjawab dengan jawaban Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala padahal Dialah yang menciptakanmu.” kemudian engkau menggabungkan hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ؟

“Maukah aku beritahukan kepada kalian dosa apa yang paling besar?”

Para sahabat menjawab: “Tentu Wahai Rasulullah.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ

“Menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

Pengertian dari kesyirikan yaitu sebagaimana yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Dngkau menjadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala padahal Dialah yang menciptakanmu.”

Jadi kesyirikan adalah menjadikan tandingan dan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hal-hal yang menjadi hak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan ibadah adalah murni hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepada sahabat Mu’adz:

أتَدْرِي مَا حَقُّ الله عَلى العِبادِ؟

“Tahukah kamu apa hak Allah terhadap hambaNya?”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً

“Hak Allah atas hambaNya yaitu mereka menyembah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi ibadah adalah murni hak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

At-Taswiyyah (Penyamaan)

Dan di sini Pengarang kitab ini Rahimahullah mengatakan: “Syirik adalah berdoa kepada Allah dan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Dan asal dari kalimat syirik yaitu at-taswiyyah (penyamaan). Artinya adalah menyamakan selain Allah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada perkara-perkara yang menjadi hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala atau kekhususan-kekhususan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu kaum musyrikin ketika mereka pada hari kiamat dimasukkan ke dalam neraka jahanam, apa yang mereka katakan? Mereka mengatakan:

تَاللَّـهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ ﴿٩٧﴾ إِذْ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٩٨﴾

Demi Allah, sesungguhnya kami berada dalam kesesatan yang nyata. Karena kami dahulu menyamakan kalian (yaitu sesembahan-sesembahan dan patung-patung mereka) dengan Rabb semesta alam.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 97-98)

Inilah yang dikatakan oleh orang-orang musyrikin ketika mereka masuk ke dalam neraka. Mereka bersumpah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwasanya dahulu mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Kesesatan mereka yaitu ketika mereka menyamakan selain Allah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada perkara-perkara yang menjadi hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala atau kekhususan-kekhususan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Doa adalah ibadah yang paling besar

Dan doa adalah jenis ibadah yang paling besar, yang paling mulia. Oleh karena itu Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:

الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ ‏

“Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Kemudian beliau membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي…

Dan Rabb kalian mengatakan: ‘Berdoalah kepadaKu, maka Aku akan menjawab doa kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari ibadah kepadaKu…” (QS. Ghafir[40]: 60)

Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan doa dengan ibadah. Jadi doa adalah ibadah yang paling mulia, ibadah yang paling besar. Maka barangsiapa yang menjadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam doa, seperti dia berdoa kepada orang yang telah meninggal atau orang yang ghaib atau berdoa kepada batu atau kepada pohon atau selainnya dengan mengatakan: “Bantulah aku, tolonglah aku, sembuhkanlah penyakitku,” dia berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, orang sakit berdoa agar disembuhkan atau orang yang tersesat meminta petunjuk, ini adalah kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ ﴿١٣﴾

Dan sembahan-sembahan yang kalian seru selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka tidak memiliki sesuatu apapun.” (QS. Fatir[35]: 13)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّـهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ…

Dan siapakah yang lebih sesat dari orang yang berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak menjawab doa mereka sampai hari kiamat.” (QS. Al-Ahqaf[46]: 5)

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا ﴿٥٦﴾

Katakanlah: ‘Serulah orang-orang yang kalian anggap Tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengangkat marabahaya dari kalian dan tidak mampu untuk memindahkan marabahaya tersebut.’” (QS. Al-Isra[17]: 56)

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِ اللَّـهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِن شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُم مِّن ظَهِيرٍ ﴿٢٢﴾

Katakanlah: ‘Serulah orang-orang yang kalian anggap Tuhan-Tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka tidak memilik sebesar biji zarahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak punya saham sedikitpun, dan mereka tidak menolong Allah Subhanahu wa Ta’ala sedikitpun.” (QS. Saba[34]: 22)

Dan ayat-ayat yang memerintahkan seorang untuk mengikhlaskan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat banyak sekali dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Memurnikan doa kepada Allah

Menit ke-14:25 Para pendengaran yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang memerintahkan untuk mengikhlaskan, memurnikan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak boleh kita berdoa kepada selain Allah, tidak boleh kita meminta kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkata kepada sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau mengatakan:

إذَا سَأَلْت فَاسْأَلْ اللَّهَ

“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah.”

وَإِذَا اسْتَعَنْت فَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ

“Jika engkau meminta pertolongan, minta pertolonganlah kepada Allah.”

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوك بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوك إلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَك

“Dan ketahuilah, seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberimu manfaat sedikitpun, mereka tidak akan mampu memberi engkau manfaat sedikit pun kecuali yang telah dituliskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

وَإِنْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوك بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوك إلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْك

“Dan jika mereka berkumpul untuk memberikan mudharat kepadamu sedikitpun, mereka tidak akan mampu untuk memberikan mudharat kepadamu kecuali apa yang telah ditulis oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ، وَجَفَّتْ الصُّحُفُ

“Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi)

Jadi seluruh perkara ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ

Engkau tidak mempunyai keputusan sedikitpun.” (QS. Ali-Imran[3]: 128)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menetapkan hal ini ketika beliau berkata kepada putrinya Fatimah Radhiyallahu ‘Anha:

يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

Wahai Fatimah anak Muhammad, mintalah kepadaKu dari hartaku apa yang engkau inginkan, sesungguhnya aku tidak mampu memberikan pertolongan dari keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala sedikitpun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ ﴿١٠٣﴾

Dan tidaklah kebanyakan manusia walaupun engkau bersemangat untuk memberi hidayah kepada mereka, mereka kebanyakan tidak beriman.” (QS. Yusuf[12]: 103)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat menginginkan hidayah kepada pamannya, akan tetapi dia tidak mendapatkan hidayah. Hidayah (petunjtauuk) milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّـهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

Sesungguhnya engkau tidak mampu memberi hidayah (petunjuk) kepada siapa yang engkau cintai, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kepada siapa yang Ia kehendaki.” (QS. Al-Qashash[28]: 56)

Kesembuhan di tangan Allah

Kesembuhan itu di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada yang dapat menyembuhkan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila meminta kesembuhan untuk dirinya atau selainnya, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ

“Ya Allah Rabb manusia, jauhkanlah penyakit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian dalam riwayat lain:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَأْسِ ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي ، لَا شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ ، اشْفِهِ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah pemilik manusia, yang menghilangkan penyakit, sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun.” (HR. Bukhari)

Maka bagaimana keadaan seorang manusia yang datang kepada kuburan atau kepada kubah-kubah yang dibangun yang meminta kepada orang yang telah meninggal untuk menyembuhkannya atau meminta kepada pemilik kuburan untuk memberinya anak atau meminta kepada orang yang telah meninggal untuk memberinya petunjuk. Padahal orang yang telah meninggal ini seandainya dia masih hidup, dia tidak mampu untuk menyembuhkan dirinya sendiri, tidak mampu untuk mendatangkan anak untuk dirinya sendiri dan tidak mampu untuk memberi hidayah kepada dirinya sendiri. Karena semua hal ini adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka bagaimana mungkin hal ini diminta dari selain Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Banyak orang yang datang kepada kuburan atau tempat-tempat yang diagungkan kemudian dia berdiri di depannya dengan tunduk, dengan berharap dan merasa hina dan bahkan menangis. Mereka mengatakan: “Tolong aku, bantu aku, beri aku, aku inginkan seperti ini, saya ingin seperti ini,” Maha Suci Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللَّـهَ حَقَّ قَدْرِهِ

Mereka tidak mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya pengagungan.” (QS. Az-Zumar[39]: 67)

وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Seluruh bumi ini digenggaman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.”

وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ

Dan langit-langit digulung ditangan kanan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Dimanakah akal mereka mereka? Dimanakah mereka dari tujuan Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan mereka? Yaitu agar mereka mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana mungkin mereka melenceng dari hal ini padahal kesyirikan adalah kedzaliman yang paling besar dan dosa yang paling besar.

Dan kita ketahui dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Maukah aku sampaikan kepada kalian dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah mengatakan: “Kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Kesyirikan adalah kedzaliman yang paling besar

Jadi kesyirikan adalah kedzaliman yang paling besar dan kebatilan yang paling besar. Karena syirik adalah penyelewengan terhadap hak rububiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala, penghinaan terhadap hak uluhiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merupakan buruk sangka terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebenarnya dia berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena seandainya dia berbaik sangka kepada Allah, tentu dia tidak akan berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi orang yang musyrik atau orang yang mempersatukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman:

الظَّانِّينَ بِاللَّـهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ

Mereka berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan persangkaan yang buruk, sesungguhnya keburukan akan kembali kepada mereka.” (QS. Al-Fath[48]: 6)

Seandainya mereka berbaik sangka kepada Allah, mereka tidak akan kembali kepada selain Allah, tidak bertawakal kepada selain Allah dan tidak memalingkan kepasrahannya kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena ini murni hak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Orang yang mempersekutukan Allah dia telah menyelewengkan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dia telah berbuat keburukan dan membahayakan terhadap dirinya sendiri.

Syirik adalah larangan yang paling besar

Menit ke-24:30 Para pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian beliau mengatakan bahwasanya syirik adalah berdoa kepada Allah dan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, siapapun dia. Karena kita mengetahui bahwasanya ibadah murni hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Walaupun orang itu mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah, hal itu tidak boleh menjadi alasan seseorang menjadikannya sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Akan tetapi hak orang tersebut tetap harus dijaga dan hal itu tidak menjadi alasan bolehnya kita menjadikan dia tandingan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak boleh kita berdoa kepadanya, tidak boleh beristighatsah kepadanya, tidak boleh berdoa kepadanya, dan tidak boleh memalingkan segala jenis ibadah kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena ibadah adalah murni hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satupun yang berhak untuk disembah selain Allah, baik itu malaikat yang dekat atau nabi yang diutus Allah Subhanahu wa Ta’ala, apalagi selainnya. Sebagaimana telah kita sebutkan dalil tersebut, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاعْبُدُوا اللَّـهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Sembahlah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan janganlah engkau mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisa[4]: 36)

Ayat ini menggabungkan beberapa dalil yang telah disebutkan oleh pengarang kitab ini. Di antara makna-makna yang dikandung oleh ayat ini yaitu:

  • Pertama, tauhid merupakan perkara yang terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan. Dan arti tauhid yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal ibadah.
  • Kedua, bahwasanya kesyirikan adalah perkara terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala larang. Dan syirik adalah berdoa kepada Allah dan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini semua dikandung dalam ayat ini, yaitu:

وَاعْبُدُوا اللَّـهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Beribadahlah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan janganlah engkau mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisa[4]: 36)

Dan ayat ini tertera dalam surat An-Nisa’ yang disebutkan oleh para ulama bahwasanya ayat ini adalah حقوق الأسرة (hak-hak yang sepuluh). Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan 10 hak dalam ayat ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّـهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Sembahlah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan janganlah engkau mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun.

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.

وَبِذِي الْقُرْبَىٰ

juga kepada keluarga dekat.”

وَالْيَتَامَىٰ

Dan anak-anak yatim.”

وَالْمَسَاكِينِ

Dan orang-orang miskin.”

وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ

Tetangga yang dekat.”

وَالْجَارِ الْجُنُبِ

Tetangga yang jauh.”

وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ

Dan teman dekat.”

وَابْنِ السَّبِيلِ

“Dan orang yang dalam perjalanan.

وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Dan budak-budak kalian.

Ini adalah 10 hak yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai hak-hak ini dengan perkara yang terbesar dan terpenting, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاعْبُدُوا اللَّـهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Sembahlah hanya kepada Allah dan janganlah engkau mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun.”

Dan jika Anda ingin memeriksa ayat-ayat Al-Qur’an, memeriksa perintah-perintah dan larangan-larangan yang tertera dalam Al-Qur’an, dalam banyak tempat Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan perintah-perintah dan larangan-larangan berurutan dalam satu tempat, maka engkau akan mendapatkan bahwasanya dalam semua ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan perkara yang besar ini, yaitu perkara tauhid. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Isra’, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَّا تَجْعَلْ مَعَ اللَّـهِ إِلَـٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَّخْذُولًا ﴿٢٢﴾

Janganlah engkau menjadikan sembahan yang lain selaian Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga engkau akan menjadi tercela dan ditinggalkan.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ

Dan Allah memerintahkan kepadamu agar engkau tidak menyembah kecuali kepadaNya.”

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra'[17]: 23)

Kemudian dalam ayat ini Allah menyebutkan hak kerabat dekat, kemudian melarang dari menghambur-hamburkan makanan, melarang dari sikap mubazir (boros), melarang dari zina, melarang dari pembunuhan, melarang dari perkara-perkara yang sangat banyak yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai larangan dan perintah ini dengan larangan dari kesyirikan dan perintah untuk bertauhid.

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat yang lain:

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا…

Kemarilah, aku akan bacakan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan kepada kalian agar kalian jangan mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu apapun.”

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. Al-An’am[6]: 151)

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan kriteria hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala Ibadurrahman, yaitu kriteria yang pertama Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّـهِ إِلَـٰهًا آخَرَ

Dan orang-orang yang tidak berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّـهُ إِلَّا بِالْحَقِّ

Dan mereka tidak membunuh jiwa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan kecuali dengan kebenaran.”

وَلَا يَزْنُونَ

Dan mereka tidak berzina.” (QS. Al-Furqan[25]: 68)

Kalian bisa melihat dalam banyak ayat Al-Qur’an ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perintah-perintah, menyebutkan larangan-larangan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan tauhid yang merupakan perintah yang terbesar dan melarang dari kesyirikan yang merupakan larangan yang paling besar.

Tauhidkanlah Allah Subhanahu wa Ta’ala

Menit ke-32:30 Para pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sembahlah hanya kepada Allah,” ini adalah perintah untuk bertauhid. Dan telah berlalu kita sampaikan perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau mengatakan:

كل أمر بالعبادة في القرآن أمر بالتوحيد

“Semua perintah ibadah dalam Al-Qur’an, itu adalah perintah untuk bertauhid.”

Lihat: Urgensi tauhid

Jadi, arti dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala وَاعْبُدُوا اللَّهَ (sembahlah Allah) artinya tauhidkanlah Allah Subhanahu wa Ta’ala, esakanlah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadah. وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا (dan janganlah engkau mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun), janganlah engkau samakan selain Allah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena syirik adalah penyamaan. Orang yang menyamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan selain Allah, berarti dia telah berbuat kesyirikan.

ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Kemudian orang-orang kafir terhadap Rabb mereka, mereka menyamakan dengan yang lain.” (QS. Al-An’am[6]: 1)

Yaitu mereka menyamakan selain Allah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian kata شَيْئًا di sini dalam konteks larangan dan berbentuk nakirah, maka berarti umum. Artinya tidak ada sesuatu apapun yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Persis dengan apa yang telah kita sebutkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّـهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّـهِ أَحَدًا ﴿١٨﴾

Dan sesungguhnya masjid-masjid hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka janganlah engkau berdoa kepada siapa pun selain Allah.” (QS. Al-Jin[72]: 18)

Jadi tidak ada sesuatu apapun yang berhak disembah selain Allah, baik itu malaikat yang dekat dengan Allah, Nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, apalagi selain keduanya. Ibadah murni hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak boleh seorang menjadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Memperbaharui tauhid setiap pagi

Menit ke-[skiptok time=e”38:10″] Para pendengar yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, perkara yang dikandung oleh risalah yang agung ini, yaitu penjelasan tentang makna hanifiyyah millah ibrahim dan makna-makna ini yang telah kita dengarkan bersama wahai saudaraku yang semoga diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, marilah kita jadikan selalu hadir di dalam diri kita, setiap hari kita selalu ingat setiap hari dan kita ulang-ulangi setiap harinya. Jangan sampai lewat satu hari kita tidak mengulangi hal ini.

Dan cara kita mengulangi hal tersebut dan mengingat-ingat hal ini yaitu dengan membacanya dalam dzikir pagi, sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abdurrahman ibnu Abza dalam Musnad dan selainnya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di pagi hari beliau berdoa:

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Setiap pagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu membaca doa ini: “Kami memasuki pagi dalam keadaan di atas fitrah keislaman, diatas kalimat keikhlasan, diatas agama Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, diatas millah bapak kita Ibrahim yang hanif, yang muslim, dan dia tidak termasuk orang-orang yang musyrik.”

Setiap pagi kita ulang-ulangi doa ini dan kita mulai pagi kita dengan menghadirkan tauhid dan menghadirkan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap pagi kita perbaharui perjanjian kita dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kita lewati hari-hari kita dengan tauhid.

Sebagian orang ada yang ketika pagi -bahkan sejak malam- mereka berniat untuk mendatangi kuburan dan berdoa kepada mereka, minta tolong kepada mereka, ini tentu tidak benar. Dan mereka bahkan memalingkan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang muslim yang benar, muslim yang bertauhid, setiap pagi mereka selalu mengulang-ulangi hal ini. Mengulang-ulangi perjanjian dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, memperbarui tauhidnya, memperbarui keikhlasannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengesakan Allah dalam ibadah.

Seorang muslim sepantasnya untuk mengulang-ulangi dan menhafal doa ini. Karena ini sering dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setiap pagi. Dan ini termasuk salah satu dikir yang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di pagi hari, yaitu:

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Kita ulang-ulangi doa ini setiap pagi dan Syaikh menganjurkan bahwa mulai besok jangan sampai kita melupakan hal ini dan jangan sampai kita sekedar mengucapkan hal ini dan tidak mengetahui maknanya dan tidak memahami artinya. Kita ketika membaca dzikir ini, kita menghadirkan makna-makna agung yang dikandung oleh dzikir ini, yaitu kita memperbaharui tauhid kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setiap pagi ketika terbit matahari pada pagi itu dan kita dalam keadaan sehat, dalam keadaan tidak sakit, kita mengumumkan tauhid kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ketetapan kita diatas fitrah dan diatas agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam.

Dan inilah hari yang diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang apabila kita selalu membaca doa ini dan kita mengumumkan bahwasanya kita selalu berada diatas tauhid, berada diatas keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, diatas agama Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, diatas agama bapak kita Ibrahim, maka ini adalah hari yang berkah, hari yang sangat bermanfaat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada kebaikan dan membimbing kita untuk selalu mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Selanjutnya: Cara Mengenal Allah Ta’ala

Baca dari awal yuk: Mukadimah Kajian Al-Ushul Ats-Tsalatsah

Mp3 Kajian Tentang Kesyirikan adalah Keburukan yang Paling Allah Larang

Sumber audio: radiorodja.com

Mari turut menyebarkan catatan kajian “Kesyirikan adalah Keburukan yang Paling Allah Larang” ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum..

COMMENTS

%d blogger menyukai ini: