Khutbah Jumat : Hubungan Mutlak Antara Ilmu dan Ketakwaan

Khutbah Jumat : Hubungan Mutlak Antara Ilmu dan Ketakwaan

Khutbah Jumat: Semangat Dibulan Sya’ban
Khutbah Jumat: Bukti Benarnya Iman di Hati
Khutbah Jumat: Wahai Para Penghina Rasulullah!

Berikut transkrip khutbah jumat tentang “Khutbah Jumat: Hubungan Mutlak Antara Ilmu dan Ketakwaan” yang disampaikan Ustadz Erwandi Tarmidzi, Hafidzahullahu Ta’ala

KHUTBAH PERTAMA : Akar Kedurhakaan dan Kedudukan Zat Allah yang Maha Besar

Kaulm muslimin yang dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Tujuan dari setiap khatib mewasiatkan ketakwaan kepada kaum muslimin sekali sepekan di hari Jumat adalah untuk menjaga konsistensi iman. Takwa secara definisi berarti imtisalu awamirillah wajtinalbu nawahi, yaitu melakukan seluruh hal yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan meninggalkan seluruh hal yang dilarang oleh-Nya.

Upaya menjalankan ketakwaan ini seluruhnya membutuhkan fondasi berupa ilmu. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya menyatakan:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

“Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 282)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga memberikan penegasan mengenai korelasi antara ketakwaan dengan keluasan makrifat atau ilmu seseorang melalui sabda beliau:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ

“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah di antara kamu sekalian.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]

Kualitas ketakwaan seorang hamba akan terus bertumbuh seiring dengan peningkatan ilmunya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ilmu tersebut mencakup makrifat terhadap para malaikat Allah, para rasul utusan Allah, kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah, hari akhir, serta takdir (qadha) baik maupun buruk yang ditetapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memposisikan dirinya sebagai manusia yang paling takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena beliau merupakan pribadi yang paling mengilmui, paling memahami, dan paling mengerti tentang keagungan Allah ‘Azza wa Jalla.

Ma’asyurul muslimin, sidang jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan tentang kondisi orang-orang yang durhaka kepada-Nya, hal itu disebabkan karena mereka tidak mengenal Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak kenal tersebut berujung pada hilangnya rasa hormat dan pengagungan di dalam hati mereka terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az-Zumar[39]: 67)

Orang-orang yang mendurhakai Allah ‘Azza wa Jalla, melakukan kesyirikan, enggan menjalankan perintah-Nya, serta nekat menerjang batasan-batasan larangan-Nya, pada hakikatnya sama sekali tidak menghargai Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka bertindak demikian karena tidak mengetahui bagaimana keagungan Allah ‘Azza wa Jalla.

Melalui ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan bagaimana besarnya kekuasaan, ketinggian kemuliaan, serta keagungan zat-Nya. Ketika kalimat Allahu Akbar diucapkan, hal itu menandakan bahwa Allah Maha Besar dari segala aspek, termasuk zat-Nya yang Maha Agung. Bumi dengan seluruh isinya yang mencakup triliunan ton material akan berada di dalam genggaman tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat. Demikian pula dengan langit, yang sampai hari ini manusia tidak mampu mendeteksi pangkal dan ujungnya meskipun menggunakan peralatan yang sangat canggih, kelak akan dilipat dengan tangan kanan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mahasuci Allah ‘Azza wa Jalla dan Mahatinggi Dia dari segala bentuk penyandingan maupun kesyirikan yang dilakukan oleh makhluk-Nya.

Ketakwaan akan muncul dengan mengenal dan mengetahui keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika peristiwa Isra Mikraj, Rasulullah Melihat Malaikat Jibril di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla tampak seperti kal-hilsil-bali. Malaikat Jibril yang ukuran tubuhnya sangat besar hingga menutupi ufuk pandangan manusia dan memiliki 700 sayap yang semuanya dapat berfungsi untuk terbang secepat kilat, ternyata di hadapan Allah tampak bagaikan kain lusuh yang usang serta tidak berdaya untuk berdiri.

Para malaikat dan seluruh makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui keagungan-Nya senantiasa tunduk dan menyucikan diri-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ

“Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. Al-Isra'[17]: 44)

Berdasarkan ayat tersebut, tidak ada satu pun dari makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala baik batu, pohon, maupun air melainkan semuanya bertasbih kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka bertasbih karena mengetahui besarnya kekuasaan dan agungnya Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam seluruh kriteria-Nya.

Seseorang yang dihadapkan pada sosok raksasa yang besar tentu akan merasa sangat ketakutan. Sementara itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Zat yang menggenggam bumi dan melipat langit di tangan-Nya. Menjadi tidak masuk akal bagi logika manusia yang waras apabila ada seseorang yang tidak menaruh rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, enggan menjalankan perintah-Nya, serta berani melanggar aturan-aturan ketentuan larangan-Nya.

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu mengajarkan ilmu tentang Allah ‘Azza wa Jalla melalui kitab-Nya, serta melalui asma dan sifat-Nya agar manusia dapat mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semakin seorang hamba mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia akan semakin taat, tunduk pada perintah-Nya, dan sangat menjauhi larangan-Nya demi menggapai rida yang paling besar.

KHUTBAH KEDUA : Syariat dan Rasul sebagai Manifestasi Rahmat Allah

Wahai manusia, diwasiatkan kepada sekalian untuk bertakwa kepada Allah dan menaati-Nya.

Upaya mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala serta aturan-aturan-Nya akan menumbuhkan kesadaran bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat sayang kepada hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai pengutusan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam Al-Qur’an:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya'[21]: 107)

Segala hal yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik dari ayat Al-Qur’an yang beliau baca, hadits-hadits yang beliau sabdakan, maupun seluruh sunah yang beliau contohkan, merupakan satu-satunya sarana bagi manusia untuk mengenal Allah ‘Azza wa Jalla.

Meskipun logika manusia dapat memikirkan tentang keberadaan Tuhan, namun logika tersebut tidak akan mampu menentukan cara pendekatan yang benar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta tidak dapat merumuskan aturan hukum yang diinginkan oleh-Nya. Sebagai bentuk konsekuensi dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia mengutus rasul-Nya untuk mengajarkan tata cara menundukkan diri, beribadah, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan melaksanakan semua perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Semoga seluruh hamba dapat menjadi bagian dari hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diridai oleh-Nya.

Sumber Video Khutbah Jumat “Hubungan Mutlak Antara Ilmu dan Ketakwaan”

Sumber : SUARA DAKWAH OFFICIAL

Yuk, ikut ambil bagian dalam menyebarkan dakwah ini. Bagikan tulisan dan link ini kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat kita. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

REFERENSI :

[1] https://sunnah.com/mishkat:145

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: